<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059</id><updated>2012-02-16T04:21:27.995-08:00</updated><category term='Refleksi Diri'/><category term='Personal'/><category term='Islam'/><category term='Renungang'/><category term='Catatan Ringan'/><category term='Catatan Media'/><category term='Dunia Buku'/><category term='Kemiskinan'/><category term='Catatan Politik'/><category term='Renungan'/><category term='Pretty Mamonto'/><category term='Resensi Buku'/><category term='My Love'/><category term='Pengalaman Nyata'/><category term='Tokoh'/><title type='text'>Coretan Sepenuh Hati</title><subtitle type='html'>Karena pikiran selalu bergerak-gerak, tapi urat leher lelah berteriak. Karena berdoa tak boleh riya, maka... menulislah sahaja!</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>147</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4847189766174681070</id><published>2011-10-16T08:55:00.000-07:00</published><updated>2011-10-16T08:55:14.467-07:00</updated><title type='text'>Sepuluh Hari Menjadi Santri</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-At6NPbpb1BE/Tpr-Sx-hL7I/AAAAAAAAAWo/lcX6yuqywvQ/s1600/Ponpes.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-At6NPbpb1BE/Tpr-Sx-hL7I/AAAAAAAAAWo/lcX6yuqywvQ/s1600/Ponpes.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Mengayun kapak. Membelah kayu kering hingga repih. Meniup-niup api di tungku agar terus menyala. Menanak nasi. Memanaskan air sampai mendidih. Dan rutinitas saban pagi buta (sekitar jam dua pagi) itu pun nyaris selesai. Tinggal menunggu aktivitas tambahan: makan sahur ---untuk persiapan puasa Sunnah di esok hari. Inilah yang biasa kami lakukan di Pondok Pesantren Al Hikam, Jayanti, perbatasan Tangerang, Banten.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama-sama, sembari bercengkrama, para Santri melakukan pelbagai "agenda harian". Jauh sebelum  sahur tiba, waktu terisi dengan aneka Ibadah tambahan. Dari dzikiran hingga baca Al Qur'an. Dari mempelajari kitab kuning hingga sekedar belajar berceramah. Nyaris semalaman penuh, Ponpes itu selalu hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Santri senior bahkan ada yang sanggup menghabiskan malam sembari memilin tasbih, membaca Sholawat Nabi hingga ribuan kali...Lain malam, lain pula siang. Tak kurang dari enam orang Santri, termasuk aku (yang hanya numpang menjadi "murid kilat" di Ponpes itu), melakoni puasa Sunnah, dari subuh hingga maghrib. Tentu tak sekedar puasa, melainkan menempuh lelaku prihatin dan latihan memperbanyak ibadah tambahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh proses itu, disebut dengan Riyadoh (yang artinya kurang lebih adalah melatih olah batin,  untuk lebih peka, lebih mampu meresapi kekurangan diri).Sebuah pengalaman istimewa dalam hidupku. Betapa selama ini pengetahuan tentang dunia pesantren sebatas pada sisi luar. Segala yang bernama Ponpes (dalam hal ini adalah yang Salafy, tradisional) hanya ada dalam pengalaman intelektual saja. Tahu melalui buku, cerita, film, novel dan semacamnya. Atau hanya sesekali berkunjung barang satu dua jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menjadi Santri yang sesungguhnya, jujur saja, hanya pernah dua kali. Dulu, ketika masih bujangan, sempat pula ikut menjadi Santri di sebuah Pondok Pesantren, tetapi tidak menginap siang dan malam. Melainkan hanya belajar Murotal (membaca Al Qur'an, sekaligus mempelajari tajwid-nya). Atau, ketika kuliah, ikut pesantren kilat. Tetapi kali ini sungguh jauh berbeda. Sekaligus bertabur makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini,  bahkan mendesir sebuah harapan, agar proses yang aku ikuti di Ponpes selama sepuluh hari itu menjadi semacam pengingatan, bahwa aku pun pernah dan sanggup untuk sungguh-sungguh beribadah...Artinya, sebagai bagian dari Ummat Islam, aku pun pantas merebut sesuatu, dengan cara serius. &lt;i&gt;Man Jadda Wa Jadda&lt;/i&gt; (siapa yang bersungguh-sungguh, pasti dapat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, frase "sungguh-sungguh ibadah" itu adalah dalam takaran kemampuan pribadi aku. Yang selama ini &lt;i&gt;easy going&lt;/i&gt;, cuek, kurang perhatian, dan kerap mengabaikan kewajiban sebagai seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Riyadoh Itu...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Melalui bimbingan Pak Ustadz, aku melakukan proses olah jiwa, dengan memperbanyak dzikir, menangis, mengakui kesalahan, sholat taubat, baca shalawat, puasa penuh setiap hari, makan sedikit, mengurung diri di kobong (kamar bilik dari bambu, tempat menginap para santri), tidak melakukan hal-hal yang buruk, menghindari kesia-siaan, dan segala macam amalan.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terasa berat pada awalnya. Namun tekad untuk mengubah watak, tabiat, dan segala keburukan diri, mendorong aku untuk melangkah terus. Malam pertama, (dari sepuluh hari sepuluh malam) di Ponpes, adalah kejutan tiada terduga. Semula berpikir, bahwa ikut Riyadoh ini bisa rileks dan nyaman. Bahwa paling-paling akan diberi nasihat, didoakan, atau mendapatkan terapi langsung dari Pak Ustadz. Ternyata tidak! Aku harus menempuh "jalan pembersihan jiwa" ini sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini," kata Pak Ustadz, "kamu pernah mengamalkan dzikir apa?"&lt;br /&gt;Aku, tergeragap kaget. Menjawab refleks: "Tak pernah, Pak Ustadz. Hanya dzikir pendek ba'da Sholat" (itupun kalau lagi mau, batinku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Ustadz,&amp;nbsp; rupanya mahfum. Dengan lembut, ia menyarankan aku untuk mengamalkan (dengan cara mendawamkan) Sholawat Nabi. Dengan jumlah ---dalam ukuran aku--- cukup banyak, tak kurang dari 11.000 kali, per malam. Tak boleh tertidur. Jika wudhlu batal, harus ambil lagi. Dilarang banyak makan. Kalaupun istirahat, cukup sebentar saja. Jika terlalu lama, akan menghabiskan waktu ---dan amalan ini tak terkejar, keburu Subuh datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjuran ini kuterima. Pada hitungan awal, lancar-lancar saja. Begitu melewati 1.000 hitungan pertama, rasa suntuk, bosan, lelah merayap hinggap. Nyaris ingin menyerah. Pegel badan dan tak lagi bisa fokus. Sementara sisa yang harus ditempuh masih ada 10.000. Sekonyong pikiran baik menyapa: seumur hidup selalu kalah, mengalah, dan menjadi pecundang. Maka kali ini tak boleh lolos. Menyerah adalah kian membenamkan &lt;i&gt;mind set&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;mental block&lt;/i&gt; diri sendiri sebagai orang yang tak memiliki &lt;i&gt;Himmah&lt;/i&gt; (tekad kuat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran itulah yang sangat membantu. Inspirasi untuk tidak menjadi pecundang inilah yang mendorong bulir-bulir air mata jatuh. Sembari terus berdzikir, bayang-bayang pengalaman hidup datang bergantian. Tentang diriku yang selalu kandas. Sebagai pribadi yang mudah &lt;i&gt;keok&lt;/i&gt;. Gampang menyerah pada tantangan-halangan-hadangan-gangguan. Memiliki jiwa labil, kadang baik, dan lebih sering buruk. Seraya&amp;nbsp; bergantian datang memori tentang keburukan-keburukan yang kerap aku lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Riyadoh di malam pertama: bahwa kukobarkan niat untuk mengganti identitas diri. Dari pribadi pecundang ke pribadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patokan ini, Alhamdulillah, membantu. Hingga bisa melewati malam pertama. Begitu masuk ke malam kedua, sekali lagi "inspirasi" datang. Bahwa saatnya aku menyicipi sesuatu yang biasa disebut dengan: ketekunan... Dalam bahasa penempuh Riyadoh, disebut sebagai &lt;i&gt;Itqon&lt;/i&gt; (sungguh-sungguh, tekun).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diriku adalah orang yang kerap menjengkelkan pihak lain. Lantaran tidak rajin. Jauh dari karakter giat dan tekun. Paling-paling, punya tekad membara di awal-awal saja. Setelah itu, kabur dan angin-anginan. Nah, perintah membaca Shalawat 11.000 per malam ini benar-benar batu ujian. Hanya ketekunan dan kesungguhan yang sanggup melewati itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan... terima kasih, ya Rabb, Engkau membisikan aku petunjuk, untuk mempraktekan "bahasa ketekunan" secara konkret. Singkatnya, di malam kedua aku telah mendapat dua hal: &lt;i&gt;Himmah&lt;/i&gt; (tekad kuat) dan &lt;i&gt;Itqon&lt;/i&gt; (ketekunan). Dua kosa kata penting itu aku tulis di selembar kertas, dan ditempel di bilik pondok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Terasa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Malam ketiga, cerapan batin khusyu dan hening mulai terjadi. Meski baru awal-awal saja membaca Shalawat, bibir sudah menggeletar, mata sembab, lalu meledaklah tangis. Malah sempat sangat menyayat.&amp;nbsp; Ingat dosa-dosa. Ingat tindak maksiat dan pelbagai kebodohan serta kesia-siaan. Namun satu hal yang benar-benar membuat aku ingit berteriak minta ampun adalah: prasangka buruk (&lt;i&gt;Suudzhon&lt;/i&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu tabiat buruk yang membenam di dasar hatiku adalah mudah marah kepada nasib ---dan itu artinya menuding Tuhan tidak adil. Prasangka sesat itu menguat manakala membanding-bandingkan "kondisi" diri sendiri dengan pihak lain.Mengapa mereka yang jauh lebih jahat dan hidup serampangan selalu beruntung, sementara aku yang (merasa) tak terlalu keliru, hidup dengan begini-begini terus, itu adalah ungkapan batin yang menggelegak, jika aku merasa gagal memperoleh sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawat, memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih konsep diri yang cenderung mendengar ego. Merasa lebih pintar, bebeapa kelas lebih cerdas dari kawan-kawan yang lain. Tetapi kenyataan begitu pahit: aku bukan hanya tertinggal dari sisi materi, karier, atau pencapaian-pencapaian lain yang prestisius. Aku, hingga hari ini,&amp;nbsp; bahkan terpuruk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selaksa keyakinan lalu tumbuh. Biarlah yang lalu. Lebih baik mengikrarkan diri, sekeras kemampuan menyingkirkan pikiran butek, kotor dan tak senonoh. Menikmati terus menerus pikiran-pikiran jernih tentang banyak hal, terutama tentang ketentuan-ketentuan Allah...&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;b&gt;&amp;nbsp;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Berikutnya...&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; Catatan atas malam-malam berikutnya terisi dengan rasa haru dan syukur. Meski tingggal di bilik bambu tua, tidur tanpa alas kasur ---melainkan bambu yang dilapisi kain karpet lusuh, &lt;i&gt;toh&lt;/i&gt;, tetap bisa istirahat tenang. Batin dan raga juga begitu mudah untuk beribadah. Panggilan Adzan Subuh bahkan menjadi sesuatu yang aku tunggu-tunggu. Pernah terjadi, perasaan sangat indah dan menceriakan, manakala seorang Santri mengumandangkan panggilan Sholat, yang terdengar begitu merdu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulit untuk menutupi, bahwa di Pesantren itu selalu muncul pengalaman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling banyak terkait dengan nuansa fisik. Semisal berbuka puasa dengan menu seadanya ---tanpa sekalipun, selama sepuluh hari, meneguk air es plus sirup, cukup air putih. Atau memunajatkan doa-doa panjang, seraya menjatuhkan kening dalam sujud yang berlama-lama. Tambahan lain: puasa di siang hari (meski panas), namun rasanya ringan-ringan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tibalah pada titik akhir. Pak Ustadz dan kawan-kawan kerap mengingatkan adanya situasi yang tergolong mistis, untuk pelaku Riyadoh yang menjelang usai. Macam-macam bentuknya: mulai dari mendengar suara halus, penampakan, atau hembusan udara aneh. Namun yang aku alami, tak ada semua itu. Kecuali bahwa di malam ke sembilan, sempat merasakan suhu badan begitu panas, tapi juga menggigil menahan getaran. Tapi itu selesai dengan cara sederhana: mandi ---di sekitar jam setengah dua malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula hal itu bukan ukuran keberhasilan. Biarlah diri ini terisi dengan kekayaan batin. Terisi penuh kesadaran tentang kelengahan diri. Sembari menggumpalkan tekad, untuk memiliki identitas baru. Menjadi insan yang terhindar dari prasangka buruk kepada ketentuan Allah. Bukankah, jika pikiran jernih, apapun bisa dilakukan dengan lebih tenang? Beribadah lebih tenang, dan melakoni kehidupan dengan tenang pula. Insya Allah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4847189766174681070?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4847189766174681070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/10/sepuluh-hari-menjadi-santri.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4847189766174681070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4847189766174681070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/10/sepuluh-hari-menjadi-santri.html' title='Sepuluh Hari Menjadi Santri'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-At6NPbpb1BE/Tpr-Sx-hL7I/AAAAAAAAAWo/lcX6yuqywvQ/s72-c/Ponpes.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4105017682954583996</id><published>2011-07-12T01:33:00.001-07:00</published><updated>2011-07-12T02:18:39.135-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pengalaman Nyata'/><title type='text'>Dengan Lolongan, Dengan Tangis, Untuk Dapat Ditolong</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan Peristiwa Nyata, Hari Minggu Pagi, 10 Juli 2011:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang dingin. Kumandang Adzan baru beberapa jenak lewat. Sekonyong, satu dua kerumunan tercipta. Aku hadir di situ. Mengisi perut yang keroncongan. Terpaku di sebuah kursi milik Ibu Rahma ---penjual nasi uduk di kampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasanya, begitu pelanggan datang, terutama dari kaum hawa, sepotong perkataan pembuka pun akan segera muncul. Sebagai awalan guna memanaskan obrolan. Biasanya, topik pembicaraan selalu berulang-ulang. Tentang anak-anak yang malas bangun pagi. Tetang tetangga yang kehilangan motor. Tentang Pak Tua yang sakit-sakitan. Atau sekedar meletupkan diskusi seputar harga Sembako yang kian menjulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kali ini berbeda. Adalah seorang perempuan yang mengeluh ketakutan.  Katanya ia mendengar suara-suara aneh, seperti tangisan, tapi juga seperti dengus binatang. Yang jelas, suara itu telah ada sejak jam dua pagi buta. Gara-gara itu, ia bahkan tak berani ke luar untuk ambil air wudhlu. Sholat Shubuh pun lewat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Respon dan tanggapan langsung berlahiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, kabar suara menakutkan itu bukan bohong. Tak lama, datang pengakuan serupa. Lalu bergulir kepada kami, saya dan beberapa orang laki-laki yang ada di situ. Mereka minta tolong, agar kami melacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ini permintaan enteng. Segera, seusai makanan beres digilas usus, kami melangkah berkeliling. Tepat, di sebuah sumur kecil dan sempit, bekas galian sumur pompa (model lama, merk Dragon, yang digerakan tangan, bukan pompa air zaman kini), sumber suara kami temukan. Terlihat di kedalaman sekitar lima meter, tergolek sebuah mahluk warna hitam. Binatang itu benar-benar menyedihkan. Kedinginan. Gugup. Terengah-engah. Ia mungkin berada dalam batas yang tipis, antara hidup dan mati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun pemandangan ini tak disikapi seragam. Sebagian malah cuek, termasuk dua orang kawan yang segera berlalu sembari menggerutu: biarkan saja dia mati (mahluk di dalam sumur itu). Pihak lain, malah ada yang tambah takut. Mengira itu adalah setan, babi ngepet, atau anjing jadi-jadian. "Ngapain ada aning berkeliaran di sini", begitu katanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kami bertiga, justru berdesir. Mana tega membiarkan mahluk yang terlihat samar (karena berwarna hitam, di tempat gelap pula) itu mati kedinginan dan tengelam di dasar sumur? Dengan berbagai cara, kami harus menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bagaimana? Turun ke dalam sumur, tak ada yang berani. Saya sendir, jujur saja, memang sangat ingin menolong. Tapi ragu, jangan-jangan itu adalah anjing liar yang galak. Terhadap mahluk Allah yang satu itu, saya memang agak penakut, dan sama sekali tak akrab bercengkerama. Atau, jangan-jangan memang babi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, kawan yang lain, dua orang, juga memiliki persepsi sendiri-sendiri. Semuanya yakin untuk menolong. Tetapi benaknya terpengaruh oleh omongan orang di kanan kiri (yang saat itu mulai berdatangan). Ada yang menyebut aning rabies. Ada yang menyebut binatang jadi-jadian, dan ada juga yang mengatakan itu adalah Babi, jadi biarkan saja. Lebih baik nanti sekalian sumurnya ditutup!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang paling menyakitkan adalah respon dari pemilik sumur. Mereka cuek saja. Tak ada sepatah katapun. Bahkan mimiknya seolah keberatan atas keberadaan kami di dekat sumur itu. Satu lagi, ada juga seorang setengah baya yang malah memanas-manasi situasi, agar segera saja sumur itu diuruk, membenamkan hidup-hidup mahluk yang ada di dalamnya. Tega nian...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pendapat, dari pemilik rumah dan orang setengah baya, membuat aku agak panas. Maklumlah, dengan mereka selama ini aku kurang cocok. Meski lebih banyak dan nyaris selalu, aku mengalah dan membiarkan saja. Tapi kali ini batin rada jengkel. Tapi, lagi-lagi aku mengalah (hanya diam, tidak berkata-kata). Pilihan aku hanya satu, tetap menolong dengan cara yang aku bisa, agar mahluk di dasar sumur selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, menolong pun tak mudah. Kami telah menurunkan bambu, agar mahluk itu mau naik. Lalu mengulurkan tali. Lalu menjerat kaki, ekor, dan leher binatang itu, tapi juga gagal. Malahan mahluk itu terlihat mengamuk. Seperti tak ingin ditolong. Proses ini berlangsung lama. Hingga itu, satu dua orang mulai pergi, diganti oleh orang lain yang baru datang. Tapi, tak satu pun dari mereka berminat bekerja sama dengan kami bertiga untuk memberikan pertolongan. Datang ke situ hanya ingin menonton, melihat, dan mencari tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pun nyaris menyerah. Tapi, akhirnya nekat. Biarkan saja, kami akan pakai tali yang diikat di ujung bambu, dan menjerat dengan paksa leher binatang yang malang itu. Meski khawatir, bahwa akan mati ketika diangkat, tapi tak ada lagi pilihan lain. Upaya ini berhasil. Mahluk itu terjerat, dan kami angkat pelan-pelan. Dan, begitu tiba di mulut sumur, langsung ditepis ke luar. Nyatanya, binatang itu adalah memang anjing, warna hitam, bertubuh sedang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, begitu tiba di darat, ia terlihat diam sejenak. Sama sekali tak terlihat galak, panik, atau ketakutan. Malah melangkah santai,  lalu pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padalah, kami sendiri bersiap siaga, jika terjadi apa-apa. Misalnya, mahluk itu akan menyerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak Menyerah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak, sesaat setelah penyelamatan sederhana itu, muncul pertanyaan. Alangkah kuat anjing itu bertahan? Hampir 4,5 jam di dasar sumur, yang berair cukup dalam dan sebenarnya menenggelamkan dirinya. Ia memang sudah tak sanggup melolong, karena mungkin kehabisan nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anjing itu,bahkan ketika kami temukan, hanya menyisakan nafas terengah, nyaris terkulai di dasar sumur. Seolah sudah frustrasi dan tak ada harapan untuk selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tak begitu, begitu ia berhasil kami angkat, mampu pergi dengan langkah kaki yang sempurna, seolah tak terjadi apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebat benar,  kata hatiku lirih, Anjing itu tak menyerah untuk minta tolong. Awalnya mungkin ia menggonggong, lalu hanya bisa mengkaik, dan terakhir mengerang. Tapi ia terus-menerus berupaya memanggil pertolongan. Mungkin ia juga meminta kepada Allah, agar datang bantuan. Yang jelas, ikhtiarnya tak sia-sia. Ada tiga orang yang hatinya digerakkan oleh Allah, untuk mau membantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang istimewa dari kejadian ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali jika mengenali, siapa tiga orang yang masih punya hati untuk mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah bernama Buay, karena namanya Sabuay. Ia, pagi itu, baru saja kalah berjudi. Setahu aku, anak itu gila judi, nyaris tiap malam. Setiap pagi, jika aku bertemu dengannya di tukang nasi uduk, pasti ia baru selesai bermain, entah kalah atau menang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah Kocel, ini adalah nama panggilan, nama aslinya aku lupa. Anak muda inipun setali tiga uang, baru saja selesai main kartu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, yaitu aku sendiri. Sementara aku, di pagi itu, juga baru mengalami peristiwa unik. Persis beberapa jam sebelumnya, menemani isteri orang yang kabur dari rumah suaminya. Karena aku kenal dengan suaminya, maka terpaksa aku menemani dia, agar tak ada yang mengganggu (maklum, malam telah larut). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bujuk dia untuk pulang. Tapi dia tak mau. Aku janjikan padanya, bahwa besok aku antar ia ke rumah orang tuanya, juga tak mau. Dia malah terus jalan kaki menelusuri jalan raya. Dengan tangis yang sesekali meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja aku merasa tak enak dan malu. Beberapa orang yang melihat, seperti curiga memandang aku. Mungkin mereka mengira aku pacar atau suaminya, yang sedang bertengkar. Tapi, aku cuek saja. Yang penting, bisa mengawasi wanita itu. Dan bertekad tak akan ke mana-mana. Aku khawatir, jika aku tinggalkan,  wanita yang sedang menangis itu malah akan dijahati orang lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi peristiwa ini tak berjalan lama. Karena Alhamdulillah, aku berhasil menemukan suaminya (yang ternyata lewat di jalan itu). Anehnya, si suami sama sekali tak tahu bahwa isterinya bersama aku di pinggir jalan. Ia, ternyata, dalam keadaan mabuk, dan baru pulang dari menonton dangdut. Begitu sang suami melihat isterinya, sontak ia memaksa sang isteri pulang. Ternyata, sang isteri menurut. Dan aku bonceng mereka berdua pulang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan malam itu, aku memang begadang. Tidak sholat subuh. Pikiran tetap ruwet. Karena kondisi kehidupan aku yang kini sedang tak baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jelas, kami bertiga sama sekali bukan orang baik. Kami bukan Ustadz, bukan guru ngaji, bukan orang yang rajin sholat. Tapi, mengapa kami bertiga yang Allah gerakkan hatinya untuk menolong Anjing entah milik siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mengapa pula, secara kebetulan aku menemukan Isteri kawan yang kabur dari rumah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dua Peristiwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua peristiwa itu sama sekali tak ada kaitan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya berpikir, luar biasa cara Allah memberikan pertolongan kepada mahluknya yang sedang susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah bahkan sanggup membuka mata hati kami yang penuh maksiat. Mungkin Allah membiarkan para ustadz diam tak menolong, atau Ibu-Ibu yang suka sholat itu tetap cuek, karena pahala mereka sudah banyak. Dan sengaja menggerakkan kami bertiga untuk sedikit melakukan hal-hal yang baik. Mungkin begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tentang isteri kawan, mungkin Allah sengaja mempertemukannya dengan aku, agar aku berkesempatan menjalin silaturahmi yang lebih kuat dengan suaminya. Karena terbukti sang suami sangat berterima kasih kepada aku (malam berikutnya, ia mentraktir aku ngopi dan merokok di rumahnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi. Aku sendiri ingin memiliki kekuatan seperti Anjing yang terperosok di dasar sumur. Betapa ia tak menyerah. Tetap berupaya. Sementara aku, selalu meratap, tak konsisten dalam mencari tolong, dan gampang menyerah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, bila kejadian itu Engkau sengajakan, maka bukalah mata batinku untuk memperoleh hikmah dari kejadian ini. Aku adalah mahluk Mu yang lemah dan naif. Tapi ingin bisa berbuat baik dan berdampak baik terhadap diriku sendiri...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4105017682954583996?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4105017682954583996/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/07/dengan-lolongan-dengan-tangis-untuk.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4105017682954583996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4105017682954583996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/07/dengan-lolongan-dengan-tangis-untuk.html' title='Dengan Lolongan, Dengan Tangis, Untuk Dapat Ditolong'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2669912417897905295</id><published>2011-06-28T11:26:00.000-07:00</published><updated>2011-07-12T01:32:56.093-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pretty Mamonto'/><title type='text'>Reminescenza</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-5qHIU0NUFig/TgodLYFBdMI/AAAAAAAAAWk/KjF0UpMEdgM/s1600/Pretty.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-5qHIU0NUFig/TgodLYFBdMI/AAAAAAAAAWk/KjF0UpMEdgM/s320/Pretty.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5623339166004769986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entahlah,tak pernah bisa lupa dia walau sejenak...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2669912417897905295?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2669912417897905295/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/remambrances.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2669912417897905295'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2669912417897905295'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/remambrances.html' title='Reminescenza'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-5qHIU0NUFig/TgodLYFBdMI/AAAAAAAAAWk/KjF0UpMEdgM/s72-c/Pretty.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8641318108115563351</id><published>2011-06-08T23:51:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T23:52:34.565-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Tentang Hati Ini (Luapan Emosi Diri)</title><content type='html'>Kerasnya besi bisa ditempa. Keras hati? Jawabannya tersebar di berbagai cerita. &lt;br /&gt;Ada sejumlah riwayat yang mencontohkan hati yang setegar karang dengan efek menakjubkan. Mereka yang mampu berjalan sesuai prinsip yang diyakini. Menadah badai, menghadang angin. Badai membuat mereka tambah jauh berlayar. Angin justru meninggikan derajat dan kemasyhuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al Qur’an mensibatkan sebutan Ulul Azmi, untuk pribadi Agung dengan hati yang tak goyah oleh aneka gedoran atau tawaran. Selalu maju melangkah untuk memeluk kebenaran, meski bara api muntab ke sekujur tubuh (Nabi Ibrahim). Melepas diri dari jerat perempuan jelita, dan lebih memilih penjara (Nabi Yusuf). Menadah gatal, borok, dan rupa-rupa penyakit menjijikan, untuk bertahan di sebuah benteng hati bernama kesabaran (Nabi Ayub). What A Great Story… Dan tidak untuk melengkapi, melainkan menyempurnakan, seorang lelaki di Jazirah Arabiah, yang jujur, penuh amanah, tetapi juga berani tegas, yang disebut gila serta dianiaya, teguh merengkuh jalan syariah. Hingga Islam bisa tegak ---bahkan hingga detik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun posisi rata-rata manusia, tentu tidak selalu seteguh itu. Menurut Imam Al Ghazali, hati (atau qalb), adalah berarti bisa dibolak-balik. Kadang hitam, kadang putih. Kadang jujur, tapi seringkali dusta. It’s perfectly human…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, semua risalah, filsafat hidup, dan wahyu kenabian, datang justru mengantisipasi betapa goyah dan rapuhnya status hati manusia. Tak keliru pula, bila K.H. Abdullah Gymnasitiar sempat menciptak lirik, jagalah hati…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang itu pula,  Konfusius meyakini satu jalan. Bahwa prinisip boleh teguh di satu titik. Tetapi jalan menuju ke sana bisa berkelok-kelok. Kira-kira, seperti mata mesin bor dengan batang yang meliuk-liuk. Memang ini baru asumsi. Bahwa rata-rata kita, tak memiliki kesanggupan untuk menembus blok penghadang secara langsung. Kita hidup dengan kemungkinan tak terbatas, untuk ke kiri atau kanan, untuk belok dan cari alternatif. Satu hal terpenting, prinsip yang benar adalah bertujuan pada kebaikan. Banyak jalan untuk mewujudkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu jalan adalah ujian dan cobaan yang menerjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi peristiwa pahit yang mendera, kesulitan yang meresahkan, kadang membuat prinsip goyah, Iman menyurut ke titik rendah, dan aqidah nyaris terpeleset. Artinya kita jatuh. Lantas bukan berarti semua itu jadi pembenaran untuk itikad berbuat keliru. Arahnya tak ke situ. Melainkan pada kasus kekhilafan. Berkaca pada aneka kelemahan diri pribadi. Memahami betapa sulitnya kita menapak langkah menuju cita-cita yang baik. Di sana ada tragedi jatuh bangun. Makanya, Allah menyediakan pintu taubat. Sebuah celah untuk memeras akal pikiran dan menjernihkan hati. Peluang atas hadirnya pengakuan kita ---atas rupa-rupa salah dan maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah kemestian hati (yang bersifat bolak-balik itu) butuh penyegaran-penyegaran. Pun, ketika hati senantiasa bening, mengecap hikmah dengan sepenuh nikmat, hati akan selalu butuh kalkulasi. Kita bisa membaca bahwa apa-apa yang disebut dengan muhasabah (menghisab diri) dan riyadoh (latihan mendekatkan diri pada ridho Allah), adalah tepat di pusaran hati yang bersih. Jika pelaku maksiat butuh penyegaran dengan tobat, maka para penikmat keikhlasan Ibadah butuh penyegaran dengan muhasabah. Kurang lebih begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas pelbagai kemungkinan hati yang seperti itu, mengapa pula masih lekat kekotoran yang ujung-ujungnya membuat kita resah, was-was, gelisah (atau bahkan dengan sejumlah penyakit lain, semisal marah, dengki, dan prasangka buruk?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dicoba pengingatan (tepatnya perbandingan) kebajikan yang bersumber dari kalangan lain. Dengan asumsi, bahwa perbaikan karakter dan prinsip hidup, adalah agenda universal manusia. Pergulatan menjadi pribadi yang bermanfaat dan membawa maslahat, adalah bukan cuma di kalangan Mu’min. Tetapi juga saudara-saudara kita yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya dari para bijak bestari, atau Bikhu di kalangan Agama Budha. Mereka adalah para pelaku perawat (atau pengendali nafsu) dalam tubuh-tubuh wadag manusia. Tatkala bermediatasi, konsentrasi mereka adalah berpusat pada unsur ruhaniah. Membebaskan hati, pikiran, dari rupa-rupa beban (beban ruhaniah, beban jasmaniah).  Mereka berdaya upaya melepaskan ketegangan, kecemasan, ketakutan, dan keburukan-keburukan. Dan rahasianya: semua itu adalah dari pilihan hati dan pikiran kita. Tubuh boleh sakit. Tapi jiwa tidak harus ikut serta…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hatiku Saat Ini…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, kita yang Muslim, dengan syariah yang tak kurang-kurang sempurnanya untuk memperbaiki kondisi hati, seringkali oleng karena mungkin alpa terhadap hukum alamiah. Bahwa sakit, kekurangan uang, jeratan masalah, sikap kejam orang lain, adalah sesuatu yang terjadi (dan bisa terjadi) kapan dan di mana saja. Datang sebagai ujian. Muncul sebagai peringatan. Atau mewujud sebagai “perangkat” membersihkan dan menyempurnakan Iman kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadapilah itu sebagai kemestian. Tidak panik dan murka. Tidak juga menagih kepada Allah bersegera menghentikannya (Tuhan jauh lebih tahu kapan harus berakhir). Dalam kondisi ini, jauh lebih memungkinkan adalah menerima… Seraya ikhtiar melakukan (mengerjakan) kebaikan-kebaikan yang masih mungkin. Ini memang kompensasi. Tetapi sangat berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan. Di saat miskin, tinimbang marah, bukankah tersedia peluang menyalurkan rasa kemanusiaan kita dengan perbuatan-perbuatan kecil tapi bermakna. Senyum ramah. Tak hirau gengsi dalam melakukan sesuatu. Tertutup pintu kesombongan (kalau miskin, ngapain sombong?). Dan bukankah biasanya kemiskinan adalah kekayaan dalam bentuk lain, misalnya waktu luang? Lakukanlah kebaikan sedapat-dapatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara pribadi, saat ini saya mengalami ujian kekurangan materi yang lumayan berat. Tetapi ada satu dua yang selalu saya lakukan. Dan itu dalam keyakinan saya adalah baik. Ini dilakukan juga mengimbangi aneka kesalahan dan kebodohan saya dalam kondisi tertekan seperti hari-hari belakangan ini. Ada saat lebih banyak perbuatan bagus yang meluncur. Tetapi di saat lain, saya jatuh dalam laku lampah yang buruk dan merugikan banyak orang. Tetapi intinya: tegar dalam upaya. Agar hati tak hitam legam dan selalu dalam posisi maksiat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati ini sebenarnya butuh perlindungan. Perlindungan melalui hikmah. Perlindungan melalui nasihat. Perlindungan melalui inspirasi yang baik dari aneka sumber. Dan atau juga malah pelajaran dari kegagalan dan keburukan yang telah dilakukan. Paling penting, adalah keyakinan bahwa hati, ruh, kalbu kita, tak kalah dan tidak menjadi budak atas kondisi pahit yang ada dalam diri dan tubuh kita. Sebuah pertarungan yang belum berhenti hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, bombing aku dalam peperangan sengit ini. Menangkan kebaikan…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8641318108115563351?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8641318108115563351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/tentang-hati-ini-luapan-emosi-diri.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8641318108115563351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8641318108115563351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/tentang-hati-ini-luapan-emosi-diri.html' title='Tentang Hati Ini (Luapan Emosi Diri)'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2725138034941187540</id><published>2011-06-08T21:17:00.000-07:00</published><updated>2011-06-08T21:36:04.032-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Surat Al Munafiqun...</title><content type='html'>Surat Al Munafiqun menjadi bacaan yang paling aku minati terakhir ini. Dengan sengaja pula, belum membuka terjemah atau tafsirnya. Insya Allah nanti menyusul. Harapan terbesar adalah mendapat RidhoNya. Agar Yang Maha Kuasa membebaskan aku dari penyakit yang menjadi nama surat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa ngeri dan menyakitkan. Dari pelbagai bacaan atau pengetahuan yang kudapati, sifat munafiq begitu berbahaya ---bagi orang lain, dan terutama diri sendiri. Tidak konsisten. Pengecut. Jauh dari komitmen. Tidak ada posisi yang akan diraih bagi orang-orang dengan tabiat sejelek itu. Pun jika ia di kedudukan yang jahat, pasti terlempar hanya jadi coro. Kriminalis sejati dengan catatan mengerikan, adalah juga aktor yang konsisten dengan posisinya. Bukan coro kelas kacang yang gampang ditindas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang munafik pasti akan selalu terlempar ---di manapun ia berada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih jika pilihannya adalah "ingin" menjadi manusia baik. Betapa banyak kebencian dan kemarahan akan dituai. Setiap orang tentu menjauh. Takut mememetik resiko. Menghindar dari bala dan apes karena sentuhan para munafiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu dalam konteks yang keras. Sebab, senyatanya, kadang hidup tak selalu membuat kita tegar dalam prinsip. Adalah kenyataan yang bisa kita terima, jika dalam perjalanan sesekali terantuk beberapa ciri kemunafikan. Misalnya berdusta. Misalnya ingkar janji. Misalnya gagal menunaikan amanat. Bukan menyarankan untuk melakukan itu. Melainkan pengingatan bahwa bisa saja kita menjadi lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya, hati menjerit ketika terpakasa melakukan hal-hal buruk. Apa daya, Iman dan aqidah kita begitu tipis. Hingga terperosok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tentu ada pintu tobat. Kehendak yang kuat untuk berhenti dan tidak melakukan di lain hari. Beda bila kita seperti keledai yang terantuk batu yang sama berkali-kali. Tak ada sebutan lain, kecuali bahwa itu adalah pandir. Atau janga-jangan, justru sifat hipokrit itu sedemikan melekat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangisan aku sering berulang bila ingat "ancaman" itu. Jangan-jangan, karakter jelek itu telah menjadi bagian dari kekotoran hati. Takut bukan kepalang. Cemas. Hanya doa dan permohonan kepadaNYA, agar dibantu lepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan berkali-kali kuungkap dalam munajat. Hamba sering salah, Ya Allah. Aku lemah. Aku faqier. Aku kerap terpedaya. Tetapi jangan jadikan aku... Tolong, angkat aku dari masalah ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, mendamba terbebas dari ini semua. Bebas dari rasa cemas. Khawatir. Was-was. Takut. Prasangka buruk atas segala hal yang terjadi. Menginginkan kebebasan dari segenap keburukan-keburukan. Alangkah indah, jika ada waktunya ketika percaya diri pulih. Tegar dalam mengarungi kehidupan. Bebas dari belenggu masa lalu. Membukukan prestasi yang berguna. Bisa bermanfaat bagi anak, isteri, dan keluarga. Yang lebih penting lagi, adalah sanggup menghadang semua resiko. Tidak pengecut dan lari dari kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rintisan ke arah itu kucoba berkali-kali, dan gagal berkali-kali. Tapi alamat baiknya adalah belum kapok! Selama nafas masih berhembus, selama raga masih diberi sehat wal afiat, selama itu juga akan aku coba. Tuhan, beri aku kesanggupan untuk bertahan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2725138034941187540?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2725138034941187540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/surat-al-munafiqun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2725138034941187540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2725138034941187540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/surat-al-munafiqun.html' title='Surat Al Munafiqun...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3680954689217980283</id><published>2011-06-04T07:47:00.000-07:00</published><updated>2011-06-04T07:57:34.220-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Begitu Terlalu Rapuh</title><content type='html'>Tak perlu menjadi pohon tinggi jika hanya tumbang di kemudian hari. Namun paling tidak, pohon yang jatuh, masih bisa memberi manfaat banyak.Beda dengan kita. Begitu jatuh, justru masalah bermunculan. Masalah untuk diri sendiri. Juga, termasuk, membuat masalah untuk orang lain. Begitulah aku,hari ini. Tersungkur ke titik dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, seperti pohon tumban, tak bisa lagi berdiri. Akankah kejatuhan ini berpindah pola? Hancur untuk kemudian menjadi lahan tempat penyemaian tunas. Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, diri ini begitu rapuh. Ternyata teramat gampang untuk terjungkal. Aku sudah tak bisa lagi berkata apa-apa. Hanya Allah yang bisa menjadi pelindung...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3680954689217980283?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3680954689217980283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/begitu-terlalu-rapuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3680954689217980283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3680954689217980283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/begitu-terlalu-rapuh.html' title='Begitu Terlalu Rapuh'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4614527510177009997</id><published>2011-06-03T08:38:00.001-07:00</published><updated>2011-06-03T08:52:22.344-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Desakan-Desakan Pahit...</title><content type='html'>Selalu bersyukur ketika melihat, menyaksikan, atau bersentuhan langsung dengan kebaikan-kebaikan. Semuanya meresap sebagai embun segar. Membasuh batin yang kerontang karena amarah. Meneteskan denting air bening ke jiwa yang gahar. Tapi yang lebih penting lagi, menyelamatkan keyakinan, bahwa manusia memang berkesempatan melakukan kebaikan-kebaikan. Aku, tentu saja, adalah salah satu mahluk Allah yang punya potensi melakukan itu. Entah kecil atau besar. Entah berfaedah banyak, atau hanya sekelebatan saja ---tanpa rasa menggeletar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat pikiran sungsang, ada juga kesempatan yang menyentil rasa haru. Beberapa hari lalu, misalnya, aku menolong seorang Nenek yang menuang Air Teh Panas. Mulanya tidak hirau. Tetapi tangan refleks mengambil cangkir dan teko ---membantu perempuan tua itu melakukan tugasnya. Sembar berkata sopan, aku katakan: Nek, biar saja saya yang bikin...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dinyana sama sekali. Si Nenek sangat berterima kasih. Mengaku bahwa tangannya memang sudah tak sanggup mengangkat teko berisi Air Teh Panas itu. Padahal, apa yang aku lakukan benar-benar sepele. Jauh dari dugaan bahwa itu benar-benar akan bermanfaat. Aku hanya bergerak naluriah saja. Tetapi, Alhamdulillah, kami berdua di pagi itu mendapat pesan kebaikan yang indah. Meski pun kecil sahaja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain sisi, kejadian itu persis di ujung galau yang menggelayut. Pikiran kacau berseliweran. Malam sebelumnya, aku tak bisa tidur, hingga Adzan Subuh berkumandang. Gumpalan rasa kecewa, marah, pesimis, khawatir, kembali menerjang. Tapi, selalu ada setetes embun penyegar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siang tadi, sebagaimana laku lampah aku yang tak berubah,  aku masuk kembali di pusaran gonta-ganti mood (suasana hati). Kadang bagus,  disertai dengan nikmatnya Ibadah. Tapi kadang jengkel, berujung pada beratnya melakukan perintah Allah. Di siang tadi, aku terjebak kebingungan kembali. Menghdapai pilihan melakukan keburukan (meski kecil), tapi mengganggu pikiran. Aku selalu terdesak dalam opsi yang pahit. Dan biasanya aku kalah. Akibatnya, depresi diri kembali tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah hingga kapan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya terus saja dilakukan. Mungkin ikhtiar aku kurang keras atau entah faktor apa. Aku hanya sesekali mereguk nikmat batin, terutama dalam hikmah dan ibadah. Pesona hikmah ruhaniah, memang terkadang mendesir dalam kalbu. Namun jarang bertahan lama. Karena kenyataan hidup menggempur dengan peluru panas. Membuat aku terkapar, selalu. Hidupku memang pedih...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai penyelamatan senantiasa kandas. Berbagai pembelajaran, nasehat, bacaan, kisah, atau bahkan pertolongan langsung yang pernah jadi contoh, seakan hanya berlaku realtime saja (hanya di saat tertentu). Lantaran di lain perjalanan, aku mengalami kebuntuan terbaru. Masalah muncul berentetan dengan versinya masing-masing. Memang sejujurnya, saat ini selalu terkait dengan problem finansial. Tetapi tak jarang pula menyangkut "psikologis".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya perkara yang mendatangkan diri menjadi minder. Harga diri yang terluka. Penyesalan akan masa lalu. Gelora rindu kepada Dia yang kucintai. Dan masih banyak lagi. Aku, memang, tak bisa tidak, hanya bisa pasrah kepada Allah. Bahkan pun ketika aku melakukan kesalahan fatal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bagaimanapun, setidaknya aku masih menjerit ketika melakukan sesuatu yang menurut syariah Islam adalah salah... Mudah-mudahan itu adalah masih sebagai tanda adanya geletar Iman. Wallahu'alam...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4614527510177009997?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4614527510177009997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/desakan-desakan-pahit.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4614527510177009997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4614527510177009997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/06/desakan-desakan-pahit.html' title='Desakan-Desakan Pahit...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-423290241155732896</id><published>2011-05-31T12:13:00.000-07:00</published><updated>2011-05-31T12:29:08.930-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Keluh Kesah Tak Berujung...</title><content type='html'>Bounce back! Melejit kembali. Seperti bola yang dipantulkan sangat keras ke lantai, lalu melenting jauh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, tak berbilang lagi banyaknya, aku mengalami jatuh, bangung, jatuh, dan bangun lagi. Tetapi sama sekali belum pernah mengalami kebangkitan yang luar biasa, atau melenting, memantul jauh seperti bola basket di tangan para pemain. Kemampuan aku hanya sekedar jatuh, lalu bangkit sedikit, dan segera jatuh kembali. Polanya malah cenderung berbahaya... jatuh tiga tingkat, lalu hanya bankit satu tingkat. Dari hari ke hari, dengan demikian, yang terjadi adalah kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun aku bertahan mati-matian dengan kejujuran ---kalau pun tak bisa disebut begitu, paling tidak aku berupaya untuk tak pernah menutup-nutupi kejelekan aku. Bersikap ksatria, mengakui kesalahan, walaupun pahit. Harapan tetap menyala (meski redup), bahwa kelak Allah akan mengangkat aku dari keterpurukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini memang aku telah berupaya. Sebenarnya sudah sangat lama berikhtiar memperbaiki diri. Tetapi entahlah, aku begitu rapuh. Perjuangan seringkali patah. Terantuk batu kerikil dalam batin, yang kerap marah, benci, menyesali nasib, menyalahkan takdir, dan prasangka buruk. Atau juga barangkali karena keadaan yang begitu kejam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dihempas oleh badai keburukan dari hari ke hari. Menghadapi situasi yang menyulitkan. Serba kekurangan. Kehilangan potensi dan peluang. Secara manusiawi, hal itu sungguh-sungguh menyiksa. Wajar saja sebenarnya, jika lantas aku terpelanting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, ada faktor luka batin yang sesekali menganga... Tentang trauma, tentang kegagalan, tentang ketakutan, tentang cemas, tentang kekhawatiran, tentang rasa tidak mampu. Tuhan, tolonglah aku, beri aku petunjuk untuk melangkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi mental block yang teramat sukar aku kendalikan. Yaitu pikiran buruk, bahwa Tuhan memperlakukan aku dengan sangat kejam. Ia langsung menghukum aku dengan keras, jika aku melakukan kesalahan. Bahkan,  aku merasa hukumanNya jauh lebih besar daripada kesalahan yang aku kerjakan. Ini pun adalah sebuah rasa (yang memang sebenarnya salah, tetapi sulit diabaikan). Kadang, jika dibanding-bandingkan, jika orang yang melakukan kesalahan seperti aku, mereka enjoy-enjoy saja, dan bahkan mendapatkan pelbagai keberuntungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sebaliknya,  jika aku melakukan kerja keras, ikhtiar total, dan komitmen penuh dalam melakukan sesuatu, malah dibalas dengan hasil sangat sedikit. Inilah yang membuat aku marah. Aku benci. Mengapa nasib selalu seperti ini... Orang menilai aku tak memiliki komitmen. Mereka tidak tahu, betapa aku sering bekerja jauh lebih keras dari mereka, jauh lebih cerdas, tetapi ketika menerima imbalan, sama sekali tak layak, bahkan terasa sangat menghinakan... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa aku tak seperti orang lain, yang melakukan biasa-biasa saja, tetapi memperoleh reward yang begitu baik? Inilah sebenarnya salah satu sumber "penyakit batin" aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perih terasa. Bahkan berbagai buku, nasehat, dan latihan-latihan mengurangi beban batin aku lakukan. Tak hanya versi Islami, ajaran dari "pihak" lain pun aku ikuti ---sejauh tidak menggiring pada kemusyrikan. Ini harus aku lakukan. Jika tidak, aku pasti sudah benar-benar hancur. Sekarang memang sudah, tetapi masih ada peluang untuk diselamatkan, belum benar-benar porak poranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggungan beban aku berlipat-lipat. Secara mental, harus membersihkan penyakit batin dari luka dendam, marah, prasangka buruk, dan iri atas kemudahan orang lain. Secara pikiran, menjaga agar otak tetap tenang dan jernih. Secara kejiwaan, tak ingin mematikan diri, aku belum ingin mati, meski kadang-kadang tak tahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, hanya wajah anak-anak aku yang sering jadi penyelamat. Di kala mereka tidur pulas, di saat mereka riang bermain, di waktu mereka bercanda ria, di situlah semangat aku bangkit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku benar-benar tak berdaya. Hanya Allah yang bisa menolong... Kabulkan, ya,  Allah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-423290241155732896?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/423290241155732896/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/keluh-kesah-tak-berujung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/423290241155732896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/423290241155732896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/keluh-kesah-tak-berujung.html' title='Keluh Kesah Tak Berujung...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8382493733570736852</id><published>2011-05-12T09:53:00.000-07:00</published><updated>2011-05-13T13:32:22.486-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dia Yang Cantik'/><title type='text'>Tentang Ulang Tahunnya...</title><content type='html'>Dia bukan angin, tapi hembusannya selalu menyapa sepoi. Dia bukan api, tetapi selalu memantik bara. Dia bukan milikku ---sama sekali bukan! Tetapi rasanya dia begitu dekat. Meski hanya lekat dalam ingatan. Meski ingatan, tetapi tak sekedar membayang. Terasa segalanya begitu jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya aku memiliki kebaikan ingin rasanya mengirim dan berbagi. Agar ia bertambah baik. Sayangnya, hidupku terus berputar-putar dalam pusaran yang tidak menyenangkan. Hati ini tak memiliki bahkan sekedar kekuatan hasrat. Hati ini telah lama luluh. Basah oleh kegetiran. Bukan amarah yang membuncah. Sama sekali tak berpikir untuk merasa jengkel. Sebab segalanya bagiku seperti sudah terpancang jauh-jauh hari. Bahwa dia seolah lahir hanya untuk menumbuhkan cinta di hatiku. Hanya untuk itu, bukan untuk apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali dia adalah "apa-apa", segalanya, bagi banyak orang dan bagi banyak kepentingan. Tetapi khusus untuk diriku sendiri, dia adalah pijaran kasih. Aku begitu mencintainya hingga tak berbatas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saja, ia selalu baik-baik saja. Semoga saja, ia berbahagia dengan segala yang berhak ia peroleh. Selamat ulang tahun, cantik...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8382493733570736852?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8382493733570736852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/tentang-ulang-tahunnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8382493733570736852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8382493733570736852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/tentang-ulang-tahunnya.html' title='Tentang Ulang Tahunnya...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5827669258342214515</id><published>2011-05-03T21:28:00.001-07:00</published><updated>2011-05-03T21:30:16.400-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Tuhan...</title><content type='html'>TUHAN, jangan engkau tertawakan aku. Jangan aku ditelantarkan. Hanya Engkau yang tahu betapa biadab dan brengseknya aku. Hanya Engkau yang mengawasi laku lampah aku yang salah. Diriku bahkan terkadang tak mengetahui dengan persis, mengapa aku harus seperti sekarang ini. Aku tak ingin jadi munafik, pelaku maksiat di hadapanMU. Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah menikmati apa yang selama ini kulakukan. Aku butuh kesembuhan, Ya Allah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5827669258342214515?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5827669258342214515/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/tuhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5827669258342214515'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5827669258342214515'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/tuhan.html' title='Tuhan...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1162932391689651342</id><published>2011-05-03T21:18:00.000-07:00</published><updated>2011-05-03T21:27:44.362-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Real Life...</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DULU&lt;/span&gt; aku menyangka semua problema bisa diatasi. Atau segala kepedihan yang datang hanyalah sebentuk ujian, guna mengukuhkan kesabaran diri. Berbekal keyakinan seperti itu, motivasi untuk terus berjuang tak pernah padam. Jatuh bangun, bangkit dari kegagalan, dan berupaya keluar dari belitan masalah, menjadi hal yang biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi satu tahun terakhir, luar biasa, pembalikan motivasi ke titik paling nadir. Sebelumnya, masih ada dugaan, bahwa ini adalah takdir. Dengan begitu, aku mencari beberapa sebab. Temuan dari pelacakan itu, biasanya, bersumber dari luar. Misalnya, karena memang sudah "nasibnya" aku harus begini, bertemu dengan orang seperti itu, ataupun karena sejumlah keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya yang terjadi belakangan: sumber petaka mutlak pada diriku sendiri! Benar-benar merasa ngeri dan takut. Ternyata penyakit di dalam diriku benar-benar memenjara. Melumpuhkan gerak. Menumpulkan ketajaman otak. Memadamkan nurani. Dan ujung-ujungnya menggerus keyakinan terhadap kebenaran Illahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir-hampir pasrah, bahwa mengenal dengan baik penyakit diri sendiri, membuat pengakuan,  jujur terhadap kesalahan, mengakui kekeliruan adalah hal-hal yang baik dilakukan. Tetapi ternyata apa yang terjadi? Nyaris tak ada faedah. Aku mengaku aku buruk. Aku mengenali beberapa kelemahan diri. Aku juga tak munafik, atas segala keburukan yang telah dilakukan. Tetapi mengapa tak berhasil untuk sekedar mengurangi keburukan itu? Malah kian menggila...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari terakhir aku bahkan telah melakukan kesalahan fatal. Berdampak terhadap pihak lain. Merugikan orang lain. Dan berpotensi menjerumuskan... Batin aku remuk, karena sesungguhnya aku tak ingin hal ini terjadi. Aku juga tak kuasa, tak berdaya, dan sepenuhnya tak mengerti mengapa terjadi? Begitu rapuh. Begitu kosong. Begitu hancur moralitas dalam diriku. Rasanya aku tak sanggup lagi. Integritas aku mungkin hancur-hancuran. Tuhan, tolonglah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1162932391689651342?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1162932391689651342/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/real-life.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1162932391689651342'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1162932391689651342'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/05/real-life.html' title='Real Life...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-6109815553869117246</id><published>2011-04-29T09:21:00.000-07:00</published><updated>2011-04-29T09:31:37.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Life Is...</title><content type='html'>Dunia memang begitu lebar menyediakan ruang untuk segala hal. Dari mulai hal-hal yang bermanfaat, hingga ke urusan yang mudharat. Dari hal-hal menyenangkan, hingga hal-hal yang menjengkelkan. Dunia juga menyediakan ruang untuk kombinasi dari sejumlah faktor yang disebut barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, gabungan antara perkara bermanfaat ---tetapi kurang menyenangkan. Atau sebaliknya, perpaduan antara urusan yang tak berfaedah alias mudharat, tetapi betul-betul mengasyikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa juga jalinan perpaduan itu dicampur-campur lagi. Misalnya, ada sesuatu yang tak jelas manfaat dan mudharatnya, tetapi benar-benar menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan contohnya: Royal Wedding Week, antara Kate Middleton (oleh pers Inggris diplesetkan menjadi Kate Middleclass, karena ia berasal dari keluarga kelas menengah) dengan Pangeran William.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itupun, lagi-lagi tergantung pada sudut pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi, di mata sebagian besar orang, Royal Wedding itu (sebagai contoh bahasan) adalah benar-benar bermanfaat, atau juga sebaliknya, benar-benar merugikan. Mari mulai dari pandangan yang terakhir, yang menyebut betapa tak bermanfaatnya pesta akbar di abad moderen itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang Inggris sekalipun, konon, tak semuanya suka. Mereka mengeluhkan pembiayaan pesta, yang dikuras dari kantong pajak ---dan itu artinya duit rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ini pandangan minoritas. Dunia malah membalikkan fakta yang lain. Orang begitu terpana. Publikasi meluas ini, malah menjadi ajang promosi gratis bagi kerajaan Inggris (yang memang sudah beken). Sekaligus mengerek citra. Mempercantik performa Inggris, dan kelak berdampak pada bidang-bidang lain: wibawa British Kingdom, menaikkan wisatawan, dan lain-lain.