Sabtu, Juli 25, 2009

Bahkan Sampah Masih Berguna

Diam-diam, sensitivitas ego menguat untuk mengatakan: aku telah membuang-buang waktu hampir 20-an tahun....

Bagaikan truk reyot menggelontorkan sampah di TPA Bantar gebang. Rutin, saban hari. Gundukan potongan besi bekas, berbaur dengan tripleks hancur dan robekan kertas, tergolong sampah bersih. Coba kalau kotoran rumah tangga, sisa makanan di restoran, atau rupa-rupa buangan basah lainnya. Dirubung lalat menjijikan dengan bau menyesakkan nafas!

Tapi Jakarta akan pontang panting ruwet blingsatan jika kendaraan-kendaraan jelek itu berhenti beroperasi, barang satu minggu. Pasti sumpah serapah warga kota berhamburan. Jadi begitulah setiap alat punya fungsi. Termasuk kendaraan pengangkut sampah itu. Kalau di runtut-runut, sampah-nya sekalipun bisa menjadi multi guna. Coba saja tanya pada ratusan atau mungkin ribuan manusia yang hidup dan menggantungkan nafkah di Bantar Gebang? Secara politik sekalipun, nyatanya lapangan sampah bisa menjadi simbol khusus. Inilah mungkin yang ingin diangkat oleh Tim Sukses pasangan Megawati Prabowo dalam Deklarasi Pilpers lalu.

Dalam diri kita ada fungsi-fungsi seperti alat pembuang sampah. Satu hari saja, tak perlu lama, tiba-tiba alat pencernaan dan saluran pembuangan dalam tubuh tak berfungsi, pasti mulas tak terperi. Barusan hanya menjangkau makna paling fisik dari salah satu organ tubuh yang mengeluarkan sampah. Sebab ada juga organ lain yang ---sadar atau tidak--- kerap mengeluarkan "perkara" sekelas sampah.

Lisan kita sering mengeluarkan ucapan kotor. Pikiran juga begitu, kalut dengan gagasan sekelas kotoran. Gawatnya, ternyata ada mekanisme mengeluarkan dan menerima. Tak jarang telinga kita juga menyerap suara-suara "menjijikan". Para medis, pemerhati anak, pakar gizi, malah tak kurang-kurang rajin mengingatkan bahwa asupan makanan yang kita konsumsi, seringkali berkualitas buruk (hanya pantas untuk dibuang, tidak untuk ditelan).

Perilaku Sampah
Agak jarang memang kita mengukur teliti berapa kubik perilaku sampah kita hasilkan per hari. Tak perlu menelisik sampai ke langkah detil, misalnya tangan yang menuding, lidah yang menipu, pikiran hasud, dan kelakuan jelek lainnya. Cukup dengan hitungan-hitungan sepele. Dengan memelihara kemalasan, itu juga lelaku tak bersih! Bukankah begitu banyak urusan yang jauh lebih berharga daripada sekedar berpeluk lutut?

Lebih celaka lagi adalah kebiasaan kita mengolah sesuatu yang berguna menjadi sampah tak berharga. Seperti telah menjadi hak yang sama untuk semua orang di kolong langit, masalah waktu. Ini berharga betul. Tapi kita adalah pemain yang paling super bagus menendang waktu jauh ke ujung langit. Sebenarnya tudingan ini paling pantas tertuju pada dirik sendiri. Dan memang, ya.

Dua Puluh Tahun
Benar-benar di luar perkiraan akal sehat. Aku, manusia terdidik. Mengecap perguruan tinggi, bisa baca tulis, pernah mengaji di pesantren, tahu praktek sholat dan membaca Al Qur'an, sempat mengenal orang-orang baik, ternyata menyia-nyiakan waktu begitu lama. Sangat keterlaluan. Tidak produktif. Miskin ---hampa--- prestasi. Tak bisa berdiri tegak, karena leher tertekuk malu.

Hanya Allah yang mengetahui, untuk apa semua ini berlangsung. Tak ingin berpanjang angan, seraya genit kutip ayat-ayat motivasi kanan kiri, yang hanya bisa disimpul dalam kalimat "masih ada kesempatan". Sudahlah. Urusan itu mungkin benar, mungkin pula keliru. Meski begitu, denyut hati selalu kutabuh: Ya Allah, aku ikhlas atas seluruhnya, jika itu membawa diriku sujud tersuruk di ke-AgunganMU..... Amien.

Kamis, Juli 23, 2009

Bulan Syaban, Jelang Ramadhan....

Perkara-perkara sepele adalah jerat nan mengasyikan. Mungkin di mata kita remeh-temeh, tetapi bila sudah mendarah daging, pelan tapi pasti mewujud sebagai kebutuhan. Jangan sepelekan pernak-pernik kecil dalam aktivitas kita. Positif atau negatif, mesti berada dalam kesadaran diri, agar tahu persis untung dan buntung-nya.

Kawan-kawan di kampung, ada yang hobi mati dengan berjudi. Memang kecil-kecilan. Bertaruh uang recehan. Tetapi bukan perkara duitnya, melainkan dampak. Menguras waktu ---sering begadang hingga pagi. Mengganggu tetangga, lantaran banyak yang tak suka perilaku maksiat itu di lakukan di lingkungan (terutama para Ustadz), sampai tidak produktifnya hidup lantaran hobi berjudi.

Ada beratur aktivitas yang sering kita bungkus dengan ujaran ringan: iseng doang! Nah, ini dia. Iseng sebagai penyela kesibukan mungkin bisa dimaklumi. Tapi kalau iseng yang harus selalu dipenuhi, maka perkara itu sudah masuk wilayah "kebutuhan". Lama-lama menjadi tabiat, mewujud sebagai trade mark kita. Lebih celaka kalau kemudian melambangkan ikon dan identitas kita. Syukur-syukur kalau bagus. Jika jelek dan hina, tentu membuat diri kita terpuruk.

Saya sering dengar orang-orang sukses (terutama para pedagang dan pengusaha), yang merintis bisnis dari keisengan dan hobi. Begitu juga para kolektor dan penggiat komunitas hobi. Beragam profesi juga mungkin bermula dari keisengan. Tapi agak kurang akrab di telinga kita jika tangga kesuksesan di berbagai bidang semata berpijak pada keisengan. Mungkin tahapan berikutnya adalah ketekunan, dedikasi, disiplin, dan profesionalitas.

Ini juga paralel dengan keisengan yang tidak produktif bahkan menghinakan manusia. Ya, seperti judi tadi. Atau iseng mencicipi narkoba. Iseng mengutil barang di Toserba (kleptomania). Iseng curhat dan berakhir pada perselingkuhan. Iseng menelepon kantor pemerintah dan mengancam meledakan bom (berurusan dengan pasukan Gegana Polda), atau masih banyak lagi.

Kesadaran untuk menimbang dan membuat perhitungan detail atas "siasat" membunuh waktu luang itu, hari ini hadir dalam diriku. Tak lain adalah merancang hal-hal mengasyikan, tidak ribet, tak menguras kantong, tapi produktif ---jauh dari maksiat