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-6109815553869117246?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/6109815553869117246/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/life-is.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6109815553869117246'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6109815553869117246'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/life-is.html' title='Life Is...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4903137909888949612</id><published>2011-04-11T01:19:00.000-07:00</published><updated>2011-04-11T01:20:46.837-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungang'/><title type='text'>Slametan Mobil Baru...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0OI0tAmLEbU/TaK507WkZ-I/AAAAAAAAAWY/Ouvzrq7nLyg/s1600/Untitled.png"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 204px;" src="http:http://www.blogger.com/img/blank.gif//4.bp.blogspot.com/-0OI0tAmLEbU/TaK507WkZ-I/AAAAAAAAAWY/Ouvzrq7nLyg/s320/Untitled.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5594238006084265954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, akhirnya jadi juga syukuran (atau orang Banten bilang Slametan) beli mobil. Jamaah sudah pulang dengan sumringah. Pak Ustadz, setelah ngobrol agak lama, ngeluyur pula ---sembari menyisipkan amplop di saku baju koko. Handai taulan sudah tuntas mendoakan (saya lihat ada yang khusyu, ada pula sembari sms-an). Biarlah… Yang penting niatanya mengharap Ridho dan Perlindungan Allah Subhanahu Wata’ala. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlaluan kalau cita-cita lama yang diperjuangakan dengan susah payah (maksudnya lebih sering susah, dan membuat badan payah bin lelah), setelah berhasil lantas tak diwarnai dengan kenduri Selametan. Tetangga mau bilang apa? Tak tahu juga ---berhubung belum pasang camera CCTV yang bisa rekam suara juga di rumah sebelah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Alhamdulillah itu, semoga bisa ke luar dari lisan saya sebagai cerminan batin yang khusyu. Sebab yang dikatakan saat ini, bukannya tidak tulus murni, tetapi masih bercampur dengan kecemasan. Cemas jika keberuntungan seperti itu tak datang dalam hidup saya. Maklumlah, apa yang terjadi saat ini adalah “adegan” ceria di rumah tetangga ---juga kawan dekat. Ia baru saja berhasil membeli mobil baru. Tentu, demi menjaga tradisi dan barangkali juga memang sungguh-sunggu berdoa, perlu berepot-repot undang jamaah kiri kanan. Agar bertandang ke rumahnya. Mereka statusnya adalah bertamu sembari dijamu. Bercengkerama sebelum dan sesudah berdoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya, meski pasang muka “shaleh” sebagus mungkin, toh cuma (hanya) hadir sebagai pelengkap dan saksi. Atas kebahagiaan keluarga kawan. Alhamduliillah. Hingga kini,boro-boro mobil, untuk sehari-hari saja kadang utang ke para “pihak” yang masih percaya (atau juga kasihan).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4903137909888949612?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4903137909888949612/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/slametan-mobil-baru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4903137909888949612'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4903137909888949612'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/slametan-mobil-baru.html' title='Slametan Mobil Baru...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5936502963429968967</id><published>2011-04-03T00:01:00.000-07:00</published><updated>2011-04-03T00:26:44.985-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Cul-De-Sac</title><content type='html'>Seribu jalan menuju Roma. Banyak cara mencapai keinginan. Namun sesungguhnya, kita jauh lebih butuh sedikit saja alternatif. Kebingungan justru hinggap lebih kuat manakala terlalu banyak "metode" yang tersedia ---dalam merengkuh target.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, tak elok menyingkirkan pepatah bagus di awal kalimat ini. Di mana-mana, kiasan atau metapora memang butuh perumpamaan bagus, seperti rangkaian kata "banyak jalan menuju Roma itu". Meski dalam realita kehidupan, kebanyakan pilihan jalan justru cenderung menyesatkan. Hidup adalah bergumul dengan keyakinan untuk memastikan. Dan itu tak perlu bertele-tele dengan tumpukan pilihan dan peluang. Cukup satu dua saja. Setegas ungkapan "seperti memakan buah simalakalma". Ini begitu tegas. Tapi dengan resiko begitu besar. Namun, bukankah setiap pilihan selalu mengandung "ancaman kerugian"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntunglah bila masih tersedia opsi, antara "A", "B", "C" dan seterusnya. Karena berarti kondisinya bukanlah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cul-de-sac&lt;/span&gt; (jalan buntu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda bila segalanya mentok. Bersalah adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;resultante &lt;/span&gt;(hasil akhir) yang selalu terpetik. Sama sekali bukan bohong, bila berada dalam situasi yang memaksa kita untuk sempit bergerak. Pilihan hanya sedikit, bahkan nyaris tidak ada. Kalaupun ada,  maka bleum tentu berhasil. Ataupun jika berhasil, tetapi resiko dan syaratnya berat. Malahan kerapkali berhadapan dengan kondisi "kita tak sanggup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasanya terjadi dalam atmosfer penuh tekanan, keterdesakan, dan beban yang menggunung. Hidup begitu getir. Tatkala masalah berlipat-lipat, sementara jalan ke luar tak kunjung muncul. Mengerikan sekali, suasana seperti ini biasanya melahirkan problem-problem baru. Gagal membayar utang bulan ini, adalah menambah beban untuk bulan berikutnya, begitulah, bila sekedar menyebut contoh. Masih banyak perkara pahit lain yang mewujudkan catatan tentang ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, barangkali jarang-jarang situasi ini terjadi. Namun bila ya, menerepa lakon hidup sehari-hari, apa yang harus dilakukan? Menyerah adalah perilaku manusiawi. Berpikir buruk. Purbasangka berkembang-biak. Kemarahan menggumpal. Cacimaki, luapan emosional, hingga melahirkan gejala-gejala neorosa (stress, depresi, dan lain-lain), juga termasuk bisa saja. Setiap manusia tak bisa bebas dari ancaman stress, depresi, dan halusinasi. Tetapi, bedanya, ada kondisi sementara, dan ada yang menjadi permanen (jika hal terakhir yang terjadi, tak ada cara lain kecuali minta bantuan Psikolog).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran sedemikian &lt;span style="font-style:italic;"&gt;mumet&lt;/span&gt; itu terjadi pada saya hari-hari belakangan ini. Sesungguhnya, perjalanan hidup saya jauh lebih sering bersirobok dengan kondisi-kondisi menjengkelkan ini. Namun, sukses atau gagal, lama atau sebentar, bisa juga sesekali saya berkelit. Setidaknya, lari dari masalah. Kalau ini tak bisa, maka mengalihkan masalah. Jika tak bisa juga, menghadapi masalah ---apapun tantangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh dibililang, rasio antara gagal dan berhasil (dalam ikhtiar menghadapi masalah itu), terlampau jomplang. Bagian gagal jauh lebih banyak ketimbang  sebaliknya. Hingga hari ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyerah pun juga sering. Hanya gengsi laki-laki dan lapisan Iman yang tipis menjadi penyelamat, untuk tidak meraung dalam tangis, dan tidak melumatkan murka ke mana-mana. Saya sering diam tergugu. Atau menetes bulir air mata di kesunyian (tak ingin dilihat orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akar tunjang yang selalu jadi cantelan (meski rapuh), adalah rasionalitas dan intelektualitas. Maksudnya, belajar dari buku-buku, atau menyimak cerita-cerita yang menyembulkan kekuatan. Inilah penawar sementara. Meskipun polanya begitu terbatas. Bacaan  yang saya konsumsi itu ---terkadang sangat banyak--- belum berhasil melentingkan posisi saya ke zona nyaman. Malah boleh dibilang, terkunci di situ-situ saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun saya percaya, bahwa rasio dan akal sehat saya belum mati... Seraya melacak lembar-demi-lembar petunjuk Iman, dalam Al Quran, dalam buku-buku Islam. Lumayan memang, saya hingga hari ini masih mereguk nafas. Tidak melakoni &lt;span style="font-style:italic;"&gt;seppuku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;atau&lt;/span&gt; harakiri&lt;br /&gt;&lt;/span&gt; (Bahasa Jepang, artinya bunuh diri).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiang penyangga yang paling rutin menghibur hati tak lain adalah melihat anak-anak. Mereka, Ya Allah, aku bersaksi, telah menjadi penyelamat utama. Meski beban menggunung, kesedihan menggantung, tapi mereka sanggup membuat saya merasa beruntung. Mereka tampan, lucu, periang, cerdas, dan selalu mengajak bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi inilah yang tak ingin aku abadikan. Aku tetap meloncat-loncat mencari tangga pelarian. Agar penjara kekalutan ini segera menjadi catatan sejarah. Tidak lantas menjadi Biografi yang Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Culdesac&lt;/span&gt; itu, semoga cepat berlalu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5936502963429968967?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5936502963429968967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/cul-de-sac.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5936502963429968967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5936502963429968967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/cul-de-sac.html' title='Cul-De-Sac'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5883024193440758204</id><published>2011-04-01T09:33:00.000-07:00</published><updated>2011-04-01T09:37:14.957-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Limbung...</title><content type='html'>Aku limbung. Bingung. Menggantung. Ingin sekali rasanya menenggelamkan diri dalam air yang segar dan jernih. Ingin sekali rasanya mereguk hawa segar. Supaya batin basah, mampu meresapi kejernihan. Ya Allah, langkah seperti apa yang harus kutempuh, agar tak begini-begini terus.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5883024193440758204?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5883024193440758204/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/limbung.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5883024193440758204'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5883024193440758204'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/04/limbung.html' title='Limbung...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8157680713712776622</id><published>2011-03-27T23:34:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T23:40:06.999-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Personal'/><title type='text'>Konsistensi Berpikir Positif...</title><content type='html'>Mempertahankan pikiran positif dan memelihara prasangka baik sulitnya minta ampun. Konsistensi dan daya juang untuk mengendalikan akal pikiran agar tidak permanen dengan amarah dan kesedihan, butuh berbagai macam cara. Tidak hanya membentengi diri dengan nasehat-nasehat segar keagamaan, menatap berbagai hal baik di sekeliling, juga perlu dilengkapi dengan kepasrahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya bagian yang belakang inilah, kepasrahan, yang menjadi tiang sandar terakhir. Tatkala segala daya dikerahkan untuk menjaga keyakinan untuk selalu berpikir baik dan berprasangka baik menemui kegagalan, maka pasrahlah sahaja. Siapa tahu, Allah memberikan hembusan kekuatan agar kita kembali tegar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senyatanya juga, pikiran negatif dan prasangka buruk bukannya haram sama sekali. Adalah fitrah, bahwa kita adalah mahluk lemah, Inal Insana Halu'a, manusia itu suka berkeluh kesah, begitu kata Al Qur'an. Paling penting justru mengelola kenegativan itu agar tidak permanen, mengendap dalam benak dan kalbu setiap saat. Biarkanlah pikiran negatif datang sesekali sebagai alat uji, menyadarkan kita akan kelemahan diri sendiri.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8157680713712776622?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8157680713712776622/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/konsistensi-berpikir-negatif.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8157680713712776622'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8157680713712776622'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/konsistensi-berpikir-negatif.html' title='Konsistensi Berpikir Positif...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2188758433335479638</id><published>2011-03-27T07:53:00.000-07:00</published><updated>2011-03-27T08:03:53.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Ingin Beruntung</title><content type='html'>Bagaimana menghadapi tekanan berat seperti ini? Bukannya aku tak tahu cara bertahan, atau bersabar dengan kekecewaan berat seperti sekarang. Masalahnya, nasib seperti berpesta atas seluruh kesialan aku. Rasanya semua kekuatan bersekongkol dan begitu menikmati menghancurkan ketahanan diri. Jika berbuat keliru, aku mendapat hukuman keras. Jika berbuat baik, berbalas racun. Entah apa lagi yang harus dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja bukan berarti aku menyerah kalah. Berberak dan upaya terus menerus, besar atau kecil, masih sanggup diperbuat. Akan tetapi begitu pedih hasil balik yang terjadi. Segala upaya selalu berakhir dengan menjengkelkan. Padahal, aku tak berbuat jahat. Tidak melakukan kejahatan. Baiklah, satu dua kali mungkin bertindak maksiat dan dosa, tetapi lebih sering karena tekanan frustrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir-hampir saja keyakinan terhadap Iman melepuh. Hanya bacaan dan buku yang kerap jadi penyelamat. Sedikit hati terbasuh oleh harapan. Batin terbisiki oleh sepoi optimisme. Atau di saat melihat keluarga, anak dan isteri, semangat tempur bergelora kembali. Namun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, bukankah Engkau Maha Tahu aku adalah serapuh-rapuhnya hambamu? Betapa tak kuasanya aku terhadap tekanan, peristiwa getir, dan cobaan-cobaanMU? Keyakinan terhadap KekuasaanMU, memang, tak lekang dalam hidup, akan tetapi Imanku tak teguh. PertolonganMU, ya Allah... Kasih sayangMU... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benak kini tergulung-gulung oleh amarah dan kesumat. Hati menggumpal dalam kebencian dan kemarahan. Insya Allah, ya Rabb, dengan pertolonganMU, aku tak terjerumus dalam kekalutan dan berbuat angkara. Akan tetapi jiwa kian rapuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ingin dalam keadaan seperti ini, sebenarnya. Hati ini mendamba tenang. Batin ingin bersyukur. Jiwa butuh resapan manisnya hidayah dan petunjukMU. Akan tetapi betapa tak mudah. Selalu, dan selalu bertemu dengan rangakain kejadian yang aku yakin datang dari MU. Ya Allah, jika selama ini Engkau berkuasa dan mengizinkan keburukan selalu datang, bukankah hanya Engkau pula yang sanggup menyingkirkannya? Ya, Allah, betapa inginnya aku menjadi hambaMU yang beruntung... Tolong aku, ya, Rabb...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah aku hambaMU yang sama seperti orang lain?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2188758433335479638?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2188758433335479638/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/ingin-beruntung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2188758433335479638'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2188758433335479638'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/ingin-beruntung.html' title='Ingin Beruntung'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-379269336793180608</id><published>2011-03-15T10:12:00.000-07:00</published><updated>2011-03-15T10:29:48.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungang'/><title type='text'>The Story of My Former Boss: Extravaganza Duka</title><content type='html'>Ditangan orang-orang bengis, maka tangis berubah menjadi kisah politis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat puluh hari kematian seseorang adalah bau hangat yang  masih terendus. Nuansa khidmat dan penuh hormat, akan larut di batin orang-orang yang tunduk pada kaidah perputaran nasib. Inilah petikan hikmah kematian, yang berlaku bagi siapapun sahaja. Bahwa kematian adalah garis takdir yang tak bisa digeser, tetapi orang-orang yang hidup mestinya tidak memetik manfaat lain, kecuali mendaras doa dan shodakoh kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi orang itu sanggup ke luar dari batas kelaziman. Duka sejati, tidak meronta dalam sorotan. Memeram tangis yang tersedak dalam keheningan. Ia akan menghindar dari ingar bingar. Inilah duka sepenuhnya. Harapan yang  berkumandang adalah untuk kebaikan-kebaikan orang yang "meninggalkan", sekaligus untuk orang-orang yang "ditinggalkan". Tak lantas berputar-putar dalam skenario kenikmatan yang dirancang memenuhi ego pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah selebrasi kematian yang secara langsung aku lihat dengan mata kepala sendiri. Bos ku telah pergi. Kami menorehkan banyak kenangan. Ia, baik atau buruk, tetap saja bagian dari sejarah hidup kami. Tetapi, aku marah ketika mengetahui bahwa setelah ia pergi sekalipun,  masih ada orang-orang yang memanfaatkan namanya, popularitasnya, dan segala kenangan orang yang melekat... Sebuah extravaganza duka...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-379269336793180608?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/379269336793180608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/story-of-my-former-boss-extravaganza.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/379269336793180608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/379269336793180608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/story-of-my-former-boss-extravaganza.html' title='The Story of My Former Boss: Extravaganza Duka'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3435305353045916967</id><published>2011-03-14T03:21:00.001-07:00</published><updated>2011-03-14T03:28:10.194-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Kuatkanlah...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-rcjcTT0Lr7c/TX3tr3cvcqI/AAAAAAAAAWQ/v-KvMGYb8hA/s1600/Endi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-rcjcTT0Lr7c/TX3tr3cvcqI/AAAAAAAAAWQ/v-KvMGYb8hA/s320/Endi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5583880450883941026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghadang keburukan diri sendiri jauh lebih sulit daripada sekedar mematahkan "ancaman" dari luar. Pantas saja, banyak orang yang menjulang dalam sukses dan kemakmuran, tetapi tak bisa lepas dari kejelekan personal. Menjadi orang pemarah, egois, sombong, aniaya terhadap mahluk lain (terutama yang tidak berdaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pihak lain, orang-orang yang gagal dan tidak berprestasi sekalipun, juga punya setumpuk keburukan individual yang tak kalah merusak. Bahkan barangkali jauh lebih banyak karakter tak baik yang melekat pada orang-orang kecil, miskin, dan kalah dalam kehidupan. Karena mereka selalu bisa dipastikan berada dalam "garis edar" kemarahan, frustasi, putus asa, dan cemas. Ujung-ujungnya, berprasangka buruk terhadap berbagai hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal, aku merasa bahwa sesungguhnya aku memiliki peluang untuk berhasil. Semuanya serba terbuka, bukan hanya sebagai potensi, tapi justru aktual, beberapa di antaranya pernah sempat aku cicipi manisnya. Tetapi, tetap saja keburukan itu menggulung dan menjerat langkah hidupku. Baru saja kemarin aku mencicipi kemenangan, sebuah sari rasa manis yang membahagiakan. Secepat kilat semua itu berganti arah. Kini, aku kembali terperosok. Tetapi, mudah-mudahan tidak membuat kapok. Aku ingin bangkit kembali. Tolong, ya Rabb...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3435305353045916967?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3435305353045916967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/kuatkanlah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3435305353045916967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3435305353045916967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/03/kuatkanlah.html' title='Kuatkanlah...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-rcjcTT0Lr7c/TX3tr3cvcqI/AAAAAAAAAWQ/v-KvMGYb8hA/s72-c/Endi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1715041320329354391</id><published>2011-01-22T04:44:00.001-08:00</published><updated>2011-01-22T04:50:09.069-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Tak Pernah Bisa Lupa Dia...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TTrSdU0_MPI/AAAAAAAAAWE/kKQvY6sSIu4/s1600/Pretty%2BMamonto.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TTrSdU0_MPI/AAAAAAAAAWE/kKQvY6sSIu4/s400/Pretty%2BMamonto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5564991690818662642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin hari, justru semakin tak bisa lupa. Betapa luar biasanya rasa cinta yang  bersemayam dalam diri. Tak lekang bahkan oleh perubahan-perubahan. Tak hirau oleh fakta-fakta bahwa dia semakin melambung jauh. Hanya iman saja yang membentengi aku untuk menahan diri, tahu diri, dan tidak melakukan hal-hal tak pantas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, senyatanya memang dia jauh dari jangkauan, bahkan semata untuk bersilaturahmi. Khawatir jika dia tersinggung, atau malah menjadi malas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang kujaga mati-matian. Agar dia bisa aku nikmati dalam bayang-bayang saja. Cukup, sangat cukup, ketika angan melayang bahwa Dia tidak membenci dan menertawakan aku. Tapi, ah, sebentar...  jika menertawakan aku, tak apa. Memang itu sangat layak aku terima. Tuhan, Aku Cinta Dia, karena percaya bahwa itu baik. Jagalah agar tetap baik.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1715041320329354391?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1715041320329354391/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/tak-pernah-bisa-lupa-dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1715041320329354391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1715041320329354391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/tak-pernah-bisa-lupa-dia.html' title='Tak Pernah Bisa Lupa Dia...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TTrSdU0_MPI/AAAAAAAAAWE/kKQvY6sSIu4/s72-c/Pretty%2BMamonto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1310583822457495983</id><published>2011-01-22T04:35:00.000-08:00</published><updated>2011-01-22T04:43:52.623-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Kembali Genting...</title><content type='html'>Sayang, belum terdengar ilmu yang mendeteksi secara pasti perubahaan suasana jiwa. Kalau cuma bolak-balik antara cemas dan penuh harap,  disiplin ilmu psikologi telah lama tahu. Begitupun dengan ajaran-ajaran Islam. Tetapi jika membuat infografik yang menunjukkan turun naikknya kondisi jiwa, setahu aku belum ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah,  anda saja bisa, tentu potret mentalitas aku sekarang ini seperti kurva turun naik, ada cekungan, ada gunungan. Turun naik tak menentu. Dalam bahasa psikoanalisis: manic-depresif. Lonjakan tiba-tiba dari gembira ke sedih. Dari penuh harap menjadi buntu. Tercermin jelas dalam aktivitas harian. Kadang nafsu untuk berproduksi: misalnya kerja, misalnya menulis, misalnya membaca, silaturahmi, dan melakukan kebaikan-kebaikan, datang begitu tinggi. Penuh semangat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh, tak lama kemudian berbalik arah. Serba malas. Pesimis. Cemas. Takut. Plus segala macam pikiran-pikiran ruwet. Lebih-lebih sekarang ini menghadapi situasi yang sangat tidak nyaman. Aku kembali merasakan kegagalan beruntun. Terutama dalam hal prestasi dan kerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, tak boleh terlalu larut. Berat terasa memang, beban sedemikian menggunung. Ingatan makin perih manakala terlintas bayangan orang-orang yang kucintai,isteri dan anak-anak. Bergumul dengan perasaan bersalah, guilty feeling yang mendalam. Hanya Tuhan yang mengetahui kegalauan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun ada cantelan spirit yang begitu kokoh, tak lain bahwa aku berkali-kali bisa lolos dari lubang jarum. Artinya,  situasi genting seperti ini bukan pertama kali terjadi. Sudah sering, bahkan. Insya Allah, kemampuan untuk bertahan masih cukup tersedia, membantu untuk mencarikan solusi. Di sana-sini, juga masih ada peluang yang memungkinkan untuk dikejar. Lagi-lagi, hanya Allah yang bisa membantu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1310583822457495983?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1310583822457495983/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/kembali-genting.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1310583822457495983'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1310583822457495983'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/kembali-genting.html' title='Kembali Genting...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7622444572491793283</id><published>2011-01-04T08:48:00.000-08:00</published><updated>2011-07-27T03:14:10.141-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Buku'/><title type='text'>Buku adalah Pergaulanku...</title><content type='html'>Buku melipat waktu dan menggunting jarak.  Demikian kata Ustadz Habiburahman El Shirazy. Patut saja mengatakan itu, bagi tokoh sekaliber penulis novel-novel Islam yang dahsyat itu. Ia berkelana ke negeri-negeri Islam, berjumpa dengan tokoh-tokoh ulama, dari zaman baheula hingga kini, terutama melalui buku yang dibaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh lain, Dhee, personel AB Three dan novelis ternama, menyebut bahwa membaca buku adalah nafas kehidupan. Sementara bagiku pribadi, buku adalah pelarian. Karena aku terbatas dalam bergaul, tak punya kekuatan uang atau apapun untuk menembus pergaulan dengan orang-orang pintar, maka aku berinteraksi dengan orang-orang besar via membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terakhir, sebenarnya masih banyak, sangat mengagumkan kutipan dari Pak Hernowo, bahwa membaca itu sama dengan mengikat makna. Ketika kita membaca, sebenarnya kita berupaya mengenali diri sendiri (terutama kondisi mental dan pergulatan batin), melalui pengalaman dari orang lain (para penulis buku).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7622444572491793283?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7622444572491793283/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/buku-adalah-pergaulanku.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7622444572491793283'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7622444572491793283'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/buku-adalah-pergaulanku.html' title='Buku adalah Pergaulanku...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7187011225783554673</id><published>2011-01-02T22:07:00.001-08:00</published><updated>2011-01-02T23:01:54.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kemiskinan'/><title type='text'>Aku dan Kemiskinan-Kemiskinanku...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TSF0VUqbL9I/AAAAAAAAAV0/Ve0J9aUOnlY/s1600/Gandhi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 221px; height: 168px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TSF0VUqbL9I/AAAAAAAAAV0/Ve0J9aUOnlY/s400/Gandhi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557851324824629202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah jelas perkara kemiskinan adalah fakta-fakta serba berkekurangan. Kurang uang, kurang beras, dan itu tak jauh-jauh juga dari kurang percaya diri. Syukur-syukur bila itu semua tidak menjungkirkan anda ke titik berikut: kurang berakhlak. Meski dalam perangkap kemsikanan, biasanya soal adab perilaku serta kehormatan diri menjadi urusan paling tak dihirau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kutub berlawanan, hal perihal kemiskinan juga adalah soal keberlimpahan. Orang miskin punya banyak waktu, sering terbengong-bengong tak tahu harus berbuat apa. Bertabur dengan pundi-pundi air mata dan tangis (bukankah orang kaya dan sukses jarang menangis?). Tak terhitung pula ejekan, cemooh, dan penistaan dari orang sekeliling atau dari siapa saja. Kemiskinan juga menyediakan stok meruah untuk digunakan. Misalnya stok untuk kalah, stok untuk rugi, stok untuk apes. Percayalah, semakin miskin anda, maka semakin sering keok dan menjadi pecundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lapis terperih, kemiskinan juga menjejalkan sejuta rasa malu. Sengaja atau tidak, langsung atau tak langsung (lebih sering justru secara langsung), dengan bahasa sopan atau halus (yang ini anda pasti tahu, lebih sering secara tidak sopan!), atribut "orang miskin" yang disandang, membuat kita tak berdaya untuk mencicipi hari demi hari rasa rendah diri, dan selalu malu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini memang perih. Tetapi ada juga yang perih, menyesakkan dada, dan menggigit sukma kesadaran. Tak lain adalah perasaan bersalah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindakan salah, bisa jadi bersumber dari kegagalan yang telah diperbuat. Ini artinya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;do something wrong&lt;/span&gt;. Tapi, orang miskin, juga selalu bersalah karena justru tidak melakukan apa-apa, do nothing. Serba salah, bukan? Lebih-lebih bila urusannya menyangkut psikologis, mem-persepsi kesalahan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa bersalah kian berlipat-lipat manakala kemiskinan anda tak melulu menyergap diri pribadi, melainkan menular dan menyebabkan derita ke orang-orang terdekat. Misalnya terhadap anak, isteri, dan siapa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa hasil dari beban menanggung rasa malu dan bersalah? Kalau anda menolak jawaban berikut, alangkah saktinya. Marah... adalah satu-satunya resultan dari semua itu. Tetapi sial, orang miskin bahkan kesulitan untuk marah!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah pada siapa? Ini juga tidak mudah. Menyiksan dan menganiaya anak dan isteri, sebagai pihak terlemah untuk pelampiasan, adalah bukan perilaku orang yang miskin, itu adalah perbuatan setan. Maka sebaiknya, kemurkaan itu dialamatkan saja ke setan:)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marah dengan cara bagaimana? Socrates pernah mengatakan bahwa semua orang pasti bisa merasa marah, tetapi cara dia menyalurkan kemarahan ditentukan oleh kecerdasannya. Orang miskin seperti aku, pasti kesulitan melaksanakan petuah filsafat itu. Sudah miskin, eh, untuk marah sekalipun dibatasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau mungkin beralih ke Mahatma Gandhi. Sosok ini petuahnya layak ditoleh, bukan karena pernyataan-pernyataannya bagus untuk disimak. Melainkan karena ia juga menjadi martir untuk "memilih hidup dengan jalan kemiskinan. Dialah orang yang sengaja memilih tinggal di Ashram Savignan, sebuah dusun kotor, jorok, berpenyakit, untuk  jalan derma. Mahatma Gandhi pernah mengatakan: "Setiap orang berhak marah, tetapi tak wajib melaksanakannya." Luar biasa Bapak Agung dari India ini. Selain menyatakan miskin sebagai pilihan, untuk marah pun ia menganjurkannya sebagai sebuah pilihan (agar tak dilaksanakan). Ia adalah batu karang bagi ideologi Ahimsa (anti kekerasan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada obat untuk kemiskinan. Bila dunia ini menyimpan berjuta keanehan, maka "kemiskinan" adalah salah satu diantaranya, dengan ratting tertinggi, paling mudah ditemui, sekaligus paling dibenci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa diobati? Marilah telusur. Kemiskinan berada dalam posisi banyak perkara. Perkara ekonomi, psikologi, lingkungan, ideologi, dan sudah tentu juga politik. Ruwetnya masalah kemiskinan juga ditentukan oleh nasib, posisi, dan kegilaan orang-orang tertentu (yang sengaja memilih miskin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin anda juga bisa mengatakan, bahwa banyak urusan hidup yang bersangkut paut dengan banyak hal, misalnya juga kesehatan. Kesehatan adalah perkara eknonomi, psikologi, lingkungan, juga kebijakan pemerintah (ini adalah soal politik). Tetapi, apakah ada agama atau ajaran yang mengagungkan orang sakit? Adakah orang yang memilih secara fisik atau psikis memilih sakit? Tidak ada bukan. Beda dengan kemiskinan, di mana agama memberi peluang untuk menghormati kemiskinan. Juga ada orang-orang tertentu yang tak keberatan untuk miskin. Bunda Therese berani menghadapi kemiskinan, tetapi ia sekaligus mengobati orang-orang sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian barusan memang bukan zona orang miskin, melainkan para filsof, aktivis sosial, atau mereka yang menggerakkan api revolusi dan perlawanan. Sementara, orang-orang miskin hanya tahu mereka menanggung malu, marah, merasa bersalah, dan menghadapi jalan buntu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Contoh Kemiskinanku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin menjadi jelas bila berangkat dari cerita. Aku pernah berdoa, dengan teramat sering bahkan, agar jika Tuhan belum mengangkat aku dari posisi Urban Poor (kaum miskin kota), maka tutuplah aib-aibku ini. Tuhan, jangan Engkau perlihatkan kemiskinanku kepada banyak orang. Tetapi, doa aku yang miskin ini juga tak terwujud. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat di Idul Fitri, di saat serba kurang uang, bencana meletak. Kacamata aku pecah. Otomatis, tak bisa aku ganti. Tak ada uang cadangan untuk itu. Nah, dengan terpaksa aku bersilaturahmi kanan kiri dengan rupa orang miskin yang teramat sangat (tak ada orang kaya yang bergaul dengan kacamata yang retak, bukan?). Seolah Tuhan mengutus aku untuk mengkamapnyekan kemiskinan diriku sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah pedih lain: pagi-pagi menggendong anak, cukup jauh, untuk berangkat sekolah, di tengah rinyai gerimis pula (sebelumnya hujan lebat). Mengapa? Meski punggung ngilu, tulang belakang serasa rentak, itu perlu untuk membujuk anak yang merengek tak mau sekolah. Bukan karena si kecil malas, melainkan ia merajuk. Pagi itu kami tak punya uang. Ia juga tak sarapan. Aku belum punya peluang mencari alternatif. Akhirnya kubujuk ia dengan cara digendong sampai sekolah. Aneh, ia begitu girang, sepanjang perjalanan berkicau dan menyanyi. Ternyata, di tengah kondisi miskin yang menghimpit, bisa lahir keunikan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan kemiskinan juga tak mendorong kita untuk kurang berpahala. Tetapi sering menjebak pula. Di saat ada urunan shodaqoh, kita tak mampu. Mengunjungi orang sakit, kita menjadi enggan (karena tak bisa membawa apa-apa). Bersilaturahmi juga jadi rikuh. Jangan katakan bahwa shodaqoh bukan melulu memberi materi, semua orang miskin tahu itu. Tetapi perasaan merutuk dalam hati, karena tak berbuat atau memberi sesuatu yang berfaedah, adalah siksaan tersendiri bagi orang miskin. Pengalaman aku adalah konkrit. Di saat orang lain menyumbang untuk mushola, aku belum. Hasilnya, untuk melangkah Sholat berjamaah ke Mushola jadi surut mengkerut. Sedih rasanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun derita luar biasa adalah ketika kita menjadi miskin, maka kebebasan berpikir, berbicara, dan berpendapat terkerangkeng. Sekalipun ada opsi untuk bebas berpikir, maka itu adalah melamun, berilusi, dan dekat-dekat kepada penyakit delusi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara luapan untuk berbicara, tepatnya adalah agar kata-kata kita didengar orang, seperti mampat ---persis got bersampah di musim penghujan. Mana ada orang yang mau dengar ide orang miskin? Ini juga aku rasakan. Meski aku baca ratusan buku, tahu banyak informasi, tak ada guna apa-apa. Orang lebih butuh uang daripada gagasan. Memang, sebagai orang miskin, aku belum berpengalaman dibatasi untuk berorganisasi atau berkelompok. Tetapi, yang ini pun sukar pula. Di mana ada orang berhimpun, maka di sana butuh sarana... Inilah yang tak bisa aku penuhi. Jadinya, ya tak ke mana-mana dan tidak ikut siapa-siapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah sepenggal kecil cerita kemiskinanku. Dan aku kaya sekali dengan kisah-kisah personal yang meremukkan kepercayaan diri. Takdir baik entah ada di mana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7187011225783554673?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7187011225783554673/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/aku-dan-kemiskinan-kemiskinanku.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7187011225783554673'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7187011225783554673'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/aku-dan-kemiskinan-kemiskinanku.html' title='Aku dan Kemiskinan-Kemiskinanku...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TSF0VUqbL9I/AAAAAAAAAV0/Ve0J9aUOnlY/s72-c/Gandhi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5030116664961429259</id><published>2011-01-01T09:53:00.000-08:00</published><updated>2011-01-01T10:33:46.448-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dunia Buku'/><title type='text'>Tentang Kecerdasan Membaca (Buku)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TR9ze5tnO8I/AAAAAAAAAVs/bqFUrUsdQao/s1600/membaaaca2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 242px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TR9ze5tnO8I/AAAAAAAAAVs/bqFUrUsdQao/s400/membaaaca2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5557287439923887042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku-buku yang diterbitkan belakangan ini sering membuat saya geregetan. Seolah para penulis (dan penerbit) berlomba dengan satu keyakinan, bahwa buku laku adalah buku yang seru! Seru dengan judul yang bombas. Seru dengan topik yang pragmatis. Dan seru dengan desain atau cover atraktif. Bila begini terus, kapan konsumen buku di Indonesia menjadi kekuatan intelektual yang mencerdaskan banyak pihak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada yang lebih membuat hati gondok, kecuali buku yang berlebihan dalam merumuskan teknik membaca. Saya kebetulan beberapa waktu terakhir ini menemukan buku-buku yang membahas topik seperti itu. Dengan judul hebat: bacakilat, bacacerdas, dan lain sebagainya. Dengan hak yang saya miliki, maka izinkan saya mengatakan bahwa buku-buku tersebut bukan buku yang baik. Karena isinya menjerumus kepada persoalan teknik dan keterampilan semata. Padahal berbeda dengan jenis keterampilan lain yang pernah hadir di dunia, perkara membaca adalah perkara lahir batin. Teknik yang hadir, tak melulul fisik, tetapi juga hati dan otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berasumsi, bahwa membaca malah tak perlu teknik. Melainkan adalah motivasi dan kemampuan untuk memilih buku yang (sebaiknya) kita baca. Membaca adalah persoalan kecerdasan, persoalan kebutuhan personal, persoalan imajinasi... dan bukan persoalan metode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, membaca yang baik adalah kecerdasan dalam memperoleh dan memilih buku yang baik (dengan cara yang baik pula). Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku yang baik, apapun itu, adalah buku yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan kita. Problemnya: kemampuan merumuskan pertanyaan yang baik juga adalah tak mudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekedar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;interogatif question&lt;/span&gt;,  pasti mudah. Semisal menanyakan HP yang dipinjam adik: Kapan mau dikembalikan? Dua level lebih gampang dari itu adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yes or No Question&lt;/span&gt;, alias pertanyaan tertutup, yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak". Dua kategori atau jenis bertanya seperti itu kerap digunakan oleh Pak Polisi atau Bu RT (yang nagih iuran arisan bulanan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda dengan perihal "jenis" pertanyaan terhadap sebuah buku yang berada di depan mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran bila jauh di era silam, Socrates pernah mengingatkan bahwa salah satu teknik mengenali kejeniusan seseorang adalah melalui pengamatan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan. Orang cerdas, pasti bertanya secara cerdas pula. Di sisi yang sama, Socrates pula yang memfatwakan bahwa buku yang baik adalah buku yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari berbicara dengan agak panjang. Bahwa hakikatnya cara kita memperlakukan buku sejajar dengan kemampuan kita merumuskan pertanyaan-pertanyaan dalam benak. Lebih lanjut, juga berkait-berkelindan dengan imajinasi yang berputar-putar di dalam batok kepala. Semakin lincah anda memainkan pertanyaan, semakin mampu anda mengenali bagus tidaknya sebuah karya pustaka. Pun demikian, makin liar imajinasi (ketika berhadapan dengan sebuah buku) maka akan semakin kritis anda dalam menilai sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja saya melompat ke topik yang agak jauh ---melampaui hal-hal teknis yang terkait dengan kemampuan membaca (readability). Tidak untuk membantah banyak pihak, yang terlanjur gampangan membuat metode dan teknik dalam membaca, plus dengan janji-janji ala lampu aladin, seolah membaca adalah urusan teknik dan skill semata. Orang lupa, bahwa membaca adalah proses yang kompleks. Melibatkan berbagai perangkat bantu. Tetapi semua itu berpijak pada satu hal: isi otak anda!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain  kata, buku yang baik adalah (sesungguhnya) berada dalam benak anda. Kalau isi memori anda hanya perempuan sexy dan kendaraan kinclong, maka jangan harap bisa menyerap buku-buku filsafat. Itulah yang terjadi, misalnya, mengapa buku-buku yang berisi gagasan kuat dan argumentatif, agak jarang diburu orang (konsumen). Lantaran publik buku, segmen pasar di dunia perbukuan, hanya perlu penghiburan dan penggembiraan, bukan refleksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita sepakat dengan kaidah barusan, mari beranjak ke urutan berikutnya. Di mana-mana, ketika orang bertanya, pasti ia ada tujuan. Kecuali sekedar ketakutan mendapat perintah Pak Guru di kelas. "Anak-anak, apakah dari keterangan saya ada yang perlu kalian tanyakan? Kalau tidak, maka saya yang akan bertanya". Otomatis, para murid memilih bertanya, karena kalau ditanya duluan, ngeri tak bisa menjawab. Orang bisa juga secara terpaksa harus bertanya, karena misalnya, dibangunkan secara mendadak dari tidur lelap. "Hah, hah, ada apa?" Bukan jenis ini pertanyaan yang bermuatan tujuan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Skala tujuan, kalau boleh dikatakan begitu, dalam merumuskan pertanyaan, adalah bervariasi. Di level mendasar, skala tujuan dalam bertanya adalah menemukan jawaban-jawaban. Seterusnya, merangkai jawaban. Lalu menemukan pola informasi (yang lahir dari jawaban). Baru kemudian, terakhir, menemukan kesimpulan. Inilah kaidah kedua dalam menentukan kecerdasan dalam membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaidah ketiga, tak lain adalah masalah fungsional. Maksudnya adalah untuk apa sebuah buku dibaca, manfaatnya, efeknya, dan lain seterusnya. Di sini sudah melibatkan faktor situasi, kebutuhan, suasana psikologi, atau bisa jadi sekedar hobi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya penyakit mendasar dari gelombang literatur moderen yang kini kerap diterbitkan seputar teknik membaca, melupakan kaidah-kaidah ini. Orang menulis buku tentang teknik membaca cepat, membaca efektif, membaca kilat, dan lain sebagainya, seperti tercekam oleh asumsi bahwa membaca adalah urusan teknik melulu. Padahal kenyataannya tidak begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seseorang pembaca sudah menemukan buku yang ia asumsikan baik, sesuai dengan kapasitas pengetahuan dan intlegensinya, maka tak perlu lagi urusan teknik membaca. Ia, dengan cara apapun yang ia suka, akan membaca dan memperoleh sesuatu yang ia butuhkan (dari buku yang digenggam). Demikianlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5030116664961429259?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5030116664961429259/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/tentang-kecerdasan-membaca-buku.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5030116664961429259'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5030116664961429259'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2011/01/tentang-kecerdasan-membaca-buku.html' title='Tentang Kecerdasan Membaca (Buku)'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TR9ze5tnO8I/AAAAAAAAAVs/bqFUrUsdQao/s72-c/membaaaca2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4875127090130441165</id><published>2010-12-30T11:26:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T11:29:32.229-08:00</updated><title type='text'>Menjelang Pergantian Tahun 2010 ke 2011</title><content type='html'>Jauh dari proyeksi yang dipancang jauh sebelumnya... bahwa ternyata 2010 ini perjalanan hidupku tambah berat. Tapi aku masih bisa bertahan...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4875127090130441165?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4875127090130441165/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/12/menjelang-pergantian-tahun-2010-ke-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4875127090130441165'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4875127090130441165'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/12/menjelang-pergantian-tahun-2010-ke-2011.html' title='Menjelang Pergantian Tahun 2010 ke 2011'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1156159414842575139</id><published>2010-09-19T11:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-19T11:23:56.986-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Novel Yang Akan Segera Aku Resensi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TJZU8nuKjmI/AAAAAAAAAVc/xCvrr6kGnVM/s1600/Memeluk+Gerhana.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 265px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TJZU8nuKjmI/AAAAAAAAAVc/xCvrr6kGnVM/s400/Memeluk+Gerhana.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5518691793820618338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1156159414842575139?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1156159414842575139/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/novel-yang-akan-segera-aku-resensi.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1156159414842575139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1156159414842575139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/novel-yang-akan-segera-aku-resensi.html' title='Novel Yang Akan Segera Aku Resensi'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TJZU8nuKjmI/AAAAAAAAAVc/xCvrr6kGnVM/s72-c/Memeluk+Gerhana.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4894487576266366340</id><published>2010-09-08T05:05:00.000-07:00</published><updated>2010-09-08T05:16:50.448-07:00</updated><title type='text'>Diriku, Ujian Kesabaranku, dan Kesedihanku</title><content type='html'>Semestinya  diri ini tepekur dalam keharuan, di ujung Ramadhan ini (1431 H/ 2010 M). Allah memberikan selaksa tanda-tanda Kasih dan Sayangnya. Ketika diawal Ramadhan ini terbelit masalah yang merentakkan tulang punggung, menghinakan wibawa diri, dan menyiramkan sejuta kecemasan, hamba susah payah bertahan. Merawat rasa sabar, meneguhkan keyakinan, seraya mencob menyesap rasa syukur atas apapun yang Engkau berikan. Lalu, sesuatu terjadi, Engkau memberikan aku pertolongan ---sebagaimana yang aku harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi penyakit kebodohan itu selalu terulang. Memang sempat bersyukur, tetapi sedikit. Penghambaan atas KekuasaanMU pun memang aku lakoni, tapi setengah hati. Tidak mampu jiwa dan raga ini mengoptimalkan ibadah, bahkan mengendor dalam pengabdian. Aku yang di saat kritis bisa bershodakoh banyak, bertahajud banyak, berdzikir banyak, justru lemah ketika Allah memberikan pertolongan yang membuat diri ini lapang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ya Rabb, Engkau Maha Tahu, bahwa akal dan jiwa aku sudah tak ingin lagi berkompromi dengan prasangka buruk dan kemarahan (atau mencaci nasib atas apa yang terjadi). Aku mungkin kalah dalam menghalau rasa malas beribadah kepadaMU, tetapi selalu aku lawan. Di saat sholat tertinggal, mengaji Al Quran terabaikan, toh, aku kembali datang bersimpuh. Memohon taubat dan ampunanMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan-pelan ya Allah keyakinan datang menyergap sukma. Bahwa tiga kali Ramadhan Engkau menguji aku dengan kekurangan (dari aspek ekonomi), tetapi tigak kali pula Engkau selamatkan aku (dengan memberi rezeki yang mencukupi). Itu saja sudah cukup, Ya Allah. Cukup karena aku takut tak sanggup lagi bila harus mengalami peristiwa yang sama. Cukup karena ternyata daya tahan dan kemampuan aku bertahan teramat lemah. Aku ingin sekali Engkau angkat. Ya Allah, berilah aku kelonggaran-kelonggaran dalam merengkuh rezekiMU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini adalah menjelang takbir kemenangan. Alhamdulillah, dengan kapasitas dan kemampuan yang aku miliki, puasa bisa berjalan penuh ---itu artinya ini adalah tahun ketiga aku bisa berpuasa Ramadhan secara penuh. Aku ingin mencucurkan air mata bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4894487576266366340?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4894487576266366340/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/diriku-ujian-kesabaranku-dan.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4894487576266366340'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4894487576266366340'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/diriku-ujian-kesabaranku-dan.html' title='Diriku, Ujian Kesabaranku, dan Kesedihanku'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2490952163416282218</id><published>2010-09-05T00:48:00.000-07:00</published><updated>2010-09-05T00:50:17.253-07:00</updated><title type='text'>Ahmadinejad, Presiden Iran yang Mengguncang!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TINLqMDISgI/AAAAAAAAAVU/7sLAGUGlx_k/s1600/Buku+Ahmadinejad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TINLqMDISgI/AAAAAAAAAVU/7sLAGUGlx_k/s400/Buku+Ahmadinejad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5513333556992559618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pekan  sebelum menang dalam pemilihan Presiden Iran, di Tahun 2005, Mahmoud Ahmadinejad adalah seorang “pesakitan politik”.  Anak gurun dari tukang pandai besi ini nyaris tak memiliki apapun untuk terpilih menjadi orang nomor satu —di negeri bekas reruntuhan peradaban Persia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan penulis buku Ahmadinejad, Kisah Rahasia Sang Pemimpin Radikal, yaitu Kasra Naji, menyebut Ahmadinejad adalah calon presiden yang lusuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut penuturannya: Ahmadinejad, jelas, menjadi Calon Presiden paling lusuh. Iklan politiknya tertayang di media hanya karena “keberuntungan” (bahwa ada peraturan setiap kandidat memperoleh hak yang sama berpromosi di  stasiun televisi). Itupun berisi rekaman video dengan kualitas gambar buruk,  berisi pesan yang teramat klise bagi rakyat Iran —tentang penghargaan terhadap para pahlawan perang Iran versus Irak (halaman 66).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat promosi seperti itu, publik Iran hanya punya satu pikiran: bahwa Ahmadinejad adalah calon presiden pertama yang harus mundur. Mereka menilai mantan Walikota Teheran ini tak layak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanggapan “mengentengkan” ini wajar belaka. Ahmadinejad bukan politisi kaliber sebagaimana para calon presiden yang lain (misalnya Ali Akbar Rafshanjani). Jangan tanya soal modal uang dan kapital, publik mengenal Ahmadinejad adalah sosok yang bersahaja, bahkan tak terdapat sofa di ruang tamu rumahnya. Mobil pribadinya pun hanya sebuah Peugot tua. Lalu bagaimana dukungan politik dari pihak lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua media massa meyakini satu hal, bahwa beberapa hari lagi datang berita penting: Ahmadinejad mengundurkan diri dari pertarungan kursi Presiden Iran. Tak ada satupun media massa yang mendukung tokoh Islam Radikal ini. Pun, yang menyedihkan, sekutu terdekat, kawan-kawannya seperjuangan, juga beberapa politisi parlemen, sama-sama menjauh dari dirinya. Keyakinan bahwa Ahmadinejad akan habis, kian diperkuat dengan beberapa kali survey, yang menunjuk popularitas Ahmadinejad berada di nomor 2 (dihitung dari belakang, dari 8 kandidat, artinya, ia hanya menempati posisi ke enam).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dunia menatap dengan gembira, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Mereka optimis, bahwa kelompok Islam Radikal di Iran sudah habis, salah satu tokohnya yaitu Ahmadinejad tak akan terpilih menjadi presiden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi di 17 Juni 2005 itu seolah-olah mimpi buruk datang. Ahmadinejad menang dalam pertarungan, menempati posisi kedua di bawah Ali Akbar Rafsanjani, dan itu artinya berhak bertarung di putaran kedua. Persis sejarah mencatat, diputaran kedua dirinya lah yang unggul, menyalip posisi mantan Presiden Ali Akbar Rafsanjani. Dunia terperangah. Seorang duta besar Inggris lalu mengirim faximile yang berbunyi: “ini adalah hasil dari perkembangan yang tak terduga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Awal Kontroversi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontroversi Presiden baru Iran ini dimulai terlalu dini. Tepat disaat penghitungan suara, lawan-lawan yang kalah menghujat terjadi kecurangan sistematis. Kemenangan di luar dugaan ini adalah hasil rekayasa. Mereka menuding Pasukan Pengawal Revolusi, Pemimpin Agung Ayatulloh Khamenei, dan tokoh bangsa yaitu Ali Movahedi telah mengotori pemilihan umum demi kemenangan Ahmadinejad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikutnya, karena gagal menghadang laju kemenangan, lawan politik melansir isu keterlibatan Ahmadinejad dalam tragedi penyanderaan berdarah di Kedutaan Besar AS, di Tahun 1979, yang berlangsung selama 444 hari, di era Presiden Richard Nixon. Pihak yang kalah, memfitnah bahwa Ahmadinejad adalah pelaku yang berlumuran darah, dan sangat kotor. Serangan ini begitu gencar, menghumbalang di dalam dan luar negeri. Berbagai saksi mata dari Inggris, Amerika Serikat, dan mereka yang disandera di saat itu mengaku bahwa Ahmadinejad adalah “pelaku penyanderaan”. Tetapi serangan ini pun sirna. Segera setelah keluar pernyataan resmi dari CIA, bahwa Ahmadinejad tak terlibat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dunia Marah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mencoba meramalkan apa yang terjadi di Iran adalah main tebak-tebakan”, demikian ujar seorang diplomat Inggris, demi melihat kemenangan Ahmadinejad. Bila Inggris terlihat hati-hati, Amerika Serikat lain lagi. Negara adidaya ini terlihat berang. Mereka melihat masa depan demokrasi di Iran telah habis, bersama dengan kekalahan telak kubur moderat dan Islam modernis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin dunia melihat dengan beragam cara. Begitu banyak julukan tersemat kepada Ahmadinejad, seiring dengan beragam kontroversi yang dimunculkannya. “Presiden berjiwa labil”, “pemimpin arogan dan bodoh”, dan “menjijikan”, adalah beberapa tudingan yang dialamatkan ke Presiden Iran ini. Sebuah pertemuan, ketika Ahmadinejad melakukan lawatan ke Amerika Serikat, berlangsung di Columbia University, sambutan sang rektor menyebutnya sebagai loose cannon, yaitu orang ceroboh yang selalu mengejutkan! (Halaman 143)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;The Loose Cannon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa julukan arogan, keras kepala, bodoh, dan ceroboh begitu gencar? Atau bahkan The Loose Cannon, alias ceroboh dan megejutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia tak terlalu pening bila kebencian Ahmadinejad terhadap Israel hanya sebatas retorika. Tak terhitung gaya Anti Israel (tetapi kemudian berkompromi) yang hinggap di kalangan pemimpin Arab. Tetapi hanya Akhmadinejad yang menikam ke ulu hati Ummat Yahuid, dengan menyebut Holocaust (pembantaian di kamp-kamp konsentrasi rezim Nazi) adalah mitos dan bohong!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmadinejad bahkan memetik kemarahan komunitas Yahudi yang Anti Zionis —dan anehnya, mereka sudah ribuan tahun menetap di Iran, ketika mengadakan Konferensi Holocaust di Iran. Dengan mengundang para tokoh rasis dunia, mulai dari pemimpin Xu Xluk Klan di Amerika Serikat, pengagum Nazi, dan lain-lain. Presiden Iran ini juga memercikan bensin di tengah upaya perdamaian Timur Tengah, dengan menyebut bahwa “Israel harus dihapus dari peta dunia.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak lagi. Seorang fanatik Imam Mahdi ini bahkan nyaris disebut mengidap delusi, penghayal yang tidak lagi rasional. Berkali-kali kalangan moderat Iran disakiti dengan tingkah polah Ahmadinejad. Paling menonjol terkait dengan ancaman dunia internasional terhadap Iran, bila negeri itu tetap ngotot mengolah industri nuklir. Sang presiden menjawab serampangan, bahwa “pengayaan nuklir iran adalah kereta tanpa rem dan tak perlu perseneling, meluncur tanpa boleh berhenti”. Sontak pernyataan mengejutkan ini membuat dunia marah, dan tekanan terhadap Iran kian dahsyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden Iran inipun dinilai berkali-kali membuat perbuatan memalukan, seperti mengirim Surat Pribadi kepada Angela Markel, George W Bush, dan pemimpin dunia lain (sesuatu yang tak pernah dilakukan oleh pemimpin Iran lain). Juga tentang seruannya agar Program Keluarga Berencana dihapuskan di Iran, dengan tujuan memperbanyak orang Islam di Iran.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Catatan Akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini terperinci mengulik sosok Ahmadinejad. Mulai dari benih-benih pendidikan Islam garis keras, keterlibatan semasa mahasiswa, pengalaman menjadi walikota, hingga sahabat-sahabat dekan Sang Presiden. Di beberapa bagian, terlihat kritik pedas dan kontra opini terhadap Ahmadinejad. Namun, sebagaimana laporan jurnalistik, buku ini cukup imbang memberikan penilaian. Meski bertabur serangan terhadap Ahmadinejad, terkait perilaku presiden yang “konyol” ini, tetapi pengakuan terhadap prinsip hidup sederhana diulas juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak, dibalik berbagai kelemahan dan dosa politik Ahmadinejad, buku ini memperlihatkan bahwa Sang Presiden tegar dalam membela kaum papa. Ia juga menjalin hubungan baik dengan para pemimpin sosialis, dan mencoba membangun poros anti Amerika Serikat. Sebuah poster, menunjukkan adanya koalisi bertajuk keadilan, yang menggambarkan Ahmadinejad, Evo Morales, Hugo Chavez, Fidel Castro dan Daniel Ortega. Setidaknya, dunia memang selalu punya orang-orang yang tak menjadi penjilat Amerika Serikat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2490952163416282218?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2490952163416282218/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/ahmadinejad-presiden-iran-yang.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2490952163416282218'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2490952163416282218'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/ahmadinejad-presiden-iran-yang.html' title='Ahmadinejad, Presiden Iran yang Mengguncang!'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TINLqMDISgI/AAAAAAAAAVU/7sLAGUGlx_k/s72-c/Buku+Ahmadinejad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-192598488098386756</id><published>2010-09-03T23:10:00.000-07:00</published><updated>2010-09-03T23:12:19.538-07:00</updated><title type='text'>Kisah Mudik yang "Gagal"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TIHjOnoUAFI/AAAAAAAAAVM/A35c38nsZUY/s1600/Mudik+Lebaran.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 340px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TIHjOnoUAFI/AAAAAAAAAVM/A35c38nsZUY/s400/Mudik+Lebaran.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5512937259173937234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik adalah drama kolosal tetapi dengan skenario serba gagal. Tanyakan saja pada para pengendara motor yang “berhujan-berangin-berpanas-panas” di Jalur Pantura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kenapa nekat mudik pakai motor?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Karena saya gagal… gagal memiliki mobil.” (Tentu saja, karena belum sanggup mengkredit Mobil Honda CRV, maka pulang kampung cukup pakai Motor Honda CB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudik juga memperlihatkan para pemegang otoritas di negeri ini  yang gagal mendedahkan serangkaian peringatan. Maka kasihanilah kampanye gencar Pemerintah dan Kepolisian RI yang tak kenal lelah mengingatkan publik untuk mudik tanpa membawa kendaraan roda dua. Himbauan ini nyaris menjadi iklan rokok, yang berbunyi: Peringatan, pemerintah merugikan kesehatan… (eh, salah… Peringatan: merokok merugikan kesehatan). Adakah perokok yang mengikuti anjuran ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasus-kasus  barusan terkategori kegagalan yang bisa kita maafkan. Sebab tak kalah banyak cerita “mudik gagal” yang bisa ditorehkan kata “menyedihkan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari petik rangkaian sampel berikut.  Berapa banyak Jamaah Al Mudik-iyah yang bahkan gagal melindungi keselamatan jiwa keluarga? Perlaya di medan berat jalur Jakarta, Cirebon, Semarang, hingga ke Surabaya.  Bukankah para pemudik itu juga kerap gagal melindungi harta atau properti bawaannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita membayangkan orang-orang yang meski tiba selamat, tetapi tiba bersimpuh di hadapan orang tua dengan derai-derai air mata? (bukan karena sungkem takzim, tapi uang dan oleh-oleh hilang di jalan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita mahfum saja —dengan serangkaian rona kegagalan  dalam ritual mudik. Kemacetan nan menggurita, kriminalitas menggila, lonjakan biaya, kondisi jalan yang porak poranda, dan semua itu seolah membuktikan bahwa negeri ini “seperti tak diurus oleh siapa-siapa”.  Ini serius. Pemerintah dan DPR RI menjelang mudik juga gagal menjadi pengabdi publik yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga  kali saya punya bukti, ketika menjadi Staf Ahli DPR RI di Komisi V (Bidang Perhubungan, dan urusan langganan para politisi Senayan jelang lebaran adalah “menjual” isu mudik lebaran).   Saya cukup menyetor draf bahan pertanyaan ke anggota dewan edisi tahun lalu, karena toh hal yang akan “ditanyakan” Anggota Dewan ke pemerintah itu-itu juga, tak berubah! Dan jangan salahkan pemerintah kalau kemudian juga memberikan jawaban yang sama dengan edisi pertanyaan mudik tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pun ada yang berbeda, tak lain jenis “setoran” THR-nya. Pemerintah dan DPR juga sama-sama mahluk penghobi mudik. Tetapi dulu titipan THR pakai parcel.  Kini, karena takut kena pasal gratifikasi (korupsi lewat pemberian hadiah barang-barang mahal), cukup melalui cek saja.  Omong-omong, betapa banyak pihak yang “gagal” dalam tradisi mudik, termasuk para pegiat anti korupsi? Misalnya saja… KPK dan ICW yang tak pernah terdengar sukses menggarap korupsi politik dengan modus THR untuk mudik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, ini memang Indonesia yang sesungguhnya. Sebuah posisi di jazirah nusantara yang selalu sanggup bertahan dengan aneka kegagalan (termasuk gagal perang dengan Malaysia, meski jutaan rakyat sudah gatel). Hebatnya, hal-hal itu selalu bisa dinikmati berulang kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang mengherankan adalah bahkan temuan dan rekayasa teknologi komunikasi sekalipun menjadi “sesuatu” yang gagal dalam mengendalikan arus mudik. Klaim kecanggihan, seakan rontok. Teknologi (tele)komunikasi dan informasi, sama sekali belum mampu menahan libido mudik dari para penghuni kota-kota besar.  Meski bisa kirim sms, nelpon, atau bahkan upload video via internet, toh tak cukup. Para pemudik harus tiba dengan fisik —bukan cuma suara dan tampang doang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski begitu, cerita mudik sama sekali bukan horor. Siapapun boleh ikut dalam tradisi mudik, termasuk mereka-mereka yang puasanya gagal total. Karena yang paling menakutkan, jujur saja, kalau Anda menjadi salah satu pihak yang gagal mudik.  Sedihnya…&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-192598488098386756?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/192598488098386756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/kisah-mudik-yang-gagal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/192598488098386756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/192598488098386756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/kisah-mudik-yang-gagal.html' title='Kisah Mudik yang &quot;Gagal&quot;'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TIHjOnoUAFI/AAAAAAAAAVM/A35c38nsZUY/s72-c/Mudik+Lebaran.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8952999410780665170</id><published>2010-09-01T08:48:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T08:50:09.478-07:00</updated><title type='text'>Membaca Ulang Sejarah Dunia Islam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TH52Km2BJzI/AAAAAAAAAVE/jEzPKEuRY84/s1600/Buku+Baghdad.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 258px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TH52Km2BJzI/AAAAAAAAAVE/jEzPKEuRY84/s400/Buku+Baghdad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511972918545950514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masalahnya adalah polaritas,” tutur Robert Langdong, pakar simbologi dalam novel terbaru karya Dan Brown, yang berjudul The Lost Symbol.”  Seorang Malaikat Penolong yang menyelamatkan nyawa anda di medan perang adalah Iblis Jahanam di mata musuh anda.” Posisi atau locus di mana anda berada, akan menentukan cara pandang. Kurang lebih!&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Akan tetapi tak selesai di situ. Polaritas, persepsi, world of view (cara pandang), tak melulu soal posisi dan letak di mana kita berada. Karana di sana ada intervensi informasi. Pengepungan arus berita, pencitraan,  mitos, legenda, atau bahkan agitasi dan propaganda. Sesuatu yang bernama fakta, bukanlah lagi kejadian sebenarnya, jika sudah masuk dalam wilayah opini. Dunia kita, sesungguhnya, telah berbaur dengan teknologi rekayasa opini publik ----di manapun posisi dan keberadaan anda. Sejarah adalah bagian dari rekayasa opini itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh menarik adalah “permainan persepsi” dari Noam Chomsky, yang menyebut istilah newspeak di media barat. Ketika berbicara kata Islam, maka yang menyembul adalah serentetan kata-kata ini: radikal, fundamentalis, teroris, Taliban, Hamas, feodal, menyiksa perempuan, anti moderenisasi, tertutup, bahkan setan dan iblis! Permainan intelektual itulah yang mengesankan Islam berada dalam “hanya” sub bab tambahan dalam buku-buku sejarah dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Islam dalam konteks sejarah dunia? Apakah lepas dari konteks rekayasa dan penceritaan yang merugikan? Buku ini mendedahkan jawaban cantik, lengkap dan memuaskan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Tamim Ansyari, penulis buku ini yang berjudul Dari Puncak Baghdad, sejarah dunia jelas bukanlah daftar kronologis dari segala hal yang pernah terjadi. Ia adalah rangkaian peristiwa-peristiwa yang paling berpengaruh, dipilih dan disusun untuk mengungkap garis lengkungan cerita (halaman 15). Lengkungan cerita itulah yang sering dikosongkan, apabila berbicara tentang Sejarah Islam dalam panggung dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai fakta geografis yang secara fisik lebih besar dari gabungan Eropa dan Amerika, hadir di sepanjang abad. Kokoh dari abad awal, tengah, hingga moderen kini. Sejarah kelahiran modernitas, industri perdagangan (juga pelayaran), menguasai Selat Gibraltar, Bosporus, hingga Selat Malaka, juga bersumber dari Islam. Pun dengan berkecambahnya ilmu pengetahuan. Dalam buku ini, di halaman 344, bahkan menyebut para cendekiawan muslim telah mencapai ke ambang semua penemuan ilmiah yang dating di kemudian hari, yang melahirkan ilmuan-ilmuan Eropa seperti Newton, Francis Bacon, Descrates, Copernicus, atau Galileo. Bukan sekedar mendahului, tetapi meletakkan dasar-dasar ilmiah bagi temuan sains moderen. Tetapi, dalam sejarah dunia, peran penting ini diseleksi oleh Barat ---untuk dihilangkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegabah bila menuding faktor tunggal atas “hilangnya” situs Islam sejarah dunia. Persoalannya terlampau kompleks. Telisikan detil akan berjumpa dengan beberapa fakta, bahwa Islam mundur bukan oleh pukulan tunggal dunia Eropa, tetapi ---tentu saja--- penggerogotan di internal Islam sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya jika mengangkat kemerosotan khazanah intelektual Islam. Arus zaman waktu itu justru membalik skenario peradaban. Perintis inovasi ilmiah dan teknologi barat (Newton dan nama-nama besar lain) justru lahir parallel dengan gerakan reformasi keagamaan di Eropa, via gerakan Martin Luther dengan spirit protestanisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia muslim lain lagi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, dan para punggawa intelektual Islam justru hadir persis di antara kebangkrutan imperium Islam, baik secara sosial dan (terlebih lagi) politik. Apa boleh buat, akhirnya mereka selesai sebagai perintis sains, yang menyelamatkan gagasan-gagasan agung dari filsuf Yunani, dari Socrates, Plato, Aristoteles, dan lain-lainnya ---untuk diserap oleh tradisi ilmiah Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan buku ini padat dengan pertanyaan-pertanyaan kaum muslim. Tak hanya isu ketertinggalan ilmu dan pengetahuan, tetapi juga dekadensi moral, dan kemunduran sistem politik. Misalnya tentang isu “kebangkrutan” khalifah, yang berlangsung begitu cepat. Juga tentang kebangkitan ulang negara-negara Islam di seluruh pelosok bumi (yang nyaris tidak ada lagi ikatan dengan sistem ke-khalifahan). Paparan mendetail, akhirnya menemukan persepsi baru, bahwa inferioritas dunia Islam sesungguhnya bukan datang dari barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Dunia Islam yang digdaya dikepung oleh berbagai gempuran, yang menjadi bagian tak terelakan dari kemajuan dunia non Islam, baik di barat maupun timur, oleh Eropa atau “pasukan barbar” Mongolia. Tiga tiang besar ke-khalifahan, yang masih bercokol di Turki Usmani, Fathimiyah (Persia), dan Moghul (Asia Kecil, India), rontok karena dunia bergerak cepat, oleh perdagangan, merkantilisme, pelayaran, kolonialisasi, dan tiga kekaisaran Islam itu terlalu besar untuk beradaptasi. Adalah mengagetkan bahwa, tiga tiang itu bukan tumbang oleh perang besar, baik dari Eropa atau wilayah lain, karena secara militer dunia muslim saat itu masih bisa melawan. Perdagangan, yang membawa perebutan uang dan emas, jauh lebih mampu membuat tiga kekaisaran Islam itu perlaya perlahan-lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsekuensinya menjadi begitu besar dan panjang. Beberapa epik kemenangan ikonik, dari Perang Badar oleh Nabi dan para sahabat, Penaklukan Selat Gibraltar oleh Tarikh Bin Jiyad, Perang Salib oleh Sholahudin Al Ayubi, dan keagungan tentara Islam nyaris tak berbekas oleh “merkantilisme bin kolonialisme” ini. Dunia Islam lalu bertanya dengan cemas, mengapa Islam jatuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Perintisan untuk bangkit memang berkibar di mana-mana. Tetapi kemudian dengan spirit yang sudah teramat bias, dengan beragam versi dan gagasan. Kebanyakan negara Islam bangkit dengan ideologi nasionalisme, yang menurut buku ini sangat berbeda dengan barat. Di barat, temuan nasionalisme yang dirumuskan misalnya oleh Ernest Renan, adalah fakta-fakta yang ditemukan ---karena kesamaan bahasa, kesamaan teritori, dan kesamaan dalam perang atau perdagangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia Islam lain lagi, nasionalisme adalah “fakta yang dibayangkan harus ada” (halaman . Inilah jawaban penting untuk menolak klaim pengusung revitalisasi (menghidupkan kembali) sistem khalifah di Dunia Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Olehnya gerakan menghidupkan kembali “api Islam” menjadi begitu berwarna. Para tokoh pengusung pun sering kali lahir dengan gagasan yang saling bertentangan. Tetapi satu hal jelas, Dunia Islam bagaimanapun tak pernah benar-benar takluk oleh siapapun. Inilah saripati dari Buku berjudul Dari Puncak Baghdad ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info Detil Buku:&lt;br /&gt;Judul                            : Dari Puncak Bagdad , Sejarah Dunia Versi Islam&lt;br /&gt;Penulis                          : Tamim Ansary, Sejarawan Muslim Dunia&lt;br /&gt;Penerbit                        : Zaman, Jakarta&lt;br /&gt;Tahun Terbit                 : 2010&lt;br /&gt;Tebal                            : 589 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8952999410780665170?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8952999410780665170/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/membaca-ulang-sejarah-dunia-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8952999410780665170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8952999410780665170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/09/membaca-ulang-sejarah-dunia-islam.html' title='Membaca Ulang Sejarah Dunia Islam'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TH52Km2BJzI/AAAAAAAAAVE/jEzPKEuRY84/s72-c/Buku+Baghdad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8132554476896046407</id><published>2010-08-31T02:14:00.000-07:00</published><updated>2010-09-01T02:24:28.033-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>DPR RI, Need A New (Character) Building?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THzIc9jswAI/AAAAAAAAAU8/TUPuJ4vZvgM/s1600/Gedung+DPR+Baru.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 281px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THzIc9jswAI/AAAAAAAAAU8/TUPuJ4vZvgM/s400/Gedung+DPR+Baru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511500443880833026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu menjadi Staf Ahli DPR RI untuk salah seorang selebritis, saya punya pengalaman lucu. Adik kandung sang seleb (Fraksi Demokrat), yang baru tiba dari belanda, datang ke kantor rakyat di Senayan itu. Lalu berkata: “Oh, ini ya… Gunung Rakyat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sontak kami terpingkal. Lantaran lidah Belandanya salah ucap: yang maksudnya “gedung” malah disebut “gunung”. Namun belakangan, agaknya ujaran itu ada benarnya juga. Lebih-lebih bila mengingat betapa DPR telah menjelma menjadi gunung(an) masalah di republik ini. Sebagaimana lazimnya gunung, juga sulit dijangkau, dan hanya indah terlihat dari jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akses ke “gunung” DPR bukan dipermudah malah dipersulit —dengan proyek kartu khusus dan pengamanan berlipat. Gunung DPR juga hanya bagus sebagai sebuah pemandangan, persisi di tengah lanskap kota, dengan hutan kecil nan hijau. Tetapi, juga sebagaimana isi dalam perut gunung, di dalamnya “bergolak lahar berapi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkara terhangat adalah proposal pembangunan Gedung Baru DPR RI, yang menyerap anggaran triliunan rupiah, dan akan diselesaikan dalam kurun tiga tahun. Usulan ini sekali lagi menyembulkan masalah laten DPR RI, ketiadaan sense of urgency dan miskin sense of priority&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas yang dibutuhkan adalah pembangunan karakter, atau character building, tetapi proposal pengajuan justru adalah pembangunan gedung baru (a new building). Senyata-nyatanya diakui semua pihak, termasuk internal dewan sendiri, tentang perilaku malas, tidak produktif, rajin mangkir sidang, dan rupa-rupa bau tak sedap lain, inilah problem prioritas di kantor senayan itu. Bila diperas jadi satu, maka sumber penyakitnya adalah karakter atau mental. Mentalitas tak bertanggung jawab. Mengingkari amanat politik publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal Gedung Baru itupun tidak valid dari aspek argumentasi teknis. Bahwa sarana yang tersedia saat ini, yaitu Gedung Nuantara Satu sudah overload (melebihi kapasitas). Rujukan informasi bahwa diasumsikan ada 2500 penghuni di sana adalah lemah dari sisi pembuktian. Karena yang terjadi adalah lalu lintas dan mobilitas di Gedung DPR begitu cepat. Konsentrasi para penghuni kerap tersebar-sebar, bergerak ke segala pojok ruang dan bangunan yang tersedia —-di luar gedung Nusantara Satu, ada juga gedung yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa lagi yang bisa menjaga rahasia bahwa Anggota Dewan jarang naik ke Gedung Nusantara Satu? Hingga lahir guyonan pedas tentang Anggota yang bertanya ke Security DPR: Mas, ruangan saya nomor berapa, ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Basis rasionalitas tentang “antisipasi” lonjakan penghuni DPR ke depan nanti juga masih perlu diratakan dengan nalar sehat. Pihak pro pembangunan gedung baru senantiasa mengulang alasan sama, bahwa kelak akan ada penambahan lima orang staf ahli, olehnya butuh penambahan ruangan yang lebih luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila tak cermat, rasionalisasi seperti ini termasuk saru (alias terlihat agak kabur). Karena bisa jadi benar, bisa juga keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan ini bisa menjadi benar andaikata “segala yang tersedia” hari ini sudah berfungsi optimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus ada usulan penambahan lima orang staf ahli? Mengapa bukan perpustakaan yang lebih dilengkapi? Ini adalah kontradiksi hebat yang mestinya dilacak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini, terjadi ironi Staf Ahli. Mereka lebih berposisi sebagai asisten, pembawa tas dan dokumen, pengawal pribadi, atau malahan menjadi kurir. Tak ada lagi asasement atau pengujian, tak ada evaluasi, dan tak ada standar keahlian untuk para Staf Ahli. Jangan tak percaya, saya punya kawan seorang Staf Ahli yang tak bisa mengoperasikan komputer, dan tidak bisa mengetik… Jumlahnya bukan satu, tapi dua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekrutmen Staf Ahli berlangsung kacau. Dan anggota Dewan hanya menikmati “dampak ekonomisnya” saja. Karena negara harus membayar mereka per bulan 7 jutaan (uang ini bisa masuk ke tangan anggota, dan dibayar sisanya ke staf ahli yang asal rekrut, bisa sanak saudara, atau tetangga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti, fakta-fakta ini akan menggiring pada asumsi tunggal, bahwa pembangunan Gedung Baru DPR lebih bermakna proyek materialistik, tinimbang perbaikan mutu DPR secara holistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai catatan pamungkas, saya yang berpengalaman “beredar” di DPR dalam hitungan tiga tahun terakhir, sungguh tertegun, ketika menyimak alasan lain untuk pengadaan gedung baru, yaitu masalah “penambahan ruang” Anggota Dewan, agar lega ketika menerima tamu/ aspirasi daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya: bukan perkara mudah untuk lolos dan menemui anggota DPR. Rakyat yang benar-benar butuh, harus melalui prosedur berlapis-lapis untuk naik ke atas. Komunitas DPR, senyatanya, hanya ramah untuk kelas tertentu saja. Sesungguhnya, jarang sekali aspirasi dan dialog publik berlangsung di ruang-ruang anggota, kecuali di ruang rapat. Begitulah….&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8132554476896046407?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8132554476896046407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/dpr-ri-need-new-character-building.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8132554476896046407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8132554476896046407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/dpr-ri-need-new-character-building.html' title='DPR RI, Need A New (Character) Building?'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THzIc9jswAI/AAAAAAAAAU8/TUPuJ4vZvgM/s72-c/Gedung+DPR+Baru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5393760225843980756</id><published>2010-08-30T06:26:00.000-07:00</published><updated>2010-08-30T06:29:02.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Bung Sjahrir Yang Sunyi dan Penuh Tragedi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THux_71Uj1I/AAAAAAAAAU0/Q3kf6UYfb5s/s1600/Sjahrir.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THux_71Uj1I/AAAAAAAAAU0/Q3kf6UYfb5s/s400/Sjahrir.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5511194280969146194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku baru tentang Soetan Sjahrir ini layak menggedor kembali memori publik tentang perebutan kemerdekaan yang begitu penuh prahara. Namun di luar penceritaan seumumnya, yang mengibarkan pergolakan mengharu biru, serta heroisme para pemuda, buku ini justru masuk dengan plot berbeda. Bahwa sejatinya, Revolusi Indonesia adalah penuh warna. Tak selalu ramai, melainkan bisa sunyi —-yang dilakoni oleh orang-orang yang kesepian, salah satunya adalah Soetan Sjahrir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah dengan bayang-bayang  “sinematografik” bahwa kemerdekaan Indonesia melulu dengan darah, mesiu dan bambu runcing. Kita menganggap faktual, tentang Bung Tomo, Tan Malaka, Soedirman, atau tokoh-tokoh lain yang meletupkan perlawanan gigih mengusir penjajah. Tetapi, itu bukan satu-satunya pola. Jiwa revolusioner dan anti kolonialisme juga bergerak dengan polaritas yang banyak. Ada pihak yang tekun berpikir. Giat berdiplomasi. Menjaga teguh moralitas. Dan prihatin terhadap mentalitas “budak” yang mengidap anak bangsa secara parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini penting untuk menyelamatkan memori terbatas bangsa ini. Bahwa jangan sampai Revolusi Kemerdekaan jatuh sebagai mitos, legenda, dan hanya layak menjadi latar film-film perang (yang menguarkan asap mesiu, letupan bedil, atau bambu runcing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Sjahrir, pejuang, dipolomat, pemikir, dan entah apalagi sebutan yang layak ia sandang (oh, ya, iya juga oleh kolega dekatnya biasa disebut Bung Kecil), adalah tokoh yang merebut panggung pergolakan kemerdekaan dengan cara berbeda.  Si Bung Kecil yang berwajah simpatik, cerdas, dan humoris ini tentu tidak mengasah pedang atau mengukir bambu runcing untuk ditusukkan ke ulu hati penjajah Belanda. Ia bergerak dengan caranya sendiri. Bahwa revolusi tidak selalu rusuh. Tetapi bisa dengan tertib dan teratur. Kepada salah seorang rekannya, ia mengatakan: “Revolusi tidak mungkin diadakan sembarang waktu menurut kehendak nafsu si pemimpin yang gila berontak. Kalau memang mau berhasil, perjuangan harus tertib dan teratur (halaman xxv, Kata Pengantar oleh Subadio Sastropratomo).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ini adalah pilihan berat dan pahit, olehnya selalu berlangsung sunyi sendiri. Dalam sejarah, selalu ada tipe seperti ini. Seperti M.T. Kahin membuat tipologi solidarity maker (tokoh yang mampu menggalang emosi massa, seperti Bung Karno), dan tipe administratif maker (seperti Sjahrir dan Bung Hatta). Sjahrir agaknya tipe administratif maker ini, yaitu bergerak secara rasional dan terukur. Sekali lagi ini adalah pilihan pahit, dan dibenci oleh “kaoem republiken” lainnya. Karena tidak sepadan dengan jiwa zaman (zeitgeist) massa itu, yang bergolak dan emosional. Prinisip rasional ala Sjahrir sudah pasti juga tidak merakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namu berbeda dengan Mohammad Hatta, meski sama-sama pemikir, Sjahrir terlalu banyak musuh politik. Ia bukan hanya dibenci oleh misalnya PKI (yang tiga kali mengguntingnya), tetapi juga oleh Bung Karno dan kalangan muslim sekaligus. Majalah TEMPO Edisi Khusus 17 Agustus lalu seolah meneguhkan kebencian beberapa pihak kepada Soetan Sjahrir, diantaranya adalah para pemberontak DI/TII pimpinan Marjan Kartosoewiryo, yang menolak isi Perjanjian Renville versi Sjahrir. Lengkapnya,  terpapar di halaman 189 dari buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sjahrir sangat dibenci oleh orang orang Komunis dalam PI (Perstoean Indonesia), yaitu Rustam Effendi,  Setiadjid,  dan Abdul Madjid. Hal ini berulang di kemudian hari, ketika ia menjadi Perdana Menteri, dan juga di awal pergolakan 65, ketika PKI mendorong Soekarno untuk membubarkan PSI (Partai Sosialis Indonesia). Selain itu, Sjahrir adalah orang yang berkali-kali mengalami bentrok dan keributan langsung dengan Bung Karno, oleh sebab itu wajar, Bung Karno juga membenci Sjahrir (halaman 63). Menurut Bung Karno, Sjahrir adalah orang yang tidak setia. Pernyataan ini dikeluarkan Bung Karno gara-gara Sjahrir pulang sendiri tanpa melepor ke Bung Karno, ketika ia menghadap utusan dari Belanda.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apakah sikapnya itu kontra produktif? Tunggu dulu. Bagi siapapun yang mempelajari dengan detil bagaimana perundingan Meja Bundar dimenangkan, bagaimana Diplomasi Beras antara India dan Indonesia berlangsung, dan dua hal itu menyelamatkan muka republik di kalangan dunia internasional, pasti akan bersyukur dengan peran Sjahrir. Lagipula, tokoh ini tak kurang-kurang radikal. Sesuai dengan akar kata radikal, yaitu radix, tuntas hingga ke akar-akarnya, maka Sjahrir adalah radikal dengan prinsip, bahwa tak ada kata kerjasama dengan para kolonialis. Mohon dicatat, dari sekian banyak pejuang nasional waktu itu, Sjahrir adalah salah satu orang yang paling dicari Tentara Dai Nippon Jepang, karena menolak bekerjasama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali konsistensi Sjahrir adalah berurat berakar dari pembacaannya atas watak Bangsa ini. Di tengah kentalnya kultur feodalis, karakter yang remuk karena penjajahan, maka tak boleh revolusi jatuh ke tangan orang-orang gila kuasa. Tokoh ini menolak jalan coup d’ etat, menggunting jalan sejarah dengan lumuran darah. Sjahrir sepertinya hendak memberikan pendidikan politik kepada bangsa ini. Untuk melewati pergolakan dengan sabar, sistematis, dan “proyek jangka panjang”. Kosa kata inilah, “proyek jangka panjang”, yang tidak cocok dengan tabiat Bung Karno, Tan Malaka, serta beberapa pejuang nasional lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan sunyi inilah yang kemudian membuatnya terpuruk. Ia jatuh sebagai pesakitan. Dipenjara oleh kumpeni Belanda, diburu Jepang, diteror PKI, dan dipenjarakan oleh Bung Karno. Ia bahkan menghembuskan nafas terakhir jauh dari negeri yang dicintainya, yaitu di Swiss.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh tragedi, yang melampaui kredo “revolusi memakan anak sendiri”. Sjahrir bukan saja dimakan oleh kemaruk politik sesama anak bangsa. Tetapi sekaligus begitu terbatas apresiasi dan pengenalan anak bangsa sesudahnya. Anak-anak muda sekarang bahkan mungkin harus terbata-bata mengeja nama Sjahrir, berbeda bila mereka menyebut tokoh-tokoh lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Takdir menjadi kesepian ini sesungguhnya berbeda dengan tabiat sejati Sjahrir. Manusia besar ini justru tak tahan dalam kesepian. Pengakuan Bung Hatta, yang selama sepuluh tahun menjadi tokoh buangan di Boven Digoel, Banda Neira, dan Soekaboemi, bisa bercerita banyak. Menurut Bung Hatta, selama dipembuangan, Sjahrir mengangkat anak, masing-masing Ali, Lili dan Mimi, sebagai teman mainnya. Selama di pengasingan itupun, ia akrab bergaul dengan anak-anak muda, hingga sempat membuat koperasi dan Klub Sepakbola. Demi mengisi waktu kosong, Sjahrir rela memasak, menjahit baju, dan mengajari anak-anak itu berbagai mata pelajaran (halaman 179).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan penting dari buku ini adalah (sekali lagi) pengingatan bahwa perjuangan dan proyek politik tak harus “grasa-grusu”. Bukan apa-apa, bila segala dobrakan politik bermain satu kali pukul, terlalu banyak orang oportunis yang terlibat. Seperti dalam Revolusi 45, seperti yang ditulis Y.B. Mangoenwijaya, adalah hiruk pikuk penculikan, intrik, intimidasi, pencurian dan penggarongan. Tidak semua adalah pahlawan, karena banyak pula pecundang. Terakhir, buku ini ditulis dari kumpulan catatan sejumlah tokoh, yang terlibat langsung, berinteraksi, atau menjadi anak didik Sjahrir. Dengan kata lain, diantara buku sejenis, inilah buku tentang Sjahrir yang otoritatif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Informasi Detil Buku:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Judul           : Mengenang Sjahrir, Seorang Negarawan, Tokoh Pejuang &lt;br /&gt;                  Kemerdekaan, yang Tersisih dan Terlupakan&lt;br /&gt;Editor          : Rosihan Anwar&lt;br /&gt;Penerbit        : PT. Gramedia Pustaka Utama&lt;br /&gt;Tahun Terbit    : 2010&lt;br /&gt;Tebal           : xlv + 469 halaman&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5393760225843980756?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5393760225843980756/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/bung-sjahrir-yang-sunyi-dan-penuh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5393760225843980756'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5393760225843980756'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/bung-sjahrir-yang-sunyi-dan-penuh.html' title='Bung Sjahrir Yang Sunyi dan Penuh Tragedi'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THux_71Uj1I/AAAAAAAAAU0/Q3kf6UYfb5s/s72-c/Sjahrir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4653884267537854869</id><published>2010-08-28T06:05:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T06:20:07.983-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>SBY, Saatnya Pindah Quadran, Menjadi Presiden Efektif</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THkJ7Pwi_kI/AAAAAAAAAUk/7DyWmmy_xyw/s1600/Buku+1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 162px; height: 250px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THkJ7Pwi_kI/AAAAAAAAAUk/7DyWmmy_xyw/s400/Buku+1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5510446532511596098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika diibaratkan pengemudi,  maka Presiden SBY adalah sopir yang beruntung. Ia berada di jalan lempang yang begitu mulus, karena struktur konstitusi menjamin masa jabatannya hingga tuntas, tak bisa distop sembarangan hingga berakhir nanti (2014). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pun dengan kelengkapan untuk “tancap gas”, sangat lengkap bin mumpuni. Ia berhak menunjuk para pembantu (para menteri) untuk ikut dalam mengemudikan “perjalanan bangsa”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang “kenek” pendamping supir utama, sebagai “ban serep”, juga selalu siap menemani atau sesekali mengganti tugas-tugasnya, yaitu seorang wakil presiden. Lagipula, bukankah SBY mengantongi SIM yang begitu sahih, yaitu dukungan mayoritas rakyat Indonesia ---dalam Pilpres 2009 lalu. Satu lagi keberuntungan SBY, yaitu punya “kendaraan politik” begitu kuat, bernama Partai Demokrat. Sekali lagi, jika seorang presiden adalah pengemudi tunggal kendaraan Republik Indonesia, maka SBY adalah supir yang beruntung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Analogi ini tentu tak main-main. Mari berhitung. Setidaknya dirunut dari Habibie, Gus Dur, dan Megawati, ia naik podium kepresidenan dalam konteks politik yang jauh lebih stabil (dibanding era sebelumnya). Ketika ia unggul dalam Pilpres langsung, maka struktur konstitusi kita sudah selesai diamandemen, dan terjadi purifikasi (perbaikan) atas berbagai kelemahan sistem presidensialisme. Kelemahan presidensialisme, yaitu masalah legitimasi politik, ia peroleh mutlak ---karena dipilih langsung oleh jutaan penduduk. Begitu juga hak, kewenangan, sudah selesai diatur Undang-Undang Dasar. Berkah lain, dari amandemen konstitusi yang memperkuat posisi presiden, adalah posisi kelembagaan presiden, beserta wakil presiden, serta para menteri-menterinya. Satu hal terpenting, ada pemisahan kekuasaan (separation of power) yang tegas, antara Presiden dengan Legislatif. SBY pula, yang ketika naik, berposisi sebagai chief of executive, sebagai kepala Negara sekaligus kepala pemerintahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tegas-tegas bahwa akumulasi kekuasaan berada di tangannya. Tentu, jika saja mau, ia berhak mengelola kekuasaan kepresiden secara tegas dan efektif. Pilihan ada di tangannya, menggunakan cara-cara hard power, soft power, atau malah kompromistis ---dan tersandera oleh Partai Politik. Satu saja yang harus dihindarinya, yaitu menabrak rambu-rambu konstitusi.&lt;br /&gt;Lalu kita melihat dengan miris. Sang sopir terlalu sering mengerem, atau bahkan memarkir kekuasaannya, untuk terlalu sering “menjamu” kehausan politik dari para rival.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Presiden SBY tersandera oleh jebakan Presidensialisme Reduktif, alias system presidensialisme yang lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang galib saja, seorang Presiden seperti SBY mengahadapi rupa-rupa turbulensi atawa goncangan politik, seperti saat ini yang berhembus menderu-deru. Beragam serangan, isu, fitnah, kritik, dan serangan datang berhamburan. Sumber petaka politik bisa datang dari segala pojok, mulai dari politisi parpol, koalisi parlemen, LSM, demonstrasi publik, hingga ancaman pembangkangan massa dan aksi-aksi terorisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi seorang SBY juga memiliki perangkat yang memungkinkan ia berlindung, seraya tetap menjalankan roda pemerintahan secara efektif. Asal saja, seluruh agenda dan program pemerintahannya pro rakyat, rasanya jauh jika dirinya harus terjungkal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun justru fenomena “low presidentialisme” yang mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SBY cenderung terlampau lunak, ragu, kompromistis, lalu sibuk dibalik pembedahan operasi pencitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi yang berlawan-lawanan, antara struktur konstitusi presidensialisme dengan struktur politik kita yang multipartai, selalu menjadi sumber tudingan atas sikap SBY yang peragu. Para pembela SBY berkilah bahwa sumber instabilitas dan gangguan datang dari pihak eksternal (politisi parpol, koalisi yang tidak patuh, loyalitas ganda para menteri, dan celah politik lain yang dimanfaatkan untuk menyerang presiden). Pertanyaannya: bila memang semua hal itu adalah niscaya hadir, mengapa tidak dilawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurang lebih, buku ini menyediakan jawaban atas peluang SBY untuk pindah quadran, dari jebakan presidensialisme lemah (reduktif) menjadi presidensialisme efektif (catatan, semuanya harus berporos kepada kepentingan anak bangsa, bukan klan atau kelompok).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut buku ini (halaman 273), SBY bisa memperkuat posisinya dengan cara: (1) melarang menteri rangkap jabatan, agar mereka membuat sikap “loyalitas ganda” atau “bermain di dua kaki”. Menteri harus loyal terhadap presiden, bukan kepada partai tempat asalnya. Ini penting, agar program pemerintah jalan bergegas dan mengena. Lalu (2) Memaksimalkan segala kewenangan dan veto yang dimilikinya. (3) Melembagakan kewenangan posisi wakil presiden. Rumusan ini berpusar pada energi kuasa presiden secara internal, artinya berpusar pada lingkungan kepresidenan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, seputar gangguan politik dari luar, SBY juga berpeluang untuk meredam perkara menjengkelkan itu. Menurut buku ini, yang ditulis oleh seorang cendekiawan muda Alumni UGM, yaitu Hanta Yudha AR, adalah dengan memunculkan strong presidentialisme, presidensialisme yang kuat. Bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain secara konseptual, adalah mensinergikan presidensialisme yang kokoh (dan sudah dijamin oleh konstitusi), dengan struktur politik di parlemen, plus menerapkan personalitas atau gaya kepemimpinan yang kuat pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya masalah di luar dirinya adalah struktur politik kita yang multipartai. Namun, dalam perkembangan politik, bukankah sudah berangsur menjadi sederhana, tidak lagi seribet dulu? Kini sudah terjadi penyederhanaan fraksi di DPR. Peta kekuatan juga sudah jelas, yaitu partai oposisi (PDIP), dan partai pendukung (Demokrat dan “terkadang” partai lainnya). Secara struktur, relatif peta kekuatan tidak bermasalah. Justru menjadi bergelombang karena karakteristik presiden yang rapuh, kompromistis, dan over akomodatif. Hingga sebentar-sebenatar muncul hak angket, hak interpelasi, dan gangguan dari DPR. Padahal, ujung-ujungnya adalah berbagai kekuasaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Output dari lanskap politik sedemikian, justru menyandera SBY untuk mampu menggolkan program-program terbaiknya. Karena, tawar menawar politik, menjauhkan SBY dari dukungan kabinet (yaitu para menteri) yang memenuhi kaidah meritokrasi (professional) dan kehilangan sifat zaken cabinet (cabinet yang kompeten), seperti terpapar di buku ini pada halaman 53. Contoh telanjang adalah tragedi terusirnya Sri Mulyani dari bangku kabinet, hanya gara-gara tukar guling kasus politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku secara sistematis dan lengkap menjadi bacaan yang bagus untuk menguliti sikap gamang presiden. Buku ini adalah karya skripsi penulisnya di Kampus UGM. Akan tetapi, sangat kaya contoh, konsep teoritis, dan pemaparan yang detil. Ditambah lagi dengan dua kata pengantar, masing-masing dari Amien Rais dan Anis Baswedan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amien Rais, dalam kata pengantar buku ini (halaman xxii), memberikan ilustrasi menarik, tentang sikap Abraham Lincoln, Presiden AS, yang merangkul lawan-lawan politiknya untuk duduk di kabinet, dengan satu syarat: mereka harus setia, bekerja untuk kepentingan rakyat banyak, bila melenceng, langsung dipecat! Lalu bagaimana dengan keributan Kongres (atau DPR RI, jika di Indonesia). Mudah saja: kalau bagus diikuti, kalau buruk tinggalkan. Bilakah kita melihat SBY seperti Lincoln?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4653884267537854869?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4653884267537854869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/sby-saatnya-pindah-quadran-menjadi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4653884267537854869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4653884267537854869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/sby-saatnya-pindah-quadran-menjadi.html' title='SBY, Saatnya Pindah Quadran, Menjadi Presiden Efektif'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THkJ7Pwi_kI/AAAAAAAAAUk/7DyWmmy_xyw/s72-c/Buku+1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7320139935545888178</id><published>2010-08-24T09:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:05:43.823-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Tentang Anak Saya Melawan Isu Penculikan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THPwRP6oR0I/AAAAAAAAAUc/SH9Kcs6_XhU/s1600/Alief.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 277px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THPwRP6oR0I/AAAAAAAAAUc/SH9Kcs6_XhU/s400/Alief.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509010948325132098" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini senyatanya pengalaman pribadi, tentang saya, anak saya, isteri dan lingkungan tetangga. Dua minggu sebelum dua orang tak berdosa dibakar hidup-hidup, hanya belasan kilometer dari tempat tinggal saya, yaitu di Kecamatan Kresek (tetangga Balaraja) Kabupaten Tangerang, beredar sejumlah SMS iseng, tentang penculikan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang bermanfaat dengan SMS iseng itu. Bahkan celaka. Isinya terlampau provokatif. Menebarkan horor tentang anak-anak yang hilang, yang diculik, lantas ditemukan dengan bola mata dicungkil, jantung terogoh, dan ginjal yang hilang. SMS beredar dari nomor ke nomor, dari orang ke orang, dari pribadi ke pribadi. Lalu mengular dengan berbagai versi (mesti inti pesannya adalah penculikan anak). Ada yang mengatasnamakan Kepala Desa, mencatut nama Kapolres, dan bahkan hebatnya mengutip peringatan dari Malaysia (tentang orderan rumah sakit di sana  yang butuh organ tubuh anak-anak dari Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis dua minggu saja untuk kemudian lahir horor nyata!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum peristiwa pembakaran manusia tak berdosa di Desa Tamiang, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, terjadi dua peristiwa yang mestinya menjadi peringatan semua pihak untuk bersiaga. Bukan dengan menyiapkan golok atau bensin, melainkan membangunkan akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah mobil AVP Hitam, dengan pelat nomor sekian-sekian dibakar masa di Kecamatan Jayanti, juga masih di Tangerang. Konon itu adalah mobil para penculik. Lalu, beberapa hari berikutnya, warga Kecamatan Balaraja yang heboh —karena menemukan mobil sejenis yang diparkir di tempat gelap. Lagi-lagi, konon itu adalah mobil para penculik. Hasilnya: orang-orang yang memiliki APV hitam di Balaraja dan sekitarnya benar-benar ketakutan. Mereka tak berani menggunakan mobil itu, karena takut diamuk massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua peristiwa itu mestinya menggiring akal sehat masyarakat Tangerang bangkit. Lalu disertai ikhtiar untuk melacak kebenaran isu keji yang sudah berusia dua minggu. Saya sendiri, langsung mengecek ke sebuah Desa, yaitu Desa Saga, Balaraja, tempat sumber isu tentang temuan APV hitam yang akan menculik anak-anak. Ternyata adalah lelucon. Mobil itu adalah   milik orang yang akan berziarah. Lantas isu tentang anak-anak yang akan diculik tak lain adalah kekonyolan khas anak-anak. Mereka malam itu main petak umpet, lalu salah satu anak menangis karena dikerjai kawan-kawannya. Lantas anak itu pulang sendiri. Entah bagaimana ceritanya, lalu beredar isu bahwa anak itu menangis karena berhasil lolos dari sasaran penculikan. Gila…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang SMS itu, jika dinalar dengan kritis sebenarnya tak perlu menjadi horor dan menelan korban begitu banyak. Tetapi yang mengherankan, tetangga saya, lingkungan saya, dan hampir semua orang yang saya tanyai di Balaraja dan sekitarnya bersikap sama. Mereka seolah menikmati isu penculikan itu. Seraya tak lupa menambah-nambahkan beragam versi. Tak pernah ada keinginan melakukan verifikasi dan pembuktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu peristiwa adalah begini. Saat menunggu buka puasa, kawan saya menerima sms tentang penculikan di desa sebelah. Sumber sms adalah kawannya yang sedang berada di pabrik. Anehnya, kawan itu percaya total. Padahal, bagaimana mungkin pesan itu bisa dipercaya, sebab sumbernya adalah kawannya yang tak ada dilokasi tempat isu penculikan itu dilakukan, melainkan sedang bekerja di pabrik. Lebih mencengangkan, lokasi isu penculikan adalah sangat dekat dengan lokasi kami berada. Jadi, bukannya ia segera pergi mengecek, malah lebih percaya isu dari kawannya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tanggapan isteri saya dan anak saya yang sekolah di TK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika rantai isu bergulir, saya tengah menikmati kebanggan terhadap anak sulung saya, yang sekolah di TK. Ia hampir setiap saat bernyanyi dengan riang. Lagunya begini: Helikopter jalannya muter-muter, anak pinter sekolah tak dianter…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya bangga? Anak saya adalah satu-satunya yang berani pulang dari sekolah sendiri, tanpa diantar! Ia diantar Ibunya hanya ketika berangkat. Apa yang dilakukan anak saya seperti melawan “kehobohan” di lingkungan kami tinggal. Tiba-tiba saja anak-anak SD sekalipun ditunggu orang tua atau saudara mereka —gara-gara isu penculikan itu. Semua nampak panik dan khawatir. Tetapi saya tidak. Karena memang tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tak ada juga yang diuntungkan, kecuali beberapa tetangga yang berprofesi sebagai tukang ojek (mereka kebanjiran order antar jemput!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sempat pula isteri disergap rasa khawatir. Tetapi saya bilang, jangan sampai menakut-nakuti anak saya. Biarkan ia pulang sendiri. Kalau tetap mau jemput, jemput saja tapi jangan gabung dengan “para Ibu lain disekolah”. Ambil saja posisi yang agak jauh. Yang penting, anak saya tetap bisa konsisten dengan keriangan yang ia nikmati, bahwa ia adalah “anak pinter karena sekolah tak dianter!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, isteri nurut. Ia “terpaksa” menjemput, tetapi tidak di gerbang sekolah, melainkan agak jauh (yang penting bisa mengawasi). Ini adalah kompromi adil, saya pikir. Artinya, isteri tetap bisa melepas nalurinya untuk melindungi, dan anak saya tetap terjaga kebanggaannya (dengan lagu helikopter muter-muternya itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa saya se-ekstrim itu, dan seperti sama sekali tak khawatir?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini, sesungguhnya kecut juga. Karena ketika meriset di internet dan membaca buku yang ada di DPR (sebuah jurnal tepatnya, tentang perdagangan anak, atau Child Traficking), memang ada poin yang menyebut bahwa modus penculikan anak adalah untuk diperdagangkan. Misalnya untuk dieksploitasi sebagai tenaga kerja murah, untuk dijadikan “hamba prostitusi”, dan juga untuk jual beli organ tubuh. Betul ada poin yang sama dengan teror SMS penculikan di Tangerang, yaitu anak-anak diculik untuk diambil organ tubuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, saya membaca dengan cermat. Bahwa prosentasenya sangat kecil. Tak disebut-sebut pula bahwa Tangerang adalah simpul perdagangan. Melainkan lokasi yang sering dijadikan pasar penculikan adalah daerah-daerah perbatasan, di Kalimantan atau Sumatera. Lalu ada juga informasi persi KOMNAS ANAK, tetapi hanya berita tentang adanya laporan penculikan anak. Mereka sendiri belum melakukan verifikasi lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain meriset informasi, saya juga langsung melacak kebenaran isu ke sumber-sumber otoritatif, yaitu kepolisian. Berhubung sering ada SMS yang mengatasnamakan Kapolres, ya, saya tanya ke “anak buah Kapolres”, yang kebetulan kawan bermain saya kalau menunggu sahur (main PS 2, Winning Eleven). Ternyata, itu hanya isapan jempol. Belum ada bukti. Sama belaka dengan isu yang mengatasnamakan Kepala Desa, saat ditanya, tak ada yang mengaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa makna semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peredaran isu culik anak ini adalah di Bulan Suci, di saat perintah bersabar dan menahan diri menjadi pokok utama. Tapi seolah tak ada sisa apapun yang tertinggal di masyarakat Tangerang. Mereka seolah termakan oleh fantasi yang diproduksi sendiri. Sumber SMS adalah dari mereka juga, lalu diolah, diedarkan, digosipkan, dan tiba-tiba menjadi horor yang diciptakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dosa, penerima sms menambahi cerita tambahan, lalu dikirim lagi ke orang lain. Begitu seterusnya. Mereka seperti mengingkari pesan Rosululloh untuk melakukan proses Tabayun, yaitu periksa dan cek kebenaran sebuah informasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang saya amati. Semoga tak terjadi di tempat lain. Masyarakat Tangerang seperti membutuhkan sarana untuk menguar-uarkan “naluri” bergosip. Mereka sadar dan tahu bahwa itu bohong. Tetapi digosok terus. Disertai dengan canda, tawa, dan adu pintar merekayasa cerita. Lantas hilang itikad untuk sedikit saja melakukan pengetesan. Misalnya seperti yang saya lakukan, melacak langsung ke sumber gosip. Bila begini, apa namanya jika bukan kegilaan terhadap isu? Atau kebodohan menyikapi isu? Saya semakin bangga dengan anak saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7320139935545888178?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7320139935545888178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/tentang-anak-saya-melawan-isu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7320139935545888178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7320139935545888178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/tentang-anak-saya-melawan-isu.html' title='Tentang Anak Saya Melawan Isu Penculikan'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/THPwRP6oR0I/AAAAAAAAAUc/SH9Kcs6_XhU/s72-c/Alief.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-6933653741867969131</id><published>2010-08-18T23:34:00.001-07:00</published><updated>2010-08-29T02:01:51.758-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Hedonisme Politik Ruhut Sitompul</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGzQpnwTBEI/AAAAAAAAAUU/ZgHBwIC_5qU/s1600/Ruhut+Sitompul.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 296px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGzQpnwTBEI/AAAAAAAAAUU/ZgHBwIC_5qU/s400/Ruhut+Sitompul.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507005857832043586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu pihak yang potensial menjadi korban politik pencitraan kelas tinggi adalah ini: para pelakunya sendiri. Jauh-jauhlah berharap bahwa Ruhut Sitompul adalah salah satu orang yang sadar akan ancaman ini. Mengingat  tokoh pemeran Poltak ini hanya tahu satu hal: hedonisme politik! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hedonisme adalah praktek bersenang-senang secara liar tanpa peduli nasib orang lain. Filsafat hedonisme tak kenal baik dan buruk, kecuali mencandu kepuasan sedalam-dalamnya. Sementara hedonisme politik adalah praktek menguras habis, memanfaatkan, memanipulasi, dan mencampakkan kepatutan, hanya demi mencapai ekstase (kesenangan) tanpa batas.  Dan politisi Partai Demokrat yang kerap berulah minor ini secara sempurna menjadi politisi hedonis, baik dalam perilaku, gaya hidup, maupun kejahatan politik sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Ruhut? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menguras habis kebencian publik dan antipati terhadap arogansinya justru untuk kesenangan pribadi ---dan mungkin juga dinikmati beberapa kolega dekatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh Poltak dalam tayangan Sinetron Teleivisi ini selalu sukses menghisap energi negatif masyarakat  (rasa jengkel, muak, enek), untuk kemudian dipermain-mainkan sekehendak hati. Misalnya diarahkan untuk mengalihkan perhatian. Misalnya diarahkan untuk mengabaikan sesuatu yang jauh lebih penting dicerca atau dicaci publik. Tetapi yang paling keji, Ruhut menghisap energi negatif masyarakat untuk kemudian ia muntahkan ke lawan-lawan politiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi jauh lebih menggilas nalar sehat kita  adalah bahwa “tokoh” Ruhut ini kemudian menjadi peliharaan penguasa. Ia sungguh bermanfaat demi menyempurnakan agenda pencitraan para penguasa. Ruhut kerap menjadi “the trigger” ---pelatuk isu yang kemudian dibungkus dengan jawaban-jawaban plastis (sangat lentur dan plin-plan). Ruhut juga enjoy melakukan “test the water”, menguji suasana dan mood politik bangsa ini. Ruhut, terkadang juga berposisi sebagai “the ice breaker”, pemecah kebekuan politik yang kadang muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mungkin penguasa besar dan partai besar diam bila tak menangguk untung dari kadernya ini. Sekurangnya, mereka merasa perlu memiliki orang-orang seperti Ruhut. Terlebih poros politik bangsa ini lebih sering mengandalkan “okol” daripada “akal”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal artikel ini menyebut bahwa setiap orang berpeluang menjadi korban atas politik pencitraan yang dimainkan. Dalam tafsiran matematika politik, gaya Ruhut adalah surplus untuk (partai) pengausa. Tetapi dalam tafsiran rasionalitas politik, gaya Ruhut menyimpan sejumlah resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Ruhut berada dalam perahu besar yang selalu mulus melenggang. Mereka nyaris tak ada lawan seimbang. Ini menggiring pihak-pihak itu menjadi “gigantis”. Menjadi merasa besar, tambun, dan hilang kreativitas ---jangan tanya soal sensitivitas, partai besar ini bahkan tak pernah bicara soal teror tabung gas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Ruhut dan perahu besarnya (termasuk Pak Nahkoda yang selalu dicitrakan bijaksana),  karena terlalu senang dengan rangkaian kemenangan, “digilai” jutaan fans, mereka menjadi narsis! Ingat, perilaku narsis bukan hanya senang dengan “kecantikan” diri sendiri, melainkan juga senang “menyakiti para pecintanya”. Sama persis dengan legenda Narcisus yang dikutuk oleh pemujanya ---yang bernama Echo. Konon, Dewi Echo yang mengejar-ngejar Narcisus menjadi dendam karena selalu diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua penyakit ini, narsis dan gigantis, yang kelak akan dinikmati para penguasa dan partai penguasa yang terlanjur mabuk pencitraan. Mereka menjadi tak bisa melihat sebuah proses yang normal dan dinamik. Segalanya harus by setting dan by design. Lawan politik, kritik politik, dan musuh politik dipersilahkan hadir, asalkan melalui rekayasa pencitraan. Akhirnya, yang muncul adalah seolah-olah lawan politik, seolah-olah kritik politik, padahal semuanya semu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, perilaku Ruhut  diam-diam mengirimkan pesan tentang segara matinya gagasan politik orisinal di negeri ini. Gagasan mengamandemen konstitusi, seperti disampaikannya, seharusnya bisa berlangsung wajar dan orisinal ---jika saja disampaikan oleh orang lain. Tetapi di tangan Ruhut, gagasan ini mati, karena orang terlanjur apriori. Publik terlanjur jengah. Gagasan Ruhut bukan orisinal, tidak cerdas, dan manipulatif. Inilah yang kemudian membuat banyak pihak meradang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang diperlihatkan Ruhut dan para elit penguasa republik adalah hedonisme politik tanpa batas. Mereka bersenang-senang di atas kemarahan rakyat. Mereka tanpa henti mempermainkan opini, persepsi, dan memori public. Akal sehat dicampakkan. Tugas kita, tentu saja, menjaga agar rasio tetap jernih. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-6933653741867969131?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/6933653741867969131/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/hedonisme-politik-ruhut-sitompul.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6933653741867969131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6933653741867969131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/hedonisme-politik-ruhut-sitompul.html' title='Hedonisme Politik Ruhut Sitompul'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGzQpnwTBEI/AAAAAAAAAUU/ZgHBwIC_5qU/s72-c/Ruhut+Sitompul.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-6957431989477279325</id><published>2010-08-17T03:28:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T03:23:29.012-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Amerikanisasi Politik Ala "Pak Beye dan Istananya"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGpkogYXfeI/AAAAAAAAAUM/eDzlBorfDCE/s1600/Buku+Pak+Beye+dan+Istananya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 285px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGpkogYXfeI/AAAAAAAAAUM/eDzlBorfDCE/s400/Buku+Pak+Beye+dan+Istananya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5506324141463535074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Buku Pak Beye dan Istananya, karya Wisnu Nugroho, memangterasa khas dan unik. Khas sebagai sebuah laporan jurnalistik yang tak tertayang di media umum (mainstream), dan akhirnya muncul di blog (kompasiana). Khas karena menyembulkan sebuah temuan penting seputar istana, yang tak banyak diketahui awam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini juga terbilang unik karena mengekspos pernak pernik dan "pritilan" sepele dari beragam hal, mulai dari mobil metromini masuk istana, air putih, hingga Pak Iwan yang bertugas membawa-bawa podium kepresidenan ke mana-mana (dari Jakarta, Banda, hingga Papua).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditulis mengalir tetapi kuat, penuh daya kejut dan daya gugah. Agaknya, bukan hanya masyarakat awam yang terhentak atas "berita ringan" tentang istana dalam sajian buku ini. Pun, bagi kalangan elit politik, tetap saja mengesankan. Tak kurang sejumlah politisi berkomentar, mulai dari Dino Patti Djalal, Ramadan Pohan, sampai Ibas (Edhie Yudhoyono). Mereka mengapresiasi baik buku ini. Tetapi hebatnya, tokoh yang tersengat secara langsung sekalipun, juga memberi pengakuan. Adalah Yenny Zarnubah Wahid, yang pernah ngantor bersama SBY, mengaku kena sentil juga. Ketika itu, Yenny mengikuti Pidato Pak Beye, yang salah satu poinnya adalah ajakan menggunakan produk dalam negeri. Persis ketika akan mengatakan hal itu, SBY terlihat badmood, karena orang-orang di depannya justru banyak yang menggunakan merek produk luar ---termasuk Yenny sendiri.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Panggung Belakang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teramat banyak hal, setidaknya dalam 6 BAB dari buku ini, yang asyik ditelusur. Tetapi tidak banyak hal yang bisa digarisbawahi. Kecuali bahwa paparan dari buku ini menguatkan premis tentang perkasanya mesin politik pencitraan dari SBY –--dan anak buahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah cerita, misalnya tentang batik biru yang dikenakanSBY, baret Paspamres yang berganti warna menjadi biru, podium khusus yang selalu ke mana-mana, teleprompter transparan (sebuah alat yang menghadirkan teks untuk pidato SBY), hingga wawancara yang direkayasa, mencerminkan adanya sebuah "mindmap" yang seragam di lingkungan istana. "Mindmap" atau peta berpikir itu mengarah pada satu tujuan: citra sempurna! Pak SBY adalah orang yang perfeksionis ---serba sempurna, dan lagu kesukaannya adalah dari Andre and The Backbone, kau begitu sempurna....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Output dari strategi sedemikian juga terbilang sukses. Masyarakat awam seperti terhipnotis, oleh ketampanan, oleh ketenangan, oleh wibawa, oleh warna, dan oleh segala hal yang diekspos televisi.  Sosok Pak Beye dibantu oleh para stafnya, akhirnya selalu tampil cool, calm and confidence.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu seperti memapar "panggung belakang" dari Political Showbiz seorang SBY. Panggung belakang ini adalah kerja keras orang-orang di sekitar SBY, baik kalangan elit politik, lingkaran dalam SBY, maupun orang-orang kecil yang terlibat (mulai dari penata  ruangan, pembawa podium,petugas chek sound, tukang masak istana, hingga pawang hujan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira, terpikirkah anda bahwa sukses pencitraan SBY juga hasil jerih payah wong cilik seperti itu? Inilah hebatnya buku ini. Seperti pengakuan penulisnya, yang mengusung kredo "menjaga yang tidak penting agar tetap penting, dan yang penting tetap menjadi penting". Yang tidak penting itu adalah orang-orang seperti Pak Iwan ----petugas pembawa podium, agar tetap penting. Dan yang penting itu adalah SBY sendiri, agar terus dianggap penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, bagi pengamat strategi pencitraan, maka fakta-fakta lugas seputar istana itu justru mengokohkan premis tentang kokohnya Amerikanisasi Politik di Indonesia. Melalui seorang agen besar yang sekaligus menjadi role model, yaitu Soesilo Bambang Yudhoyono.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Amerikanisasi Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Televisi dan lalu kemudian diikuti media massa lainnya, menjadi pemasok terpenting perang pencitraan dalam praktek Amerikanisasi Politik. Lalu diikuti oleh para electioneer  para konsultan politik yang bekerja keras mengerek citra dan popularitas seorang tokoh. Di barisan yang sama, ada juga agensi periklanan. Dan yang tak kalah penting, serta harus senantiasa hadir, adalah "para bandar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah bahasa gampangan untuk Amerikaniasi Politik. Dalam perincian ketat, Amerikanisasi Politik adalah proses duplikasi metode komunikasi politik dan kampanye publik yang sepenuhnya amerika (dengan "a" kecil). Proses ini, selain ditandai oleh kekuatan uang dan sindikasi media, juga melibas segala hal yang bernuansa alternatif. Yang terjadi adalah homogenisasi dan konvergensi. Lebih parah lagi, dalam Amerikanisasi Politik, substansi menjadi urusan yang kesekian. Buku Pak Beye dan Istananya ini, bila dibaca jeli, juga mengungkap kuatnya aroma Amerikanisasi Politik di lingkungan istana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-6957431989477279325?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/6957431989477279325/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/amerikanisasi-politik-ala-pak-beye-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6957431989477279325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6957431989477279325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/amerikanisasi-politik-ala-pak-beye-dan.html' title='Amerikanisasi Politik Ala &quot;Pak Beye dan Istananya&quot;'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGpkogYXfeI/AAAAAAAAAUM/eDzlBorfDCE/s72-c/Buku+Pak+Beye+dan+Istananya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5532632514798998032</id><published>2010-08-14T00:43:00.000-07:00</published><updated>2010-08-28T06:21:06.899-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Indonesia; Antara Plato dan Runtuhnya Teori Darwin</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGZJwHttmAI/AAAAAAAAAUE/NYFTd_a71TY/s1600/Atlantis+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 326px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGZJwHttmAI/AAAAAAAAAUE/NYFTd_a71TY/s400/Atlantis+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5505168685560338434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Salah satu ciri kegilaan adalah: membeber kisah yang sama secara berulang-ulang. Atmosfir intelektual juga mengenal rumus bahwa pengulangan (repetisi) adalah ciri-ciri dari hilangnya kreativitas. Sialnya, karakter mendasar dari perayaan Kemerdekaan Republik adalah riwayat pengulangan dan penceritaan terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terlampau pejal dan miskin. Selebrasi HUT RI tak pernah jauh beranjak dari "heroisme bambu runcing" atawa pengagungan terhadap para founding fathers (Bung Karno, Hatta, dan lain-lain). Menyedihkan pula, bila perayaan HUT RI berputar-putar dari panjat pinang, balap karung, dan makan kerupuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Padahal tak sedikit peluang untuk membangkitkan ghirah ke-Indonesia-an dengan pelbagai cara. Misalnya dengan mengajukan temuan-temuan baru, inovasi, fakta, atau apapun. Sejauh hal itu adalah paralel dengan akal sehat. Indonesia adalah sebuah peta yang sanggup berbicara, baik dari aspek geografis, oceanologis, arkeologis, dan lain sebagainya. Bahkan ada satu teori, yang tanpa ragu menyebut bahwa Indonesia adalah Induk dari segala peradaban dunia (mother of civilizations).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebuah buku, berjudul Atlantis, The Lost Continent Finally Found, hasil riset 30 tahun, dari seorang Fisikawan Nuklir dan Geolog dari Brasil, yaitu Prof. Arsyio Nunes Dos Santos, menyebut bahwa Atlantis (atau surga yang hilang) adalah Indonesia. Menurut bukti-bukti yang disodorkan, Prof Santos tanpa ragu menyebut bahwa hanya Indonesia yang pantas disebut sebagai lokasi Surga (atau Benua) yang hilang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kalau cuma benua hilang, mungkin tak menarik. Justru yang kontroversial  bahwa Benua yang hilang itu adalah (dulunya) berupa sebuah kemaharajaan dunia, kekaisaran internasional, yang menjadi  "Ibu dari segala kebudayaan dunia". Negeri-negeri lain, dan peradaban-peradaban lain, yang selama ini dianggap sebagai "puncak sejarah dunia", seperti Mesopotamia, Eufrat, Tigris, Mesir, Yunani, China, India, Eropa, hingga ke revolusi industri di Inggris, adalah bersumber dari Indonesia. Buku itupun menyebut, bahwa asal usul manusia moderen (setelah zaman esberakhir), juga berasal dari Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Buku Atlantis itu bukan ramalan konyol yang steril bukti ilmiah. Justru diperkaya dengan sederatan dalil, dengan ditunjang oleh analisis multi disiplin ilmu. Pembuktian bahwa Indonesia adalah Atlantis (Benua atau Surga Yang Hilang), bersumber dari fakta-fakta geografis, arkeologis, paleontologist, lingusitik, kitab suci, hingga aneka mitologi dari Yunani, Mesir, Inca, Maya, hingga Aztec.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Atlantis Versi Plato&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya adalah dialog dalam risalah yang ditulis Plato, berjudul Timeaus dan Critias. Plato menuturkan bahwa:   Atlantis adalah sebuah negara makmur dengan emas, batuan mulia, dengan balatentara gajah. Sebuah kerajaan berukuran benua yang menguasai pelayaran, perdagangan, menguasai ilmu metalurgi, memiliki jaringan irigasi, dengan kehidupan berkesenian, tarian, teater, musik, dan olahraga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plato (427 - 347 SM) juga menyatakan bahwa puluhan ribu tahun lalu terjadi berbagai letusan gunung berapi secara serentak, menimbulkan gempa, pencairan es, dan banjir. Peristiwa itu mengakibatkan sebagian permukaan bumi tenggelam. Bagian itulah yang disebutnya benua yang hilang atau Atlantis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengapa Indonesia? Atau apa argumentasi untuk menunjuk bahwa Indonesia adalah memiliki karakter yang sama persis dengan "tanda-tanda" yang diceritakan Plato?  Menurut Prof.Santos, setidaknya bisa ditelusur dari empat aspek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertama, adalah teori difusi (penyebaran) peradaban dalam sejarah perkembangan dunia. Ia menemukan bukti, bahwa di dunia ini terdapat berbagai macam kesamaan, kemiripan, baik dalam asal usul bahasa, kata-kata, cerita-cerita rakyat, mitologi, kisah-kisah dari kitab suci, dan sistem teknologi ataupun pertanian. Menurutnya, tak mungkin kelahiran bahasa dan budaya dunia itu lahir independen,atau muncul sendiri-sendiri. Pasti saling terkait. Secara detil, ia memaparkan kesamaan dalam Mitologi Yunani, Kitab-Kitab Hindu (Rig Weda, Ramayana, Mahabarata),Talmud, Taurat, Perjanjian Lama, hingga dongeng-dongeng dari berbagai bangsa dunia (Mesir, Amerika, dan India).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lingkaran Bencana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, teori katastrofisme (atau bencana besar), yang menceritakan adanya "banjir semesta"  dan kebakaran semesta (universal conflagration) yang meluluhlantakkan dan menenggelamkan nyaris seluruh ummat dan peradaban manusia. Kandidat satu-satunya yang memiliki bukti bencana tak terperi itu adalah ledakan Krakatau, di patahan Sunda. Secara agak sinis, Prof. Santos mengatakan bahwa Indonesia memang ditakdirkan menelan bencana berulang-ulang, dari zaman prasejarah hingga kini, mengingat letaknya yang berada di "lingkaran sabuk api" (ring of fire). Catatan geologis membuktikan, hanya Krakatauyang sanggup membuncahkan kobaran api dan menyebabkan banjir besar, di sekitar11.600 tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketiga, metode  matriks uji atas tanda-tanda yang diajukan Plato. Selama ini, dunia saling klaim tentang lokasi Atlantis yang sesungguhnya. Tercatat belasan tempat yang disebut paling layak sebagai situs Atlantis, mulai dari Selat Gibraltar,Bosporus, Sisilia, Mesir, dan tempat-tempat lain. Tetapi, tak satupun memiliki karakter atau ciri sahih, sebagaimana diajukan  oleh Guru Aristoteles itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sedikitnya ada empat tanda tentang Atlantis, Surga atau Benua yang hilang versi Plato. Yaitu: (1) Atlantis terletak di selat bersudutsempit, dan ini cocok dengan posisi selat sunda; (2) Atlantis berada di dekatpulau besar, dan selat Sunda terletak di antara Sumatera dan Jawa; (3) Atlantisberada di antara apitan banyak pulau, Selat Sunda dekat berada di hamparanpulau-pulau Indonesia; dan (4) Atlantis diapit dua benua, persis, posisi SelatSunda atau Indonesia berada di dua benua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keempat,melakukan negasi atau penyangkalan terhadap tempat-tempat lain yang disebut sebagailokasi Atlantis, seperti Selat Giblartar. Plato menyebut adanya pilar-pilar Hercules (dari istilah hera klai, latin, artinya penyangga dunia), yang merupakan metafora dari pegunungan yang berada di lokasi Atlantis. Nah, tak ada gunung berapi yang menjulang, dan layak disebut penyangga dunia dilokasi-lokasi lain, kecuali Selat Sunda, yaitu Gunung Krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Runtuhnya Teori Darwin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Lantas, benarkah memang ada Atlantis, atau hanya khayal Plato? Menurut Prof Santos, hikayat tentang Surga di Bumi yang hilang karena bencana besar, bukan klaim mitologi Yunani belaka ---dan Plato hanya penerus dari cerita Yunani sebelumnya. Pelbagai kebudayaan besar dunia menceritakan hal itu, termasuk dalam tradisi Hindu, Budha, Indian, dan juga kitab-kitab suci terkenal (ia juga menyebut Talmud, Perjanjian Lama, serta Rig Weda).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi benang merahnya adalah dalam mitologi, korpus (naskah kuno), simbolisme suci, dan (memang) berbau spekulasi. Pertanyaan susulan, apa perlunya bagi Bangsa Indonesia, atas heboh Atlantis di Indonesia itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Faktanya, website internet tentang Atlantis versi Prof Santos telah diakses jutaan orang di dunia, dan meningkatkan hasrat mengunjungi Indonesia. Buku yang ditulis Prof Santos, yaitu Atlantis, The Lost Continent Finally Found juga laku keras. Teori kontroversial ini juga membuka debat baru, baik dari sisi keilmuan ataupun (untuk Indonesia) harga diri bangsa. Petikan kebijaksanaan juga bisa muncul dari fenomena Atlantis ini. Kita harus percaya, bahwa peradaban dan sejarah dunia memang dipergilirkan oleh Tuhan. Tak ada satu bangsa pun yang bisa eksis sepanjang sejarah bumi, melainkan muncul dan tengelam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terakhir sekali, pertanyaan spekulatif adalah, jika teori Atlantis di Indonesia benar, maka akan membawa segudang resiko luar biasa, terutama di bidang keilmuan dan sejarah dunia. Menurut Prof Santos,  dunia barat tak akan rela untuk mengubah sejarah yang selama ini telah menjadi pakem. Butuh pengorbanan luar biasa untuk mengubah peta dunia ----karena posisi Samudera Atlantik yang ada dalam peta dunia sekarang adalah keliru. Selain itu, sejarah arkeologi, geografi, dan lingusitik juga harus diperbaharui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Korban lain yang akan tumbang secara telak tak lain dan tak bukan adalah Teori Darwin. Dunia telah mahfum, teori Darwin berbasis pada asumsi seleksi alamiah ----bahwa mahluk hidup yang paling mampu bertahan adalah yang paling adaptif, survival of the fitest. Sementara jika merunut teori bencana besar ala Prof. Santos, justru kehidupan bisa musnah dan perlaya, karena adanya bencana besar ---dan tak ada mahluk yang bisa bertahan sempurna. Kehidupan alam dan mahluk, bukan lolos karena adaptasi, tetapi justru karena sesuatu yang tak bisa terjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sampai di sini, fenomena Atlantis berada di Indonesia bukan menggiring kita untuk apologis, bangga diri karena cerita masa lalu. Melainkan tercerahkan dan optimis, bahwa bisa saja sejarah kembali memihak kepada kita. Seperti pesan Anand Khrisna: "Wahai anak bangsa, Engkau bukan lahir untuk mengenang masa lalu, melainkan untuk menyongsong masa depan". Semoga...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5532632514798998032?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5532632514798998032/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/indonesia-antara-plato-dan-runtuhnya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5532632514798998032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5532632514798998032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/indonesia-antara-plato-dan-runtuhnya.html' title='Indonesia; Antara Plato dan Runtuhnya Teori Darwin'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TGZJwHttmAI/AAAAAAAAAUE/NYFTd_a71TY/s72-c/Atlantis+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2580206781966727352</id><published>2010-08-07T09:25:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:46:03.733-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Ya Allah, Beri Aku Isyarat Tentang PertolonganMU...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2UGLyzSoI/AAAAAAAAAT8/PhB5FqQ7WOU/s1600/Allah.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2UGLyzSoI/AAAAAAAAAT8/PhB5FqQ7WOU/s400/Allah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502717153682606722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang aku alami saat ini serasa melawan arus tentang kabar baik dari orang-orang sholeh. Beratus pengakuan mengemuka, terutama dari media, buku, televisi, atau internet. Tentang keajaiban shodaqoh, mukjizat tahajud, atau The Power of Sholat Dhuha. Sudah tentu semuanya berfaedah. Meneguhkan keyakinan ---bagi orang yang tekun melakoni, seraya memberi semangat untuk para pemula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih kehidupan begitu berat. Negeri ini masih berjibaku dengan aneka perkara. Bom meledak di mana-mana, dari bom teroris hingga bom elpiji. Para politisi makin buruk perilaku. Harga sembako melambung. PHK di berbagai industri. Kejahatan menggila. Dan sederet daftar hitam lainnya. Belum lagi bila menyimak kisah bunuh diri dari orang-orang yang terkena tekanan berat. Intinya: betapa tak udah untuk melewati jalan terjal kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang butuh solusi atas belitan perkara. Maka sungguh mulia bila tawaran penyelesaian masalah itu datang dari sisi religius, sesuai dengan pesan illahiah. Sudah pasti, tak ada yang salah dengan ajaran Allah SWT, yang disampaikan oleh Rosul Muhammad SAW. Hanya saja, ketika pesan ini sampai kepada Ummat, terdapat beragam penyikapan. Dengan dampak yang juga tidak serupa. Ada orang yang mendapat kebaikan, atau juga yang makin terpuruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu berpanjang lebar untuk mendetilkan tentang orang-orang yang mendapat pertolongan segera dan langsung dari Allah, atas ibadat Tahajud, Dhuha, maupun Shodakoh. Itu adalah sepenuhnya Kuasa Illahi Rabbi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi justru menarik dibahas adalah "orang-orang yang kesulitan dan begitu sukar" mendapat pertolongan. Meski orang itu telah berikhtiar keras. Mencoba konsisten. Bersungguh-sungguh dalam tahajud, dhuha, dan shodaqoh. Namun (ini bukti ketidakmampuan seorang hamba di hadapanNYA), adakalanya semua upaya itu belum berbuah (dari sisi si pelaku, karena di mata Allah, pasti bukan seperti itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja, seorang Ummat yang terjerat utang. Dia berpaling kepada permohonan total kepada Allah. Tetapi pertolongan itu tak kunjung datang. Bukankah hal ini sering terjadi? Konteksnya bukan menyalahkan lambatnya pertolongan Allah. Orang beriman tahu, Allah adalah Maha Pemurah dan Maha Penolong. Dia akan selalu membalas permohonan doa, dengan beragam cara. Entah memberi kesehatan prima, entah memberi balasan doa di akhirat, atau entah dalam bentuk lain. Inilah yang disebut dengan konversi doa. Jadi, Allah akan selalu menjawab doa kita (selama itu dilakukan ikhlas dan sesuai dengan syariah). Tetapi bentuknya belum tentu sama dengan "jenis dan bentuk" yang diminta oleh si pendoa. Logikanya adalah: Allah yang berkuasa menentukan, bukan manusia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya berbicara dari aspek humanitas, fakta-fakta kemanusiaan sederhana. Bahwa manusia teramat lemah untuk mampu bersabar. Manusia sulit untuk paham dan mampu melihat skenario atau siasat Allah. Misalnya, ketika doanya belum dikabulkan, tentu ia merana. Padahal, jika tahu rencana baik Allah (tak ada renacana Allah yang jahat, tentu saja), tentu orang yang berdoa akan bersabar, bahkan bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tak ringan ujian orang yang doanya belum terwujud. Barangkali ia sudah rajin bershodaqoh. Konsisten dalam tahajud. Tetap melaksanakan dhuha. Tetapi tetap saja hutang menumpuk. Gaji pas-pasan. Rezeki seret. Keharmonisan keluarga juga dalam masalah. Serasa kejam. Namun, bukankah ini bisa saja terjadi? Tanpa ada pengetahuan dari manusia? Seperti ujian yang diberikan Allah kepada Nabi Ayub, Nabi Sholeh, Nabi Ibrahim, dan juga Nabi Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang jawaban doa yang tertunda, barangkali ada sejumlah alasan penyebab ----tetapi ini dalam perspektif manusia, dan bukan dalam otoritas Allah. Bisa jadi kualitas doa yang belum memadai, doa yang tidak bijak dari aspek adab berdoa, atau pendoa belum terbebas dari gunungan maksiat. Sekali lagi ini adalah kemungkinan. Sebab, mungkin saja si pendoa telah berjuang keras memperbaiki kualitas semua hal. Ia bertaubat mohon ampunan atas segala dosa ---seraya tidak mengulangi lagi laku lampah maksiat di masa lalu. Ditambahi dengan shodaqoh, memperbagus silaturahmi, menjaga waktu sholat, dan melakoni semua perintah sesuai dengan kemampuannya. Lalu, bagaimana jika tetap saja doanya "gagal" terpenuhi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban ringkas adalah Rahasia Allah. Namun bukan dosa juga bila kita mencoba mencari jalan pemahaman, agar ketika menghadapi suasana sedemikian tidak gelap mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa mengira-ngira, sesuai dengan tuntunan yang diberikan Nabi dan para pewarisnya (Ulama). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi isi pesanan doa itu hanya baik dari sisi si pendoa, tetapi ternyata menurut Allah belum layak diberikan (misalnya doa orang yang ingin jadi Bupati, melalui pertarungan Pilkada). Atau mungkin timingnya tidak tepat bila dijawab segera, meskipun doa si pendoa adalah agar utangnya segera dilunasi ---karena sedang dikejar-kejar Debt Collector! Ini tentu saja bukan perkara mudah untuk diterima, terlebih untuk orang-orang dengan kualitas keimanan pas-pasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang paling memberatkan adalah ketika seseorang berjuang, berdoa, melakukan aktivitas sesuai syariah. Rajin Tahajud, puasa sunnah, dhuha, shodaqoh, silaturahmi, membaca Al Quran, menyambangi orang tua, menengok orang sakit, menahan diri dari maksiat, dan menangis dalam taubat... Lalu, setelah berlangsung beberapa minggu, doanya bukan saja tidak terjawab, melainkan sebaliknya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, sebaliknya. Misalnya, perjuangannya itu agar Allah memberinya rezeki tambahan, eh, malah rezekinya terpotong. Atau minta disayang kawan dan bos, eh, malah hampir dipecat. Atau meminta agar ada pertolongan untuk melunasi hutang, eh, malah tak dapat-dapat, dan hutang kian menumpuk. Secara psikologis, problem ini sungguh mengguncang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang melawan arus, dari cerita-cerita yang pernah terbaca dari berbagai buku, artikel koran, ataupun publikasi internet, tentang faedah Tahajud, Dhuha, Shodaqoh dan lain-lain, yang menawarkan berbagai keajaiban. Ternyata tak selalu mudah. Ada juga proses yang maha berat dan panjang. Belum tentu rajin tahajud keinginan tercapai. Belum tentu rajin dhuha rezeki mengalir. Dan belum tentu yang lain. Kita harus bersiap dengan apapun rencana Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah mudah kalau hanya melaksanakan tahajud, puasa, dhuha dan shodaqoh, bila efek baiknya tercapai segera. Yang maha berat adalah, ketika kita rajin melakukan hal-hal itu, doa kita belum terjawab, malah yang terjadi adalah sebaliknya: kondisi makin buruk. Dan itulah yang terjadi saat ini. Begitu berat. Ya Allah, ampuni dan kasihanilah hambaMU yang buruk ini. Jangan Engkau biarkan aku berprasangka buruk dan berputus asa. Amien...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2580206781966727352?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2580206781966727352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/ya-allah-beri-aku-isyarat-tentang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2580206781966727352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2580206781966727352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/ya-allah-beri-aku-isyarat-tentang.html' title='Ya Allah, Beri Aku Isyarat Tentang PertolonganMU...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2UGLyzSoI/AAAAAAAAAT8/PhB5FqQ7WOU/s72-c/Allah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7042727733042148166</id><published>2010-08-07T09:15:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:02:23.681-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Teladan Puasa dari Kisah Bung Hatta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2HfQNwbeI/AAAAAAAAAT0/PdqrVcJjPN4/s1600/Bung+Hatta.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 394px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2HfQNwbeI/AAAAAAAAAT0/PdqrVcJjPN4/s400/Bung+Hatta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5502703290714975714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani Indrawati pernah membuat analisis bagus, bahwa salah satu faktor kebangkitan ekonomi nasional di periode awal paska krisis moneter (sekitar Tahun 1999 hingga 2001) adalah karena adanya semangat "menunda berkonsumsi". Kala itu, mau tak mau, rakyat harus menahan diri untuk tidak menguras pundi-pundi hartanya untuk sesuatu yang tak terlalu perlu. Transaksi ekonomi, karenanya, menjadi terjaga, jauh dari spekulasi dan penghamburan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah benar atau tidak analisis itu. Tetapi satu hal jelas, Indonesia tak jadi bubar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal menunda konsumsi itu juga pernah tercantum dalam pesan-pesan mulia Bung Hatta. Tokoh proklamator yang namanya hanya diberi atribut sebagai Bapak Koperasi itu (dan nama belakang sebuah bandara di Jakarta), menyatakan bahwa Rakyat Indonesia harus pandai menunda hasrat berlebihan dalam mengkonsumsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana takalimat beliau yang lain, yang tak melulu indah dalam kertas, tetapi terang dalam perilaku, ia buktikan sendiri perjuangan menunda konsumsi itu. Siapapun yang rajin membaca kisah-kisah Bung Hatta, pasti mengenal yang berikut ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, tentang Sepatu Merk Bally. Ada kisah, Bung Hatta menggunting sepotong iklan dari koran, ia simpan baik-baik dan disisipkan di meja kerjanya. Guntingan "pariwara" koran itu adalah tentang produk sepatu Bally yang ia idam-idamkan ---tetapi belum bisa membeli. Bahkan hingga akhir hayatnya, guntingan koran itu tetap setia sebagai iklan, dan sepatu idaman itu tak beralih menjadi milik Bung Hatta. Barangkali ini kisah yang tak akan pernah terulang. Mengingat saat ini, wakil Bupati di daerah pelosok sekalipun, sudah sanggup membeli Prado (ini bukan sepatu, tetapi mobil mewah!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja kita berspekulasi, bahwa kalau Bung Hatta mau menggunakan posisinya, berapa banyak pengusaha yang sanggup mengirimkan berlusin-lusin sepatu Bally ke rumahnya? Tetapi si Bung sanggup menahan diri. Menunda konsumsi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, sewaktu di pengasingan, Bung Hatta sangat "dibenci" oleh sahabat-sahabatnya hanya gara-gara soal air di kolam pemandian. Si Bung tahu persis, berapa gayung harus dikucurkan untuk membersihkan seluruh tubuh. Ia memperlakukan air dengan sangat hemat. Wakil Presiden pertama RI itu marah jika kawan-kawannya boros air. Ini juga mungkin mustahil dilakukan para pejabat hari ini, yang bahkan memandikan mobil mewahnya dengan semprotan air deras dari selang PAM, menghujani taman yang berada di belakang rumah, atau boros luar biasa mengganti air di kolam renang seminggu dua kali. Bung Hatta, dalam hal ini tak hanya menunda konsumsi, tetapi juga menjaga konsumsi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, Bung Hatta dan Industri Mobil Ford. Agaknya kisah ini nyaris menjadi folkrole (cerita rakyat) dari orang-orang Minangkabau. Konon, si Bung pernah ditawari oleh produsen mobil Ford, untuk membangun jalan lintas se-Sumatera, dengan syarat produk-produk Ford bebas diperjualbelikan di Indonesia. Bung Hatta menolak, bukan karena tak butuh jalan, tetapi khawatir rakyatnya keranjingan mobil Ford ---sesuatu yang belum pantas saat itu. Poin ketiga ini memperlihatkan, tokoh nasional ini mengajak sesama rakyat menunda konsumsi (terhadap barang-barang mewah). Wallahu'alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senarai petikan itu pasti terkesan ekstrim. Tetapi saripatinya tentu tidak. Bahwa perilaku menunda itu memang perlu. Terlebih bila berada dalam posisi menjaga keseimbangan. Puasa di Bulan Ramadhan secara persis menitahkan kita untuk menunda sementara nafsu-nafsu konsumsi dan pemuasan libido. Setidaknya untuk belasan jam di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi untuk spirit tingkat dasar itupun alangkah sukarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih, Ramadhan sekarang ini hampir-hampir menjadi even tahunan, berbalik sebagai ajang gala belanja di berbagai sudut kota. Menjadi pendorong konsumsi di desa-desa. Dan pesta besar dari stasiun televisi beserta media massa lainnya. Kita tidak lagi menunda, tetapi bersegera!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu hadir pameo dari Kyai Haji Zainuddin M.Z, tentang puasa dendam! Kira-kira maksudnya, menahan lapar dan haus di siang hari, untuk kemudian balas dendam di malam hari. Semua yang sebelumnya haram, lantas menjadi halal. Segala hidangan di meja makan terkuras tuntas. Tak ada hikmah bersabar dalam hal ini. Tetapi itu dulu, kini lebih parah. Kita bahkan tak bisa menunda konsumsi di siang hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafsu konsumtif dan perilaku eksploitatif dalam perilaku berpuasa kita sungguh-sungguh berada dalam ujian berat. Akar persoalannya adalah gaya hidup yang permisif, hedonis, dan serba boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak-anak remaja memang berpuasa, tetapi menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar televisi atau media internet (main game, atau chatting). Mereka juga menonton bioskop, atau sembari belanja di Mall. Tak sedikit, ruas jalan tertentu menjadi arena balap tatkala Adzan Subuh berkumandang, atau malah di sore menjelang maghrib. Mereka menahan diri dari lapar dan dahaga, tetapi jebol dalam urusan hemat waktu serta berperilaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-Ibu rumah tangga mungkin sepemikiran dengan Sri Mulyani dan Bung Hatta, tentang menunda konsumsi itu. Tetapi mereka menjerit, karena harga Sembako melambung, dan daya beli yang rendah. Dalam hal ini, Ibu-Ibu mampu menunda konsumsi. Tetapi, mereka membongkar pertahanan diri untuk menjauh dari ghibah, pergosipan, sas-sus, dan tayangan-tayangan "non faktual" (dengan kemasan bagus bernama Infotainment). Sejatinya, penyakit ghibah memang bukan untuk ditunda, tetapi dalam konteks kesucian puasa, hal itupun tak mampu dihindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam politik, komunikasi sosial, dan interaksi pergaulan sehari-hari, semuanya serba jauh dari konteks menunda atau menahan diri. Musababnya, lingkungan dan atmosfir sosial telah pekat dengan gaya hidup permisif, hedonis, dan serba boleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang mengherankan. Bahwa harga sembako melonjak menjelang puasa. Bahwa pusat-pusat pertokoan berlomba perang diskon ---dan dijejali "jamaah al shopaholiciyah", bahwa televisi menguar-nguar lelucon konyol, bahwa The Show Must Go On... (semuanya berlangsung sama seperti hari-hari sebelumnya). Itulah pula yang memperkuat satu ajang bisnis, berbuka puasa di Mall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, pesan Bung Hatta, atau perhitungan dari Sri Mulyani, secara tegas membawa ajaran bahwa perilaku menunda itu sesungguhnya berfaedah. Lebih-lebih bila kemudian bertiwikrama menjadi spirit untuk upaya perbaikan seraya menguatkan disiplin. Tidak menunda untuk meledakkan keborosan secara berlipat-lipat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi segalanya terlanjur bergulir. Negara menguras habis kekayaan negeri. Politisi mengeruk kantong kas negara. Dan rakyat berlomba-lomba menjadi konsumen agresif. Bila sudah begini, tak perlu jauh-jauh menelisik hikmah Ramadhan dalam perkara-perkara mulia. Karena untuk etape paling mendasar sekalipun, yaitu menahan diri, kita sudah keteteran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7042727733042148166?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7042727733042148166/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/teladan-puasa-dari-kisah-bung-hatta.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7042727733042148166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7042727733042148166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/08/teladan-puasa-dari-kisah-bung-hatta.html' title='Teladan Puasa dari Kisah Bung Hatta'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TF2HfQNwbeI/AAAAAAAAAT0/PdqrVcJjPN4/s72-c/Bung+Hatta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-851641626973334534</id><published>2010-07-30T06:53:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:03:05.360-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Lelucon Tentang DPR Malas</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLab4fL4bI/AAAAAAAAATc/xHSnd8xxKnM/s1600/Cewek+Tertawa.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLab4fL4bI/AAAAAAAAATc/xHSnd8xxKnM/s400/Cewek+Tertawa.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499698267527307698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Humor adalah perlawanan orang-orang tak bersenjata. Saya bukan Satpol PP, Anda juga bukan tentara. Maka, marilah kita tertawa saja atas ulah wakil rakyat tercinta...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HP Tertinggal&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Syahdan ada anggota DPR yang terkenal rajin dan mendapat julukan ”Anggota Teladan”. Saking rajinnya, dalam setiap masa sidang, tak pernah satukalipun ia bolos. (Nah, cocok pakai istilah syahdan kan? Karena di dunia nyata tak pernah ada anggota setekun itu, he..he..he..).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Masa Sidang Bulan ini terjadi perubahan. Tercatat dua minggu si Anggota Teladan itu tak masuk. HP-nya juga tak bisa dihubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ketua Fraksi (yang merasa bangga dengan keteladanan anggotanya), datang ke rumah si Anggota, untuk mengecek langsung kepada keluarga yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Fraksi: ”Ibu, mengapa kok suami Anda dua minggu ini tak terdengar kabar?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri Anggota Teladan: ”Biar saja, dia lagi enak-enakkan kok. Katanya pergi cuma satu hari, ngambil HP, tapi sudah dua minggu ini tak pulang. Dasar kurang ajar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Fraksi (bingung dengan respon emosional isteri anak buahnya): ”Lho, memangnya HP suami Ibu tertinggal di mana? Kok, lama banget...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteri Anggota Teladan (menjawab ketus): ”Di sono... di rumah bini mudanya!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sudah Lupa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Demi menjaga martabat di mata rakyat, seorang Ketua Fraksi DPR memanggil anak buahnya yang terkenal ngeyel, tak pernah sekalipun datang di sidang paripurna. Sembari pasang muka masam, Pak Ketua Fraksi bertanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pak, sejak dilantik, kenapa Bapak tak pernah datang ke sidang paripurna.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota (yang malas rapat): ”Maaf Pak Ketua, saya sudah lupa di mana lokasi ruang paripurna...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cita-Cita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang bocah SD membuat seluruh guru dan kepala sekolah kelimpungan. Anak bandel itu sering bolos. Kalaupun datang ke sekolah selalu terlambat. Merasa mengkel, Pak Kepala Sekolah turun tangan, bertanya langsung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nak, kenapa sih kamu begini terus! Malas dan sering bolos. Mau jadi apa sih kamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si anak sambil garuk-garuk rambut menjawab ringkas: ”Mau jadi Anggota DPR Pak...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala sekolah: !?%$&amp;#!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Isi Pulpen Habis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat mungkin belum banyak tahu, sebenarnya Anggota Dewan yang mangkir sidang paripurna itu banyak sekali (jauh lebih banyak dari yang diberitakan koran-koran). Tetapi mereka selamat dari kecaman publik, karena selalu meminta Staf Ahli untuk menandatangani kehadirannya. Caranya: si Staf Ahli datang ke ruang sidang paripurna, lalu ngobrol ”cincay” dengan petugas absensi (biasanya Staf dari Sekretariat Jenderal).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasalah, satu kali ”titip tandatangan”, uang seratus ribuan segera ”berpindah tangan.” Begitulah setiap kali sidang paripurna digelar, tradisi itu berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, malang, rupanya Si Anggota salah rekrut Staf Ahli. Buktinya, namanya tetap terpampang sebagai Anggota DPR paling malas, sepuluh kali bolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Anggota murka luar biasa... Dipanggilnya Staf Ahli (kali ini bukan untuk menitipkan uang absensi, melainkan akan mencaci maki!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR: ”Brengsek kamu, kan saya sudah suruh titip tanda tangan, kenapa nama saya masuk daftar? Kamu sudah mempermalukan saya!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Staf Ahli: ”Sudah kok, Pak. Sudah saya tandatangani...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR: “Bohong kamu! Buktinya nama saya tetap diumumkan…”&lt;br /&gt;Staf Ahli: “Itulah Pak, saya hanya punya satu pulpen dari dulu. Dan sudah lama isinya habis, jadi kalau dipakai tandatangan absen, tintanya tak muncul…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;“Dicium” Presiden&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;Dalam “Dokumen Rahasia BK” (Badan Kehormatan DPR), ada Anggota DPR yang cantik (tetapi rajin bolos rapat, lalu rajin pula mengirim Surat Keterangan, dengan isi yang aneh: Izin tak ikut rapat karena “dicium” Presiden. Begitu terus. Hingga tercantum data 5 kali izin dengan alasan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua BK sangat penasaran. Ia panas dingin, jika terendus oleh Media Massa, pasti menjadi santapan lezat untuk dipublikasi terus-menerus. Terlebih, ia tahu persis bahwa si Anggota memang cantik. Terjadi dialog antara ketua BK dan Si Anggota DPR cantik, berikut ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua BK: ”Ibu, saya tak mengerti, maksudnya apa dicium presiden hingga tak bisa ikut rapat. Ini benar atau mengada-ada?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR cantik:&lt;br /&gt;”Benar kok, Pak. Saya memang dicium, tapi oleh Presiden TAXI.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-851641626973334534?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/851641626973334534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/lelucon-tentang-dpr-malas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/851641626973334534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/851641626973334534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/lelucon-tentang-dpr-malas.html' title='Lelucon Tentang DPR Malas'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLab4fL4bI/AAAAAAAAATc/xHSnd8xxKnM/s72-c/Cewek+Tertawa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1746436487272611893</id><published>2010-07-28T05:40:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:03:27.761-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Trully, Madly, Lazy  (Lagu Malas DPR RI)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLbBRBQMoI/AAAAAAAAATk/i7kzyAgSZPQ/s1600/DPR-RI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 387px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLbBRBQMoI/AAAAAAAAATk/i7kzyAgSZPQ/s400/DPR-RI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499698909767807618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti karya Savage Garden yang berjudul "Trully, Madly, Deeply", maka polah Anggota DPR yang malas adalah lagu lama (yang dimainkan ulang). Dulu, sorotan publik begitu senyap. Kali ini lain lebih nyaring: publikasi gencar dilakukan terus menerus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali ada dua latar penyebab. Pertama, adanya pengakuan dari Marzuki Alie, Ketua DPR RI, yang mengaku kehabisan akal mengatur "anak buahnya di Senayan". Kedua, karena memang DPR periode 2009-2014 ini begitu rendah produktivitasnya. Soal kinerja rendah dan miskin produktivitas inipun juga bagian dari lagu lama. Mari ambil pembanding. Selama sejarah DPR RI, hanya pada periode Presiden Habibie DPR begitu produktif, mengahasilkan 90-an Undang-Undang, dalam tempo hanya satu tahun! Mereka tidak malas karena berada dalam tekanan luar biasa (maklum, reformasi sedang berkibar). Setelah itu: DPR selalu gagal memenuhi amanat Prolegnas (Program Legislasi Naisonal). Artinya, secara kelembagaan, DPR RI selalu tak mampu memenuhi kewajibannya (meski hanya di satu fungsi, yaitu fungsi legislasi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu seperti perilaku malas seumumnya, Anggota DPR RI hari inipun pandai melagukan pameo: bahwa "satu-satunya kecerdasan orang malas adalah rajin meracik dalih" ---guna membenarkan tindakannya. Terbukti, belakangan ini berhamburan suara politisi yang rajin membela rekan-rekannya yang rajin mangkir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Political Exucesd &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dari sisi komunikasi politik, bergulir tiga model dominan dalam wacana pembelaan diri Anggota Dewan di Gedung Rakyat Senayan. Pertama, model alibi (seperti pesakitan kriminal yang mengaku sedang di tempat lain, tidak berada di TKP, Tempat Kejadian Perkara). Alibi Dewan adalah mereka sibuk dengan urusan di luar gedung DPR, jadi wajar saja kalau tak mengikuti sidang! Coba lihat: Ratu Munawaroh, Anggota DPR RI Fraksi PAN, yang oleh koran-koran Jakarta dijuluki" Ratu Pemalas" karena tidak menghadiri 9 kali sidang berturut-turut, mengaku sedang ikut Pilkada di Jambi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban kedua, model testimoni, alias "meminjam" pengakuan pihak lain (yang dianggap berkompeten). Kembali mengambil sampel Ratu Pemalas (Ratu Munawaroh), yang dibela oleh Viva Yoga Maulandi, rekannya di Fraksi PAN, yang menyatakan bahwa ketidakhadiran Sang Ratu hanyalah untuk sementara. Lain waktu, politisi perempuan dari Partai Berlambang Matahari itu akan rajin hadir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban ketiga, model Alegori, alias gaya bahasa retorika yang bersandar pada kiasan indah ---tetapi sesungguhnya mengkhianati kenyataan. Bayangkan saja, tak ada hujan tak ada angin, Pramono Anung Wibowo, dari Fraksi PDIP menyatakan bahwa Anggota DPR RI adalah negarawan, olehnya tak perlu rajin ikut rapat. Sungguh ini alegori yang menyakitkan nurani. Negarawan jauh melampaui politisi, dari sisi pengabdian, karakter, dan juga intelektualitas. Menyebut Anggota DPR RI sebagai negarawan adalah jauh panggang dari api. Inilah tiga model &lt;\i&gt;political excused dari wakil rakyat kita. Seperti menanak nasi kemarin sore, basi dan membuat mual. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Momentum&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Menyedihkan ketika kontroversi "malas rapat dan rajin bolos" ini miskin counter opini dari pihak luar. Beberapa pengamat memang sudah menyatakan prihatin. Namun, tak ada gugatan panjang dan counter opini yang kuat, sehingga rakyat tidak memiliki referensi yang cakap. Bahkan cenderung opini yang dipublikasi oleh pers mengikuti arus yang sengaja dilemparkan oleh Anggota Dewan. Salah seorang aktivis dari Formappi (Forum Masyarakat Pemantau Parlemen Indonesia), Sabastian Salang, hanya berkomentar pendek: bahwa soal DPR malas harus dikembalikan kepada internal partai, untuk melakukan pembinaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya ini menjadi momentum yang tak boleh lepas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis di Tahun 2006, sejumlah lembaga independen, yaitu IFES, NDI dan PSHK (Pusat Studi Hukum dan Kebijakan), bekerjasama dengan Tim Peningkatan Kinerja DPR RI, pernah melakukan riset untuk memperbaiki kualitas DPR RI. Salah satu temuan yang membuat kinerja rendah adalah basis pengetahuan dan pengalaman rendah dari para legislator kita. Artinya, mereka malas karena memang tidak kapabel dan tidak mengerti persoalan ----yang justru menjadi tugas wakil rakyat. Rekomendasi saat itu adalah menambah Staf Ahli, untuk memberikan fungsi konsultasi dan asistensi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin ini sebenarnya menjadi pintu masuk dalam melacak fenomena malas di Gedung Rakyat. Urusannya adalah psikis, terkait dengan aktualiasi diri para politisi. Bagaimana mungkin Anggota bisa rajin dan memiliki minat tinggi, bila mereka tak mengerti apa yang dibahas dalam rapat? Wajar bila mereka mangkir, karena toh hanya akan menjadi penonton pasif. Jadi, isu DPR malas seharusnya kita dorong untuk membongkar pokok perkara yang sesungguhnya... yaitu "mindset" dan" block mental" para anggota. Tetapi itu tidak terjadi. Entahlah....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1746436487272611893?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1746436487272611893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/trully-madly-lazy-lagu-malas-dpr-ri.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1746436487272611893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1746436487272611893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/trully-madly-lazy-lagu-malas-dpr-ri.html' title='Trully, Madly, Lazy  (Lagu Malas DPR RI)'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLbBRBQMoI/AAAAAAAAATk/i7kzyAgSZPQ/s72-c/DPR-RI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1127771876217745362</id><published>2010-07-25T08:17:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:48:49.874-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Media'/><title type='text'>Televisi Bukan Babby Sitter Untuk Anak-Anak Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExWGL_E9CI/AAAAAAAAATM/NQbuooOFj0A/s1600/TV.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 261px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExWGL_E9CI/AAAAAAAAATM/NQbuooOFj0A/s400/TV.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497863909409092642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Misalnya Tuhan mengutus kembali seorang nabi baru di zaman Facebook ini, maka salah satu tugasnya adalah "memerangi" Televisi. Paling kurang, mengajari pengikutnya dengan sebuah doa: Doa Terhindar dari Kejahatan Televisi. Lalu tentu paling perlu doa itu ditularkan kepada anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hanya nabi palsu yang berlahiran. Maka hingga hari ini, anak-anak hanya fasih merapal doa ketika hendak melakukan aktivitas biasa. Doa makan, doa berangkat sekolah, doa membaca Al Quran (atau mungkin juga Injil), dan doa-doa lain. Tetangga saya malah mengajar anaknya doa ketika melewati kuburan ----biar tidak kerasukan jin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal hakkul yakin, anak-anak kita benar-benar butuh perlindungan dengan cara apapun. Agar mereka tidak menjadi semacam wortel yang dimamah hingga lebur oleh keganasan televisi. Frase "perlindungan dengan cara apapun" pada awal paragraf ini, memang terdengar rada hiperbolik. Tepatnya ke luar dari pemikiran yang teramat sangat marah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak marah berarti tak punya hati...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah fakta bahwa jumlah "jam menonton" TV pada anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1560-1820 jam/ tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding "jam belajar" di sekolah dasar yang tidak sampai 1000 jam/tahun. Padahal kita tahu, seperti apa kualitas tayangan Televisi kita, baik di pagi hari, siang, sore, mapun malam. Maaf saja, tak pernah ada kasus di manapun bahwa semakin banyak menonton TV, maka anak-anak akan semakin cerdas. Kalau contoh sebaliknya, malah bejubel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga marah karena nyaris frustasi dengan kampanye bahaya televisi. Bukan semata pengelola stasiun televisi tidak peduli, tetapi juga SDM dan tenaga broadcaster kita hanya sedikit lebih bagus dari "kuli panggul kamera". Pejal dalam pemikiran, dan banal dalam krativitas. Hanya mampu meramu infotainment, reality show, sinetron, dan paket-paket konsumtif lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga dibuat jengkel karena belum ada metode jitu menangkal bahaya televisi bagi anak. Padahal hingga hari ini, paling tidak ada sebelasan buku yang pernah ditulis, tentang teknik dan kiat melindungi anak dari televisi. Puluhan riset telah diterbitkan untuk membeber bahaya televisi bagi anak-anak. Tak kurang-kurang, kaum agamawan, Guru SD, atau bahkan Menteri, ikut-ikutan ramai mengingatkan: awas televisi! Tetapi, nyaris terabaikan. Karena tak ada perjuangan sungguh-sungguh dari kita, orang dewasa, untuk menjaga anak-anak dari teror televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Electronic Babysitter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Muara dari kejahatan orang tua terhadap anak-anak, adalah justru menjadikan televisi sebagai pengasuh. Ragam alasan berhamburan. Entah sibuk. Tak mau diganggu. Ingin santai tanpa anak. Atau alasan lain beraneka rupa. Tetapi intinya tetap sama: menjerumuskan anak dalam genangan materi televisi. Padahal sudah jelas, sebagai pengasuh, televisi sama sekali tak bisa diandalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak sedang mendakwa Televisi dari sisi totalitasnya. Memang, ada hal-hal baik di tayangan TV. Tetapi dalam kasus anak-anak, semua hal bisa menjadi bumerang. Lantaran berkaitan dengan alam pikir, daya jelajah intelektual, memori, dan cara anak-anak memahami tayangaan televisi. Anak-anak tak bisa dibiarkan menafsir sendiri, melainkan butuh pendampingan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokok permasalahan yang paling besar, sebenarnya adalah ketidakmampuan seorang anak kecil membedakan dunia yang ia lihat di TV dengan apa yang sebenarnya ada di luar TV. Dalam memori anak kecil, tak ada sekat untuk memasukan mana tayangan terkategori fakta, dan mana yang fiksi. Ini yang berkaitan dengan otak. Sementara dari aspek psikis, anak-anak adalah cenderung melakukan peniruan, modelling, atau mengulang apa yang ia tonton. Lagipula, anak-anak justru membutuhkan bermain sebebas-bebasnya, yang melibatkan otak, emosi, dan fisik sekaligus. Bukannya terpaku di depan layar tellevisi. Pendek kata, jangan jadikan televisi sebagai Babysitter untuk anak-anak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Litlle Bomb&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang "jahat" di masa dewasa, adalah orang-orang yang "dijahati" ketika kanak-kanak. Bisa pula diperpanjang: orang-orang "sakit jiwa" di masa tua adalah orang-orang yang "disakiti jiwanya" di masa kanak-kanak. Sebuah buku bercerita tentang itu: The Boy Who Called It. Kekerasan psikis, memori, dan fisik terhadap anak, bagaikan merakit bom kecil untuk meledak di lain waktu. Betapa mahal harga masa kecil, bahkan seorang Triliuner sekaliber Michael Jackson sekalipun tak mampu membeli ---ia hanya bisa meratapi nasib, karena ketika kanak-kanak, selalu disakiti sang Ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana televisi melakukan kekerasan terhadap anak? Apakah televisi juga merakit Litlle Bomb untuk anak-anak? Memang tak ada kekerasan fisik, tetapi TV jelas-jelas telah menyiksa "memori" dan "alam pikiran" anak-anak kita. Tayangan televisi kini nyaris hadir tanpa batas, dan tak lagi menghargai waktu serta ruang bermain anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, seperti kata Neil Postman, dalam buku "The Disappearance of Childhood" (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah menyiarkan program-program yang seragam dan anak-anak, sama seperti anggota masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi. Dengan kata lain, televisi melakukan kekerasan karana "memaksa" anak-anak untuk sama dengan orang dewasa, baik dalam mode pakaian, hobi, lagu dan musik, film, makanan, atau bahkan gaya hidup. Perbedaan dan jarak antara anak-anak dan dewasa seperti dipangkas habis oleh televisi. Olehnya, jangan herna kalau anak-anak kita begitu fasik melantunkan syari-syair dari ST12, seraya tak pernah tahu lagu-lagu Ibu Soed. Begitulah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1127771876217745362?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1127771876217745362/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/televisi-bukan-babby-sitter-untuk-anak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1127771876217745362'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1127771876217745362'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/televisi-bukan-babby-sitter-untuk-anak.html' title='Televisi Bukan Babby Sitter Untuk Anak-Anak Kita'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExWGL_E9CI/AAAAAAAAATM/NQbuooOFj0A/s72-c/TV.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8178591870262919823</id><published>2010-07-25T08:12:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:03:59.843-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Mabuk Citra, Ulah Politisi Kita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExVU9PFsYI/AAAAAAAAATE/dpOZwMrJTE8/s1600/sby-retouch-besar.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 287px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExVU9PFsYI/AAAAAAAAATE/dpOZwMrJTE8/s400/sby-retouch-besar.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5497863063636128130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hanya dua hal yang tidak bisa disembunyikan dalam hidup kita: "mabuk" dan "cinta". Jauh lebih parah bila hal itu datang bersamaan: mabuk cinta! Tak perlu penjelasan akan hal ini. Justru yang menarik adalah telaah terhadap perilaku "mabuk citra" yang menjangkiti para politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam politik, petuah sarkastik itupun berlaku. Hanya dua hal dalam politik yang tak boleh disembunyikan: "kebaikan" dan "kesantunan". Ketika politisi terserang mabuk citra, maka ia sedang getol memainkan kebaikan dan kesantunan berpolitik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca pelan-pelan saja. Di saat berbuat baik, politisi sejati pasti akan mengundang koleganya dari media massa. Kalau perlu, disertai Konferensi Pers dan senarai puja-puji dari orang-orang terkenal. Pastikan bersok pagi koran-koran mewartakan tentang aksi "amal sholeh" si politisi sejati itu. Ini tentu berbalik punggung dengan "perbuatan baik" sejati dalam petuah agama (amal sholeh sebisa mungkin harus disembunyikan, jika tak ingin jatuh dalam amal riya, pamer diri). Jangan beramal tanpa sorotan televisi!!! Begitulah kiat politisi sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang tak boleh disembunyikan dari politisi sejati, tentang kesantunan. Belajarlah ke pihak yang tepat: para diplomat. Mereka ----para duta negara yang pekerjaan rutinnya antara lain makan-makan itu--- adalah Mahaguru yang sangat terlatih bermuka santun. Bahkan ketika cegukan sekalipun, mereka sanggup berkelit (sembari melempar seulas senyum di balik bibir gelas sampanye). Hanya diplomat yang bisa terbahak-bahak sembari merapikan dasi di leher ---atas guyonan yang pedas dan tak lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pokok itu yang menjadi sentral dalam teknologi politik pencitraan. Berhamburanlah, kini, paket-paket kampanye publik yang bernada amal shaleh. Teknik popular action ini sudah terbilang luar biasa. Ke luar dari pakem yang sesungguhnya, bahwa politik pencitraan berbasis pada sekumpulan fakta-fakta, gagasan, dan ideologi para politisi, yang ingin disebar agar dikenali dan dipahami orang banyak. Hari ini kita lihat: politik pencitraan berbasis pada perkara yang dibuat-buat. Hingga itu, di awal kompetisi Pilpres 2009, terdapat seorang tokoh yang memakan nasi aking (tetapi terlihat sangat terpaksa dan tak tulus, hingga menimbulkan antipati publik).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Operasi pencitraan ke luar dari rel, dan hanya berjalan karena gelimang uang. Fenomena ini yang melahirkan empat bentuk bencana dalam politik "kebaikan" dan politik "kesantunan" di Indonesia. Prahara itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bencana Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama politik pencitraan dengan jualan "orang baik dan santun" menjadi ujung tombak dan mewujud sebagai satu-satunya pesan yang ingin disampaikan aktor politik tertentu. Ini jelas bencana. Sejatinya, politik pencitraan dengan jualan apapun adalah berada di tahap kedua dalam operasi komunikasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah kompetensi, kapabilitas, dan integritas untuk menjadi tokoh publik (pejabat, anggota DPR, Menteri atau bahkan Presiden), adalah perkara utama yang mesti hadir terlebih dahulu. Alur logikanya jelas: baik dan santun adalah persoalan personality, tidak mutlak hadir setiap waktu, dan pokok soal baik dan santun itu sangat relatif (baik dan santun versi Jawa, tentu beda dengan versi Manado).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi hukum inilah yang koyak, dicakar oleh politic imagology. Tokoh publik, terlihat buru-buru menyodorkan "rumus tebar pesona" sembari menyamarkan wilayah kemampuan, kompetensi serta integritasnya sebagai pemimpin. Ketika Gas Elpiji meletus, KPK loyo, isu Bank Century raib, dan harga Sembako melambung, malah dijawab dengan "bahasa baik dan santun". Walhasil kita tak pernah tahu apakah sang tokoh memiliki kompetensi untuk membereskan atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Debu di bawah karpet&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kedua Meletakan superioritas "politik baik dan santun" menggiring tokoh untuk cenderung berhitung kepada respon dan bukan pada hasil. Padahal kita tahu, tata tertib kekuasaan mestinya berhitung pada hasil, berorientasi pada kemaslahatan publik, dan problem solving. Barangkali publik telah cukup lelah, atas tumpukan masalah yang "seperti menyimpan debu di bawah karpet". Dahaga publik yang haus akan penyelesaian masalah hanya terselesaikan sesaat, karena toh tak ada upaya penanganan tuntas. Bencana dari pola ini adalah menghasilkan apatisme publik. Lama-lama bergulir menjadi pembiaran, karena toh jawaban penguasa adalah politik pencitraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mabuk Citra&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, dalam politik pencitraan dua pihak yang berinteraksi (penguasa dan yang dikuasai) bisa sama-sama jatuh dalam penilaian yang keliru. Dalam teknologi pencitraan, wilayah permainan berada dalam ruang persepsi, dan bukan realitas. Tentu saja persepsi tak harus benar atau tak mesti sungguh-sungguh terjadi. Ambil contoh soal kemiskinan. Kemiskinan akan dianggap tidak ada ketika tidak ada tragedi dan peristiwa-peristiwa yang meledak, dan persepsi publik akan berada pada asumsi aman. Padahal sesungguhnya, puluhan juta orang terjerat oleh tali kekang kemiskinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tokoh Otentik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keempat mabuk citra sama belaka dengan mabuk cinta, gampang terjangkiti imaji-imaji indah dan terbuai mimpi. Sang pemuda yang jatuh cinta gampang meniru kisah-kisah fiktif, dari film atau bahkan dari roman picisan. Inilah yang kita khawatirkan dalam blantika politik nusantara. Saat ini terjadi peniruan, duplikasi, dan bahkan modelling atau politik baik dan santun (versi pencitraan). Di mana-mana, politisi seolah tidak menghadirkan wajah kultural nusantara yang asli. Kita butuh karakter beraneka ragam, bukan tingkah laku yang dikemas. Hari ini, tak pernah jelas, mana politisi Jawa, mana politisi Ambon, dan mana politisi Sangir Talaud. Semuanya berlomba bermanis-manis muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir ini, ada tendensi bahwa tokoh tertentu menjadi role model, seraya mengakumulasi kekuasaan yang dipegangnya sebagai bagian dari instrumen pencitraan ---yang menguntungkan hanya dirinya sendiri. Menjadi role model, karena ia menjadi bayang-bayang dari berbagai kekuatan atau tokoh-tokoh alternatif. Nyaris menjadi kredo, bahwa jika ingin sukses, harus mirip dengan tingkah laku dan personality Sang Tokoh Utama. Kita kehilangan politisi yang otentik. Bahkan tokoh muda dan dianggap "inspiring" sekelas Anas Urbaningrum sekalipun, menjura hormat dalam role model yang dimainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh bencana politik yang tak patut kita tunggu. Indonesia sebelumnya tak mengenal politik duplikasi seperti ini. Tidak Bung Karno, tidak Bung Hatta, tidak juga Bung Sjahrir atau Tan Malaka. Mereka berkibar dengan jati diri yang otentik. Bahkan Jenderal Soeharto sekalipun, tak pernah dijadikan role model oleh siapapun ----kecuali karena ketakutan. Hari ini, Sang Tokoh Pencitraan menjadi blue print oleh politisi dan para konsultannya. Wallahu'alam bishawab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8178591870262919823?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8178591870262919823/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/mabuk-citra-ulah-politisi-kita.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8178591870262919823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8178591870262919823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/07/mabuk-citra-ulah-politisi-kita.html' title='Mabuk Citra, Ulah Politisi Kita'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TExVU9PFsYI/AAAAAAAAATE/dpOZwMrJTE8/s72-c/sby-retouch-besar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1858249753188327048</id><published>2010-06-16T09:22:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:52:15.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Media'/><title type='text'>Twitter, Era Baru Kecerdasan Berkomunikasi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBj6lry5MpI/AAAAAAAAAS0/Xo04I-KXEv4/s1600/Twitter2.PNG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBj6lry5MpI/AAAAAAAAAS0/Xo04I-KXEv4/s320/Twitter2.PNG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5483408071641870994" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebutan Trending Topics di Twitter agaknya segera menjadi frase baru dalam khazanah jurnalistik mutakhir. Dulu, betapa ribet mengukur kadar popularitas sebuah isu atau topik. Kini, hanya dalam hitungan menit yang sedang berlangsung, kuantitas respon publik segera terbaca. Dengan perincian yang saklek: berapa ratus ribu follower yang menanggapi. Bahkan juga dengan melihat profil pengguna Twitter, apakah segmen anak muda, atau bahkan A-B-G saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa pelajaran yang bisa dipetik? Mudah saja. Ratusan ribu penanggap isu adalah "respon konkretl" atas harga popularitas sebuah isu atau topik. Ditambahi dengan kategori tanggapan yang muncul, positif atau negatif. Dan pihak yang harus merasa malu atas "komentar massif" dari Trending Topics di Twitter adalah para opinion leader (atau yang merasa dirinya tokoh publik). Mereka bisa dengan mudah dicaci atau dipuji... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti Dedy Corbuzier yang menjadi bulan-bulanan aktivis Twitter, karena aksinya di RCTI malah dianggap menggangu kedahsyatan Pembukaan Piala Dunia di Afrika Selatan. Begitupun tentang simpati pengikut di Twitter terhadap kekuatan Cinta Pak Habibie (uniknya, justru bersumber dari Twitter milik ABG). Bercerminlah ke Twitter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula makna tambahan dari fenomena publik yang "berkicau" via Twitter?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski agak membosankan, namun tetaplah perlu menelisik ke sejarah lama. Bahwa sesungguhnya, ramalan tentang ledakan partisipasi publik dalam merespon sebuah isu, telah hadir jauh-jauh hari. Bahwa sejatinya, interaksi sosial tanpa batas di situs jejaring sosial (Twitter, Facebook, atau yang lainnya), juga menjadi bagian dari nubuat para pakar komunikasi massa tempo doeloe. Jika diperas dalam satu kalimat, maka fenomena publik yang "berkicau" via Twitter, adalah seperti ini: Wellcome The Global Village, The Borderless Age, The World is Flat. Semuanya, jika di Indonesiakan adalah kurang lebih: selamat datang komunikasi cara baru! Yang tidak mengenal batasan dan (barangkali juga) aturan-aturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali butuh penjelasan. Marshal Mc Luhan, dalam buku The The Gutenberg Galaxy: The Making of Typographic Man (1962), menyebut Global Village sebagai kampung global, di mana interaksi dan komunikasi antar sesama manusia berlangsung begitu mudah, seperti layaknya di pedesaan dan perkampungan. Sementara The Borderless Age, seperti dijelaskan Nicholas Negroponte, dalam buku Being Digital, adalah runtuhnya batas-batas geografis dalam berkomunikasi. Sehingga, kata Nicholas, Teknologi digital dapat menjadi kekuatan alami untuk mengajak orang ke dalam dunia harmoni yang lebih besar. Sejumlah nubuat itu memang terkesan optimis. Meski ada pula pengingatan dari seorang Alvin Toefler, bahwa revolusi komunikasi dan informasi (yang saat ini mewujud dalam media internet), akan membawa sebuah kejutan... kejutan budaya alias cultural shock!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debat teoritik memang bisa berpanjang lebar. Akan tetapi rahasia paling penting adalah ini: runtuhnya tirani monopoli isu. Era digital melalui wahana internet dengan sungguh-sungguh memperlihatkan bahwa sumber informasi tidak lagi monolitik dan seragam. Melainkan mudah pecah dan tercerai berai. Hingga itu, bahasa bahwa Knowledge is Power (pengetahuan itu adalah kekuasaan), butuh penerjemahan ulang. Kekuasaan atas informasi, saat ini, bukan lagi sebagai sarana penakluk. Melainkan cukup sebagai referensi saja. Pasalnya, bagaimana mungkin orang berkuasa mengendalikan informasi, jika "tak satu pihakpun" takluk di dalamnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasan Berkomunikasi&lt;br /&gt;Trending topics di Twitter, sejatinya, justru mengingatkan para pem-besar di manapun, untuk hati-hati menggelontorkan informasi. Karena tak ada lagi yang bisa didiktekan. Karena tak ada lagi keseragaman. Karena tak ada lagi persetujuan yang sifatnya pasif. Ratusan ribu pengikut di Twitter adalah para persona yang berani berekspresi sebebas-bebasnya. Para pihak yang selama ini menikmati posisi sebagai opinion leader (pengemuka pendapat publik), sebaiknya memiliki formula baru agar tak menjadi bahan olok-olok. Milikilah kecerdasan berkomunikasi! Setidaknya, dengan tidak mengeluarkan pernyataan norak atau merendahkan nalar publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit tentang prototype Twitter. Teknologi ini terbilang paling bungsu. Sama belaka dengan yang sudah-sudah (Facebook atau Friendster), sebagai sarana interaksi sosial di dunia cyber. Twitter layak bincang dari aspek kecerdasan berkomunikasi karena memang dirancang secara khas, yaitu simple dan spesifik. Twitter adalah blog mikro yang tidak ribet. Tanpa fasilitas untuk video atau rekaman suara. Daya tampung untuk berekspresi pun terbatas, cukup 150-an karakter saja. Entah sengaja atau kebetulan, ini sejalan dengan kecerdasan komunikasi di era digital ini, yaitu singkat, padat dan langsung. Tanpa basa-basi komunikasi atau bahasa bersayap banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontra Budaya Digital&lt;br /&gt;Kalaupun harus pesimis, maka tak lain adalah dalam perkara daya dukung dan cara pemanfaatan Twitter di negeri ini. Fenomena Twitter justru hadir di tengah berbagai paradoks yang lazim berkembang di Indonesia. Bukan lagi rahasia, di saat segalanya butuh kecepatan dan akurasi, budaya kita justru terhambat dengan "rantai panjang segala urusan". Birokrasi yang begitu berjenjang. Urusan yang mudah dibuat rumit. Penyakit kronis itu bukan hanya berlaku dalam instrumen fisik atau budaya kerja semata, tetapi juga di lingkup budaya komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecerdasasn berkomunikasi dalam kultur kita disergap oleh efek buruk budaya massa, yang semata-mata berurusan dengan hiburan, gaya hidup dan abai terhadap fungsi-fungsi prioritas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perangkat canggih dalam komunikasi massa belakangan ini, seolah-olah adalah hadiah yang bisa dimainkan seenak hati. Internet, yang melahirkan Facebook, Twitter, Blog, dan lain-lain, juga hadir dalam posisi manusia Indonesia sebagai homo luden (mahluk yang senang bermain). Maka yang bermunculan adalah video porno, gosip perselingkuhan, penipuan, atau informasi-informasi terkategori pembodohan publik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini benar-benar berseberangan dengan etos budaya digital yang dikibarkan oleh para penemu di Silicon Valley (AS) sana. Budaya digital menghendaki adanya kultur serba cepat, praktis, cerdas, simple, dan tidak bertele-tele. Artinya, interaksi dan komunikasi antar manusia harus memasuki fase elektronis dan meninggalkan tabiat mekanis atau manual (yang berproses secara lambat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bercermin dalam ukuran sederhana, dalam panggung komunikasi publik di media massa, mulai dari polah selebritis, tingkah politisi, ataupun ragam kelakuan para penguasa. Mereka masih mempertontonkan budaya kontra digital. Jika berbahasa, atau mengeluarkan pernyataan, maka selalu dengan bahasa bersayap yang tidak tegas. Atau dalam istilah Tjipta Lesmana, seorang pakar Komunikasi Politik dari Universitas Indonesia, budaya komunikasi di Indonesia adalah budaya komunikasi konteks tinggi, karena selalu sukar dipahami. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh kongkret, hingga hari ini, publik masih heran dan sebal, kasus rekaman hot Luna Maya masih harus disebut dengan kata "mirip" Luna Maya. Betapa samar dalam bahasa, tetapi telanjang dalam adegan! Di ranah politik juga begitu. Betapa butuh waktu hampir satu bulan untuk Anas Urbaningrum, padahal urusannya simple saja, membuat pengurus baru DPP Demokrat. Budaya manual yang kontra digital, juga terlihat dalam kasus-kasus lain di negeri ini: pemilihan Ketua KPK, pengusutan Bank Century, dan yang lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitu, maka teknologi Twitter hanya habis dalam "kicau" para pengikutnya. Sekedar men-twit, dan selesai di situ. Tidak ada respon atau budaya cepat tanggap yang menyertai sikap para tokoh publik di negeri ini. Akhirnya, Fenomena Twitter, hanyalah era baru berkomunikasi yang minus kecerdasan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1858249753188327048?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1858249753188327048/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/twitter-era-baru-kecerdasan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1858249753188327048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1858249753188327048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/twitter-era-baru-kecerdasan.html' title='Twitter, Era Baru Kecerdasan Berkomunikasi'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBj6lry5MpI/AAAAAAAAAS0/Xo04I-KXEv4/s72-c/Twitter2.PNG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4408057542307848243</id><published>2010-06-11T00:50:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:52:33.376-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Sepakbola, The Art of (im)possibility</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBHrBiH07jI/AAAAAAAAASs/zWsxkydIQuY/s1600/Piala+Dunia.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 280px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBHrBiH07jI/AAAAAAAAASs/zWsxkydIQuY/s320/Piala+Dunia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5481420633058635314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Juara atau mati!" Ancaman serius bin angker ini dikirim seorang Diktator Fasis bernama Benito Mussolini. Dikirim via secarik faximile, ke tangan kapten Tim Kesebelasan Italia, yang akan bertanding di Partai Final melawan Cekoslovakia. Karuan, para pemain berkeringat dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada "kamus" main-main dalam dari sesosok Il Duco Mussolini. Bahkan Perang Dunia ke-1 pun sanggup ia kobarkan (bersama dengan Adolf Hitler). Apalagi jika cuma "memetik" sebelasan lembar nyawa pesepakbola! Kisah nyata ini terjadi di 1934. Beruntung darah tak jadi tumpah, Italia menang 3-0.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita itu hanya satu serpih torehan dari gunungan kisah menakjubkan dalam panggung permainan sepakbola. Dunia memang butuh katarsis (ajang pelepasan) untuk segala naluri yang dimiliki manusia. Tentu saja, di situ juga termasuk naluri menghabisi, instink melumpuhkan, serta perusakan-perusakan besar. Tidak dengan cara-cara dingin melulu sebagaimana gaya Mafioso Sisilia. Tetapi juga dengan sorak sorai menggempita. Misalnya contoh-contoh berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan pemerintah El Salvador memasuki perbatasan Honduras karena sepakbola ---dan perang pun meletus. Seorang suami menembak mati istrinya karena sepakbola di Bucharest. Seorang pria memuncratkan isi kepalanya dengan sebuah peluru karena sepakbola di Buenos Aires. Ribuan supporter Liverpool membantai tifosi Juventus atas nama sepakbola di Brussels. Di jalan raya Istambul, pendukung Galatasaray memukuli dan menikam mati dua pendukung Leeds United karena sepakbola. Di alun-alun kota Roma, seorang wanita memamerkan buah dada dan kemaluannya karena sepakbola. Sementara itu di Jakarta, seorang pria menceraikan istrinya juga karena sepakbola. Oh, ya terlewat. Mungkin anda pernah mendengar serangkaian penembakan terhadap para pemain bola di Mexico, beberapa waktu lalu. Belum lagi bila kita memasukkan kata Hooligans, Tifosi, Bonex Surabaya, dan Bobotoh Bandung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep ringkas untuk semua kegetiran itu adalah bahwa sepakbola menjadi katarsis. Sebagai ruang-ruang pelepasan naluri bar-bar ummat manusia. Mengalihkan gejolak kegilaan manusia yang destruktif ke dalam sebuah permainan yang menyenangkan. Persis, seperti di tulis oleh Professor Johan Huizinga, dalam buku "Man the Player", di Tahun 1938, bahwa manusia adalah homo luden (mahluk bermain).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya perputaran zaman yang kemudian menjadikan sepakbola (dan cabang olahraga lain) menjadi lebih beradab. Tidak ada lagi gladiator bertarung melawan singa lapar, di bukit olympus. Objek panahan cukup sebentang papan keras yang dilingkari garis hitam ---bukan prajurit tawanan yang kalah perang. Dan tradisi baku pukul dilokalisir ke ring tinju dengan pengawasan ketat dari wasit. Konon, dulu sekali, bola yang disepak para pemain adalah batok tengkorak para tentara yang kalah perang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu setelah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Johan Huizinga menjelaskan bahwa manusia adalah "mahluk" bemain, dan bukan "binatang bemain". Garis tegas jadi pembeda: sebagai mahluk, manusia dibekali kepandaian memilih-mengelola-memanfaatkan. Tidak seperti binatang, dari dulu hingga kiamat nanti "permainannya" begitu-begitu terus. Sepakbola, misalnya, oleh "mahluk bemain bernama manusia" itu kemudian dikelola dan dimanfaatkan. Tetapi satu hal tak berubah, dalam permainan, segala kemungkinan bisa terjadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sinilah titik masuk berjalan. Hanya mereka yang memiliki kepiawaian berlebih bisa memanfaatkan sepakbola. Piawai dari sisi ekonomi, canggih dalam manajemen, kreatif dalam menjual, hebat dalam prestasi. Segala aspek kehidupan, kemudian, ramai-ramai melakukan proses simbiosis mutualisme dengan sepakbola. Salah satu "causa celebre" (contoh yang sering disebut), adalah kebangkitan sebuah kota kering di Italia, bernama Turin, yang kemudian melesat menjadi kosmopolit gara-gara kehadiran Klub Torino dan Juventus. Ini contoh keuntungan ekonomis antara sepakbola dan bisnis. Orang Inggris, di mana-mana, bahkan selalu bangga dengan dua hal yang terkenal. Pertama adalah BBC (British Broadcasting Cable) dan MU (Manchester United). Belum lagi beberapa negara "terasing" yang kemudian tenar gara-gara sepakbola, seperti Kamerun, Togo, dan Pantai Gading. Jika bukan karena sepakbola, akankah mereka dikenal seperti hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Piawai mengolah, rapi dalam manajemen, kreatif dalam menjual, dan hebat dalam prestasi, faktor-faktor ini nampaknya dibagi rata oleh negara-negara peserta piala dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika misalnya, Amerika tidak terlalu hebat dalam kepemilikan bakat sepakbola ---di negara itu bahkan sepakbola kalah populer oleh basket, maka mereka digdaya dalam manajemen. Hasilnya sudah jelas, mereka berkali-kali lolos sebagai kontestan. Begitu juga Inggris, yang sejatinya adalah pemilik sepakbola, benar-benar mampu menjual tontonan sepakbola ke seluruh penjuru dunia ----meskipun mereka hanya pernah satu kali memiliki Piala Dunia, di Tahun 60-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penegasan kembali: sepakbola adalah seni segala kemungkinan. Bayangkan Togo, Pantai Gading, Meksiko, Brazil. Bukankah mereka negara-negara dunia ketiga yang masih perlu belajar banyak hal? Dari negara-negara itu, bahkan tak sedikit yang bermasalah. Mexico adalah negara dengan kategori terjebak utang (debt trap), begitupun Brasil. Sementara beberapa negara Afrika adalah negeri dengan segudang masalah. Tetapi toh tetap bisa unjuk diri. Singkat kata, meski lemah dalam ilmu manajemen, payah dalam bisnis, tetapi mereka hebat dalam prestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu jika segalanya mungkin, mengapa kemudian Indonesia selalu terperangkap menjadi penonton setia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola adalah seni segala kemungkinan bila itu berjalan dalam arena yang jujur dan tidak manipulatif. Kita gagal untuk mengenali permasalahan diri sendiri secara jujur. Bahkan gagal merumuskan "exit strategy" (jalan keluar) dari segala perkara yang memenjara. Karena memang tak pernah mau jujur terhadap borok diri sendiri. Negeri ini hanya pandai memanipulasi dan mengalihkan masalah. Belajarlah dari Afrika Selatan, yang tercabik isu rasial, tetapi bisa bangkit. Belajarlah dari Iran yang diluluh-lantakkan, tetapi juga bangkit. Belajarlah dari Korea Utara yang dikucilkan, tetapi juga jadi peserta. Mereka tak pernah memanipulasi masalah di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola di Indonesia lalu berubah menjadi seni segala ketidakmungkinan... karena kebohongan itu. Rezim PSSI pimpinan Nurdin Halid, bukan belajar bangkit dari masalah, malah mengalihkan masalah yang sesungguhnya. Bukannya bergegas membentuk tim bagus, malah sibuk mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia 2020. Sungguh konyol... Sepakbola, di negara lain adalah The Art of Possibility. Di negeri kita, The Art of Imposibility. Wallahu'alam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4408057542307848243?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4408057542307848243/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/sepakbola-art-of-impossibility.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4408057542307848243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4408057542307848243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/sepakbola-art-of-impossibility.html' title='Sepakbola, The Art of (im)possibility'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TBHrBiH07jI/AAAAAAAAASs/zWsxkydIQuY/s72-c/Piala+Dunia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2893857307785501067</id><published>2010-06-08T03:51:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:52:55.612-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Media'/><title type='text'>Luna, Ariel, Cut Tari, dan Suguhan Ala Junkfood</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TA4g7-t_-SI/AAAAAAAAASk/Z2CkGipkrU8/s1600/Ariel+Luna+Cut+Tari.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TA4g7-t_-SI/AAAAAAAAASk/Z2CkGipkrU8/s400/Ariel+Luna+Cut+Tari.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5480354011376777506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tragedi besar Luna-Ariel-Cut Tari adalah betapa besar jumlah orang yang menyantap tragedi itu. Betapa besar pula volume pemberitaan menggerojok tiada henti. Meski belum pasti, kita bisa mengira-ngira betapa super besar keuntungan di industri media atas isu sensitif ini. Sudah pasti adalah: betapa besar kerugian tiga pesohor kawak itu. Luna bahkan hilang dari Variety Show Dahsyat ---dan terpaksa membuat surat ke Unilever.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan setelah dua pekan, koran-koran meramu penjudulan tanpa habis kata-kata, olah respon para pengikut Tarekat Al Facebookiyah, hingga guyonan di gedung-gedung perkantoran. Batas akhir pergosipan Luna Ariel Cut Tari, mungkin hanya ada di tempat sujud!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tentu di sana tak ada kaitan dengan kualitas diskusi dan harga sebuah pertukaran informasi. Asumsi bahwa ledakkan sebuah isu selalu membuncratkan hikmah (mari kita petik hikmahnya, kurang lebih begitu komentar para Ustadz), sama sekali tak ada tempat dalam perkara ini. Belakangan muncul Farhat Abas, pengacara perlente yang doyan gonta-ganti isteri, membawa isu hukum dan moral. "Ah", kata sebuah komentar di detikforum, "urusin aje bini elo!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pededahan konsep komunikasi massa, inilah yang disebut dengan "voyeurism syndrome".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masyarakat yang getol mengulik noda cela orang lain. Terhipnotis oleh privasi yang ditutupi ---lalu kemudian tersembul ke mata publik. Mengintip, mencuri dengar, lantas menguar-uarkan pelbagai aib kehidupan antar sesama. Boleh saja berdalih membela, atau misalnya memaklumi: bahwa di manapun fenomena "mengulik aib" selalu ada. Entah di pedalaman Papua, hingga ke ke kutub utara sana. Iya, barangkali Tuhan pernah menitipkan naluri purba untuk "mencuri" seraya menyantap tragedi orang lain. Normal-normal saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi absurd adalah ketika gigantisme tak terbendung. Volume pemberitaan, frekuensi penyiaran, dan kuping kita yang nyaris budek atas "tragedi" Luna Ariel Cut Tari, benar-benar merembes melewati takaran. Sebentar, lalu apa tapal batas normalitas dalam overpublisitas sebuah isu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna-Ariel-Cut Tari adalah Man/Woman Makes News, para pesohor yang warna kaus kakinya pun layak ditulis oleh seorang reporter (terserah akan digunting editor atau dipampang di halaman muka surat kabar). Mereka adalah sejumlah tokoh dengan kelas extra ordinary person (orang-orang yang luar biasa dari sisi potensi jual berita). Rumusan itu hanya perlu satu cantolan sederhana, with ordinary circumtances (sesuatu yang biasa-biasa saja). Reporter amatiran yang baru dua minggu magang sekalipun akan mahfum, bahwa orang-orang tenar, dengan kejadian kecil sekalipun, toh akan tetap bernilai berita. Itulah kemudian mengapa artis menyumbang menu buka puasa di Panti Asuhan diberitakan berulang-ulang (padahal orang lain melakukan lebih sering dan lebih ikhlas daripada artis yang hanya berjilbab di bulan puasa, lantas pamer sedekah!). Orang biasa jangan masuk media, barangkali begitu singkatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hitung-hitungan menjadi sederhana jika "insiden" Ariel-Luna-Cut Tari selesai di situ. Apalagi di sebuah era ketika NEWS, bukan lagi berdefinisi North, East, West, and South, sebagaimana definisi klasik, yang kurang lebih mengartikan berita sebagai segala sesuatu kabar yang berhembus dari Barat, Timur, Utara dan Selatan. NEWS, di era showbiz dan penghambaan terhadap gaya hidup adalah berarti Names (big names), Entertaint, Womans (Luna dan Cut Tari ada di situ), serta SEX or Sport. Menakjubkan! Ariel-Luna-Cut Tari berada dalam orbit sedemikian. Mereka punya nama beken, terlibat dalam panggung hiburan, dua diantarnya adalah perempuan cantik, dan terlibat dalam "sesuatu" yang terkateogi Sex... Hanya unsur Sport yang hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon permisi untuk menambahi satu lagi teori: segala apa bidang pergosipan memang laku bila pangsa pasar menghendaki. Christianto Wibisono punya istilah bagus, readibilitas (kecerdasan membaca berita), di masyarakat kita terbilang payah. Kecerdasan bermedia (media literacy) juga kendor. Bila saja dibikin adonan, maka publik pembaca yang lumpuh daya kritis itu adalah tepung terigu yang pas untuk kue gossip di televisi dan koran. Lalu minyak goreng yang dipakai adalah "waktu santai" yang begitu panjang ----milik publik pemirsa di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, leisure time atau waktu luang yang begitu leluasa, menyebabkan orang-orang menyergap isu sampah sekalipun di televisi. Ini terjadi di kalangan bawah, atau kategori D, untuk pemirsa tivi, dengan karakter: (1) pendidikan rendah; (2) penghasilan rendah; (3) produktivitas rendah; dan (4) penghasilan rendah. Ini bukan prasangka, tapi parameter dalam riset penonton. Empat karakter itu hanya sedikit punya peluang untuk menikmati hiburan, dan yang tersedia tanpa batas adalah pergosipan ala infotainment.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, di Indonesia, kalangan terdidik dan makmur sekalipun tak lepas dari penyakit "lahap isu" ini. Mengapa? mereka punya leisure time yang tinggi pula. Nongkrong di cafe, ngobrolin artis. Jalan-jalan ke mall, beli media hiburan. Di kantor, "ssst, hebat ya, Ariel? Leisure time yang bercokol sebagai Pleasure Time. Cucok, brow!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka betapa gegabah jika kemudian persoalan digiring untuk menghukum Luna, Ariel dan Tari. Hukumlah diri sendiri. Dengan cara-cara lunak, tentu saja. Misalnya dengan memotong jam nonton televisi. Misalnya dengan menukar koran kuning ke koran serius. Misalnya dengan mengganti topik obrolan yang rada bermutu. Jika tidak, seorang dokter yang 1x24 jam praktek di laboratiorium tertutup sekalipun pasti kena imbas, jika para suster perawat cekikikan melihat video tiga artis itu di layar handphone. Hukumlah diri sendiri, untuk tidak menularkan gosip tak perlu ke orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung keruwetan adalah kecerdasan bermedia (media literacy) yang sama sekali tak nampak dalam pengalaman Indonesia sejak awal hingga kini. Kita adalah pemirsa yang tidak siap. Lantas itu pulalah yang sengaja dipelihara para pemain di industri media. Dengan suguhan-suguhan ala junkfood (menu tak sehat rendah gizi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, Ariel-Luna-Cut Tari adalah trigger (pelatuk peristiwa). Bila melihat respon ketiga pesohor itu, sama sekali tak ada niatan mereka menikmati overpublisitas yang bertendensi notorious (terkenal karena buruk!). Sama sekali tidak. Mereka, dalam konteks ini, sama sekali tak berdaya menghadapi "kapal keruk" milik pemburu berita. Disertai sorak-sorai para pemirsa. Kata orang palembang: Kejam nian!!!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2893857307785501067?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2893857307785501067/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/luna-ariel-cut-tari-dan-suguhan-ala.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2893857307785501067'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2893857307785501067'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/luna-ariel-cut-tari-dan-suguhan-ala.html' title='Luna, Ariel, Cut Tari, dan Suguhan Ala Junkfood'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TA4g7-t_-SI/AAAAAAAAASk/Z2CkGipkrU8/s72-c/Ariel+Luna+Cut+Tari.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-458273162133482251</id><published>2010-06-08T03:48:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:05:18.769-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Video Lucu Versi Bukan Luna Maya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLdUs4h6kI/AAAAAAAAATs/p7gCpn0Bgbs/s1600/Luna+Maya.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLdUs4h6kI/AAAAAAAAATs/p7gCpn0Bgbs/s400/Luna+Maya.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499701442688182850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua yang sudah jenuh dengan berita Ariel, nampanya menyimak yang berikut ini perlu juga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman Video Pertama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Anggota DPR, sebut saja namanya Bapak Bravo, panik setengah mampus. Gara-gara sms teror yang berbunyi ancaman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segera! Transfer uang Rp. 500 juta ke rekening saya, jika tidak, video kita yang sedang tidur bareng akan saya sebarluaskan di internet dan media massa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota DPR itu kelimpungan. Ia berpikir keras. Jika menolak, riwayatnya akan jadi bulan-bulanan. Imajinasinya segera ke nasib Ariel Peterporn (eh, Peterpan). Demi menyelamatkan karir politik, akhirnya ia transper juga uangnya (ke rekening si peneror).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai mengirim uang, ia kirim sms ke alamat "pemeras sialan" itu. Dengan kalimat yang rada sopan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak, uang sudah saya kirim. Tapi memangnya kita pernah tidur bareng di mana?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama, sms balasanpun datang... Isinya ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alah, jangan pura-pura deh, Mas. Kita kan sering tidur bareng, di kursi masing-masing, kalau lagi sidang di DPR. Mau saya kirim videonya? He..he..he.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Anggota DPR itupun langsung lemas...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman Video Kedua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan puluhan santri, seorang Kyai berfatwa dengan galak:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Allah akan mengazab orang yang tidur bareng dengan non muhrim! Dan Allah akan melipatgandakan hukumannya jika para pelaku tidur bareng itu merekam serta menyebarkannya ke orang lain". (Rupanya Kyai kita ini rada gaul juga, buktinya sampai perlu-perluan bikin fatwa tentang penyebar vidoe tidur bareng).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, seorang Santriwati pingsan. Suasana jadi heboh... Sigap Pak Kyai mengobati. Setelah siuman, si Santri Puteri langsung diinterogasi... (tentu hanya berdua dengan Pak Kyai, di ruang khusus).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kyai: "Nak, tolong ceritakan, kenapa kamu langsung pingsan setelah saya berfatwa..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santriwati (dengan sesenggukan): "huu..hu..hu... Pak Kyai, ampuni saya. Doakan agar Allah tidak menghukum saya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kyai (rada mulai curiga): "Nak, memangnya kamu pernah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Santriwati (tangis meledak!): "Ampuuuun Pak Kyai, saya pernah... pernah merekam teman-teman saya, lelaki dan perempuan, yang tidur bareng... Tadinya saya berniat mempermalukan mereka. Saya dendam dengan mereka berdua, Pak Kyai....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Kyai: "Hah, siapa mereka? Tidur bareng di mana? Mari sini, saya lihat videonya, ada di HP kamu kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Pak Kyai melihat video tidur bareng itu dengan teliti. Akhirnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, Nak... kalau cuma begini mah nggak usah pake pingsan..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ternyata hanya rekaman video tidur bareng di dalam bus wisata, ketika rombongan anak-anak SMA Tur ke Bandung, dan semua siswa tertidur lelap di kursi masing-masing).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekaman Video Ketiga:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pakar IT (Information Technology), tapi bukan Roy Suryo, dan nggak "mirip" sama sekali, tertegun-tegun. Jakunnya naik turun. Hari ini dia dipercaya oleh Redaktur sebuah media massa terkenal, untuk memeriksa keasilian video tidur bareng yang dilakukan oleh dua tokoh terkenal ---sangat terkenal, baik yang cewek, maupun yang cowok (tapi sama sekali bukan Ariel, dan boro-boro mirip, jempol kakinya aja beda jauuuuuh dengan mantan vokalis Peterpan itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, ia mengetik lembar rekomendasi. Ia tulis dengan hati-hati, takut mengundang perdebatan, dan takut tidak terbaca sebagai rekomendasi seorang ahli...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini rekomendasinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Redaktur yang terhormat...&lt;br /&gt;Demi Tuhan, saya dengan keahlian yang sudah teruji, menyatakan bahwa video ini asli, tanpa rekayasa sama sekali. Kedua pelaku, laki-laki dan perempuan, memang direkam langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Anda, saya mengatakan bahwa video bareng ini tidak perlu ditanggapi serius. Dan tidak akan laku jika dipublikasikan. Karena... mereka adalah tokoh kartun, Mickey Mouse dan Minnie.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-458273162133482251?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/458273162133482251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/harga-mahal-untuk-membayar-kesia-siaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/458273162133482251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/458273162133482251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/harga-mahal-untuk-membayar-kesia-siaan.html' title='Video Lucu Versi Bukan Luna Maya'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TFLdUs4h6kI/AAAAAAAAATs/p7gCpn0Bgbs/s72-c/Luna+Maya.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3947718646081705883</id><published>2010-06-02T04:08:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:04:32.124-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Islam'/><title type='text'>Ersatz Yesrael, Not in My Back Yard...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAY8BSoF_eI/AAAAAAAAASU/Zj4l_pmiCLA/s1600/Israel+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 301px; height: 324px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAY8BSoF_eI/AAAAAAAAASU/Zj4l_pmiCLA/s400/Israel+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5478131989620325858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anti semitisme adalah fenomena baru bagi Ummat Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara di Eropa sudah berakar jauh dari dulu. Barangkali milyaran Ummat Islam saat ini membenci Zionis Israel karena memang "terpaksa". Bagi ummat yang memiliki pengalaman manis terhadap penaklukkan Yerussalem dengan solusi damai, dari zaman Khalid Bin Walid, perintah Ummar Bin Khatab, hingga perlindungan Sholahudin Al Ayubi, yang semuanya berakhir dengan perjanjian damai terhadap Yahudi, adalah lebih dari cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau Piagam Madinah yang tegas-tegas memberikan jaminan hidup terhadap Yahudi. Memang ada pengecualian, ketika pengkhianatan Bani Qainuka terhadap kedamaian di Madinah dibayar dengan hukum pancung oleh Nabi, tetapi itu adalah respon untuk menciptakan "law and order", yang hampir empat kali dilanggar oleh para munafiq Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam, secara genealogis dan doktriner, sama sekali tak ingin memuncratkan darah,bagi Yahudi, bagi siapapun. Bila ukurannya adalah tragedi, maka 1/3 Ummat Muslim di dunia saat ini dengan mudah menunjuk: bahwa Yahudi lebih sering diperlakukan biadab justru di sepetak wilayah yang saat ini disebut pelopor HAM dan Demokrasi. Yahudi lebih sering dibantai oleh Eropa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perburuan progrom di Spanyol, tatkala Ratu Issabel dan King of Ferdinand menekuk Kekhalifahan Islam, adalah salah satu horor yang bahkan oleh sejarawan barat sekalipun ditulis dengan penuh kengerian. Darah tergenang hingga selutut, dan bukan hanya darah Ummat Islam, melainkan juga Yahudi. Juga periode kelam abad pertengahan yang disebut Inquisista, yang memakan korban para heresist (murtad) dari kalangan agama tertentu, tetapi juga memakan korban banyak Ummat Yahudi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Perancis, bahkan ada peristiwa yang hingga saat ini disebut tragedi pertama dalam kasus "prasangka bersalah", mendakwa orang hanya karena kebencian, yang disebut Pengadilan Dreyfuss, seorang Perwira Yahudi yang dihukum sebagai pengkhianat --- karena semua Yahudi dianggap bersalah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan lagi rahasia, bahwa sesungguhnya Eropa paling tak tahu diri terhadap perlakuan mereka terhadap Yahudi. Kedigdayaan Eropa sedikit atau banyak justru karena sumbangsih para Yahudi Diaspora (yang menyebar dari Polandia, Rusia, hingga Eropa Tengah). Yahudi Diaspora bukan hanya genius dalam menciptakan temuan-temuan penting, tetapi juga menjadi penguasa di dunia perbankan, mengajarkan Eropa dari urusan Kantor Pos, sistem akuntansi, hingga urusan Filsafat... Tetapi timbal baliknya adalah Holocaust oleh Nazi Jerman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu bukan urusan kita! andai saja tidak ada aneksasi terhadap tanah Kanaan, Yerussalem, atau Palestina Moderen. Dan biang keladi dari titik didih yang berlarut-larut hingga penyerangan Freedom Folitelia terjadi baru-baru ini. Dan kita bisa tegas-tegas menunjuk, Barat, Eropa, dan juga Amerika, adalah tangan-tangan licik yang menikmati pembantaian Yahudi dan penistaan terhadap Syuhada Palestina...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa licik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kampanye, propaganda, dan disertai pengejaran-pengejaran berdarah melalui Anti Semitisme (yang kemudian bertiwikrama menjadi Anti-Jews’ atau Anti Judaisme di daratan Eropa inilah) yang sesungguhnya menjadi cikal bakal berdirinya Negara Israel, yang sepadan dengan cita-cita ideologi Zionisme, mendirikan Ersatz Yesrael, koloni Israel (Jewish State).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanyakanlah kepada Theodora Herzl, atau tepatnya berkaca pada perjuangan Sang Ideolog Zionisme itu. Dalam berbagai konferensi Zionisme, terutama Kongres yang pertama di Bezel, Swiss, puluhan tahun lalu. Theodora Herzl yang sukses mengemas tragedi Anti Yahudi di Eropa sebagai satu-satunya alasan untuk Yahudi Diaspora merebut tanah manapun di dunia ini untuk tempat tinggal "merdeka" bagi kaumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;David Vital, profesor pada University of Tel Aviv dalam bukunya The Origins of Zionism (1975) menulis bahwa Zionisme modern (sering disebut juga Zionsime politik) pada mulanya merupakan impian seorang wartawan Theodore Herzl setelah menyaksikan berbagai pembantaian Yahudi di Eropa. Dalam buku La Tahzan, tulisan Aidh Al Qorni, disebut Herzl hanya tidur 3 jam per hari untuk bekerja mengorganisir dan meloby jaringan Yahudi di mana-mana, agar setuju dengan Ideologi Zionisme. Meski, sesungguhnya, Zionisme secara diametral bertentangan dengan nilai-nilai religius Ummat Yahudi ---dan tak sedikit tokoh Yahudi yang menolak, termasuk Einstein...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peta dunia kemudian berubah puluhan tahun setelah Kongres Zionisme berlangsung. Eropa menyadari Anti Semitisme dan Zionisme adalah "kerikil dalam sepatu". Untuk mematikan tentu saja tak bisa, eksistensi sebuah negara atau bahkan sebuah komunitas tak bisa ditumpas begitu saja, salah satu jalan terbaik adalah memindahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eropa lalu belakangan disusul Amerika, tahu persis: Yahudi memang perlu hidup, Ersatz Yesrael, Negara Yahudi harus ada, tetapi bukan dihalaman belakang Eropa, Not in my back yard... tetapi di Palestina!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran inilah yang mempermulus gagasan Zionisme, terlebih-lebih setelah janji konspiratif dari sepucuk surat dari Menteri Luar Negeri Inggris Raya, tertanggal 2 Novembe 1917, yang bernama Arthur James Balfour. Diam-diam, Inggris telah lama merancang sebuah tanah untuk Yahudi, hanya mereka belum tahu kapan dan di mana... Surat inilah, yang kemudian disebut Deklarasi Balfour, yang kemudian menciptakan neraka berkepanjangan di Timur Tengah, tepatnya di Palestina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah memang multifafsir. Tetapi kesengsaraan atas berdatangannya kapal-kapal Yahudi Diaspora ke Palestina adalah bukti. Hanya dalam hitungan tiga tahun, 30 ribu komunitas Yahudi pendatang, menyatakan kemerdekaannya di tanah yang baru mereka tempati, dengan mengangkangi 600 ribu warga asli di Palestina (gabungan antara Arab, segelintir Eropa, sedikit Yahudi Asli, dan warga asli Palestina). Eropa, Inggri, Amerika, jelas-jelas paling bertanggung jawab atas semua peristiwa yang telah berlangsung, termasuk pada saat ini, penyerangan biadab terhadap Freedom Flotilla, di Jalur Gaza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan: sumber utama yang dijadikan acuan adalah tiga buku dari Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Berperang Demi Tuhan, dan Perang Suci.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3947718646081705883?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3947718646081705883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/ersatz-yesrael-not-in-my-back-yard.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3947718646081705883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3947718646081705883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/06/ersatz-yesrael-not-in-my-back-yard.html' title='Ersatz Yesrael, Not in My Back Yard...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAY8BSoF_eI/AAAAAAAAASU/Zj4l_pmiCLA/s72-c/Israel+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8406783569894610684</id><published>2010-05-30T02:12:00.001-07:00</published><updated>2010-08-29T02:04:49.857-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Negara Selalu Kalah... dan Sesat Pikir DPR RI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAIsIxOkNmI/AAAAAAAAASM/f8Gj9I9fxDg/s1600/Sensus+2010.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 125px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAIsIxOkNmI/AAAAAAAAASM/f8Gj9I9fxDg/s400/Sensus+2010.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5476988626000950882" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Statistik itu dusta, kata sebuah buku ---yang berjudul Kebohongan Statistik! Cara mudah mendeteksi kepalsuan dalam data statistik adalah ini: "Angka Bulat Selalu Palsu!". Tetapi, hari ini, di Indonesia, statistik ternyata juga penuh insiden. Tragedi penistaan terhadap rakyat jelata yang berlelah-lelah melakukan pencatatan. Selembar pernyataan Surat Tugas Negara ternyata sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negara selalu kalah... Tanyakan hal itu pada petugas sensus yang mewakili tugas pemerintah. Mereka diusir, datanya dirobek lalu dilempar, digigit anjing, beropeasi malam bersama para gelandangan, dan sungguh melelahkan. Mudah-mudahan ini bukan cermin perilaku kebanyakan orang-orang super kaya di Indonesia. Cukup sebagian saja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saja mampu memilih, barangkali ribuan petugas Sensus yang mengikuti pelatihan nan melelahkan tak akan mengabdi sebagai pencatat data penduduk. Boleh juga diragukan: jangan-jangan Biro Pusat Statistik tidak menyiapkan modul untuk mengajari strategi "menginterogasi" status kependudukan orang-orang kaya. Strategi minimal untuk memaksa secara halus, bahwa data setiap kepala itu penting bagi negara! Maka yang terjadi di lapangan adalah exit strtegy, petugas kabur dan menghindar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itupun adalah apa-apa yang kita baca melalui media massa. Belum, misalnya, mengira-ngira baratnya perjuangan para petugas Sensus di pelosok Papua, di pedalaman Kalimantan, berhadapan dengan ganasnya kondisi alam di lembah-lembah dan gunung-gunung. Dari sini, klaim Universalisme Ilmu Statistik langsung rontok. Desain sensus versi WHO, atau Worl Bank yang digunakan BPS, sama sekali tak membaca "tantangan demografis" di Nusantara. Tak pernah ada publikasi rinci, apakah UNFPA, badan PBB yang menjadi partner BPS kali ini membuat desain khusus atau tidak. Betapa tak mudah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang selalu terjadi dalam setiap apapun agenda pekerjaan nasional di negeri tercinta ini, adalah betapa jomplangnya beban kerja dengan daya dukung anggaran. Hitung kasar: populasi penduduk Indonesia yang keempat terbesar di dunia itu diperkirakan mencapai 235 juta, dan untuk objek sebanyak itu hanya mencadangkan anggaran 1,3 Triliun, alias termurah sejagat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Negara Kalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Per definisi, status negara kalah adalah tahapan paling awal menuju negara gagal. Dunia tahu persis, failure state, atau negara gagal adalah ketika negara dan perangkat penyelenggara kekuasaannya tak mampu memenuhi kebutuhan mendasar para penduduknya. Itu dari aspek pelayanan. Sementara dari aspek otoritas, negara gagal adalah negara yang bahkan tak berhasil melaksanakan apa-apa yang menjadi kehendaknya. Negara gagal adalah negara yang tidak didengar... bahkan oleh penghuninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu negara kalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifatnya agak temporal, tidak permanen ajeg sebagaimana negara gagal. Kadang negara begitu super power memaksa rakyat tunduk, misalnya ketika harga BBM dinaikkan. Tetapi terkadang negara lumpuh berhadapan (vis a vis) rakyatnya. Indonesia lumayan berpengalaman dalam status seperti ini. Dalam isu kisruh Sensus Nasional, agaknya cukup pantas disebut gagal. Sekurangnya, gagal melindungi harga diri dan kehormatan para petugas sensus ---dengan titel demi tugas negara!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara target negara melambung ke ujung langit. Situs detik.com menyebut Sensus 2010 ini ingin menjadi proyek percontohan sedunia. Secara formal, sensus juga memberi fungsi mendasar bagi dokumen penyelenggaraan pembangunan nasional. Agar penyaluran distribusi anggaran tak salah sasaran. Agar tahu persis alokasi APBN untuk orang tak punya. Agar pemerintah siap siaga melakukan pemerataan pembangunan ekonomi. Dan banyak lagi fungsi penting dari data hasil Sensus. Akan tetapi, bagaimana target-target penting itu tergapai bila di lapangan para petugas bekerja kocar-kacir! Apa yang bisa diharap dari orang yang kehilangan martabat (karena tidak dilindungi penuh oleh negara?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DPR Lalai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Atas semua itu, ke mana hendak mengadu? Kembali mengutip berita detik.com: DPR RI akan memanggil BPS, atas semua proses Sensus yang mendekati ujung. Dalam rangka evaluasi menyeluruh, terhadap kendala, halangan, tantangan, dan profesionalisme petugas Sensus. Anggota DPR RI dari Komisi II, A. Malik Haramain mengatakan bahwa isu penting yang akan diangkat adalah profesionalisme petugas di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita akan bergembira (sekali) apabila DPR RI justru terlebih dahulu memanggil penghuni perumahan elit di Menteng, Pondok Indah, di Apartemen Mewah, atau di Cluster Elit Alam Sutera Tangerang, yang menolak disensus. Tanya kepada orang-orang maha kaya itu, mengapa tak sudi di data? Tidak kah para legislator itu tersinggung jika ada "wakil petugas negara" yang digigit anjing? Diusir dan dilecehkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kenyataannya selalu begitu. DPR tidak hadir ketika dibutuhkan. Dan muncul ketika persoalan terlanjur memusingkan. Lelah, sudah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8406783569894610684?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8406783569894610684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/negara-selalu-kalah-dan-sesat-pikir-dpr.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8406783569894610684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8406783569894610684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/negara-selalu-kalah-dan-sesat-pikir-dpr.html' title='Negara Selalu Kalah... dan Sesat Pikir DPR RI'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/TAIsIxOkNmI/AAAAAAAAASM/f8Gj9I9fxDg/s72-c/Sensus+2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3973724411238541328</id><published>2010-05-26T23:36:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:58:10.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>The Bright Side of Habibie</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_4TTvze_jI/AAAAAAAAASA/89K6j9AmKWE/s1600/Habibie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_4TTvze_jI/AAAAAAAAASA/89K6j9AmKWE/s400/Habibie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475835426899951154" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Taruhan! Anak-anak SD era 80-90an awal, dengan tegas menjawab ingin jadi Habibie ---ketika Bu Guru bertanya lembut apa cita-citamu? Sisanya bercita-cita jadi Insiyur, pilot, dokter, atau menteri (kalau tidak Habibie, ya, Harmoko). Ada sih, lagu tentang cita-cita jadi Presiden, tapi dari sebuah boneka kenes bernama Susan, dari mulut mungil Ria Enes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan saja berubah. Ketika Billboard raksasa terang benderang menampilkan leher lenjang milik Luna Maya; di saat anak-anak TK fasih dengan ucapan cadel becyek nggak ada ojyeg; atau mungkin terbius dengan Harry Potter. Maka "Bu Gulu" terlongong-longong karena ada murid berniat menjadi penyihir!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sssstttt, bukan cita-citanya yang berubah. Hanya ada penambahan: ingin jadi dokter yang kaya, insinyur yang kaya, pilot yang kaya, atau menteri yang kaya. Pokoknya kaya raya. Kalau perlu sekalian saja kaya dan beken. Tuhan, aku ingin jadi artis...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka tayangan terakhir tentang duka mendalam Habibie atas berpulangnya isteri tercinta seperti mengulang lagu lama yang pernah kita lupakan. Tentang sosok yang pernah menyingkirkan kerikil dalam sepatu bernama Timor Leste (dan ia harus mendapat cibiran kanan-kiri). Tentang konflik dengan pengagumnya yang bernama Jenderal Prabowo. Tentang pengakuannya yang berbunyi rada hiperbolik bagi aktivis mahasiswa era 98, bahwa Guru Besar dan Profesor Politik-nya adalah Soeharto. Catatan ini akan berisi seratusan kata tentang lagi, tapi cukuplah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekaguman dan kedengkian mungkin berada dalam neraca yang seimbang terhadap sosok Burhanuddin Jusuf Habibie. Namun memang niscaya begitu bagi manusia-manusia berharkat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia, satu dari sedikit tokoh bangsa yang memiliki kelengkapan nyaris paripurna. Teknokrat yang berhasil menerbangkan pesawat dengan teknologi Fly By Wire melalui CN 135; Ekonom yang melahirkan varian Habibienomic dengan kritik keras dari Rizal Ramli plus ITB Connections; seorang Presiden yang berhasil menelurkan begitu banyak Undang-Undang Pro Reformasi Pro Demokrasi; serta (yang ini juga perlu) mendorong kekuatan baru Islam Politik melalui ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak menyesal, kita juga pernah menyaksikan betapa ia pernah dinista dengan ganas! Laporan pertanggung-jawabannya ditolak DPR RI, beberapa "brutus" menelikungnya dari belakang. Proyek IPTN perlaya dengan alasan salah urus dan overheating. Tragedi Kampus Atmajaya, yang disebut sebagai Insiden Semanggi Dua di zamannya. Lalu pelabelan (political labeling) secara negatif bahwa ia adalah The Golden Boys of Soeharto. Itupun, jika kita ingin menghindari penulisan kata Antek Orde Baru di depan namanya. Maaf saja, di kalangan non Islam, dengan nyaman orang menyebutnya sebagai Islam Garis Keras!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bangsa ini seperti termakan mitos Sysiphus, yang melakukan tindakan yang sama secara berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencandraan terhadap seorang tokoh tersaput oleh kekaguman nyinyir atau malah penolakan buta. Susah menjadi hero dengan kondisi yang manusiawi ----bisa salah, bisa keliru. Biografi para tokoh di Indonesia adalah catatan sekelas Whos Who yang memetik sisi-sisi spektakuler sahaja. Pengenalan menjadi tak utuh. Hasilnya, kita abai bahwa orang seperti Habibie sekalipun adalah manusia yang bisa menangis tersedu-sedu. Seraya memiliki cinta mulia yang mungkin sebanding Rose and Jack dalam film Titanic. It's perfectly human.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa Presiden SBY pun tak mampu mengangkat dagu, bertekuk karena berempati mendalam atas tangis Habibie. Juga hal yang sama tampak dari roman mendung-muram para pelayat. Kejam rasanya bila nurani tak haru, meski misalnya hanya melihat dari tayangan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Almarhumah Ibu Asri Ainun Habibie diberitakan mengalami operasi sebanyak dua belas kali. Sejak Maret lalau mengalami kondisi kritis. Penderitaannya tentu tak alang kepalang. Namun ia beruntung ---sangat beruntung, tepatnya--- memiliki seorang pria bermartabat. Setia menunggu dengan terus menerus membaca Al Quran. Seorang keluarga dekat menuturkan, Pak Habibie tak pernah sesaat pun berniat meninggalkan isteri tercinta yang tergolek lemah ----sepenting apapun agenda yang harus beliau ikuti. Baginya: mendampingi Isteri bukan lagi agenda, melainkan kewajiban (ter) penting. Sebagai laki-laki, saya lebih dari sekedar meneteskan buliran air mata kekaguman, tetapi juga malu. Malu karena sebagai manusia biasa (dan gagal pula) saja sering "menipu" isteri dengan alasan ba-bi-bu. Koran-koran menulis dengan ukuran hurup besar: "Saya (maksudnya Habibe) Lahir Untuk Ainun." Duhai, para perempuan se-Indonesia, berhentilah mengatakan bahwa semua laki-laki adalah sama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sisi terang Habibie, The Birght Side of Habibie. Meskipun sayangnya kita terperangah justru di ujung kisah dua manusia terkemuka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan sisi terang itulah yang paling bisa diterima dengan mudah. Bagi siapapun ---sejauh ia punya nalar sehat--- apa yang dilakukan Habibie terhadap Isteri tercinta adalah mengagumkan. Patut jadi oase di tengah kepengapan hidup yang menggelayuti republik. Di mata saya, Habibie juga ada cela. Mungkin juga bagi anda. Ia punya banyak kontribusi, seklaigus juga kekeliruan-kekeliruan. Meski memang di tangan seorang pemimpin, tak pernah ada kebijakan yang mampu memuaskan semua orang. Semoga saja, penentang Habibienomics, aktivis 98 yang anti Orde Baru, pengkritik IPTN, dan yang marah atas lepasnya Timor Timur, sedikit berkhidmat untuk seorang pria tua yang sedang berduka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3973724411238541328?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3973724411238541328/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/bright-side-of-habibie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3973724411238541328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3973724411238541328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/bright-side-of-habibie.html' title='The Bright Side of Habibie'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_4TTvze_jI/AAAAAAAAASA/89K6j9AmKWE/s72-c/Habibie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5836657400430922999</id><published>2010-05-25T21:59:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:01:14.770-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Uji Petik untuk Politik Gagasan Anas Urbanaingrum</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_ysZt1_y4I/AAAAAAAAAR4/nQOg2wKdS_E/s1600/Anas+Urbaningrum.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 348px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_ysZt1_y4I/AAAAAAAAAR4/nQOg2wKdS_E/s400/Anas+Urbaningrum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5475440804778462082" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anas membayar kontan "elan vital" yang berdengung kian kencang. Itupun bila berkaca pada perang gagasan belakangan ini, yang nyaris berbunyi sebagai high call (permintaan tinggi) belaka, alias bargaining agar politisi muda memperoleh jatah. Bahwa sudah saatnya tampuk kepemimpinan berada di kalangan "para belia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum-belum, kita bertubrukan dengan keruwetan definisi. Kamus Webster mengkategorikan kaum muda (youth) di kisaran 18-35, negara-negara persemakmuran sepakat merujuk pada usia seperti itu, juga UU Tentang Pemuda, yang belum lama disahkan. Istilah "para belia" tak lain adalah sebutan Pemuda di negeri jiran Malaysia, yang menyebut kaum muda adalah mereka yang berusia di bawah 50 tahun. Bila sedikit toleran, bolehlah Ketum Baru Partai Demokrat itu kita kategorikan sebagai pemimpin muda. Dari sisi usia, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At least, secara simbolik, Anas membayar tuntas: bahwa kaum muda bisa memperoleh apa yang diinginkan. Mur'uah (kehormatan diri) politisi muda terselamatkan....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Proposal Masa Depan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetapi persoalan menjadi panjang bila posisi Ketua Umum PB HMI era 96-98 itu diletakkan dalam locus kepemimpinan politik kaum muda. Masih berbaur antara das sein dan das sollen, antara fakta dengan realita, antara aksi dengan fiksi. Sanggupkah Anas memperlihatkan diri sebagai politisi muda dengan ghirah yang mencukupi? Dengan semangat, yang oleh Shoe Hok Gie disebut The Young Angry Man (marah terhadap korupsi dan ketidakadilan)? Dengan kemampuan anak muda untuk mewujudkan sesuatu yang oleh Pramoedya Ananta Toer disebut sebagai pemegang proposal masa depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja ada beberapa cara singkat menguji kondite Anas, sebagai politisi muda yang patut menjadi icon. Mematahkan opini publik, bahwa ia tak akan sanggup meruntuhkan AM yang mendapat restu, disokong (luar biasa) mesin kampanye FOX, plus merebut dukungan internal politisi Demokrat, adalah salah satu catatan khusus yang membuktikan bahwa dirinya adalah petarung sejati (sebuah karakter kaum muda). Menjungkirbalikkan prediksi bahwa Partai Demokrat adalah partai dengan akar tunjang patronase yang kokoh, siapapun yang terkesan "berbeda" akan terpental. Sekaligus menelikung rumus standar dalam kontestasi partai politik besar, bahwa uang adalah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti Anas tidak mengeluarkan ongkos politik. Tetapi dihitung-hitung, pundi-pundi pribadinya pasti jauh kelas dibanding dua kompetitors lain. Lain urusan bila kita memasukkan current money dari para bandar yang Pro Anas. Barangkali juga angkanya seimbang. Sudahlah, kita peras saja poin pentingnya: bahwa ia keluar sebagai pemenang dengan catatan bagus. Dalam sebuah pertarungan Kongres yang juga cukup bagus, setidaknya bila kita melihat komentar banyak kalangan di media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu paragraf singkat tentang kondite Anas. Bahwa sejatinya ia bukan Don Quixote yang bermimpi menjadi ksatria tulen tetapi dengan cara-cara yang anakronistik ---bertentangan dengan kenyataan yang terjadi. Singkatnya, kita tak boleh menyematkan baju kebesaran Tan Malaka, Shoe Hok Gie, Sjahrir, dalam raga Anas, sebab jubah itu old fashion. Lagipula, dialektika politik terkini harus bergerak ke arah lain. Tak melulu perlawanan kaum muda adalah semangat meruntuhkan. Mengutip istilah Eep Saefulloh Fatah, bahwa agenda politik kaum muda kini adalah menyusun (to arrange), bukan lagi meruntuhkan (to destroye).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proposal masa depan Anas, secara kebetulan bersumber dari janji politik ia sendiri, berlaku dalam medan Revolusi Sunyi (judul buku yang ia luncurkan dua hari sebelum Kongres Bandungi). Bergerak melalui ranah politik gagasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika begitu, metode menguji Anas menjadi terang benderang. Tiap-tiap gagasan, menurut mendiang Soedjatmiko, yang pernah menjadi Rektor di Tokyo University, harus punya kaki. Pesan barusan Ini jelas menjadi garis tegas yang membedakan antara gagasan dengan lamunan, antara ideologi dengan imajinasi. Di mana kaki "politik gagasan" Anas berada?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Uji Petik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mulai dari sisi praksis politik gagasan dari Anas. Serumusan gagasan politik, jika kemudian lahir sebagai panduan praksis bagi para pendukungnya, kelak menjadi ideologi. Maka memakai definisi seorang tokoh yang merumuskan istilah ideologi, yaitu Destrut De Tracy, maka pemikiran atau gagasan Anas kita sebut saja sebagai ideologi. Sebab, menurut De Tracy lagi, ideologi adalah motivasi bagi praksis sosial, yang menjadi pembenaran dan mendorong suatu tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Kata Pengantar buku Revolusi Sunyi, yang membedah tentang kemenangan Partai Demokrat yang spektakuler, ia menulis bahwa prestasi itu berlangsung dalam proses yang tidak gaduh. Melainkan melalui proses sistematik, terukur, matang dan kerja keras bertahun-tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uji petik di sini patut memakai ilmu curiga. Bukankah kegaduhan di televisi dan iklan luar ruang Demokrat begitu gemebyar? Hingga muncul pameo, Demokrat bukan pusing mencari logistik Pemilu, tetapi bingung menghabiskannya? Bagaimana juga dengan lelucon bahwa kemenangan Demokrat adalah karena faktor SBC, Soesilo Bambang Century? Agak sukar diterima, bahwa prestasi Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden adalah berlangsung dalam tataran Revolusi Sunyi versi Anas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, terlihat seperti menepis isu melawan SBY, setelah ke luar sebagai pemenang Kongres, Anas mengatakan bahwa Partai Demokrat harus melakukan pelembagaan figur SBY. Bahwa karakter SBY, yang santun, cerdas, berwibawa, berpengaruh luas, harus diinstitusionalisasi oleh kader-kader demokrat. Agar menjadi tauladan, menjalar sebagai karakter bersama, di seluruh kalangan kader Demokrat. Bagi politisi kelahiran Jawa, ide ini tentu bukan perkara aneh, sepadan dengan karakter-demografis mereka. Bagaimana dengan orang demokrat dari Maluku, Ambon, Papua, atau malah Aceh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada ikhtiar pemikiran yang berbau perlawanan khas "kaoem moeda" dalam dua tesis pemikiran Anas, baik dalam buku Revolusi Sunyi, maupun Institusionalisasi SBY. Wajar belaka jika kita melakukan kritik keras. Karena Anas hanya akan menjadi duplikasi atau setidaknya SBY kecil, dan itu sesuatu yang berbalik punggung dengan elan vital politk anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gerontokrasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Alih-alih meruntuhkan gerontokrasi (kepemimpinan kaum tua), kepemimpinan Anas justru menjadi jangkar bagi patronase politik. Membuyarkan ledakan kegembiraan publik yang melihat bahwa Demokrat ternyata berpotensi menjadi moderen, lepas dari dinasti politik klan tertentu. Semoga saja, statement Institusionalisasi SBY itu berkadar rendah, cukup sebagai ungkapan psikologis seorang Anas belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya kerinduan generasi muda adalah Jeunisme politik (di mana anak-anak muda tampil dengan karakter sejatinya). Berani bergejolak, kalau perlu dengan letupan kemarahan. Asalkan berbasis argumentasi dan referensi yang jelas, misalnya terhadap penyakit korup dan menguatnya Oligarki serta Dinasti Politik di mana-mana (dan itu terlihat jelas dalam agenda Pilkada, yang dikuasi anak, isteri, dan keponakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak klise, penialain terhadap Anas memang harus adil. Pun untuk tidak membela dengan gelap mata. Sosoknya berkibar karena memang kecerdasan artikulatif, tetapi jauh dari revolusioner. Agak sedikit kita mendengar gagasannya yang melawan "kesadaran umum", ia kompromistis. Nah, bagaimana dengan aksioma Ali Syariati, bahwa pemimpin perubahan selalu berada di tangan para pemikir yang berani berbeda? Atau temuan Arnold Toynbee, bahwa perubahan ada di tangan creative minority yang melawan pemikiran umum? Permisi... Anas adalah sosok yang lurus-lurus saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5836657400430922999?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5836657400430922999/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/uji-petik-untuk-politik-gagasan-anas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5836657400430922999'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5836657400430922999'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/uji-petik-untuk-politik-gagasan-anas.html' title='Uji Petik untuk Politik Gagasan Anas Urbanaingrum'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S_ysZt1_y4I/AAAAAAAAAR4/nQOg2wKdS_E/s72-c/Anas+Urbaningrum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7283695879851965378</id><published>2010-05-12T03:23:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:00:49.774-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Sedikit Memahami Jenderal Susno Duadji</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-qCS6oqczI/AAAAAAAAARg/XbqeT-PYtk0/s1600/susno-duadji.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 343px; height: 290px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-qCS6oqczI/AAAAAAAAARg/XbqeT-PYtk0/s400/susno-duadji.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5470327958883955506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah menjadi Jenderal, dengan medali emas tersemat di atas dada. Lebih tidak mudah lagi menjadi Jenderal seperti dulu-dulu. Setegar tebing karang. Tersuruk dalam medan gerilya, tertatih dalam serangka reyot. Kalaupun mudah, itu hanya ada dalam skenario sinematografi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan hanya Naga Bonar yang mengandalkan selera hati, mengangkat anak buah menjadi Jenderal atau Kopral. “Bujang! Sudah kubilang, kau jangan ikut perang, matilah kau...” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu merinding membaca Biografi Jenderal T.B Simatupang (Saya Adalah Orang Yang Berutang), L.B. Moerdani (Profil Prajurit Negarawan), atau Jenderal M. Yusuf. Tak berperasaan kiranya, jika batin tak menangis menyimak sisa hidup Jenderal Nasution, peletak dasar perang gerilya, yang bukunya The Strategy of Guerrila Warfare menjadi fenomena dunia. Dalam lembaran akhir hidup beliau, bahkan kesulitan memperoleh air bersih, seraya terpaksa membuat sumur bor di halaman belakang rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila butuh uswatun hasanah, teladan yang baik dari Jenderal Polisi, maka Nama Besar Jenderal Hoegeng Imam Santoso tak kalah menakjubkan. Mengutip Iwan Fals, ia bernisan bangga berkafan doa. Jenderal yang terkenal bersih, anti Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Ini catatan yang perlu: beliau tidak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan, tapi nun jauh di sana, di Desa Tenjo, Bogor (dari Jakarta bisa diakses melalui Kereta Api murah, Jakarta Rangkas Bitung, meski harus bercampur dengan keranjang sayur atau terkadang kambing jualan). Siapa bilang polisi jujur hanya ada pada Polisi Tidur dan Patung Polisi? Maaf... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat waktu berbalik. Nasib para petinggi militer atau kepolisian sekemilau lencana dan setinggi pangkat yang mereka sandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyaris tak ada korporasi besar yang tidak mencantumkan nama-nama (eks) perwira tinggi di jajaran komisaris. Untuk apa? Jelas sudah. Ketika Carreforur dan Grup Lippo saling sikut di gerai ritel masing-masing, mencuat nama Hendropriyono, mendampingi Chairul Tandjung. Entah gosip atau fakta, di 2002, beredar isu bahwa Brimob punya saham untuk jasa pengamanan ekstra perusahaan-perusahaan pertambangan besar. Ketika dunia bisnis merasa unsecure, mereka butuh “bodyguard”. Sungguh sebuah perkawanan yang saling menguntungkan (coalition in convenience). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No Pain, Full Gain &lt;br /&gt;Bisnis, politik, prestise, dan segalanya yang mengganti nasionalisme, daya juang prajurit, solidaritas kebangsaan, dan apa-apa yang disebut sebagai sapta marga, tidaklah membuat kita berteriak. Lebih-lebih bila pemerolehan itu memang via fit and propper test dan bukan karena fee and property cash. Seseorang yang mengecap proses perjuangan keras, wajar belaka memetik hadiah. Tetapi justru kita reaktif manakala nilai-nilai adiluhung para prajurit-tamtama-perwira tanggal justru di medan publik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jabatan penting dan strategis bukan moncer hanya karena nama. Melainkan karena misi yang diembannya, entah itu di organisasi militer, organisasi politik, atau bahkan institusi bisnis negara sekalipun. Olehnya galib belaka bila para person yang duduk adalah manusia pilih tanding. Bukan hanya karena titipan partai, hasil kongsi para taipan, atau karena beruntung berdarah keluarga tertentu. Ini yang membuat kita meradang. Dan sekalipun bertumbangan korban, tetap saja membuat terperangah. Karena pikiran sehat akan segera lari pada kesimpulan: bahwa tidak ada seleksi fair dalam kompetisi jabatan penting di negeri ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kemudian kehilangan exemplary person, suri tauladan yang biasanya bersumber dari orang-orang yang ditempa secara keras dalam disiplin ketat. Tak banyak orang yang bisa lolos ---misalnya di Akabri atau Akpol. Lebih sedikit lagi orang yang secara sistematis ditempa untuk memiliki mental kuat dan fisik perkasa. Lalu kemudian, bila para bintang itu terlihat berkompetisi dengan penuh intrik, apa bedanya dengan pemungut receh di terminal bis kota? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontestasi Kuasa &lt;br /&gt;Fenomena Susno persis masuk di pusaran kontestasi kuasa saat ini. Politik hari ini adalah turbulensi dan ketidaknyamanan. Sama sekali tak ada jabatan yang settled, orang bisa terpental atau melesat di jam satu pagi (persis ketika lelap dalam lengah). Barangkali juga sama persis dengan ungkapan Kwik Kian Gie, bahwa bisnis lebih berjalan lancar di saat tengah malam, manakala peraturan pemerintah dan para menteri ekonomi tidak sedang bekerja. Aktualnya: the hidden process jauh lebih menentukan tinimbang the normal process. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyingkiran kasar terhadap kaidah meritokrasi. Seleksi berbasis prestasi, karya, pengabdian, integritas, kalah oleh garis perkongsian, like or dislike, atau isu serampangan. Belum lagi bila kita membaca data internal Polri, tentang betapa tak mudah mengatur rotasi kepemimpinan, mengalokasikan para pejabat tinggi, dan meng-karya-kan di tempat terhormat, atas 43 Jenderal Nganggur di Kepolisian. Fakta itu sebat membuat ribet. Proses-proses tersembunyi menjadi faktor penentu. Kita tidak sedang berbicara bahwa Susno bersih. Namun, paling tidak, ia menjadi "peniup seruling" yang penting. Atas berbagai ketidakberesan di institusi tempatnya mengabdi. Meskipun, misalnya, benar ia meradang karena kebutuhan jenjang karier, bukankah itu justru membuktikan bahwa ada mekanisme yang tidak fair, olehnya harus dibuka lebar? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan Akhir &lt;br /&gt;Dunia mengenal beberapa legenda, tentang intrik para petinggi, entah jenderal atau presiden sekalipun. Tetapi juga dunia mengajarkan betapa perlunya toleransi dan kesabaran dalam menggapai kuasa. Indonesia hari ini seperti lupa perihal penting itu. Perang bintang dalam Pilpres menjadi alat pembenar bahwa pertarungan habis-habisan adalah demokratis ---padahal sesungguhnya mereka terlalu cinta diri sendiri, urung untuk mengalah kepada the other. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengoklah Jenderal Dwighit Eisenhower, Jenderal Trumann, dua jenderal penting di AS, ketika negeri itu nyaris lebur oleh perang dunia kedua. Keduanya tidak saling sikut, tidak sama-sama maju di saat yang bersamaan untuk menjadi Presiden Penyelamat Amerika. Saling mempersilahkan. Saling mendukung. Selesailah negeri itu dari kiamat resesi dunia. Di kita tidak. Kompetisi orang per orang, dengan serangkaian gerbongnya, justru menggila manakala negeri ini butuh kerjasama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan akhir: jabatan, uang, gelimang kehidupan, sesuatu yang wajar belaka dalam kehidupan para jenderal. Tetapi yang kita minta, mereka juga menyisakan etos seoerang prajurit, nilai juang, integritas, seraya memperlihatkan prestasi. Tidak dengan cara-cara The Man on The Street. Susno Duadji, Susno Diudji, Susno Dijeruji...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7283695879851965378?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7283695879851965378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/sedikit-memahami-jenderal-susno-duadji.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7283695879851965378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7283695879851965378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/sedikit-memahami-jenderal-susno-duadji.html' title='Sedikit Memahami Jenderal Susno Duadji'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-qCS6oqczI/AAAAAAAAARg/XbqeT-PYtk0/s72-c/susno-duadji.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-6202365450482844211</id><published>2010-05-10T00:03:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:59:39.623-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Sri Mulyani: Between Brain Drain and Brain Gain</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-ewQ3OPoMI/AAAAAAAAARY/7RggYAPFYeI/s1600/Sri+Mulyani.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 314px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-ewQ3OPoMI/AAAAAAAAARY/7RggYAPFYeI/s400/Sri+Mulyani.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469534076212846786" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mesin Google menerjemahkan brain drain sebagai hijrahnya para sarjana ke luar negeri. Tentu kalau mau diperinci dalam contoh kasus, sarjana yang nganggur di negerinya sendiri lalu hijrah ke negara orang untuk menjadi calo jemaah haji tak masuk kategori Om Google ini. Sebaliknya juga tak layak masuk hitungan, bila misalnya para Doktor dari Al Azhar pindah ke Asia Tenggara semata untuk memperbanyak “calon pengantin” bom bunuh diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pindahnya Mbak Ani, siapa tahu menggerojok buhul kesadaran kita tentang sesuatu yang tak bisa disepelekan. Majalah Times, edisi September 2004, dan mengutip pernyataan pemerintah waktu itu, menyebut sekitar 85.000 warga Indonesia terdidik-terampil untuk bekerja di luar negeri. Pasti ada rupa-rupa alasan melatarinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya menjadi lelucon segar. Pernah, seorang ahli biologi yang jika bekerja di luar mendapat fasilitas serba moderen, di Serpong sana justru mengganti botol kaca laboratoriumnya dengan botol aqua plastik. Atau ahli manajemen organisasi lulusan luar yang bekerja sebagai bawahan bupati yang tak tahu membedakan mana urusan kantor dan mana arisan keluarga. Jika begitu, mana tahan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakati saja, bahwa yang terjadi adalah hukum ekonomi. Alias perkara supply and demand saja, siap butuh siapa direngkuh. Tetapi juga bukan berarti harus masa bodoh. Negeri ini harus diurus benar-benar benar oleh orang yang benar. Jika yang tersisa adalah sisa, maka sepetak nusantara ini akan selalu ada di halaman belakang peta dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi kasus pemanggilan mantan Direktur LPEM UI oleh Bank Dunia ini tak bisa dilihat melulu ekonomistik. Apalagi jika meletakkannya hanya dalam tatapan nasionalisme. Mari kita ke luar dari kebisingan dua kategori itu. Ibu Sri tidak sedang mengejar karir, atau berikhtiar menebalkan pundi-pundi pribadi. Saya khawatir, apa yang dilakukannya malah seperti olok-olok untuk para penyerang. Meskipun bila benar begitu, malah bagus. Agar mereka tahu diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, seperti para seniornya di bidang ekonomi, beliau selalu cool. Kalem terhadap berbagai hujatan. Beberapa hari lalu, ketika dicecar wartawan atas aksi Walk Out PDIP dan Hanura, Ibu Sri menjawab pendek: Alhamdulillah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selingan saja, meloncat ke yang dulu-dulu. Sri Mulyani pernah diolok-olok oleh sejawatnya (dalam profesi, maksudnya) sebagai Sarjana Text Book Thinking. Tak ragu saya sebut saja nama orangnya: Doktor Rizal Ramli. Padahal, media tak pernah bosan mengutip Direktur Econit itu, yang tak kalah text book-thinking-nya, pun di area non ekonomi dan keuangan. Bukankah terminologi sumire campaign, atau political moratorium , adalah keluar dari lisannya juga? Membingungkan juga bila kemudian para ekonomi dan analis keuangan tidak text book thinking. Sebab yang memakai parameter dari kitab primbon, hanya cocok untuk Gendeng Pamungkas atau Mama Laurent. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani juga adalah sosok yang seperti bantal sansak di Sasana Tinju. Bisa dipukul kanan kiri atas bawah ---lagipula para peninjunya tak bakalan sakit, empuk malah! Jangan-jangan para penyerangnya memang hanya ingin berkeringat, lalu kebetulan butuh panggung untuk beraksi. Dalam tempo dekat, begitu Menteri Keuangan itu ngantor di AS, cerita mungkin agak berbeda. Butuh sedikit kapasitas intelektual untuk merecoki Sri Mulyani. Tak seperti kemarin dan beberapa waktu lalu. Cukup dengan recehan Rp. 50.000, berdemo, memaki kasar, membakar foto, dan mengcrop foto Sri Mulyani yang bertaring. Terkadang, melihat tingkah para pengkritik di jalanan pikiran menyembul rasa ngeri: orang besar sering diganggu orang-orang pecundang dengan cara-cara dungu... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantas saja Syaidina Ali Bin Abi Thalib pernah berpesan agar dalam salah satu doa kita menyelipkan permohonan agar selamat dari gangguan orang-orang bodoh! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kemudian perlu melihat polah para ekonomi kita, rupanya rada-rada mirip. Bodiono kalem saja dan malah bikin nasi tumpeng ketika dicecar habis-habisan. Faisal Basri juga unik, ke mana-mana selalu pakai sandal, pun ketika rekeningnya tiba-tiba melonjak ratusan juta rupiah, tanpa ia minta atau tanpa perlu pura-pura menolak. Agak jarang para ekonom yang meledak-ledak! Apakah performa mereka juga memakai hukum besi ekonomi: hemat bicara, hemat gaya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali juga ada kelas lain, couterpart yang memang punya bobot. Mereka (mungkin juga) bermodal pada azas teoritik dan kecemasan terhadap gurita kapitalis dan virus neolib. Tetapi bagi kebanyakan orang, bukan itu yang perlu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, mari melihat dalam tatapan yang kurang serius. Misalnya potensi dengki para politisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama-tama adalah media showbiz kita, entah dalam drama politik, ekonomi, atau bahkan kebudayaan sekaligus, telah padat dengan beragam jenis corak-aliran. Di politik, mau kiri radikal ala PRD dulu, boleh. Mau berkoar mengumbar moralitas ala Preman Berjubah, juga silahkan. Mau tak bersuara malah lebih bagus. Pun dalam wilayah ekonomi. Semua mendapat kesempatan. Artinya, negeri ini telah berjalan pada pusaran yang bebas. Kompetisi dengan segala kompetitorsnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhentilah dengan semangat lama. Bahwa aliran liberal-kapitalistik selalu menang. Dalam kompetisi terbuka mereka tak bisa dirubuhkan. Karena mulai dari wasit, lapangan, hingga aturan main sudah sanggup mereka beli. Dunia sudah sedemikian ruwet. Bahkan negeri paling liberal-kapitalistik pun sudah mau berkompromi, dengan memasukan variabel dan faktor-faktor yang tidak dikenal dalam era liberalisme purba. Sekali lagi, ini soal kesempatan dan kemampuan tampil. Di sinilah kita lihat: panggung sempit dengan petarung bejubel. Harus ada yang tersingkir. Tersingkir dengan cara yang fair atau malah kasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hanya pribadi Sri Mulyani, tak ada kekhawatiran seujung kuku sekalipun. Ia pasti laku di mana-mana. Tetapi khawatirnya ini menjadi trend. Ingat, modal intelektual, seperti diungkapkan W. Bennet, adalah salah satu pemicu kebangkitan industri. Nah, jika jejak Mbak Sri diikuti rombongan lain yang kelasnya bagus, kapan industri kita bangkit? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sri Mulyani, brain drain bagi bangsa sendiri, brain gain bagi negeri orang. Indonesiaku...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-6202365450482844211?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/6202365450482844211/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/sri-mulyani-between-brain-drain-and.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6202365450482844211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6202365450482844211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/sri-mulyani-between-brain-drain-and.html' title='Sri Mulyani: Between Brain Drain and Brain Gain'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-ewQ3OPoMI/AAAAAAAAARY/7RggYAPFYeI/s72-c/Sri+Mulyani.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-263290880182466</id><published>2010-05-09T23:58:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:00:31.426-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Susi Susanti, dan (mana?) Kebanggaan Kita...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-evktdaVQI/AAAAAAAAARQ/UiVD9k2FTXc/s1600/Susi+Susanti.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 249px; height: 354px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-evktdaVQI/AAAAAAAAARQ/UiVD9k2FTXc/s400/Susi+Susanti.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5469533317677864194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jangan bercinta dengan atlet bulutangkis. Kata syahibul humor: lelah tapi nggak klimaks. Set pertama sering salah kamar. Set kedua, sudah mulai ganti “raket”. Set ketiga, kedodoran, jarang smash! Dan berkelit dengan rally-rally panjang… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga sms norak yang dulu beredar (jauh sebelum FB-ngetren, seraya menggantikan sms lucu-lucuan). Bunyinya: “Sekamar bareng, pria wanita. Tanpa nikah. Berkeringat melenguh bersama. Memasukkan dan kemasukkan. Diteriaki atau malah disupport banyak orang. Itulah pasangan ganda campuran…” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi memang bulutangkis olahraga full stamina. Sebuah riset membuat perbandingan antara frekuensi dan akselerasi antara atlet Badminton dengan Tenis Lapangan. Hasilnya mencenangkan. Pergerakan shuttle cock lebih cepat meluncur dibanding bola tennis. Memaksa para atlet lari tiada henti. Singkat kata, bulutangkis lebih berkeringat dibanding cabang olahraga lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kehandalan dan tingkat kesulitan seperti itu, mestinya para atlet bulutangkis jadi The Real Hero bagi seluruh anak bangsa. Tetapi agaknya ditanggapi biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gegap gempita kalau Tim Thomas dan Uber menang. Diarak, dihujani hadiah, “dapat mertua” mantan jenderal, atau sesekali jadi bintang iklan. Tapi apresiasi seperti itu masih dalam batas normal. Berjangka pendek, gampang pudar dalam selintas ingatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, idealnya, para ikon bulutangkis harus mendapat berpuluh kali lipat dari itu. Bukan untuk semata kejayaan mereka. Melainkan untuk mental building dan menumbuhkan nation character kita. Saya ingat, Majalah Gatra di edisi khusus tahun 2008 lalu, memampang The Real Indonesia Hero, sebagai tokoh-tokoh yang memberi inspirasi kepada publik. Sejumlah sosok ditampilkan. Mulai dari politisi, pebisnis, professional, bintang film, selebriti, dan… minus olahragawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu, memang ada film tentang olahragawan, kebetulan juga dari Cabang Bulutangkis, yaitu The King. Tapi nggak King banget… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya Indonesia dijejali para Hero dan (S)hero (Lantaran para pejuang bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan), dalam berlapis-lapis medan kehidupan. Lantas kapan, nama para atlet, para pengerek bendera di stadium-stadion agung di luar negeri itu menjadi, misalnya, nama jalan protokol? Dibuatkan patung di Menteng dan Pondok Indah? Tak apalah dijajarkan dengan Obama Kecil atau Inul. Seorang kawan pernah memperlihatkan koleksi perangko para tokoh Indonesia. Saya melihat takjub. Foto Bung Karno, Foto Bung Hata, dan manusia Indonesia besar lainnya. Tapi juga jengkel, tak ada tokoh-tokoh legendaris di luar lingkar politik-kekuasaan. Malahan foto pariwisata, patung, tugu, ditampilkan cukup banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun dibuatkan buku, tak cukup hanya biografi. Sangat cukup pantas bila legenda per-bulutangkis-an kita tercantum dalam Pelajaran Sejarah Indonesia, tak apa pula bila berdampingan dengan BAB Peristiwa Serangan Oemoem Satu Maret yang dipalsukan, atau malah dengan Sejarah 65 yang penuh dusta! Hingga kini, masih terlihat penghargaan itu biasa-biasa saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Keluarga Sidek &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bapak saya dulu sangat benci dengan Keluarga Sidek dari Malaysia. Kebencian lama, sebenarnya. Izin sebentar, ini selingan. Waktu menjelang lahir, Bapak berniat memberi nama saya Thomas, jika Tim Thomas Indoensia menang vs Malaysia, di final Thomas Cup, Tahun 74, di Kualalumpur. Sial bagi Indonesia, dan juga bagi saya, kita kalah. Akhirnya, nama aku nggak Thomas. He..he..he.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Sidek terdiri dari Misbun Sidek, Rajif Sidek, Jailani Sidek, Rashid Sidek, dan Abdurrahman Sidek. &lt;br /&gt;Misbun Sidek adalah pemain tunggal yang dulu menjadi rival utama Icuk Sugiarto. Rajif dan Jailani Sidek merupakan pemain ganda. Rashid dan Abdurrahman juga menjadi pemain tunggal dan ganda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malaysia sangat memuja keluarga Sidek. Bukan hanya buku, rangkaian komik ringan pun dibuat dan ditulis berseri. Diedarkan ke anak-anak sekolah. Dengan uraian yang memberi semangat. Menularkan etos juang. Mencontohkan bahwa sesuatu bisa dikejar. Cerita dalam komik, misalnya, menuturkan bagaimana Ayah dan Ibu dari The Sidek Family ini membuat lapangan bulutangkis sederhana di halaman belakang rumah. Mendisiplinkan Sidek bersaudara untuk getol berlatih. Ini adalah contoh penularan mental (mental contagion), melalui cara-cara bermartabat. Di Indonesia, adakah? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Susi Susanti&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Publik tercengang dalam Piala Sudirman awal 90-an. Indonesia sudah tertinggal 0-2 dari China. Giliran Susi versus... Di set pertama dia kalah. Set kedua menang. Dan set ketiga menang telak! Dengan skor 11:0 untuk Susi. Efek ini dahsyat. Di dua partai terakhir, kontingen Indonesia membabat habis lawan, dan membalikkan kedudukan menjadi 3-2. Memori akan Susi adalah tentang keuletan, tegar, sabar, senyum tipis, ramah, tak angkuh, cool. Sisanya yang lain adalah tentang kehebatannya memainkan raket untuk bola-bola net dan rally. Oh, ya, ada lagi. Ia mampu mengejar ke manapun arah bola. Seolah lapangan bulutangkis hanya selebar kamar kos buruh pabrik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susi juga yang mengawinkan (dengan makna yang sesungguhnya di belakang hari), antara Medali Emas Olimpiade untuk nomor tunggal puteri, dengan Alan Budikusuma (ganda putera). Kedua pebulutangkis ini jejaknya belum diikuti oleh siapapun, di kolong jagat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas segala-galanya, Susi juga menampilkan mantan atlet yang tidak kebablasan. Mari melongok cerita pilu mantan olahragawan. Di cabang lain, yang kebetulan kurang beken, tak sedikit atlet tua yang tumbang, maksudnya secara ekonomi. Ada mantan atlet yang jadi nelayan, jadi juru parkir, jadi keamanan Diskotik, dan jadi pengedar narkotika. Tetapi Susi tidak... Ia cukup berhasil berbisnis peralatan olahraga Bulutangkis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk semua itu, kenalkah generasi mudah terhadap Legenda Susi? Mereka tidak membaca tentangnya. Belum ada komik Susi Susanti muda. Entahlah, di kampung Susi tinggal Pak Bupati bersedia memberi nama sepotong jalan dengan nama legenda Bulutangis Puteri itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menyedihkan lagi, barusan cek di Google, bahwa di Jepang, pernah dibuat Perangko yang bergambar Susi Susanti. Sekali lagi, mari mengeluh, mana kebanggan kita?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-263290880182466?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/263290880182466/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/susi-susanti-dan-mana-kebanggaan-kita.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/263290880182466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/263290880182466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/05/susi-susanti-dan-mana-kebanggaan-kita.html' title='Susi Susanti, dan (mana?) Kebanggaan Kita...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S-evktdaVQI/AAAAAAAAARQ/UiVD9k2FTXc/s72-c/Susi+Susanti.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-8165266510647576444</id><published>2010-04-23T11:00:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:59:10.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Kejutan Politik Marzuki Alie</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S9HkUxjfUcI/AAAAAAAAARI/iSA4aPPv2bg/s1600/Marzuki+Alie.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 273px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S9HkUxjfUcI/AAAAAAAAARI/iSA4aPPv2bg/s400/Marzuki+Alie.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5463398868527829442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan guyon politik tentang PLN sudah akrab di memori anda. Karena ada Susno Duadji, Taufiek Kiemas, Antashari Azhar, dan Hatta Radjasa, yang semuanya dari Bumi Sriwijaya (Palembang Sumatera Selatan), maka istilah itu melesat bak meteor: PLN, Palembang Lagi Naik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja peristilahan baru itu menggeser parodi PLN gaya lama, Perusahaan "Lilin" Negara (saking seringya listrik mati, diganti oleh lilin).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin kencang saja karena faktor Marzuki Alie. Sekjen Demokrat (yang kini menjabat Ketua DPR RI) itu adalah bagian dari khazanah politik Sumatera Selatan. Maka seperti teori geopolitik klasik, yang mengenal Central and Pherypery, antara kawasan pusat dan satelit, antara inti dan pinggiran, antara utama dan pendukung, kehadiran Marzuki Alie adalah angin segar. Bahwa yang namanya kepemimpinan nasional (di berbagai bidang) adalah milik seluruh putera terbaik negeri ini, dari ujung manapun dia berasal. Termasuk, bila menang, untuk Marzuki Alie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa perlu menyentil sentimen kesukuan. Tetapi faktanya bahwa lanskap geografis Indonesia kontemporer masih Jawa Sentris. Padahal, Indonesia bukan cuma Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagipula, babak sejarah di Jazirah Nusantara ini mengenal beberapa poros, selain yang bernama Jakarta sekarang ini, Mataram, Singosari dan Majapahit di tempo doeloe, juga jauh sebelumnya ada Sriwijaya, Samudera Pasai, dan Kutai Kartanegara. Artinya, seperti di belahan bumi lain, siklus kekuasaan selalu berganti-ganti. Bilakah dengan PLN, alias Palembang Lagi Naik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya masih menunggu pembuktian. Seperti yang dikatakan oleh seorang pengamat dari Charta Politica, bahwa Marzuki Alie siap meletupkan kejutan politik. Nah, apalagi, bagi kita kalangan The Outsiders, pasti mendamba suguhan menarik. Jangan monolitik dan terlalu mudah diduga. Sekurangnya, ada tiga dalil yang memungkinkan terjadinya kejutan politik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalil Satu, Etos Marzuki Alie&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Marzuki Alie adalah pribadi yang cenderung low profile. Hanya karena kompetensi dan kapabilitas saja ia unjuk bicara, misalnya ketika pers butuh komentar dari Ketua Parlemen RI itu. Bila tidak, beliau memilih keep silence. Agaknya ini juga bagian dari internalisasi etos profesional yang ia miliki. Malang melintang di bidang bisnis, berpengalaman di berbagai perusahaan besar, pernah menjadi komisaris di BUMN, dan mengelola sejumlah kampus, pondok pesantren, hingga panti asuhan, pasti membentuk wataknya untuk penuh perhitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud promosi: Marzuki Alie juga punya keteguhan menjalankan prinsip-prinsip Islam yang dianutnya. Di tanah kelahirannya, Palembang, ia bukan tokoh yang sulit untuk membantu perkara ke-Ummatan. Orang yang sering memantau aktivitas Marzuki Alie, kepada saya, pernah mengatakan bahwa beliau punya rekening ratusan Ustadz, untuk dikirim logistik secara rutin per bulan. Mohon maaf, mungkin tidak ada garis penghubung dengan pertarungan politik, akan tetapi "doa orang-orang yang ikhlas Insya Allah mustazab!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Etos Ketua DPR RI itu juga teruji bukan sekedar dalam bahasa motivasi. Melainkan dalam lanskap teoritik dan aplikasi. Adalah fakta, ketika Demokrat masih belia, ia turut mendesain Strategi Kampanye dan Komunikasi Politik Partai The Mercys. Untuk orang-orang yang terlibat dalam pertemuan di Kinasih Tahun 2003 lalu, pasti mengatakan setuju. Hari ini, dia kandidat doktor Politikal Marketing. Sedikit banyak, rasionalitas politiknya akan berpengaruh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak akan gegabah bagi seorang yang bisa menerima posisi bersih, tetapi berani maju (dengan resiko politik yang cukup besar). Bila mau, jabatan-jabatan konsesif (kompensasi atau pemberian cuma-cuma) di Demokrat bisa ia peroleh, andai bersedia mundur sebagai kandidat Demokrat Satu. Simak saja tawaran kubu Andi Mallarangeng di media massa. Atau yang paling konkret, bukankah posisi ketua parlemen adalah penuh prestise?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti ada etos lain dibalik itu. Tak mungkin seorang mantan Sekjen Demokrat itu sekedar mencari posisi aman. Bebarapa sumber menyebut, naiknya Marzuki Alie ke pentas kongres Demokrat tak lain adalah untuk menjadikan partai ini makin berwibawa, penuh prestasi, dan merapikan keruwetan internal di organisasinya. Singkatnya: Marzuki Alie tentu tidak sedang berjudi, atau sekedar political gambling. Ia, selalu penuh perhitungan. Tak boleh disepelekan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalil Dua, Faktor Incumbent&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Benar memang, Anas Urbaningrum dan Andi Mallarangeng sama-sama pengurus Demokrat. Tetapi dari sisi hierarki, masih lebih strategis MA. Andi Mallarangeng bahkan berada di posisi Departemen, sementara Anas adalah Ketua Bidang Politik. Tentu, mereka mengenal seluk beluk medan di akar rumput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, karena muara keputusan ada di tangan Ketua Umum (Hadi Utomo) dan Sekjen (Marzuki Alie), otomatis persentuhan dan kontribusi kepada link bawah ada pada mereka berdua. Persentuhan inilah yang membuat posisi MA lebih memungkinkan bergerak bebas, seraya menanam investasi politik yang banyak. Jika politik adalah the art of barganining, seni tawar menawar, dan transaksi kepentingan, maka yang lebih berperan dan lebih lama memainkan, ya MA itu. Tidak ada nalar yang keliru, bila kemudian banyak DPC yang bersedia berpihak kepadanya. Jika tidak, maka MA tak akan konyol membakar dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dalil Tiga, Pecah Kongsi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tirai kesempatan juga belum terkunci rapat. Kristalisasi dukungan yang mengalir ke para kandidat masih dalam fase wait and see. Dalam peta kongres, tak boleh gegabah menstigmatisasi pemihakan. Kecuali sebagai peta awal, boleh saja kita menyebut ada dua kandidat yang dominan. Inipun versi media dan gosip politik: yaitu Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun jangan lupa, semakin besar dukungan mengalir, semakin terbuka gesekan politik. Praktek desersi, lari dari barisan, bukan perkara mustahil dalam pertarungan politik. Ini bisa terjadi jika Andi dan Anas menjadi gigantis, tak mampu mengelola arus dukungan. Nah, bila ini yang terjadi, MA berkesempatan menangguk suara. Theres no impossible, tak ada yang mustahil dalam panggung kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelemahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sama belaka dengan dua petarung lain, MA juga memiliki titik lemah yang bisa diolah lawannya. Paling kentara adalah bola panas yang menyebut ketidaksetujuan Cikeas terhadap dirinya. Kemudian, faktor jabatan rangkap yang dipolitisasi sebagai bentuk ketamakan. Lantas ada pula intrik yang menyebut dirinya pembangkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agaknya, hanya beliau sendir yang bisa menjawab itu semua. Mari kita tunggu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-8165266510647576444?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/8165266510647576444/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/kejutan-politik-marzuki-alie.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8165266510647576444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/8165266510647576444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/kejutan-politik-marzuki-alie.html' title='Kejutan Politik Marzuki Alie'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S9HkUxjfUcI/AAAAAAAAARI/iSA4aPPv2bg/s72-c/Marzuki+Alie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7035094669300121402</id><published>2010-04-20T05:42:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:00:09.970-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='My Love'/><title type='text'>Selalu ada keajaiban yang kita petik...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S82hj7-edJI/AAAAAAAAAQw/b2mq9AMq_X0/s1600/Pretty+Mamonto.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S82hj7-edJI/AAAAAAAAAQw/b2mq9AMq_X0/s400/Pretty+Mamonto.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462199561837507730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Untuk dia yang satu ini, aku tak sanggup menulis apa-apa. Terima kasih, Pretty....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7035094669300121402?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7035094669300121402/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/selalu-ada-keajaiban-yang-kita-petik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7035094669300121402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7035094669300121402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/selalu-ada-keajaiban-yang-kita-petik.html' title='Selalu ada keajaiban yang kita petik...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S82hj7-edJI/AAAAAAAAAQw/b2mq9AMq_X0/s72-c/Pretty+Mamonto.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1552984603312479868</id><published>2010-04-20T01:29:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T01:58:43.590-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Jangan Kaget Dengan Andi Mallarangeng</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S81mJvCKhOI/AAAAAAAAAQg/3LHRExdPfBE/s1600/andi_Mallarangeng.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 227px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S81mJvCKhOI/AAAAAAAAAQg/3LHRExdPfBE/s400/andi_Mallarangeng.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5462134240500679906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dalam politik, tak ada kecap nomor dua... Jika mau tarung, harus berani mengklaim diri paling hebat, paling mampu, paling mendapat restu, paling banyak pendukung, dan paling banyak peluru. Urusan belakangan, jika di titik akhir justru paling banyak meneguk malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi formula seperti itu, semoga, bukan satu-satunya pilihan. Rasionalias politik harus dijaga. Agar Patai Demokrat mendapatkan hasil optimal dalam pusaran Kongres Mei mendatang. Terlebih tiga jago yang kini sedang bersiap ke gelanggang, sama-sama dikenal punya track record baik. Mereka sama sekali bukan politisi hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersyukur pula, pertarungan tidak hanya melibatkan dua kutub. Karena ada episentrum yang lain, yaitu Marzuki Alie. Di luar hitungan menang atau kalah, Marzuki Alie memberi kontribusi positif. Minimal, ia potensial menurunkan derajat konflik dua kubu yang bertempur keras. Dalam manajemen konflik, semakin banyak alternatif semakin baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandul politik tak boleh bergerak liar. Agar tidak terlalu goyang ke kiri, atau terlampau miring ke kanan. Harus ada penyeimbang, tertahan oleh kekuatan yang berada di tengah pusaran. Ini adalah salah satu analisis hebat tentang Kongres Partai Demokrat Mei nanti, yang saya dengar dari salah satu senior di DPR. Sayangnya, baru sebatas pemikiran. Belum tentu terwujud dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang tokoh mengungkapkan hal itu. Ia cemas, bila pertarungan terlampau tajam, dan berpola "oposition binner" alias vis a vis, atawa zero sum game, binti bumi angus! Kalau judulnya Kongres Partai Demokrat nanti, anda sudah pasti bisa mengira, yang dimaksud pertarungan tajam diantara dua kubu adalah: Andi Mallarangeng dan Anas Urbaningrum. Dua tokoh muda yang mengharu biru langit politik nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan pihak yang pro dan kontra punya alasan yang sama-sama tegang (maksudnya membuat syaraf tegang, karena berbau negatif campaign). Kebetulan juga kedua pihak bisa memutar balik fakta sekehendak selera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya misalnya, jika berada di barisan pendukung Anas, punya teori pelintir yang macam-macam. Kepada banyak pihak, berani membeber alasan bahwa Andi Malarangeng adalah titipan, tidak tumbuh dari bawah, belum teruji loyalitasnya, dan "nggak berkeringat" untuk demokrat. Maaf, ini sekedar amsal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permisalan bisa lebih seru jika dibumbui rasa iri melihat operasi komunikasi politik kubu Andi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa air time yang harus dibayar ke RCTI, Metro TV, SCTV, Trans TV, TV One?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah banyak angka untuk blocking page yang harus mengalir ke kas Kompas, Republika, Media Indonesia, dan Rakyat Merdeka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru hitungan untuk bayar iklan. Belum lagi untuk desain, ide kreatif, dan konsultan media yang berada dibelakang publikasi itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar memang, Andi mengaku bahwa untuk urusan operasi pencitraan ia mendapat berkah dari Trio Malarangeng via Fox Indonesia. Tetapi tetap saja butuh pundi-pundi tebal menggarap semua itu. Nah, kalimat interogasi negatif untuk fakta-fakta itu adalah ini: "kubu Andi punya sisa dana dari Pemilu Legislatif dan Pilpres tahun lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas interogasi negatif, karena menggunakan bantal argumentasi yang penuh prasangka. Dari mana kita tahu bahwa Fox Indonesia untung besar, dan sisa keuntungan itu dipakai untuk modal Andi sekarang ini. Dari mana kita tahu bahwa "ada sindikat media" yang setiap saat bisa dipakai untuk menayangkan iklan atau publikasi Andi? Sialnya, itulah barang olahan yang ramai diperbincangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah pertarungan tajam. Kongres nanti, menurut saya, beruntung menyertakan kandidat lain, Marzuki Alie. Tolong dilihat sisi objektifnya. Dari sisi spektrum konflik, memang ada kekuatan penyeimbang, atau paling tidak alternatif. Minimal menggeser skenario bumi angus: Asal Jangan Anas, atau Asal Jangan Andi. Kongres juga bisa berpotensi mengokohkan konsolidasi. Lewat kompromi politik dan perbaikan atas berbagai kelemahan internal demokrat sekarang ini. Jika kandidatnya hanya dua, maka begitu Anas menang, maka gerbong Andi terdepak, begitu sebaliknya. Tetapi jika ada tiga kekuatan berbeda, sangat mungkin tercapai kompromi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jangan Kaget&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tetapi bukan berarti bussiness as usual, berlangsung begitu mudah dan biasa-biasa saja. Politik mengenal tawaran tertinggi, high call. Tak ada makan siang gratis. Lebih-lebih bila klaim masing-masing kubu begitu keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sialnya, dalam gerbong para kandidat selalu terdapat mahluk tertentu yang bertipe true believers, diehard, nggak kenal negosiasi. Semboyan now or never, lebih baik berkalang tanah dari pada menyerah, dan semacamnya terus didengung-dengungkan. Lebih sial lagi, memang ada kelompok yang secara sadar memilih bumi angus, karena tak akan kebagian apa-apa bila pihak lain yang lebih layak menang. Seringkali negosiasi berlangsung ketat, dan tak jarang berujung deadlock. Jangan kaget bila kemudian satu atau dua jagoan itu terlempar jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemilih Hantu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kini gelagat high call dan the truth claim sudah menggelegar. Kubu Andi, misalnya, jauh-jauh hari menggaransi keberpihakan Cikeas kepadanya. Pertama via simbol Ibas (Putera SBY), disusul dengan testimoni Hayono Isman, dan para elit demokrat lain. Kedua, ini sih biasa, tiga ratusan DPC menyatakan berada di belakang mereka. Ketiga, janji politik jika Andi menang maka akan menjadikan Partai Demokrat Partai Moderen. Masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, tak ada kecap nomor dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan yang sama (dan sudah dinyatakan) juga berlangsung di dua kekuatan lain. Soal restu Cikeas, ini masih masuk akal. Dengan perhitungannya sendiri, SBY sangat bisa merestui tiga orang petarung itu. Lantasan dukungan para elit demokrat, juga sangat mudah terjadi, bahkan berlangsung terbuka. Seluruh kandidat sama-sama mendapat sokongan. Tetapi klaim tentang dukungan lebih dari tiga ratus DPC, hanya masuk akal dalam rumus matematika politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba saja, hak pilih hanya sekitar 529, terdistribusi di DPC, DPD, DPP, dan Perwakilan Luar Negeri (Jepang, Korea, Amerika, Malaysia, Singapura, dan beberapa negara lain). Jika Andi mengaku mendapat dukungan bulat 300, lalu Anas juga 300, dan Marzuki 300, maka separuh suara berstatus sebagai pemilih hantu (ghost votter).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Berkeringat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada isu besar yang bisa produktif. Partai Demokrat adalah besar dengan mesin organisasi yang tak terlalu bagus. Di mana-mana ada kepengurusan ganda, terutama di DPC. Banyak ketua DPC yang masih berstatus PLT. Juga konflik-konflik internal seputar Pilkada, sisa sengketa pencalegan dalam Pemilu Legislatif lalu, money politics, korupsi, dan lain-lain. Ada masalah besar yang menantang penyelesaian. Jadi, janji politik para kandidat untuk membesarkan Partai Demokrat di 2010 hingga 2015 justru menemukan titik aktualitas di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabannya sama sekali bukan dengan janji. Melainkan kemampuan mengenal akar masalah. Kelihaian mengelola konflik (terutama di akar rumput). Kepekaan untuk mengenali masalah di bawah. Itikad membangun komunikasi politik dengan sebanyak mungkin kalangan (bukan melulu sesama elit, tetapi kalau perlu hingga DPC, DPAC, ataumalah ranting sekalian). Singkat kata, isu yang berbasis akar rumput ini bisa menjadi bola liar, dan bukan tak mungkin menjadi balon isu yang meledak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, inilah yang tidak muncul dalam opeasi media, publisitas, atau pencitraan tentang Andi. Tak ada isyarat pasti, apakah kubu AM menganggap ini ringan, atau justru merancang jalan solusi. Jika skenario pertama yang berlangsng, maka Jangan Kaget Dengan Andi Mallarangeng, jika dia terancam serangan balik dari akar rumput. Wallahu'alam...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1552984603312479868?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1552984603312479868/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/jangan-kaget-dengan-andi-mallarangeng.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1552984603312479868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1552984603312479868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/jangan-kaget-dengan-andi-mallarangeng.html' title='Jangan Kaget Dengan Andi Mallarangeng'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S81mJvCKhOI/AAAAAAAAAQg/3LHRExdPfBE/s72-c/andi_Mallarangeng.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-504538427075958664</id><published>2010-04-19T08:23:00.000-07:00</published><updated>2010-08-29T02:06:18.375-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tokoh'/><title type='text'>Menakar Anas Urbaningrum Seperlunya...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S8x1roj4VfI/AAAAAAAAAQY/7Ha4H03AQHk/s1600/anas.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 169px; height: 250px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S8x1roj4VfI/AAAAAAAAAQY/7Ha4H03AQHk/s400/anas.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5461869840576304626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anas memiliki kecakapan yang cukup sekaligus cukup cakap dalam segala kaidah perpolitikan. Untuk beberapa hal malahan lebih dari "sekedar biasa-biasa saja". Mudah saja baginya, dengan serentetan pesona yang dimiliki, meraih simpati banyak orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita, ketika masih menjadi Ketua Umum PB HMI, banyak gadis a-b-g yang datang ke Kantor Dipenogoro sana. Bukan untuk berdiskusi, melainkan minta foto bareng dengan Ketum PB HMI yang ke mana-mana tak lupa membawa pembersih muka itu. Wallahu alam, apakah kisah itu valid atau keisengan para pengagum belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama orang-orang biasa yang tak terlampau pusing dengan kasak-kusuk Kongres Partai Demokrat, Mei mendatang. Nyaris Anas menjadi penanda untuk sosok yang santun, cerdas, enak dilihat, cute, dan bla-bla-bla. Sampai-sampai, Ruhut Sitompul yang pelit memuji orang (namun royal memaki), mengatakan bahwa Anas adalah penjelmaan sempurna dari SBY. Tetapi jika benar-benar begitu, bukankah sosok politisi muda itu justru akan terperosok menjadi sesuatu yang membosankan? Tak ada yang lebih membosankan daripada kesempurnaan, begitu kata sebuah pepatah asing...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Formula mudah tersugesti ala Anas ini belum tentu berlaku untuk 529 hak pilih, yang terdiri dari Pengurus DPC, DPD, dan DPP Partai Demokrat. Mereka punya rumus sendiri untuk memilih siapa yang patut menjadi nakhoda Demorat lima tahun mendatang. Tak ada garansi apapun bahwa Anas bisa mudah menang. Lebih-lebih bila mengingat tiga faktor dominan: pertama faktor Soesilo, kedua faktor Bambang, dan ketiga faktor Yudhoyono... Oh,ya, jangan lupa dengan nasehat Bill Clinton, bahwa politik butuh tiga kekuatan: 1) Uang; 2) Fulus; dan 3) Money... Money talks!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira politik kita belum lagi jatuh kepada selera orang banyak. Pemenang tak selalu yang terbaik. Malah bisa berbalik punggung, the best get rest (pensiun, kalah, istirahat nunggu peluang berikut). Pemenang bisa datang dari mereka yang terlicik. Jauh lebih mengasyikan justru mengutak-atik sejumlah ketidakpastian tentang Anas. Akankah dia menang, atau terlempar dari gelanggang? Mari mulai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak (ber)Harimau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pandangan berikut tak bernada menista, tetapi memang berbasis fakta. Kebetulan, saya memetik komentar spontan dari para elit politik demokrat di DPR RI, tentang Anas Urbaningrum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, meragukan jiwa kepemimpinan Anas. Kurang lebih, ujarannya begini: Anas itu bagus, tetapi anak itu nggak ada harimaunya... Nggak kelihatan harimaunya. Laki-laki harus punya harimau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar, bila komentator itu menyebut Anas sebagai "anak itu", wajar belaka, karena ia adalah senior dan tokoh demokrat yang sangat penting. Sementara istilah harimau yang diulang hingga tiga kali tak bermaksud negatif, melainkan bahasa analogi yang kuat, bahwa untuk jadi pemimpin harus punya keberanian, keteguhan, jiwa petarung, berani ambil resiko, dan lebih penting adalah "bisa" ditakuti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, masih komentar dari politisi demokrat di DPR, meskipun "beliau" bukan orang penting (maksudnya sekedar anggota biasa Fraksi Demokrat di Senayan). Kepada Anas, si anggota dewan itu mengatakan agar Anas jangan terlalu pintar, nanti hanya jadi staf ahli... Serius, ini beneran, saya mendengar langsung, kok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir-pikir, benar juga. Kurang apa Tan Malaka, Soetan Sjahrir, M. Hatta, Soedjatmoko, atau malah Nurcholis Madjid? Tetapi mereka bukan serangkaian nama yang berhasil mencapai posisi puncak dalam panggung politik. Mendiang Cak Nur, malah menyerah karena faktor "kurang gizi". Butuh prasyarat lain rupanya, agar orang-orang maha pintar di negeri ini bisa memenangkan pertarungan. Untuk saat ini, dari aspek kecerdasan, Anas Urbaningrum berada dalam level di atas rata-rata. Meskipun ia bukan satu-satunya politisi yang memiliki keanggunan intelektualitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kasak-kusuk menjelang kongres Demokrat Mei nanti tak luput dari gossip panas. Salah satu tema menarik yang jadi buah perbincangan adalah melacak siapa saja "bandar" yang menjadi sponsor para kandidat. Siapa bandar Andi Malarangeng, siapa bandar Marzuki Alie, dan siapa bandar Anas Urbaningrum? Lalu beredarlah sejumlah nama raja uang, yang sebenarnya tak asing dalam perpolitikan tanah air. Lalu beredar pula nama kekuatan-kekuatan tertentu yang berada di belakang para calon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ini biasa. Tetapi menjadi gawat bila berujung pada kecurigaan. Prasangka bahwa Anas hanya akan jadi boneka, disetir oleh kekuatan tertentu, dan menjadi agen dari kelompok tertentu, adalah gosip politik yang berpotensi mengganggu. Bukankah perang isu dan black campaign selalu menjadi bumbu dalam setiap angenda politik nasional?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga isyarat barusan, mengingatkan kita untuk melihat Anas Urbaningrum apa adanya. Bahwa ia punya celah kelemahan yang hingga hari ini belum tertutupi, yaitu masalah strong leaderships. Ditambahi oleh kecerdasannya yang baru teruji di ranah akademik dan isu publik. Plus kecurigaan bahwa ia akan disetir oleh The King Maker tertentu. Tentu saja bila anasir ini benar, maka kualitas kepemimpinan Anas masih butuh pembuktian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Simbol HMI&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tak lengkap bila kemunculan Anas diharapkan mengibarkan bendera HMI, minimal sebagai simbol. Sudah agak lama, kerinduan memunculkan tokoh pengganti Akbar Tandjung membuncah-buncah. Apalagi bila melirik "tetangga sebelah" yang menjadi kompetitors HMI connections, yaitu PMII. Sahabat PMII rupanya lebih beruntung, mereka punya Cak Imin, tokoh muda, mantan Ketua Umum PB PMII, dan kini Ketua Umum PKB. Alumni HMI yang sezaman dengan Cak Imin, ya, baru Anas itu yang muncul... Kalau Anas kalah? Jawab sendiri...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya adalah salah satu kader HMI yang meragukan bahwa jaringan HMI bisa bermanfaat banyak dalam memenangkan Anas. Hitungannya tak ribet. Jika anda membaca database pemilih dalam Kongres Demokrat nanti, yang mutlak menjadi pemegang hak pilih, alumni HMI bukan mayoritas. Ini bukan salah siapa-siapa. Kader HMI terlalu lama bersemayam dan nyaman di partai lain, ikut dengan senior. Demokrat, sebagai partai muda, sebelumnya kurang diminati. Kalaupun kader HMI sekarang masuk gerbong Demokrat, ya, belum tentu punya hak suara. Mereka, paling banter, menjadi opinion maker dan loby maker belaka. Urusan memberi suara, bahkan yang mutlak dari HMI sekalipun, maksudnya pemilih hak pilih yang berlatar belakang HMI pun belum tentu memilih Anas. Tahu sendiri lah, HMI gitu lhooo...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-504538427075958664?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/504538427075958664/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/menakar-anas-urbaningrum-seperlunya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/504538427075958664'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/504538427075958664'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/04/menakar-anas-urbaningrum-seperlunya.html' title='Menakar Anas Urbaningrum Seperlunya...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S8x1roj4VfI/AAAAAAAAAQY/7Ha4H03AQHk/s72-c/anas.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1192606773476868293</id><published>2010-02-24T09:37:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:06:47.585-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Bunga Ingatan di Taman Academus HMI Manado</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4VkCfP0mMI/AAAAAAAAAQQ/-46gelF5wBM/s1600-h/Don+Serimpio+Edited.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 360px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4VkCfP0mMI/AAAAAAAAAQQ/-46gelF5wBM/s400/Don+Serimpio+Edited.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5441865718657489090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jika mimpi adalah bunga tidur, maka lelucon adalah bunga kesadaran. Tapi kebanyakan orang lebih suka bunga yang lain, semisal Bungalow, Bunga Bank, atau paling tidak Bunga Desa. Rangkaian lelucon berikut saya harap menjadi "bunga ingatan", terhadap apa-apa yang banyak terjadi di belasan tahun lalu, di HMI Cabang Manado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mulai dari yang terseru. Seorang senior di HMI Cabang Manado, pernah mendapat pertanyaan sepela dari kami para yuniornya. Oh, ya, senior itu juga seorang dokter. Tetapi kami tak pernah tahu apakah ia pernah buka praktek atau sekedar numpang mengamalkan ilmunya ---di klinik orang lain misalnya. Ia lebih dikenal sebagai politisi kawak, Anggota DPRD, dan pengurus di Partai Politik Penguasa (waktu itu, ya, Golkar lah...).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan sepele? Tentu saja. Seorang senior bernama Muin Sumaila, bertanya padanya: Dok, kepala saya agak sakit dan pusing, obatnya apa, ya? Spontan mendapat jawaban: D..e..c..o..l..g..e..n, jo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efeknya langsung terasa: kepala Muin itu kian pening. Bisa-bisanya seorang Dokter memberi jawaban yang akan sama mirip jika disodorkan kepada gadis perobek karcis di Studio 21 (mending nanya ke situ, siapa tahu disertai senyum manis, puyeng bisa ilang otomatis). Asli. Kisah ini terjadi di depan mata saya, Muin Sumaila, dan Dokter Makmun Jakfara (mohon dikoreksi jika namanya salah, maklum sudah lama tak berinteraksi dengan beliau-beliau itu). Berlokasi di Manado Beach Hotel (kin sudah bangkrut), saat berlangsung Musda Golkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya adil, kawan Muin juga menyimpan cerita unik. Kali ini dari versi dia sendiri ---yang diutarakan ke Haryanto, mantan Ketum HMI Cabang Manado. Pernah suatu kesempatan emas terbuka untuknya, menjadi Kepala Sekolah di Sekolah Dasar paling bergengsi di Manado, seingat saya namanya SD Garuda. Tetapi ia menolak. Mengapa? Karena ngeri berhadapan dengan rapat orang tua murid. Keengganannya bersumber dari satu hal: orang tua murid di sekolah itu justru adalah para seniornya dahulu. Terdiri dari: Jafar Al Katiri, Benny Rhamdani, Katamsi Ginano, Dokter Taufiek Pasiak, dan entah siapa lagi. Lebe bae kita adu mulu denga Walikota, daripada deng dorang... (Begitu, katanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sengaja dimulai dari kisah para senior yang malas bergaul di Facebook. Lumayan untuk mengulik kenangan-kenangan lama. Tokoh paling ditunggu dan mungkin juga paling dikenang oleh kami di HMI Cabang Manado adalah Bang Naid, Mantan Ketua Umum HMI Cabang Manado, periode paruh awal 90-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah bersumber dari koran. Bukan kutipan kisah lucu di pojok halaman surat kabar. Bukan! Anda pasti tahu, koran di tangan aktivis bisa bermanfaat banyak. Jadi ganjal meja yang miring. Dimanfaatkan untuk menambal dinding kamar kos yang bolong-bolong. Atau mungkin ditumpuk lalu dijual di akhir bulan ---ketika subsidi orang tua lenyap dan Ibu Warung sudah rewel menagih utang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Bang Naid lain lagi. Fakta ini bukan asal karang. Benar-benari sungguhan. Beliau tak pernah kelihatan kekurangan uang, penampilannya saja selalu plamboyan. Kamar kosnya juga selalu bagus, nggak ada cerita tambal-tambalan. Tetapi, koran bekas di tangan Bang Naid justru menjadi "penambal" penampilan. Caranya: dilipat-lipat seukuran dompet, lalu di masukkan ke kantong celana belakang. Nah, ini membantu menutup kekurangan pada bagian belakang tubuhnya, yang memang tipis itu. Duh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang disebut di atas adalah senior-senior jauh saya. Kini mengarah ke senior dekat, yang kuliahnya hanya beberapa semester di atas saya. Di mulai dari Kanda Mustafa As'ad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guyonan hambar kalau sekedar menyebut olahan lidah Sulawesi Selatan yang kental-medok dari lisan beliau. Menyebut James Bond sebagai James Bong, saluran air got menjadi air go, dan lain-lain. Harap dimaklumi saja. Andi Malarangeng saja masih kental lidah orang selatannya, padahal cukup lama merantau di luar negeri. Justru ada sisi keunikan lain. Percaya boleh, tidak pun tak masalah. Dia itu, di awal-awal kuliah, sewaktu masih "hijau" di HMI, ke mana-mana tak lepas dari tradisi di tanah kelahirannya. Apaan? Bawa badik ke mana-mana. Nah, lho, ngaku ya... Namun begitu gairah intelektual menyergap kesadarannya, naluri sirri (harga diri orang Selatan) mulai melunak. Ewako!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisipan penting lainnya adalah fakta bahwa masih ada aktivis yang keliru menafsir perintah seniornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di era 97-98-99 HMI Manado mendapat komputer baru, kalau tak salah Pentium II, masih memakai Window 98. Para senior menjaga dengan ketat, agar tak cepat rusak. Suatu saat, muncul perintah seorang senior kepada "bawahannya". De, kurang lebih begitu bahasa instruksi bersuara, tolong dibersihkan komputer itu. Dengan sigap, si Yunior membersihkan benda pintar tersebut. Tetapi, Masya Allah, dia tak cuma menyikat chasing, melainkan juga bagian dalamnya (hard ware). Mending kalau memakai spon lembut, tetapi justru menggunakan sikat cuci, ditambahi dengan busa dan sabun... Cerita ini saya dengar dari Fanny Salamanya, dan pelaku pembersihan adalah La Ode Themrin (ke mana ya, kawan satu ini sekarang?).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warna-warni keganjilan para aktivis itu memang masih tergolong datar, lantaran tidak disaput dengan nuansa asmara. Tentu saja kawan-kawan di korps Ijo-Itam juga menyimpan romansa yang asyik-asyik, namanya juga anak muda. Beberapa di antaranya malahan tergolong seru. Tak sedikit menjadi bahan ejekan abadi hingga sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sahibul gosip, banyak KOHATI yang terkena syndrom "menyesal kemudian". Dulu semasa menjadi aktivis, mereka cuek terhadap kaum pria HMI yang memang kebanyakan kumal dan lusuh. Padahal tak sedikit lelaki yang memasang jerat cinta untuk KOHATI pujaan. Tapi Gone With the Wind, bertepuk sebelah tangan. Di kemudian hari, ternyata HMI-wan itu malah menjadi sosok tajir. Kebanyakan menjadi anggota dewan, pejabat, atau profesional terkemuka di bidang masing-masing. Tentu saja tak semua Srikandi HMI seperti itu. Banyak diantaranya bahkan menentukan sikap dengan tepat: menolak HMI-wan, dan tak pernah menyesal hingga kini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petikan barusan memang berskala umum. Untuk kategori lebih spesifik, cerita person to person, jauh lebih tak lazim. Sebelumnya harap diingat, zaman itu tak ada Hape tak ada Laptop yang bisa online. Metode tradisional jadi andalan ----tetapi tanpa burung merpati. Kirim-kiriman surat. Titip ke kawan. Dan, ini dia yang seru, menulis pesan di kertas kecil yang diselipkan di halaman buku. Sudah tentu, buku yang dimaksud adalah buku milik "sasaran tembak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasalah... pura-pura pinjam buku dari pujaan hati. Lalu menyisip pesan rahasia, entah puisi, entah janji ketemuan. Tetapi juga ada yang celaka. Ternyata buku yang disisipi pesan itu bukan milik si Dia, melainkan punya orang lain (mungkin juga koleksi perpustakaan kampus). Inilah yang disebut surat cinta nyasar... Jauh lebih mengerikan tinimbang sekedar surat yang tak pernah sampai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan HMI Manado, al kisah, pernah menjemput seseorang dari HMI Manado, pakai taksi, dari Manado ke Tondano (dengan biaya yang cukup besar, untuk ukuran saat itu). Tujuannya cuma sepele: meminta izin kepada anak dari HMI Manado, karena si HMI Tondano itu akan memacari KOHATI Manado ----yang konon sangat disukai juga oleh si HMI Manado. Aneh, kan? Masa kompetitors minta izin kepada rivalnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu yang seperti ini: rajin Shalat Tahadjud dan Shalat Shubuh, di Sekretariat HMI (Gedung Serimpi), khusus untuk memanjatkan doa cinta kepada Srikandi (atau malah Bidadari-nya) HMI Manado. Kontan kegiatan ibadah tambahan ini membuat geger para aktivis. Lebih dari sekedar geger, jadi bahan guyonan pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lain, Gedung Serimpi sama sekali bukan ajang cari jodoh. Tapi tak sedikit pasangan yang bisa berpacaran lamaaaaa dan berakhir begitu saja. Entahlah, jumlahnya lebih banyak atau lebih sedikit tinimbang pasangan yang berpacaran di sesama aktivis HMI lantas berakhir di pelaminan. Soalnya nggak ada yang mencatat detil tentang itu. Boleh dikata, dalam urusan ini, Gedung Serimpi bisa menjadi berkah, atau sebaliknya menjadi musibah. Tergantung pasangan siapa yang menjalani proses asmaranya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya tulisan ini sulit berakhir. Rupa-rupa kisah masih menggunung. Termasuk yang bernada agak tragis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengakuan yang baru diperoleh beberapa belas menit lalu. Dari aktivis KOHATI di era menjelang dan paska reformasi 98. Ia mengaku ngeri datang ke Serimpi karena melihat pemandangan senior dengan tangan yang senantiasa menggenggam buku. Bukan itu saja, pihak yang mengaku ngeri itu juga ciut nyali kalau datang ke Serimpi. Was-was jika mendapat interogasi ala senior: Dinda, sudah baca buku apa? Tragis lantaran dalam pengetahuan banyak orang, KOHATI itu justru dianggap berkelas. Ya dari tampang, dari penampilan, dari senyuman, dari kecerdasan, dan dari semua hal. Kira-kira jujur nggak ya, testimoni itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi lain juga muncul dari sikap super proteksionis para senior terhadap kader didikannya. Kompetisi antara organisasi esktra kampus luar biasa ketat. Pesan-pesan bernada permusuhan, antipati, dan "saran intimidatif" agar menjauhi saingan HMI selalu datang bertubi-tubi. Tak tahulah, paragraf ini terkategori aib, unik, atau malah lucu ---setidaknya bila kita renungkan untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, mari kita tutup dengan jerih lelah jika melakukan kegiatan HMI, seperti LK, diskusi buku, seminar, atau yang lain-lainnya. Formula baku adalah menyodor proposal ke Alumni. Pernah, suatu kali, di siang terik dan keringat bercucuran karena berjalan kaki, seorang HMI muda datang ke Alumni. Ditanggapi dengan wellcome dan sumringah. Di ujung basa-basi, Alumni itu berkata: Dinda, saya juga akan menyumbang kegiatan Dinda, ya. Tapi sumbang saran doang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++++++++++++++++++++++++++++&lt;br /&gt;Konfirmasi: Dua Catatan Ringan, masing-masing&lt;br /&gt;1. Chronica et Serimpia, Dari Bang Naid, Baso Affandi, dan Rully Amri,&lt;br /&gt;2. Bunga Ingatan di Taman Academus HMI Cabang Manado,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;adalah sepenuhnya hasil obrolan santai saya dengan Haryanto (Mantan Ketum HMI Cabang Manado) dan sudah dikonsultasikan kepada Danny Rogi. Bukan salah saya sendirian, ya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-1192606773476868293?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/1192606773476868293/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/bunga-ingatan-di-taman-academus-hmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1192606773476868293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/1192606773476868293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/bunga-ingatan-di-taman-academus-hmi.html' title='Bunga Ingatan di Taman Academus HMI Manado'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4VkCfP0mMI/AAAAAAAAAQQ/-46gelF5wBM/s72-c/Don+Serimpio+Edited.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-4799696464588952796</id><published>2010-02-22T00:01:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:07:09.488-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Bahasa Politik DPR RI</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4I6IH6juwI/AAAAAAAAAQI/-mrl-tg0_qQ/s1600-h/Gedung+dan+Informasi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4I6IH6juwI/AAAAAAAAAQI/-mrl-tg0_qQ/s400/Gedung+dan+Informasi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440975211055004418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang eskimo di kawasan dingin kutub utara sana memiliki belasan kosa kata untuk menunjuk satu benda bernama salju! Mereka hidup dan beraktivitas di lingkungan berlapis es tebal, bahkan rumah mereka, disebut Igloo, juga terbuat dari bongkahan es! Sedangkan di belahan dunia lain, istilah untuk hamparan es abadi berwarna seputih kapas itu, paling hanya disebut dengan satu kata. Di Indonesia disebut salju. Sementara di dunia Arab disebut Tsalaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh bisa dibalik. Di kawasan gurun sahara dan negara-negara Arab, binatang Unta sangat amat dibutuhkan. Tak salah jika Al Quran menyebut Unta sebagai bahan pelajaran akan keajaiban ciptaan Allah: Apakah kamu tidak memeperhatikan bagaimana Unta diciptakan? Keseluruhan tubuh unta, dari ujung kuku hingga bulu dan tulangnya, bisa dimanfaatkan oleh orang-orang gurun pasir. Malahan menurut Robert Lacey, dalam buku Negara Petro Dollar Arab Saudi, kotoran dan air seni Unta bahkan bisa dijadikan obat-obatan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka, para badui pengelana itu, memiliki puluhan kosa kata untuk menunjuk binatang berpunuk besar itu. Sementara kita, hanya satu kata saja: Unta! Atau Camel dalam Bahasa Inggris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi sebagai pelengkap. Di Indonesia, lantaran pendudukunya sangat akrab dengan kebiasaan makan, maka punya banyak kosa kata untuk menunjuk bahan makanan pokok mereka. Mulai dari gabah, beras, hingga nasi. Karena yang dimakan adalah nasi, maka ada belasan istilah untuk benda bernama nasi, yaitu nasi goreng, nasi tumpeng, nasi uduk, nasi liwet, nasi kucing, nasi (silahkan tambah sendiri), hingga nasi-hat dari Ibu dan Bapak, nasihat Ibu Guru, dan nahsiaaaan dech lo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Relasi bahasan dengan alam, kaitan budaya dan bahasa, mengundang berpuluh-puluh teori. Tapi ada yang paling unik. Konon, keberagaman atau justru keseragaman berbahasa ditentukan oleh "tinggi-rendahnya" curah hujan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teori bahasa dipengaruhi curah hujan ini bukan omong kosong. Di gurun, karena hidup butuh mobilitas tinggi, berjuang untuk berkelana, berdiaspora ke daerah-daerah yang jauh, mereka butuh alat komunikasi yang simpel, agar memudahkan interaksi atar suku dan kawasan. Maka bahasa yang digunakan cukup satu dua saja. Berbanding terbalik dengan penduduk di kawasan subur, yang curah hujannya tinggi. Mereka merasa aman berdiam di lokasi masing-masing, dan mobilitas sosialnya rendah. Sehingga itu, mereka bisa membuat rupa-rupa bahasa. Sekalian untuk alat "klangenan". Inilah yang terjadi di Indonesia...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerasnya alam, corak nuansa budaya, dan bahkan iklim, bisa membuat dan memperkaya bahasa. Bagaimana dengan kekuasaan? Atau, tepatnya, bisakah politik membuat dan memperkaya bahasa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik bukan hanya membuat, membentuk, atau memperkaya bahasa. Politik juga mempermainkan sekaligus merusaknya... (Persis anak-anak TK yang doyan mempermainkan dan merusak sesuatu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalangan pengkaji bahasa politik selalu menyebut contoh fenomenal yang selalu disebut berulang-ulang (causa celebrare). Dulu, ketika Uni Sovyet berkuasa, mereka membuat kamus standar nasional. Khusus untuk lema (entri) revolusi, diterjemahkan atau dijelaskan panjang lebar, habis berlembar-lembar halaman, mulai dari sejarah, teori, pelaku, hingga metode revolusi! Wajar belaka, negara komunis terkuat di era lampau itu memang tumbuh dari akar revolusi Bolshevick oleh Vladimir Ilich Lenin dan Stalin. Anehnya, di luar negara komunis, bahasa atau istilah revolusi, diterjemahkan di dalam kamus secara singkat saja. Biasanya diartikan sebagai perubahan yang radikal, perubahan segera, atau perubahan dengan kekerasan! Dalam poiltik, ternyata, bahasa tak pernah netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agak Ngeri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;DPR RI hari ini memperlihatkan kebenaran bahwa kancah politik juga menjadi ajang mempermainkan sekaligus merusak bahasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan agak ngeri, saya teringat kembali pengingatan dari George Orwel, bahwa bahasa politik adalah alat untuk membuat kebohongan terlihat menjadi jujur. Sekaligus membuat kelicikan dengan kesan sopan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang lebih menyesakkan dada adalah pola kompromistis dan budaya permisif (serba menerima) dari rakyat kita, terhadap apa saja yang menjadi reproduksi kata-kata dari para politisi Senayan. Rakyat seolah hidup dalam memori keliru, bahwa bahasa tak akan berarti apa-apa, sekedar sebagai alat komunikasi. Terbukti, pengungkapan gaya berbahasa poiltisi DPR RI justru berkibar di media, dikonsumsi publik dan ditiru banyak orang. Celaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah terlihat gejala pejal (banality, mati rasa) dalam berbahasa di panggung politik nasional. Dalam forum rapat resmi, seorang tokoh seenaknya memaki dengan bahasa kelas preman terminal, terdiri dari tujuh hurup, diawali hurup "b" dan berakhiran hurup "t". Reakasi keras sempat muncul, tetapi selesai begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau juga, seoarang tokoh yang dikenal santun dan cerdas, menyebut istilah baru, bahwa Pansus adalah industri politik. Ini kelihaian berbahasa politik luar biasa. Sudah jelas urusan Pansus diatur konstitusi, tetapi malah disebut sebagai industri (dengan makna penyindiran).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pendangkalan Bahasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maka hanya ketekunan yang cenderung kurang kerjaan saja yang akan sanggup mencatat reproduksi bahasa politik Indonesia hari ini. Betapa tidak, setiap tokoh punya istilah sendiri. Setiap lembaga, rajin menyodor bahasa sendiri, yang kadang-kadang asal comot asal pakai, tanpa memperhitungkan kualitas berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di DPR misalnya, belakangan berkembang istilah politik "masuk angin". Ini bukan berarti penyakit yang menjadi segemen khusus obat jamu orang pintar produksi Jamu Djago (milik Jaya Suprana). Masuk angin di sini justru enak, bukan dikerok, tetapi dikeruk, dengan uang, dengan fasilitas, dengan iming-iming jabatan. Bila rakyat curiga bahwa Pansus Bank Century masuk angin, maka itu berarti Angin Sorga sudah membuai...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rentetan perisitilahan lain menderu-deru tiap waktu. Para politisi menciptakan kesan gampangan dan membuat wajar segala sesuatu yang sesungguhnya penuh aib dan nista. Bila ada politisi yang kemaruk, gasak kanan dan kiri, maka disebut bukan sebagai koruptor, tetapi kapal keruk! Kalau ada usulan rakyat yang agak rumit dimasukkan ke DPR, lantas tidak mendapat penanganan segera, maka jawaban yang muncul adalah istilah ini: itu bisa diatur! Dengan catatan: ikut aturan main si politisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, aturan main itu kerap dibikin melelahkan. Cobalah buka berbagai buku tentang metodologi atau bahkan kamus, cari kata tentang kesimpulan. Tidak akan jauh, bahwa kesimpulan adalah tahapan dan proses akhir untuk meringkas sebuah pekerjaan. Pekerjaan yang besar adalah justru dalam proses bagaian awal, pendahuluan, isi, lalu ujung. Kesimpulan menjadi sisi teringan dari pekerjaan besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana dengan DPR RI. Mereka mampu membalik semua logika itu. Kesimpulan akhir Fraksi, misalnya, yang ramai diperdebatkan hari ini, dibuat mendakik-dakik jauh ke ujung. Bahasa lalu dipermainkan, sesuatu yang sudah jelas dibuat rumit. Bayangkan, untuk membuat kesimpulan saja, butuh permainan opini publik yang melelahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, bagaimana dengan istilah menyebut nama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali, baru sekarang ini masalah menyebut nama orang menjadi konsumsi politik yang luar biasa gencar. Untuk hal ini, maaf saja, saya tak bisa menjelaskan. Belum lengkap informasinya. Dalam permainan politik bahasa di DPR RI, agaknya, bisa terangkum dalam dua konsep besar. Masing-masing adalah: (1) terjadi pendangkalan makna bahasa atau kata (peyorasi), yang diwarnai dengan pengasaran makna bahasa (disfemia); dan (2) terjadi perlusan makna bahasa (ameliorasi) dengan praktek eufemia (pengahalusan bahasa). Agaknya, praktek seperti itu masiht terus berlangsung. Beginilah nasib Bahasa Indonesia....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-4799696464588952796?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/4799696464588952796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/bahasa-politik-dpr-ri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4799696464588952796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/4799696464588952796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/bahasa-politik-dpr-ri.html' title='Bahasa Politik DPR RI'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S4I6IH6juwI/AAAAAAAAAQI/-mrl-tg0_qQ/s72-c/Gedung+dan+Informasi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-381152984930184373</id><published>2010-02-19T09:11:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:07:48.909-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Chronica Serimpia et HMI Cabang Manado</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S37G6FQsztI/AAAAAAAAAQA/fYhK3HQirNc/s1600-h/Demo+HMI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S37G6FQsztI/AAAAAAAAAQA/fYhK3HQirNc/s400/Demo+HMI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5440004101057072850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;George Santayana, seorang filsuf moderen, pernah mengingatkan kita untuk tidak lupa sejarah. Menurutnya, orang yang mengabaikan masa lalu akan dihukum dengan peristiwa yang sama di masa mendatang. Catatan itu barangkali satu dari ratusan petuah yang berbunyi mirip. Salah satu The Founding Father kita, Bung Karno, bahkan menitahkan dengan keras: Jasmerah! Jangan sekali-kali melupakan sejarah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalian melengkapi, bahwa tabiat minor anak bangsa ini adalah punya ingatan pendek. Praktek-praktek impunitas, amnesia sejarah, dan tidak tekun mencatat sesuatu (penting atau tidak penting), di kadang waktu selalu berbuah kerugian. Padahal sejatinya, kata Milan Kundera, perjuangan menegakkan demokrasi adalah perjuangan melawan lupa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kategori itu, "sejarah" dan "perasaan lupa", yang ingin saya perbincangan dalam notes di facebook ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada peletup untuk mengingat tempo doeloe. Seorang kawan Mantan Ketum HMI Cabang Manado, bertutur dengan nada gondok. Sekarang ini, ungkapnya, anak-anak lepasan LK I saja sudah bermain di Pilkada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebe gila lei," ia menambahkan dengan jelas, "acara Musda REI saja dorang so iko-iko." Istilah Musda adalah Musyawarah daerah, biasanya untuk memilih ketua baru. Sementara REI tak lain adalah Real Estate Indonesia. Saya terperangah! Bagaimana mungkin kami dulu membayangkan bisa masuk wilayah seelit dan semewah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi liar lantas beredar ke Gedung Serimpi, Jalan Roda, dan para penghuninya. Di era itu, kelas kami paling banter bertarung di KNPI, satu level lebih tinggi dari Konfercab HMI Cabang Manado. Lain-lainnya tidak. Kalaupun ada, masih setingkatan saja. Seperti ikutan di Muktammar Badan Tadzkir, perebutan Ketua Senat Fakultas atau Universitas, dan bersilaturahmi ke PMII atau IMM. Sudah, itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar terperangah. Setahu saya Real Estate Indonesia adalah organisasi profesi beranggotakan orang-orang yang sudah jadi ---bukan anak-anak komisariat HMI Cabang Manado. Kok, bisa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas tentang informasi yang sebenarnya terlacak agak jauh-jauh hari. Bahwa anak-anak lulusan LK 1 dan "hanya" pengurus Komisariat sudah mampu bertarung di Pilkada. Entah dalam posisi apa, yang jelas pasti beragam. Konon ada yang cuma bawa-bawa tas dan turun naik mobil calon Walikota. Kadang rada berposisi bagus, misalnya jadi perancang strategi kampanye. Lebih banyak lagi, katanya, yang jadi Mak Comblang dan jualan isu. Raja Olah, istilah aktivis Jakarta. (Mengolah isu, mengolah gosip, dan mengolah informasi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dihampiri dengan telaah serius, maka ulasannya panjang lebar. Misalnya dengan membubuhkan teori proliferasi dari Sejarawan Almarhum Koentowijoyo. Proliferasi berarti penyebaran (kader HMI) ke berbagai lapisasn sosial. Patokan ini menyebut, sukses tidaknya kaderisasi HMI bisa dilihat beberapa tahun setelahnya. Apakah kadernya bisa sukses di berbagai profesi dan lahan pengabdian, atau cuma di situ-situ saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, bisa bermain di Pilkada dan Musda REI adalah bagian dari proliferasi itu. Tetapi bila menelisik detil-detil informasinya, agaknya kita patut kecewa. Benar mereka memang menyebar ----dan besok-besok mungkin sudah mampu mengobok-obok Ikatan Dokter Indonesia--- tetapi mission-nya tetap sama, politis belaka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bila telisikan kita tarik ke diskusi santai, maka fenomena Anak Komisariat Berpilkada itu juga tak lepas dari ceceran tradisi yang berlangsung belasan tahun sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Bang Naid cs&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Supaya jelas garis telusur, maka baiknya kita candra latar sejarah di zaman Bang Naid dan kawan-kawan (terutama Bang Coen, Bang Taufieq, dan Bang Yayat). Periode itu adalah zietgeist (semangat zaman) yang terpampas oleh gurita kekuasaan Orde Baru. Penguasa, melalui kebijakan NKK/BKK rancangan Daud Joesoef, mengerangkeng mahasiswa dan aktivis kampus untuk selalu "tiarap". Meminjam istilah anak-anak kiri, mahasiswa era itu adalah apolitis, ahistoris, anakronistis. Pokoknya duduk diam manis di kampus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan berarti tak ada perlawanan. Malah sesungguhnya mereka berikhtiar dengan cerdas. Tentu saja tidak bergerak sendiri, melainkan menjadi bagian dari skenario pergerakan yang berlaku di zaman itu. Tak lain dengan strategi membentuk Kelompok Studi, yang dimotori oleh Denny J.A (kini Direktur LSI) di Universitas Indonesia, Jakarta. Produk perlawanan mereka adalah Kajian, Jurnal, Buku, dan Intellectual Product lainnya. Saya ingat persis, Bang Naid dan kawan-kawan waktu itu juga masuk dalam kategori ini, yaitu membentuk Kelompok Studi, yang bernama Kelompok Studi Pancasila (beranggotakan Dokter Taufieq Passiak, Coen Hussein Pontoh, dan Bang Yayat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata saya, di sinilah benih-benih intelectual exercises (pelatihan intelektual) bersemai. Mohon maaf dengan takzim, sebelumnya juga pasti ada, misalnya oleh Ka Fadly Tantu, Ka Anang Otoluwa, dan Ka Hamzah Latief. Tapi jelas di masa Bang Naid itu begitu menonjol. Mereka berlangganan Jurnal Ulumul Quran, yang harganya waktu itu bisa membeli sepasang sepatu olahraga. Menjadi distributor Jurnal CSIS (disebut sebagai think tank-nya Orde Baru), dan sudah pasti menjadi penikmat bulanan untuk Jurnal Kajian Politik, Ekonomi, dan Budaya terbitan LP3ES, yaitu Jurnal Prisma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan main-main dengan mereka. Saya ingat penuturan Ka Mustafa As'ad (sekarang pejabat di Pelindo). Ia memberi nasehat kepada saya dan Basri Amien. Perintahnya begini: Endi, Basri, ngoni jang coba-coba iko pa dorang pe diskusi, kalau belum baca buku Arief Budiman deng Sritua Arief. Maksudnya, kami berdua harus membaca lebih dulu buku-buku berat tersebut, baru bisa ikut diskusi dengan Bang Coen, Bang Naid dan kawan-kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelatihan intelektual lain dari zaman itu adalah aktivitas tulis menulis dan berdebat hingga adzan subuh berkumandang (lalu, tidur, he..he..he..). Segala rupa teori-teori besar, seperti Post Moderenisme, Strukturalisme, teori ketergantungan ekonomi politik (dependecy theori), gerakan kiri baru (new left), dan paradigma-paradigma besar, terhidang bebas di masa itu. Thanks for Bang Naid, Coen, Dokter Taufiek dan Bang Yayat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagaimana corak politik atau gerakan politik mahasiswa dari Bang Naid cs?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu serius dan penuh perhitungan matang. Silahkan cek ke Ka Idun, Ka Djafar Al Katiri, atau ke Benny Rhamdani. Hanya untuk sebuah aksi demo di DPRD Sulut, mereka butuh kajian dan analisis satu bulan lebih, dengan setumpuk dokumen pendukung. Tidak asal turun, teriak, dan cuma bermodal urat leher panjang ---ditambahin spanduk dan poster provokatif. Kentara sekali, warna intelektualitas begitu berkibar-kibar. Saya pikir, saat itu tak ada permainan culas dalam bentuk Money Politics, dalam gerakan-gerakan yang mereka bangun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penelusuran berlanjut ke periode antara (maksudnya masih di era itu juga, hanya berganti tokoh). Di sini bertumpuk nama-nama lain. Namun tabiat dan karakter gerakannyanya sama. Persisinya di penghujung cakar kuasa Pak Harto dan di awal persemaian era reformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada corak baru di situ. Euphoria reformasi, kebebasan pers, kebebasan berserikat, kebebasan berdemonstrasi benar-benar mewujudkan bulan madu bagi aktivis mahasiswa. Para aktivis mahasiswa dan pegiat politik praktis, beredar tidak dalam satu warna. Begitu pun anak-anak Ijo Itam penghuni Gedung Serimpi, Manado.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa nama, seperti Baso Affandi, Rahmat Adam, Hasdien Mondika, Harris Surachman, Lita Mamonto, Irman Meilandi, Budiyanto Napu, Dadang Nugroho, Rusli Djalil, dan juga termasuk Basri Amien, dan entah siapa lagi, beraktivitas dengan sedikit kelebihan dari pendahulu mereka. Mengapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara intelektual, mereka menikmati tetesan ilmu para senior, dan rata-rata pecinta buku. Tetapi jaringan dan akses informasinya lebih leluasa ---tak ada lagi sensor dan ketakutan. Kelebihannya, adalah terwujudnya selera outward looking, melihat ke luar. Mereka aktif di organisasi lain, seperti Partai Politik (Budianto Napu), LSM (Lita Mamonto), Pers (Rusli Djalil), dan bahkan bisnis (Irman Meilandi). Jika memakai paradigma demokrasi ala Romo Magnis Suseno, pegiat gerakan mahasiswa zaman itu sudah masuk ke empat pilar penunjang demokrasi dan mewujudkan kekuatan civil society. Tak lain adalah: Pers, LSM, Partai Politik, dan Organisasi Kemasyarakatan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari benih intelektualisme kritis, kawan-kawan di era paska reformasi itu melakukan proliferasi (penyebaran) ke ranah intelektulaisme praktis (di politik, LSM, atau media). Rata-rata berkibar bukan sebagai pengekor, tetapi menjadi aktor kunci dan agen penting yang dihormati banyak kalangan. Selalu ada cela memang. Dalam catatan saya, sisi sumir dari corak gerakan mahasiswa era Baso dan kawan-kawan adalah ini: tidak berhasil membuat barisan, kecuali kerumunan! Mereka bergiat sendiri-sendiri, dan agaknya abai melakukan kaderisasi dan membangun basis gerakan yang kokoh di komunitasw masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kemiripan periode Bang Naid Cs dan Baso Affandi Cs adalah sama-sama tidak menyantap tetesan berkah politik (uang dan fasilitas) dari kekuatan politik manapun. Masih sama-sama kere...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Tentang Rully Amri"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang periode setelah itu saya tak sanggup mencatat banyak. Barangkali yang bisa dilakukan adalah sedikti perbandingan-perbandingan. Dulu, para senior dikenal tak pernah lupa menggapit atau menenteng buku baru ---atau buku lama, tetapi benar-benar penting! Benar adanya, ingatan Pretty Mamonto di facebook ini atas foto Bang Mus (Mustafa As'ad), bahwa ke mana-mana beliau membawa buku. Nah, sekarang? Di genggaman tersedia Handphone atau Smartphone bagus. Di dalam tas, bukan buku baru, tetapi mungkin laptop. Dan jemari tangan sibuk mengetik SMS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau mendengar wilayah pergaulan mereka, sungguh luar biasa. Seorang junior jauh bahkan menjanjikan tiket agar saya bisa ke Manado. Duh... dulu kami pontang panting hanya untuk berangkat dengan tiket PELNI. Mereka enteng saja menembus elit-elit politik dan tokoh-tokoh penting. Dulu, berhadapan dengan Almarhum Ka Aries Patanghari saja gemeteran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang disebut dengan geneasi penikmat. Tidak salah, justru bagus. Perubahan harus mengarah ke ajang lebih baik. Tetapi apakah "bersih" dari resiko? Sama sekali tidak...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjarak dengan kekuasaan memberi keleluasaan dalam bersikap. Lebih-lebih di masa perkembangan intelektualitas dan pengakderan untuk anak-anak HMI (misalnya lulusan LK 1 dan pengurus Komisariat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wilayah politik praktis semacam Pilkada adalah berorientasi hasil, bukan proses. Seraya meminggirkan wacana, teori, moralitas, dan benih-benih intelektualisme. Prakteknya adalah pragmatis, azas manfaat, dan segera (bukan berorientasi investasi ke masa depan). Tokoh dan agen yang terlibat, maaf saja, pastinya sudah lelah dengan urusan pengkaderan dan penyemaian sikap kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya agak ngeri membayangkan, jika benar inforamsi bahwa anak-anak level Komisariat sudah ikut rombongan calon Walikota, calon Bupati, atau bahkan calon Gubernur. Ada di mana posisinya? apakah penghargaan terhadap mereka karena kualitas personal, atau justru sebagai cheer leader dan Mak Comblang yang gampang disuruh-suruh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah keluhan. Sebab, dari beberapa nama Yunior yang saya kenal, satu dua saja yang agaknya tekun dengan medan intelektualitas. Salah satu yang saya kenal, ya itu dia yang jadi judul: Rully Amri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga saya tidak dianggap melankolis, sentimen dan rewel.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-381152984930184373?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/381152984930184373/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/chronica-serimpia-et-hmi-cabang-manado.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/381152984930184373'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/381152984930184373'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/chronica-serimpia-et-hmi-cabang-manado.html' title='Chronica Serimpia et HMI Cabang Manado'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S37G6FQsztI/AAAAAAAAAQA/fYhK3HQirNc/s72-c/Demo+HMI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3518849438917460737</id><published>2010-02-11T12:36:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:08:15.827-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Valentine Day Ala The Jakarta Post</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3Rq-CnHoxI/AAAAAAAAAPw/AXVWqLD_F_g/s1600-h/Bunga+Valentine+Day.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 319px; height: 318px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3Rq-CnHoxI/AAAAAAAAAPw/AXVWqLD_F_g/s400/Bunga+Valentine+Day.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437088264228414226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kok, Valentine Day cuma ngasih kado The Jakarta Pos?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sergah seorang Ibu kepadaku, beberapa tahun lalu. Tak ada bayangan apapun, bahwa si Ibu akan menanyakan sesuatu yang selama ini telah jauh dari file memori aku: Hari Kasih Sayang, Valentine Day. Bukan apa-apa, menjelang usia Life Begin At Fourthy ini, pikiran lebih padat dengan urusan pekerjaan dan... utang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, jawaban cerdas untuk menghindar tak jua datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sepenuhnya tak siap. Datang ke rumah si Ibu, seraya membawa koran The Jakarta Post justru memenuhi amanat. Seorang gadis muda, cantik, mahasiswi jurusan bahasa Inggris di Untirta Banten, anak dari Sang Ibu itu, menitahkan sebuah amanat. Disampaikan via SMS berbahasa Anak Baru Gede ---dan sempat membuat kening mengernyit, lantaran tak mengerti. Maklumlah... Posisi seorang pria dengan dua anak, sudah jauh dari gaya bahasa ABG. Kalau tak salah, deretan hurup di layar HP aku itu bertuliskan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bang, mnta tolong dunk, bawain koran english. q da tugas kampyus neeeh. plis, plis, plis :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan semangat 45, pesanan itu kupenuhi. Mencari koran Inggris terbitan Grup Gramedia Kompas itu semudah meniup kapas di ujung jemari. Nggak pake beli pula, tinggal ambil. Dorongan lain yang menggelegak adalah bersitatap muka dengan perempuan muda...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi mengapa seorang Ibu, tepatnya Ibu Hajjah, iseng menyentak dengan kalimat "kado Valentine cuma bawa koran?" Padahal dia tahu persis tak mungkin anak gadisnya mendapat sesuatu dari seorang pria yang sudah berumah tangga? Kalau urusannya bercanda, jangan-jangan memang benar, perayaan V-Day telah menjadi milik umum. Bukan spesial pasangan lajang. Tetapi juga untuk laki-laki beristeri kepada perempuan belum bersuami. Artinya, boleh saja saya (jika suatu saat kepikiran), tiba-tiba memberi kado V-Day kepada seseorang (yang sosok, penampilan, dan statusnya, saya tentukan sesuai selera). Ah... mudah-mudahan jangan sampai begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gawat perkara, kalau budaya Hari Kasih Sayang sudah seliberal itu. Cowok lajang memberi kado cokelat kepada isteri orang; gadis cantik muda perawan meminta hadiah kepada seorang yang dipanggil keponakannya paman; atau seorang kakek mengirim bunga dan cokelat kepada cucu perempuan orang lain... Setahu saya, belum ada film, buku, sinetron, dan iklan yang mengajari "kekurangajaran" seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber diskusi memang si Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia yang telah jauh dari The Golden Age untuk seorang perempuan, masih juga kepkiran V-Day. Tahu dari mana? Dengan wawasan lengkap pula, bahwa hari 14 Februari itu mesti memberi kado. Jangan-jangan, Ibu Haji (biasa aku panggil begitu), paham secara seksama bahwa hadiah V-Day yang paling cocok adalah sebungkus cokelat dan sekuntum mawar... Bukan The Jakarta Post itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudahnya adalah dengan menuding televisi, iklan, tayangan selebritis, dan rupa-rupa barang publikasi lain. Hari-hari terakhir ini, bahkan produsen barang yang tak ada jalin-hubungan dengan urusan kasih sayang sekalipun, mempublikasikan produknya dengan warna-warni dan atribut V-Day. Seperti iklan cat, perusahaan asuransi, dan produk perawatan tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pointnya adalah: kedahsyatan media massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan kita yang mendefinisikan apa yang kita mau, barang apa yang dibutuhkan, dan agenda seperti apa yang layak dilakoni. Media redefined our life. Teori klasik dari komunikasi massa memang meningatkna tentang hal itu. Disebu dengan teori Jarum Hypodermik. Kita, massa penonton, seperti pasien yang disuntik serum, terpengaruh begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini babak baru daya terpa media semakin menggila. Bukan saja media "mengajari" tetek bengek gaya hidup kita. Menunjukkan mana barang bagus dan mana komoditas kuno. Menawari dengan desain bagus, makanan apa yang perlu dan cemilan apa yang tak bermutu. Mengajak atau membujuk pergi ke tempat anu dan meninggalkan tempat anu. Pendek kata, kalau mau eksis, hiduplah seperti kehidupan dalam publikasi media.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, media massa bukan saja mendefinisikan bagus dan tidak bagusnya sesuatu untuk kita ikuti atau tiru, tetapi juga memanipulasi instink dan naluri kita yang paling purba sekalipun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasih sayang adalah instink, its perfectly human. Hubungan emosional antar sesama adalah hukum naluriah. Tetapi media memanipulasi dengan (sebenarnya) cara-cara kasar. Maksudnya kasar dalam tujuan tetapi lembut membujuk dalam pengemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya perayaan Valentine Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa dan para punggawanya tahu persis, dari ujung Papua sampai pelosok Maroko, orang tahu berkasih sayang. Tetapi, ini dia, caranya berbeda-beda. Mungkin disertai keunikan, gaya khas, kental tradisi, dan disertai filosifi dan makna mendalam. Media tak berurusan dengan keragaman cara berkasih sayang seperti itu. Lantaran tidak komersial dan jauh dari peningkatan taraf gengsi. Maka jalan pintasnya adalah mengajari cara dan kemasan berkasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media mengemas V-Day dengan nuansa, atribut, warna, tema, bahkan hari dan tanggal dan waktu dengan semirip mungkin. Kalau pun ada perbedaan, hanya dalam urusan teknis tambahan. Itulah yang hadir dalam film, lagu, showbiz, pesta, dan segala barang dagangan di televisi dan Mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini hukum monopoli berlaku. Seakan momen kasih sayang paling "menyentuh-mengharukan" adalah V-Day. Lalu harus dipestakan beramai-ramai di setiap pojok planet. Padahal, tak jelas benar, di mana sosok heroisme dan keteguhan nilai V-Day? Sejarahnya sekalipun masih kontroversial. Semangat kasih sayang yang universal, sejatinya, tidak berbentuk tunggal. Melainkan beragam tema dan berbagai cara. Bukan melulu sekotak cokelat dan setangkai mawar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bersumber dari narasi sejarah dunia, tak kurang cerita yang mengharu biru dengan tema kasih sayang ---terkhusus antara pria dan wanita muda. China mengenal Sam Pek Eng Tay, di Jawa ada Roro Mendut, di Bali, di Sunda, di India, atau bahkan spirit Romeo Juliet, jika urusannya adalah mesimbolisasikan kasih sayang. Tetapi hikayat-hikayat ini kalah komersil oleh V-Day.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan lain, betapa terkuras naluri purba manusia untuk berlomba menghabiskan energi dan potensi diri ke arah pemujaan terhadap barang! Pengidolaan terhadap komoditas jualan dan pesona kecantikan sensualitas adalah tradisi lama dengan kemasan (selalu) baru. Lagi-lagi media mengeksploitasi gairah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila begitu, kini saya memaafkan Sang Ibu dan juga anak gadisnya. Mereka juga adalah bagian dari manusia yang penglihatan, pendengaran, dan juga mimpi-mimpinya, telah dibantu dengan intensif untuk mengikuti selera media massa. Happy Valentine Day for All...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3518849438917460737?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3518849438917460737/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/valentine-day-ala-jakarta-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3518849438917460737'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3518849438917460737'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/valentine-day-ala-jakarta-post.html' title='Valentine Day Ala The Jakarta Post'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3Rq-CnHoxI/AAAAAAAAAPw/AXVWqLD_F_g/s72-c/Bunga+Valentine+Day.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2331216186665090333</id><published>2010-02-11T12:34:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:08:36.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Politik'/><title type='text'>Audit Komunikasi Pansus Bank Century</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3RqIp7fzzI/AAAAAAAAAPo/Yikct3lE--w/s1600-h/Bank+Century.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 203px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3RqIp7fzzI/AAAAAAAAAPo/Yikct3lE--w/s400/Bank+Century.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5437087347069931314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di DPR ada sesuatu yang membuat banyak kalangan cemburu. Bukan lantaran tungkai kaki lenjang milik Aura Kasih atau sensasi no bra dari Andi Soraya. Melainkan menyasar kepada sekelompok politisi di Pansus Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecemburuan menguat, manakala kemeriahan Pansus bertabur dengan rupa-rupa peristiwa. Seolah DPR RI hanya terdiri dari Pansus Century, yang lain “pemain figuran” belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba hitung, ratusan aksi massa yang pro dan kontra. Ribuan spanduk dan atribut demonstrasi. Berlahirannya istilah-istilah baru yang sebelumnya tak diajarkan di kamus politik (seperti istilah banxxxt, masuk angin, dan yang terbaru industri Pansus). Sampai ke urusan berapa besar biaya yang sudah dihabiskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi pun seperti mendapat berkah. Liputan nyaris blocking time, tak kenal pagi, siang, malam, terus-terusan ditayang ekslusif. Berlembar-lembar halaman koran mencetak berita utama, hari demi hari. Jika memakai tradisi Majalah TIME, maka Pansus Bank Century tergolong Mans of The Month. Sengaja memakai istilah “man”, karena “woman” tak kelihatan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal ada potensi tandingan dari mana-mana. Saya ingat persis, di tengah rapat Pansus yang mirip telenovela itu berlangsung, di Komisi VIII DPR RI gencar mengkritisi penyelenggaraan haji. Juga di Komisi lain yang tengah sibuk membahas APBN Perubahan (dengan nominal jauh di atas kasus Century). Tetapi realitas itu tersaput “komersialitas” pemberitaan Pansus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar lingkungan parlemen, tak sedikit hiruk-pikuk rakyat berhamburan. Ada demonstran menggembalakan kerbau di lahan beraspal (pasti dia bukan anak petani, atau penggembala dadakan!). Rangkaian peristiwa bunuh diri. Berita penculikan anak-anak di bawah umur. Atau segala sesuatu yang setelah selesai anda simak hanya bisa mengelus dada…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa faedah yang terpetik? Selesai sebagai showbiz politik dengan akhir layaknya sinema Hollywood?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk orang-orang yang terlibat langsung, terutama politisi DPR RI, arahnya mudah ditebak. Jika patokannya harga normal, minimal biaya Pansus meneyerap anggaran dua milyar rupiah. Tak tahulah jumlah yang tercantum dalam nota tak tertulis. Boleh jadi, cibiran Wakil Presiden Boediono bahwa Pansus sudah menjadi industri, berlatar dari “pengetahuannya” tentang biaya politik Pansus. Dalam rumusan orang awam pun, istilah industri selalu mengacu pada investasi, keuntungan, dan uang banyak. Pihak lain menyindir Pansus melulu menghamburkan anggaran negara, buying time, dan politik dagang sapi (political trade off).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah tak ada makna pendidikan politik apapun jika kritik berkutat ke pusaran “kecurigaan” melulu. Jelas-jelas kinerja Pansus butuh dana. Termasuk bargaining, loby, dan pendekatan. Begitu juga kampanye penggalangan dukungan. Semua itu masih berada dalam wilayah fatsoen politik dan memenuhi kadar kepatutan. Publik juga paham persis, hukum ketatanegaraan kita memungkinkan terjadinya proses-proses politik di Pansus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaupun lahir gugatan, jauh lebih segar andai menyasar pada efektivitas dan pelipatgandaan manfaat dari Pansus Bank Century ---terutama untuk khalayak ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Posisi Netral&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Lantaran negeri ini jenuh dengan mimpi dan pengandaian, maka tulisan inipun tak patut diawali dengan kata: “jika atau andai”. Semisal mencantumkan utopia: jika saja seluruh rakyat berhak menentukan, maka mereka akan memilih kompromi terbaik (kembalikan saja uang negara, salurkan untuk kaum tak berpunya!).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi wacana Pansus mahal, melelahkan dan sekonyong menjadi cibiran sejumlah golongan, tak boleh juga dituruti. Kalau perlu, justru dibendung sedari awal. Sebab jika telah membesar menjadi opini publik, lantas menimbulkan apatisme serta kemarahan khalayak, maka benar-benar panggung Pansus hanya melahirkan kerusakan dan kemudharatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ukuran apapun, baik konstitusi, regulasi, fatsoen politik, hingga urusan kebutuhan faktual, Pansus Century memang layak hadir ---kecuali, sekali lagi, “jika” saja tak ada peristiwa dana talangan trilunan rupiah ke Bank Century.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika politik pun harus ke arah rasional: bahwa Pansus adalah metode membongkar kejahatan politik yang tidak biasa (extraordinary circumstances). Kebijakan dana talangan Bank Century, jika terbukti bersalah, adalah kejahatan luar biasa. Lebih dahsyat dari sekedar “kejahatan kerah putih”, kejahatan korporasi, atau sekedar korupsi kebijakan. Justru jauh melampaui semua itu. Boleh jadi, sudah termasuk kejahatan konspirasi. Nah, mengusut kejahatan seperti itu benar-benar butuh strategi politik seperti yang terdapat di Pansus Bank Century DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembelajaran terpenting adalah terang benderang: biarkan Pansus bekerja, jangan ada delegitimasi politik apapun. Bisa jadi suatu hari nanti, bangsa ini butuh alat Pansus untuk mengusut peristiwa politik yang merugikan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Audit Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Terakhir arah politik Pansus memang mengecewakan. Tensi politik menurun, rapat sudah kehilangan greget, dan seperti terbaca arah ke mana. Padahal, selama proses kemarin, letupan semangat publik seolah terwakili. Terjadi debat panas, dan agak sukar para politisi untuk berpura-pura. Ada harapan agar Pansus bergerak ke ”bola liar” yang tak bisa dijinakkan dengan mudah. Juga melibatkan emosi para petinggi negeri. Tapi, entah karena terlalu lama, Pansus tiba-tiba mencapai anti klimaks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barang sudah jadi bubur. Rakyat, untuk kali ini, jangan lagi mengidap amnesia dan terlalu asyik dengan ”ingatan pendek”. Kita semua punya rekam jejak secara lengkap. Catatan tentang baik buruknya perilaku Anggota DPR RI, sikap tidak tegas dari Fraksi, atau polah tingkah para pejabat, adalah data-data primer yang bisa kita audit. Mari periksa secara seksama, lakukan audit komunikasi atas tindak tanduk para pihak yang terlibat di Pansus. Tujuannya satu: menagih integritas dan kebenaran aktivitas mereka dalam Pemilu nanti....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2331216186665090333?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2331216186665090333/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/audit-komunikasi-pansus-bank-century.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2331216186665090333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2331216186665090333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/audit-komunikasi-pansus-bank-century.html' title='Audit Komunikasi Pansus Bank Century'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S3RqIp7fzzI/AAAAAAAAAPo/Yikct3lE--w/s72-c/Bank+Century.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-6438431085700668957</id><published>2010-02-06T21:53:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T03:30:29.518-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Saya (masih) Cacing di HMI...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S25WSTI1etI/AAAAAAAAAPQ/7fBa8NCI09I/s1600-h/1.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 116px; height: 83px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S25WSTI1etI/AAAAAAAAAPQ/7fBa8NCI09I/s400/1.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5435376672657734354" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sejarah tak mencantumkan nama para cacing. Bahkan tidak untuk catatan kaki sekalipun. Seperti keluhan Antonio Gramsci, bahwa sejarah tak pernah mencatat pengorbanan cacing yang menggemburkan ladang…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau bangga dengan artefak Borobudur, maka ketakziman hormat itu barangkali mengarah kepada Wangsa Syailendra, atau kepada pesan-pesan kultural keagamaan yang ditoreh dalam relief. Selalu tidak ada pengingatan tentang berapa ribu nyawa melayang, diperbudak mengangkut bebatuan besar dari dasar ke puncak. Siapa punya catatan tentang penindasan Dynasti Rhamses (Firaun) ketika menitahkan ambisi pembangunan Pyramida Sphinx?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertebaran ribuan hikayat fiktif atau faktual yang bisa dicandra siapa saja, hari ini. Tentang bangunan, bendungan, patung, tugu, dan peninggalan-peninggalan bernama keajaiban dunia, yang dikenang banyak orang. Tetapi, sekali lagi, tidak untuk mempertanyakan bagaimana para budak, buruh, romusha, atau koeli rodi meregang nyawa ---demi kehendak ambisius para penguasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sejarah bukanlah kincir angina yang bisa dihentikan. Meski berputar dan cenderung terjadi pola-pola pengulangan, sejarah harus terus berlalu. Jika dulu peninggalan-peninggalan besar selalu mengharumkan nama-nama besar, hari inipun mirip seperti itu. Kecuali ada sedikit saja perbedaan. Bahwa orang-orang besar hari ini juga lahir atas jasa orang kecil dalam jumlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana posisi anda hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang besar yang menempel pada orang yang lebih besar? Atau orang besar yang bertengger pada jumlah besar orang-orang biasa? Dengan cara wajar atau culas, sejumlah nama besar di jagad kekuasaan agaknya melulu membesar dari dua pola itu. Tentu tidak gratis. Memakai formula berlapis-lapis. Barangkali dengan kemampuan “menjinakkan” para petinggi negeri. Atau barangkali dengan manipulasi dalam panggung Pemilu untuk “merebut” suara orang-orang biasa (tetapi dalam jumlah besar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karuan saja ini bukan kemarahan tanpa makna. Lantaran kita miskin contoh untuk pola-pola menjadi tokoh besar dengan jalur-jalur alternatif. Belum ada pemenang Nobel (versi apapun) yang kemudian benar-benar dicintai seraya menjadi teladan (figur) publik. Belum banyak lahir atlet kaliber dunia yang merebut kecintaan lahir batin dari jutaan penduduk. Masih sedikit para intelektual, akademisi, atau professional yang mengharu biru dunia karena karya hebat ----lantas merebut simpati suara rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, panggung politik kekuasaan hari ini berkutat dalam dua alur besar tadi: manipulasi suara dukungan rakyat dan ketergantungan tinggi terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Jika rumusannya masih seperti ini, maka wajar saja bahwa kompetisi politik yang berlangsung selalu memakan “banyak korban”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah pengakuan: hingga hari ini posisi politik saya berada dalam orbit “banyak korban” itu. Sederajat saja dengan tukang ojek ---yang meraung-raungkan motor berkonvoi bising dalam kampanye Pemilu. Setingkat lebih tipis dari pemilih buta hurup yang datang ke TPS karena dipelototi Kepala Desa. Tidak berbeda jauh dengan ratusan juta pemilih lain, yang statusnya adalah partisipan politik. Suara dan dukungan kami mengalir begitu saja. Tanpa daya kuasa bila ada the factor yang mengarahkan ke muara, danau, atau malah ke saluran got kotor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi apakah itu nista?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harga yang harus dibayar adalah perasaan terhimpit. Meskipun ada nasehat yang terus terngiang, dari Almarhum Nurcholis Madjid. Bahwa dalam melahirkan seorang tokoh, selalu ada tunas yang merepuh, menjadi jasad renik yang menyuburkan tunas yang lain. Dalam satu rumpun pohon bambu, tak semua tunas menjulang, ada yang mati, tak berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penghargaan tak bisa diharapkan datang dari siapapun. Tak berbilang kisah tentang orang-orang yang besar atas dukungan kelompoknya tiba-tiba terbang menjauh, tanpa datang lagi ke dangau. Menengok pun tidak. Saya kira, bila ukurannya adalah organisasi HMI, maka HMI adalah ladang subur untuk bertumbuhnya ratusan (atau ribuan) tunas. Serta ladang “pembantaian” untuk ribuan lain yang tak jadi apa-apa. Itulah yang disebut “cacing” oleh Antonio Grmasci ---sekedar ikut menyuburkan lahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi juga jangan kaget. Ribuan kader HMI kerap mempermulus langkah orang-orang besar di mana-mana. Tak cuma di panggung politik, tapi juga di jalur birokrasi, pemerintahan, dan mungkin juga bisnis. Nama-nama mereka tidak disebut sebagai orang besar, dan dengan mudahnya diabaikan oleh para pihak yang telah diuntungkan. Namun, seperti cacing, mereka tidak berpotensi menggulingkan apalagi menistakan. Selalu membuat subur ladang….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalinya adalah kepada Tuhan. Tuhan, bila aku pernah sedikit saja berjasa, bagi siapa saja (yang kini telah menjadi orang-orang besar dari HMI) maka Engkaulah yang menentukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga hari ini, Saya Masih Menjadi Cacing di HMI.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-6438431085700668957?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/6438431085700668957/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/saya-masih-cacing-di-hmi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6438431085700668957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/6438431085700668957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/saya-masih-cacing-di-hmi.html' title='Saya (masih) Cacing di HMI...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S25WSTI1etI/AAAAAAAAAPQ/7fBa8NCI09I/s72-c/1.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-2428259888628958238</id><published>2010-02-02T00:51:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T03:22:56.002-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Komputer DPR RI Terlalu Mahal? Mari Lacak...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2fpJjHkROI/AAAAAAAAAPI/__8RnZVh5V0/s1600-h/Komputer+DPR+RI.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 306px; height: 241px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2fpJjHkROI/AAAAAAAAAPI/__8RnZVh5V0/s400/Komputer+DPR+RI.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5433567825700865250" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Enemy of my enemy is my friend&lt;/span&gt;. Rumus ini seolah menjadi formula jitu dalam dunia perpolitikkan. Tetapi, dalam kondisi tertentu, kisah keseharian kita sering terkerangkeng dalam rumusan yang sama. Salah satu cara untuk selamat dari "kredo" itu adalah menjaga kewarasan dan akal sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya selalu ada pihak yang keliru mengambil posisi, sudah tentu juga keliru dalam menempatkan sesuatu sebagai "musuh". Sembari meletakkan rasa hormat dengan seperlunya saja, saya menganggap kawan-kawan pers dan aktivis LSM hari ini memperlakukan DPR RI (dan segala isi di dalamnya) adalah sebagai musuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam politik, posisi sedemikian secara sempurna memperlihatkan cara pandang "binner oposition". Cara pikir yang meletakkan sesuatu selalu bertentangan secara keras, hitam-putih, tanpa ada celah kompromi. Dalam batok kepala orang-orang seperti itu, tak ada istilah yang akrab disebut sebagai "grey area", wilayah abu-abu, yang memberikan banyak opsi dan alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celakanya, mindset seperti ini tidak dikonsumsi sendiri. Artikel ini tak perlu muncul bila urusannya orang per orang belaka. Lain perkara karena mereka (pers dan aktivis LSM itu) gencar melakukan kritik dan evaluasi terhadap DPR RI, seraya melakukan psywar-perang urat syaraf di media. Alias melakukan rangkaian publikasi sistematis. Dengan muara yang kentara sumir: melakukan public distrust, menggerogoti kepercayaan publik terhadap parlemen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teknik tergampang dari operasi black campaign seperti ini adalah dengan mem-blow up perkara sepele menjadi besar. Sembari menghilangkan detil informasi, menyingkirkan azas keberimbangan informasi, dan menistakan informasi alternatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel ini, maaf saja, bukan pembelaan hitam putih. Melainkan berpihak pada kepatutan. Bahwa yang benar, publik harus memiliki kesadaran bahwa dalam politik tak boleh ada musuh abadi. Bahkan, jika sepakat dengan petuah Almarhum Nurcholis Madjid, bahwa dalam politik, sejatinya tidak memposisikan pihak yang berseberangan sebagai musuh atau enemy, melainkan cukup sebagai lawan atau oponen. You are my oponen, not my enemy...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Distorsi Informasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Duduk perkara adalah publikasi gencar tentang pengadaan fasilitas komputer baru di ruang anggota DPR RI (artinya juga adalah ruang kerja Staf Ahli Anggota dan Asisten Pribadi Anggota DPR RI). Berita-berita yang dilansir, sebagaimana lazimnya, melakukan teknik penjudulan yang menggunakan kata-kata penuh "daya gugah" dan "daya kejut". Tak ada judul yang normal atau biasa saja (barangkali kalau seperti itu, takut tak dibaca orang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja:&lt;br /&gt;1. Wow, Anggota DPR RI Mendapat Komputer Mewah...&lt;br /&gt;2. Komputer DPR RI, Rp. 15 Juta Terlalu Mahal...&lt;br /&gt;3. Pengadaan Komputer DPR RI Potensial Korupsi...&lt;br /&gt;4. Komputer di DPR RI Diganti 2 Tahun Satukali...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar judul, isi pemberitaan kentara tidak bersumber dari pelacakan serius. Sekedar, mengutip Ana Nadhya Abarar, pakar komunikasi politik, meletupkan realitas psikologis semata. Realitas psikologis adalah pernyataan nara sumber terhadap media yang dilakukan at time at locations without investigation. Bicara di tempat itu, di waktu itu, selesai. Tanpa ada pelacakan detil. Nihil konfirmasi dari narasumber lain. Dan, maaf saja, miskin otoritas serta kompetensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberitaan model begitu, aduh, jauh dari porsi pencerdasan pubilk. Bayangkan saja: para jurnalis bergerombol, sibuk kanan kiri, di hadapan nara sumber. Pertanyaan tak mungkin mengejar, cukup sepenggal-sepenggal saja. Alhasil, ucapan yang keluar pun hanya sedikit lebih bagus dari asal bunyi. Inilah salah satu penyakit jurnalisme kita --dan juga narasumbernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau contoh? Dalam konteks ini adalah pernyataan seputar komputer DPR RI. Ada narasumber yang menyebutkan bahwa komputer mahal itu paling banter dipakai main facebook. Berita lain menyatakan bahwa komputer mahal itu hanya cocok untuk layouter, untuk setting image, design, dan desktop publishing belaka. Intinya, mempersoalkan produktivitas dan manfaat dari komputer DPR RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dilakukan analisis isi, gamblang terlihat bahwa framming (pembingkaian isu) dalam masalah komputer DPR RI berada dalam garis delegitimasi. Setidaknya ramai-ramai menghasut sentimen pubilk untuk terus memperlakukan DPR RI sebagai musuh. Pencitraan dan opini publik yang dibangun adalah DPR RI sarang kerakusan dan ketamakan.... Kebetulan sejauh yang terlihat, pihak DPR RI lemah dalam melakukan hal ini. Lengkap sudah, mereka senantiasa menjadi bulan-bulanan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sederatan Fakta&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di tingkat paling dasar, berita-berita tentang komputer DPR RI bahkan gagal memenuhi "prinsip dasar jurnalisme", yaitu kecermatan. Jikapun berita komputer itu tidak berniat melakukan penyesatan informasi publik, maka paling pantas disebut berita keliru. Patut diketahui, pengadaan komputer tersebut bukanlah untuk properti pribadi Anggota DPR RI, melainkan sebagai alat penunjang kerja Staf Ahli Anggota. Nah, dalam pemberitaan, fakta ini sama sekali tak (ter)sebutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan tuduhan "paling banter dipakai main facebook-an?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setahu saya, komputer itu benar-benar optimal menunjujang kinerja. Dengan SDRAM mencapai 3-5 Gigabyte, Memori berkapasitas 350 Gigabyte, Printer Canggih, bisa scan, fax, tentu memudahkan urusan kerja. Cocok untuk mobilitas politik. Ingat, urusan Anggota DPR tak melulu berkutat di ruang rapat dan ruang kerja. Melainkan juga ke konstituen, mitra kerja, media, perguruan tinggi, termasuk juga dengan LSM dan pers. Kecapatan dan tampilan fisik yang baik, tentu menjadi harga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktanya, tak mungkin terus menerus dipakai Facebook-an... Mana berani kita iseng berselancar di situs jejaring sosial, manakala pekerjaan bertumpuk, dan agenda bos sedang sibuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berita lain yang segera terbantah adalah tentang penggantian komputer yang dilakukan dua tahun satu kali. Secara pribadi, saya tak mengalami hal itu. Komputer yang kini menjadi cadangan, HP compaq dengan processor Intel Pentium 4, sudah lima tahunan belum diganti. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengharapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sudah tentu, paparan ini adalah pendapat pribadi. Meski tak tertutup kemungkinan disepakati oleh ratusan kawan-kawan se-profesi. Dalam kemelut perpolitikan yang kian rumit, mengapa harus berlelah-payah melakukan gugatan atas hal-hal yang tidak perlu (atau perlu, tetapi tidak substantif). Lagipula, ingat pesan Samuel Huntington, bahwa langkah awal mengahancurkan proses konsolidasi demokrasi adalah dengan terlebih dahulu melakukan delegitimasi terhadap proses dan lembaga demokrasi yang sah. DPR RI bukan musuh, mungkin lawan... Tapi jangan diabadikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-2428259888628958238?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/2428259888628958238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/komputer-dpr-ri-terlalu-mahal-mari.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2428259888628958238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/2428259888628958238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/02/komputer-dpr-ri-terlalu-mahal-mari.html' title='Komputer DPR RI Terlalu Mahal? Mari Lacak...'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2fpJjHkROI/AAAAAAAAAPI/__8RnZVh5V0/s72-c/Komputer+DPR+RI.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-9067788915887188173</id><published>2010-01-28T04:15:00.001-08:00</published><updated>2010-01-28T04:36:38.677-08:00</updated><title type='text'>Segera Akan Aku Resensi: The Lost Symbol</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2GABY84mDI/AAAAAAAAAPA/RP8AfToeAo4/s1600-h/The+Lost+Symbol.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 227px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2GABY84mDI/AAAAAAAAAPA/RP8AfToeAo4/s400/The+Lost+Symbol.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5431763386951571506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Insya Allah, ada sisa rezeki buat beli novel bagus ini. Mudah-mudahan sudah ada edisi bahasa Indonesia-nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-9067788915887188173?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/9067788915887188173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/segera-akan-aku-resensi-lost-symbol.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/9067788915887188173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/9067788915887188173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/segera-akan-aku-resensi-lost-symbol.html' title='Segera Akan Aku Resensi: The Lost Symbol'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S2GABY84mDI/AAAAAAAAAPA/RP8AfToeAo4/s72-c/The+Lost+Symbol.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7752450052736696110</id><published>2010-01-24T20:49:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T20:51:23.284-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Ringan'/><title type='text'>Aku Berlindung Dari Godaan Politik Yang Tidak Lucu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S10jMnuA6sI/AAAAAAAAAO4/swWoPDgmRoY/s1600-h/Gus+Dur+Tidur+2.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 220px; height: 336px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S10jMnuA6sI/AAAAAAAAAO4/swWoPDgmRoY/s400/Gus+Dur+Tidur+2.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430535425406069442" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pansus Bank Century. Antashari diancam vonis mati. Bonek Persebaya mengamuk (lagi). Jakarta selalu macet. Demonstrasi tiada henti. Satu kilogram ganja ditangkap polisi. PSSI keok melulu. ATM milik nasabah dibobol. Para selebritis cerai melulu. Terhiburkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung ada Budi (ada Wati, ada Ibu Budi, kata buku teks SD). Juga Rianty sang bidadari di Beauty And Azis. Boleh juga ditambah Opera Van Java dan Sinden Gosip. Sekali lagi, cukup terhiburkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urat syaraf kita nyaris tegang meski belum putus. Tapi bisa putus juga manakala kepenatan sajian berita plus infotainment (ini juga keliru, sebenarnya gossiptainment) ditambahi dengan beban rumah/kantor yang menggunung. Listrik belum bayar. Air PAM macet. Tetangga buang sampah seenaknya. Eh, di kantor ada kawan yang dengki (bikin isu panas bahwa kita "main mata" sama roman kinclong di ruang sebelah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah. Mungkin televisi dan koran-koran ditakdirkan untuk menggerojok ketenangan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa harus disebut takdir? Mana bisa kita menghindar. Coba-coba matikan televisi. Berhenti baca koran. Tak dijamin bebas berita. Diam-diam kawan makan siang ngoceh: eh, itu Pansus Century serius nggak ya, Demokrat terlibat tidak, ya? dan serentetan pertanyaan lain. Kalau anda perempuan, lebih celaka. Pagi-pagi kaum sahibul rumpi berkicau: tega-teganya, ya, Ruhut Sitompul bilang banxxat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas-jelas publikasi TV One, Metro TV, atau Radio El Shinta News and Talk serta Kompas plus detik.com itu tidak disetting untuk membuat tawa terbahak. Mayoritas politik melulu. Awal berita muncul, memang asyik juga. Tapi kalau kelamaan seperti Pansus Bank Century, jadi sepet juga. Persis mengunyah permen karet lebih dari 360 detik (satu jam, Brow! ueneeek).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemirsa televisi, pembaca koran, pendengar radio, juga ditakdirkan untuk sering-sering mengusap dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran melihat tayangan humor, seperti guyonan Tukul, Budi Anduk, dan Azis, kekonyolan bermain-main tanpa batas. Berhambur kata-kata ejekan. Obralan julukan-julukan hina. Jualan perempuan-perempuan seksi. Dan sedikit saja humor cerdas yang sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya harus anti. Tetapi justru bertentangan dengan prinsip humor itu sendiri. Humor, sejatinya, variatif, banyak versi, kaya karakter, dan bertabur kreativitas. Pengulangan nan membosankan, repetisi tiada henti, duplikasi, basi, seperti permen karet 360 detik itu pula. Capek, deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Humor Politik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena langit politik pengap, kita butuh pelepasan. Tokoh jenaka dengan joke cerdas telah tiada (Selamat Jalan Gus Dur, andalah penyelamat nalar sehat kami). Barangkali yang tersisa tinggal teks. Sulit rasanya, jika cuma mengandalkan tampang para elit. Setuju saja sebetulnya, tampang Susno Duadji itu lucu, tapi tidak menghibur. Mencari lelucon segar di balik panggung kuasa hari ini sama sulitnya mencari jarum di setumpuk onggokan jerami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tak berani janji, ke mana harus mencari perlindungan atas kebosanan-kebosanan kita. Baca buku Humor Politik juga nyaris seperti makalah mahasiswa yang dikejar deadline, copy paste sana-sini! Pun situs humor politik, cuma beda alamat isinya nggak jauh-jauh amat. Nah, barangkali bertukar cerita pengalaman pribadi rada sedikit menolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Ini Serius&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang anggota DPR RI dari daerah, berlatar bisnis atau pengusaha, pokoknya urusan jual beli gitu lah... (mungkin juga jual beli perkara, kali, ya). Dalam sesi wawancara, seorang jurnalis bertanya: Pak, apakah Bapak punya alamat e-mail. Tanpa ba-bi-bu, si Anggota menjawab santai. Dulu sih ada... tapi sudah lama saya jual. He..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saking tua, seorang anggota dewan sudah malas naik ke ruang pribadinya di Gedung DPR Nusantara I, lantai tertentu. Lantaran mendesak, ia terpaksa harus ke ruangannya itu. Begitu ke luar dari lift di lantai tujuan, si anggota bertanya ke Satpam: Mas, ruang kerja saya di sebelah mana, ya.... Nah, lho, ruang kerja sendiri saja sudah lupa, apalagi nasib rakyat :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua kisah barusan memang tidak berkaitan langsung dengan saya, alias mengutip cerita kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiga di bawah ini, persis saya alami sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di musim kampanye April tahun yang baru lewat, kebetulan saya mendampingi bos yang bertarung untuk kursi DPR RI. Si Bos, kebetulan berani pede kalau menghadapi khalayak di perdesaan dan pelosok kampung (asumsinya: mereka tidak kritis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, rakyat mengeluh bahwa mereka hingga hari ini tak menikmati aliran listrik. Giliran si Bos berbicara. Dengan yakin beliau bertanya: Sejak Kapan Bapak-Bapak tidak menikmati listrik? Sontak hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sudah jelas dari zaman batu era nenek moyang, mereka tak pernah mengenal listrik, kok, masih ditanya sejak kapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada, ini di tempat lain. Berceramah dengan anak-anak SLTA ---menghadapi kaum belia seperti inipun, bos masih pede, dengan asumsi yang sama, mereka tidak kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Ketua OSIS yang mengeluhkan praktek korupsi di sekolah, dan bertanya apakah kasus seperti ini bisa dibawa ke KPK? Bos, enteng saja menjawab: pasti bisa! Kalian laporkan saja ke KPK di Kabupaten... Hua...ha.. ha.., nanti kaleee, KPK bisa berada di Kabupaten kalau sudah ada lebaran monyet... wakakakakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di gedung DPR juga bertabur cerita nyata nan jenaka ---mudah-mudahan begitu, kalau tidak, aku malu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam forum Rapat Kerja bersama Menteri Kabinet Indonesia Membangun II, pendek istilah Kabinet SBY, seorang anggota DPR bertanya penuh semangat (nggak pake 45).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Menteri, saya bilang ke orang-orang di daerah, bahwa organisasi bantuan bencana di daerah itu akan mendapatkan bantuan dana dari pusat. Saya bilang begitu ke mereka, Pak Menteri, biar mereka semangat. Betul kan, Pak Menteri, memang ada bantuan dana dari Pemerintah Pusat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa ragu, Pak Menteri menjawab: tidak ada tuh... kata siapa? Gerrrrrr.... seluruh hadirin di ruang rapat tertawa. Termasuk saya yang berada di balkon atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kawan-kawan, keep your reason. Jangan hilang akal dengan kejenuhan. Kita tuker-tukeran cerita humor politik, yu. Ditunggu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7752450052736696110?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7752450052736696110/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/aku-berlindung-dari-godaan-politik-yang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7752450052736696110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7752450052736696110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/aku-berlindung-dari-godaan-politik-yang.html' title='Aku Berlindung Dari Godaan Politik Yang Tidak Lucu'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S10jMnuA6sI/AAAAAAAAAO4/swWoPDgmRoY/s72-c/Gus+Dur+Tidur+2.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-3733130170506942161</id><published>2010-01-24T05:03:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:13:21.602-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Sejarah Kami Mencintai Buku... di FKMM Manado</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1xFh7U14TI/AAAAAAAAAOw/LpzGY6Fidkg/s1600-h/Basri+Amien.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1xFh7U14TI/AAAAAAAAAOw/LpzGY6Fidkg/s400/Basri+Amien.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5430291699865084210" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Berani sumpah! Suara paling merdu di FKMM Jalan Kleak Manado adalah milik Maemunah "Nana" Abdullah (semoga Allah selalu memberikan hujan maghfirah dan ampunan). Berani tidak sumpah ---takut dapat murka Wati Razak, eh, atau Rozak--- yang paling tak bisa menyanyi adalah Basri Amien. Ayo bareng-bareng curiga, jangan-jangan anak itu tak ingat sepotong pun bait lagu yang beken di masa itu (era 93-99).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau diajak taruhan sama kawan-kawan yang kini sudah kebanjiran rezeki dari KPU dan DPRD, saya masih berani. Bahwa jelek-jelek Basri itu hapal juga lagu tertentu. Mau tahu? Bung Hatta, dari Album Iwan Fals. Tapi dengan intonasi yang mirip aktivis ber-dekalrasi: hujan... air.... mata... dari... pelosok... negeri... Tunggu dulu, istilah jelek-jelek barusan maksudnya: Basri jelek dalam hal lagu dan sastera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan saja, dari ratusan judul buku yang dia koleksi (dan sering aku curi baca), tak satu eksemplar pun yang berjudul ngepop. Dia tak pernah membeli buku sastra. Belum pernah aku lihat membaca novel. Mungkin saja, jika tak diberitahu Bang Naid (mantan Ketua KPU Maluku Utara, kini DPRD) Basri Amien tak pernah tahu Bahwa idola dia Romo Mangunwijaya juga adalah seorang novelis. Ter..la..lu (dengan gaya ucapan Rhoma Irama).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sssstttt... FKMM bukan cuma Basri Amien yang cerdas. Tapi juga Sofyan Al Hadar yang susah didefinisikan. Kami semua senang menulis, bikin artikel untuk koran-koran, atau menulis puisi seperti cara Mas Puja atawa Nana. Namun Bang Sofyan ---sama Iis Susilawati dipanggil genit: Ooom Sofyan--- rajin menulis bon utang di warung depan. Wallahu 'alam, sekarang sudah diganti atau belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang dua tiga tahunan, FKMM juga ramai oleh rimba aktivis. Maklum saat itu demonstrasi mulai menggeliat. Rombongan kawan-kawan HMI Cabang Manado, PMII Cabang Manado, aktivis SMID, pegiat PRD, mahasiswa tak jelas, dan wartawan, mondar-mandir di jalan kleak. Sampai-sampai, pernah FKMM dikepung petugas kepolisian. Mohon tak tersinggung, benih-benih intelektual dan perlawanan mahasiswa di Manado (terutama yang beragama Islam) tumbuh dan membiak di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembauran&lt;br /&gt;Segala suku di situ, Endi Biaro dari sunda, Yayat Biaro dari Padang (iya, dong, dia kan besar di Padang), Karyanto Martham Jawa Tondano, Said Banteng Kotamobagu, Shanty dari Gorontalo, Dibyo plus Mas Puja dari Jawa, Andi Mappasomba from Makassar, dan Idris Sudin dari Papua (masudnya rambutnya itu yang biasa disebut "kiribo"). Latar akademiknya juga berbeda-beda, ada yang kuliah di IKIP, di Universitas Sam Ratulangi, di STIKOM Manado, tapi perasaan dari IAIN nggak ada tuh! Namun satu hal yang bisa mengikat: kecintaan terhadap membaca, berdiskusi, berdebat, dan sudah tentu berorganisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya, jika dibuat ukuran menang kalah, semua kami bertekuk lutut dihadapan Bang Katamsi Ginano. Mau apa? Soal nulis dia seng ada lawan. Mau debat, siap-siap kena serangan pedes. Tak berbilang lawan dia kipas dalam ajang seminar dan diskusi. Namun abang kita ini agak kabur soal organisasi. Mungkin yang tegas dia pelaku Organisasi Tanpa Bentuk. Namun jangan tanya sekarang ini, level-nya sudah go internasional, pemegang ID Nomber di Newmont Internasional ----punya biaya khusus untuk entertainment pula, duh...!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan orang non FKMM tapi memberi rupa-rupa warna. Bang Reiner Ointoe adalah orang yang pernah membuat saya tersinggung. Tapi juga ada benarnya dan justru membuat kita bersyukur. Sang pemikir yang banyak memberi inspirasi ini pernah menyebut FKMM sebagai organisasi Amal Jariyah. Lha, bukannya bagus, pahalanya terus mengalir (Jariyah adalah artinya terus mengalir). Begitupun dengan sosok Kamajaya Al Katuuk. Dari dia kawan-kawan FKMM tahu pentingnya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada figur lain yang layak sodor, seperti Coen Hussain Pontoh, Taufiek Passiak, Junaedi Hussain, Yayat Biaro, dan Ja'far Al Katiri. Mereka bukan hanya hadir di pelatihan. Mereka sebenarnya yang mampu menggugah daya pikir daya nalar anak-anak FKMM. Setujuuuuuu... (seperti murid kelas lima SD, ya, yang ramai bilang, setujuuuu Bu Guruuuu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu Lucu&lt;br /&gt;Kalau sekarang ada Team Lo, yang bisa memparodikan lagu apa saja, jauh-jauh hari kami di FKMM memiliki seorang laki-laki super lucu dan ciamik main gitar. Daya pesonanya menyedot siapapun, termasuk mereka yang sedang sibuk belajar mengahadapi ujian mid semester. Kalau tak keliru, dialah yang menciptakan Mars FKMM. Beda sedikit dengan Irham Maku, tak lain adalah Syahril Hantono. Nama ini jaminan mutu untuk main gitar dengan lagu-lagu berkelas. Memainkan tembang-tembang KLa Project, memetik Jazz dengan merdu, dan memainkan Iwan Fals dengan menarik. Vokalisnya tentu bukan saya apalagi Basri Amien, melainkan Nana, Shanty, atau Ka Icha Bafagih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu tapi bisa membuat malaikat marah adalah kejadian Hendra Abdul yang solatnya tak lagi khusyu (ini kata dia). Ceritanya, saya dan Basri Amien lagi membaca di kamar. Terus dia sholat ---salah satu muslim FKMM yang rajin Sholat. Karena merasa takut mengganggu, kami ke luar. Eh, lupa menutup pintu. Jadi dia sholat dengan pintu terbuka, lantas dilihat orang lain yang wara-wiri. Jangan-jangan, Ka Hendra duluan jadi Anggota DPRD karena rajin sholatnya itu, ya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucu tapi menyerempet seram juga pernah terjadi. Seorang senior, namanya Masri Mamonto, susah payah bikin skripsi. Harap ingat, zaman itu tak akrab dengan komputer, tetapi tak-tik-tok mesin ketik butut. Kalau dalam satu halaman kertas ada satu hurup salah ketik saja, urusannya jadi ribet. Nah, di saat sang senior puyeng, pikiran bengal saya keluar. Persis, di halaman tengah skripsi yang ia tulis dengan rapi, saya ubah ketikan Nama Machiavelli menjadi Max Poliii (ini nama salah satu dosen di Fisip Unsrat). Wakakakakak. Dia ngamuk dan meronta. Saking ketakutan, saya tak berani mengaku, hingga tulisan ini dibuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh ya tentang fisik orang-orang di sana. Rata-rata berbadan kurus, terima kasih Indomie yang membuat kami berdaging tipis. Kalaupun gemuk, cuma satu orang Khadijah Rozak, atau Ka Ijek. Kakak yang satu ini luar biasa rajin, teliti, sekaligus pemberang. Seingat saya, tak ada yang berani melawan. Diantara tubuh kurus ekstrem dan gemuk tak terkira itu ada juga yang moderat, alias sintal. Seperti Ka Nurhasanah Syahdan, Iis Susilawati, dan Roni Domili.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa ya, yang belum kesebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ho.. ho.. ho.. Rusli Djalil. Ya, ampyuuun... Jika saja Zahra isterinya yang sekarang ini tahu persis detil Ka Ucli waktu di FKMM mungkin akan... (lanjut sendiri, deh!). Zahra yang cantik, pasti kamu dibilang kelilipan atau sakit mata, jika berpacarannya dari dulu. He..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dia hebat. Di kalangan aktivis yang bisa menjadi koresponden media nasional selain Katamsi Ginanano dan Verianto Madjowa, ya Rusli Djalil itu. Nama medianya waktu itu adalah Tabloid Swadesi, terus ke Majalah D&amp;R, Terus Majalah TEMPO, terus... Sekarang beliau Anggota DPRD di Maluku Utara, dan pernah juga menjadi Anggota KPU.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercantik, Tertinggal&lt;br /&gt;Jangan harap cewek-cewek saat itu seperti artis sinetron ABG sekarang ini. Handphone belum dikenal. Mode baju juga nggak penting-penting amat. Belum ramai manicure-pedicure, creambath, facial, atau dandanan dugem nan seksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma jujur saja, saya punya kategori cantik yang universal, bisa dipakai untuk mengukur Angelina Jolie, Angelina Sondakh, atau Angel Lelga... Ukurannya jelas. Cantik itu artinya ukuran mata simetris, hidung proporsional-fungsional, rambut sehat, telinga wajaar, dan bibir sensual. Hayoooo, masa mau dibilang cantik kalau matanya juling? Emang bisa cewek disebut cantik kalau budek? Kalau bisa sih hidungnya bangir, sekaligus fungsional. Begitu aja kok Freeport...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka duhai kawan-kawan perempuan di FKMM, perkenankan hamba menyebut yang tercantik adalah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal sudah jelas, tak bisa diamandemen oleh Sidan Paripurna DPR RI sekalipun, bahwa di FKMM tak ada yang ganteng. Ini lebih adil disebut... soalnya saya sudah pasti tak akan masuk nominasi. Malah, kalau dibuat ranking 10 pria paling ganteng di FKMM, saya tak masuk nominasi. Padahal kontestannya hanya sembilan orang. Wakakakakakak....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpasti&lt;br /&gt;Anehnya di FKMM ada mahluk yang sepertinya sudah tahu persis akan menjadi apa dan harus bagaimana. Sekarang saya sering merenung, doktrin bahwa Pemimpin itu dilahirkan, memang benar adanya. Bung Karno muda ketika di penjara Sukamiskin, Jawa Barat, menulis grafiti di tembok dengan judul, "Di Kamar Ini Nasib Bangsa Aku Tentukan." Konon, si pendek gempal Napoleon Bonaparte sejak kelas enam SD menjawab: "Saya akan menaklukan Eropa" (ketika ditanya oleh Ibu Guru di kelas, tentang cita-citanya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan Mas Pudja Sutamat ingat dan tak membantah. Sewaktu liburan semester awal, kami bingung akan berbuat apa. Dia menyodor ide, mendatangi radio-radio beken di Manado. Kami ditolak dan sempat diejek. Alah, kata si penyiar tua yang saat itu beken tapi otaknya melongpong, pendidikan untuk jadi penyiar radio itu tak perlu! Penyiar tua itu menyindir kami yang sekolah di Jurusan Komunikasi, dan ingin magang jadi penyiar, dengan andalan pendidikan tinggi. Sekalian saja disebut, nama stasiun Radio itu adalah MEMORA FM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Pudja tersinggung banget, tapi mengatakan datar. Endi, mari kita buktikan, omongan orang itu ngaco. Eh, ternyata tak perlu waktu lama. Kami jadi penyiar di Radio yang lebih bergengsi, SMART FM. Terus, setelah beberapa tahun, si penyiar blo'on itu jadi anak buah Mas Pudja. He..he..he..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang prosesnya tak gampangan. Di kamarnya, Mas Pudja sering ngoceh sendiri ---tapi bukan sakaw. Ia belajar keras jadi penyiar, baca berita sendiri, dengan intonasi seperti Max Sophacua (penyiar televisi yang suaranya berat empuk).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Reuni Itu...&lt;br /&gt;Dan reuni itu 99,9 persen tak akan bisa saya hadiri. Saya sedih... Bukan apa-apa, kalau ongkos mah mungkin bisa sabet kanan kiri. Tapi terutama tidak pede dan masalah waktu (sok sibuk! ah, beginilah jadi anak buah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma pesan singkat: tak benar saya pelupa. Yang benar adalah sering tak ingat. Lalu tentang isu besar soal meninggalkan pacar di bioskop, maaf saja, saya butuh klarifikasi. Jawabannya: nggak inget, tuh! Wakakakakakak&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-3733130170506942161?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/3733130170506942161/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/sejarah-kami-mencintai-buku-di-fkmm.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3733130170506942161'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/3733130170506942161'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/sejarah-kami-mencintai-buku-di-fkmm.html' title='Sejarah Kami Mencintai Buku... di FKMM Manado'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1xFh7U14TI/AAAAAAAAAOw/LpzGY6Fidkg/s72-c/Basri+Amien.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5844773867758336598</id><published>2010-01-19T08:47:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:12:59.306-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Ragam Cerita Gara-Gara Facebook!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1Xixcl--BI/AAAAAAAAAOo/5Ulq4XHWld0/s1600-h/gara%2Bgara%2Bfb015.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 275px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1Xixcl--BI/AAAAAAAAAOo/5Ulq4XHWld0/s400/gara%2Bgara%2Bfb015.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5428494264981977106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Peringatan: Facebook bisa menyebabkan kanker (kantong kering karena dipecat kerja, perintah bos terbengkalai, karuan aja didepak!); serangan jantung (kalau isteri iseng ngintip account suami dan melihat pose begitulah...); Impotensi (maksudnya potensi kreatif anda gugur gara-gara kelelahan meladeni situs jejaring sosial ini); tapi jelas tidak akan mengganggu kehamilan dan janin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma, menurut Doktor Joel Gold, seorang psikiater dan asisten profesor di bidang psikiatri dari New York University, facebook bisa mengganggu kejiwaan. Nama penyakitnya keren abis: Delusi Internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhai jangan main copy paste karena alasan praktis. Meski kepepet, sempatkan dulu periksa siapa yang akan anda posting. Jangan salah kirim ucapan Ultah untuk"kawan tapi mesra"yang malah terus nyasar ke isteri. Berabe... Nanti dijadiin proyek Pansus sama tetangga sekitaran. Eh, si Endi tadi malem ribut sama istrinya, lho? Nah, begitu kurang lebih yang akan terjadi di ruang sidang kaum Ibu, sembari belanja sayuran sama sesama Anggota Dewan Perempuan Ribut di kampung...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak. Seorang kawan bertutur kejadian seperti itu. Ceritanya posting selamat ultah sama yang lain, eh, untuk isteri juga mengirim dengan ucapan yang mirip, lupa mengganti kalimat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kealpaan dalam menulis status, bisa juga berurusan dengan skor atau malah vonis hukuman. Dulu, waktu ramai Gozila versus Cicak, juga ada seorang anggota polisi yang memamki-maki publik. Sontak ia mendapat teguran dari korps kepolisian. Juga yang berujung ke pengadilan, dengan delik fitnah dan penghinaan. Di Liga Inggris, seorang pemain sepakbola yunior dari Porstmouth, menulis Semoga kita kalah hari ini (saat itu menjelang laga antara Porstmouth versus Arsenal). Celakanya, dalam pertarungan, ternyata Porstmouth dicukur The Gunner dengan skor telak: 4:0...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain perkara kalau ada unsur kesengajaan. Misalnya biar terkesan status-nya selalu banyak yang menanggapi. Masih cerita dari kawan. Dia sengaja bikin empat sampai lima account dengan nama dan foto berbeda. Fungsinya mengerek gengsi. Jadi, untuk account asli selalu membuat status heboh. Lantas, kalau tak ada respon dari mana-mana, gampang saja. Bikin aja tanggapan dari account lain, yang sejatinya milik dia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa Kejadian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Urusan status dalam facebook ternyata juga jadi lahan buku. Seperti sebuah terbitan Berjudul Gara-Gara Facebook. Sebelum ke situ, simak dulu cerita-cerita ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Buronan Balik ke Sel&lt;br /&gt;Karena kasus penipuan di Mexico, bernama Maxi Sopo, terpaksa kudu balik ke sel-nya di Mexico. Gara-gara kebelet nulis status ke kawan-kawannya. Meski profil ia rahasiakan, tetapi kawan-kawan yang ia kirim kabar tidak. Dia kemudian terlacak via Facebook dan Myspace.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tawuran karena Facebook.&lt;br /&gt;Tak terima pacarnya dimaki-maki lewat facebook, Steven Liang (23), warga Jalan Ploso Timur, mencoba mengklarifikasi ke Paulus dan Lia. Kedua orang itu selalu meneror Rini, pacar Steven, dengan makian dan ancaman melalui account facebooknya. "Karena tak terima, korban minta bertemu dengan orang yang meneror pacarnya," ujar Kasat Rekrim Polres Surabaya Utara, AKP Dolly A Primanto, kepada wartawan di mapolres, Jalan Bubutan, Sabtu (12/12/2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan pun disepakati di Jalan Pirngadi. Namun saat datang ke jalan yang berdekatan dengan Polres Surabaya itu, masing-masing pihak rupanya membawa banyak teman. Steven membawa 3 orang teman, sedangkan Paulus membawa lebih dari 10 orang termasuk adiknya, Tonny Wijaya (23) yang tak lain adalah suami Lia dan Wahyudi Mokoagao (23), warga Jalan Setro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan yang rencananya hendak mengajak damai itu malah berubah menjadi pertengkaran akibat kedua kubu tak mau saling mengalah. Karena kalah jumlah, Steven pun dihajar oleh kubu Paulus. Kepala dan wajah Steven dipukul dengan helm dan mobilnya dilempar dengan batu paving sehingga kacanya pecah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelamar Kerja ditolak&lt;br /&gt;Detiknet pernah mempublish hasil temuan di luar negeri, bahwa 1 dari 10 pelamar ditolak gara-gara facebook. Kenapa? Perusahaan melacak kebenaran curiculum vitae si pelamar, dan melihat facebook yang dimiliki. Wah, isinya ternyata rajin memaki rasis, dan doyan menayang gambar-gambar seronok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pekerja Dipecat&lt;br /&gt;Tadi yang cari kerja, kiini kisah pekerja yang pastinya bakal jadi pelamar (gara-gara dipecat di tempat kerja lama). Kerajinan facebook bisa membuat orang lupa sama tugas. Lebih ruwet kalau fasilitas kantor malah jadi fasilitas seperti warnet, online melulu. Jelas dong, perusahaan sewot. Ujung-ujungnya, ya itu tadi, sayoara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Kriminalisasi&lt;br /&gt;Tak perlu detil. Meski tak sedikit delik kriminal gara-gara Facebook ini. Pembunuhan, kekerasan seksual, perampokan dan sejenisnya, seolah jadi efek samping. Sudah tentu, sebisa mungkin kita hindari. Jelas sudah, teknologi memang selalu menjadi pedang bermata dua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Gangguan Jiwa&lt;br /&gt;Sebuah riset mengingatkan penyakit Delusi Internet. Kurang lebihnya, perasaan was-was bahwa ruang privasi kita akan tersebar via perangkat komunikasi di internet, seperti facebook, twiter, youtube dan sejenisnya. Lebih-lebih bagi anda yang masuk jajaran elit sosial dan ekonomi tinggi. Pasti banyak yang iseng ingin mengganggu. Tapi, tentu jangan sampai berlebihan dan mengganggu stabilitas psikologis anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Buku Gara-Gara Facebook&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, ada juga buku yang menuang berbagai kisah seru gara-gara facebook. Buku suntingan dari M. Solahudin, terbitan Leutika Publishing, November 2009 ini lumayan lengkap. Mulai dari cerita gembong narkoba yang ditangkap ---gara-gara keranjingan facebook. Beragam kisah lain juga tertuang.&lt;br /&gt;Dari kehidupan pribadi, sosial, hukum sampai dengan politik. Semua dirangkum secara rapi oleh pihak penerbit. Buku yang bercover biru dan bergambar seorang anak balita mengenakan ikat kepala hitam ini merupakan buku pertama yang dicetak mengenai kisah-kisah para pengguna Facebook. Selamat membaca!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5844773867758336598?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5844773867758336598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/ragam-cerita-gara-gara-facebook.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5844773867758336598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5844773867758336598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/ragam-cerita-gara-gara-facebook.html' title='Ragam Cerita Gara-Gara Facebook!'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1Xixcl--BI/AAAAAAAAAOo/5Ulq4XHWld0/s72-c/gara%2Bgara%2Bfb015.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-7710725368788893277</id><published>2010-01-15T03:50:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:12:42.667-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Catatan Media'/><title type='text'>Televisi, Kekerasan dan Perempuan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1BXOjNFb2I/AAAAAAAAAOA/I89utu6p5p4/s1600-h/Buku.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 257px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1BXOjNFb2I/AAAAAAAAAOA/I89utu6p5p4/s400/Buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5426933458461355874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Every three minutes, a woman is beaten. Every five minutes a woman is raped. Every ten minutes a litlle girl is molested.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-7710725368788893277?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/7710725368788893277/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/blog-post.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7710725368788893277'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/7710725368788893277'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/blog-post.html' title='Televisi, Kekerasan dan Perempuan'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1BXOjNFb2I/AAAAAAAAAOA/I89utu6p5p4/s72-c/Buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-5991756452607434905</id><published>2010-01-08T02:08:00.000-08:00</published><updated>2010-01-08T02:38:01.167-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Refleksi Diri'/><title type='text'>Sahabat Mengharu Biru</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S0cK-YFdWvI/AAAAAAAAAN4/2frV1SconFg/s1600-h/Foto+Dwi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S0cK-YFdWvI/AAAAAAAAAN4/2frV1SconFg/s400/Foto+Dwi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5424316342924565234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tuhan pasti sutradara Maha Agung. Tak secuilpun Martin Scorsese, Steven Spielberg, atau Francis Ford Coppola bisa disandingkan denganNYA. Daftar nama-nama beken di industri sinematografi Holywood itu hanya mampu memuaskan libido imajinasi liar kita. Bahkan tak sedikit, sutradara kelas dunia (bukan dunia akhirat), malahan menjejalkan kekerasan berfikir, menindas akal sehat. Pun, untuk mereka yang mampu mengguncang pasar per-film-an internasional, seperti Roland Emmerich, sang director film 2012!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siasat Allah ---demikian aku pernah membaca artikel disebuah buku--- pelik nan tak terduga. Namun penuh tetes hikmah yang menyegarkan. Bisa saja, sesuatu yang direncanakan Allah adalah meremukkan daya tahan kesabaran kita, tetapi di lain waktu, justru berbuah dengan rupa-rupa kebaikan. Atau kebalikannya. Sesuatu terasa manis di awal tetapi kecut di penghujung. Hanya satu-satunya kesadaran yang mesti terpatri: apapun rencana dan takdirnya, secara sejati, adalah baik. Lagi-lagi, urusannya adalah soal kemampuan kita menerimanya dengan ridho dan ikhlas. Paling tidak, jika belum mampu menggapai kelas ridho dan ikhlas itu, kita bisa sedikit bersabar (menahan diri untuk tidak meratapi dan mengutuki nasib).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paparan ini agak klise. Tetapi perlu, guna sedikit menjelaskan perjalanan sejumlah kawan-kawan yang saat ini aku kagumi dengan takzim. Mereka tak melulu sukses dari sisi sempit (berlimpah uang, misalnya). Tetapi justru karena menggapai apa yang menjadi keinginan banyak orang. Kriteria banyak orang itu, adalah salah satunya adalah aku (sebagaimana orang kebanyakan yang hanya bisa berimajinasi dalam tidur atau terjaga).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup petikan dua contoh saja. Satu teman ada di Manado, perempuan, cantik, sukses, pintar, baik hati, dan pernah bersama-sama melakoni proses sebagai aktivis mahasiswa. Sementara satu yang lainnya adalah kawan sekampung ---kini tinggal di Jakarta, ia juga sukses dalam banyak ukuran. Adalah satu pembeda dari dua orang kawan bahagia itu, yang di Manado hingga hari ini masih lajang. Sementara kawan dari kampung sudah menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membuat aku bangga dengan sebenar-benarnya, si kawan kampung itu punya isteri yang Subhanallah... cantik, dan kesan aku sepertinya orangnya juga baik. Insya Allah akhlaknya juga begitu. Agak cukup menggambarkan salah satu doa ketika Ummat Muslim akan bercermin: Ya Allah, baguskanlah akhlak aku sebagaimana engkau membaguskan wajahku!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balik ke latar kedua kawan ini ketika "masih belum" ada apa-apanya. Soal pintar, sudah pasti. Si kawan kampung memang tak pernah satu bangku sekolahan. Tetapi kawan-kawan dia di sekolah, adalah teman akrab aku. Mereka kerap bercerita. Salah satu yang selalu mereka sebut: hanya dua orang di kelas yang selalu bergantian berebut ranking, yang satu adalah perempuan, satunya lagi ya kawan aku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kawan yang dari Manado, jelas banget. Bahasa Inggrisnya perfect. Di HMI dia adalah KOHATI primadona. Cerdas, berani, kritis, dan mau saja ikut demo. Oh, iya, ada yang lupa. Kedua orang kawan itu (yang di kampung dan yang di Manado, adalah sama-sama orang HMI tulen, bukan sekedar ikut-ikutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua orang itu, saat ini bisa berinteraksi hanya melalui dunia maya. Mereka pasti sibuk dengan dunianya sendiri. Biarlah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tahulah, perincian detil kehidupan orang. Itu tak penting. Sebab pokok utama adalah dalam hidup kita bisa belajar dari petikan riwayat orang lain. Agar kita tak mati dalam pesimisme dan tak tumbang oleh kesombongan. Insya Allah...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5991389515501862059-5991756452607434905?l=endibiaro.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://endibiaro.blogspot.com/feeds/5991756452607434905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/sahabat-mengharu-biru.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5991756452607434905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5991389515501862059/posts/default/5991756452607434905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://endibiaro.blogspot.com/2010/01/sahabat-mengharu-biru.html' title='Sahabat Mengharu Biru'/><author><name>Buku dan Renunganku...</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15117190922345687552</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S1C-EFL28GI/AAAAAAAAAOI/KxyC3nPt9yo/S220/6819_1169936250034_1276802134_30606253_4885522_n.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/S0cK-YFdWvI/AAAAAAAAAN4/2frV1SconFg/s72-c/Foto+Dwi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5991389515501862059.post-1072641387853753698</id><published>2009-12-31T01:29:00.000-08:00</published><updated>2010-08-29T02:12:18.299-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><title type='text'>Para Penulis Buku Yang Mengubur Riwayatku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/SzxvVatmI7I/AAAAAAAAANw/RhdO6MtKSxI/s1600-h/Gurita+Cikeas+1.jpeg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 164px; height: 225px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_49Xm4QhtFY8/SzxvVatmI7I/AAAAAAAAANw/RhdO6MtKSxI/s400/Gurita+Cikeas+1.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5421330465185735602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;DULU&lt;/span&gt; sekali, saya pernah punya bayangan naif, bahwa para penulis tenar adalah orang-orang bijak bestari, jujur nan menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama di zaman ketika menulis dengan kritis, dengan berani, dengan gagah, adalah pilihan menakutkan. Lantaran akan segera berhadapan dengan rezim bengis (yang lantak persis di huru-hara Mei 1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu nasib menggiring ke Jakarta. Berkenalan, bersentuhan langsung, berdiskusi, dan menyimak tingkah polah para selebritis di bidang kepenulisan. Terbukalah semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penulis yang rajin menggembar-gemborkan toleransi dan tenggang rasa antar sesama ummat beragama. Namun justru ketika si penulis menghadiri buka puasa bersama di Bulan Ramadhan, tanpa tedeng aling-aling merokok di antara hadirin yang sedang menunggu beduk buka puasa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga penulis lain yang galak menyuarakan hak-hak azasi manusia, tetapi tangannya kegatelan, sering menjawil tubuh perempuan seksi, pun di depan umum. Hingga ada yang menceritakan bahwa manusia penulis itu pernah digaplok pramugari karena jemarinya yang jahil...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada contoh lanjutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya penulis muda yang teori-teorinya menggugah perlawanan para demonstran, tetapi terhadap bawahan dan kawan-kawan di sekelilingnya sangat pelit dan tegaan. Saya sering sesak dada membayangkan orang-orang seperti ini justru tambah melenggang mulus di panggung politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai, terutama ten
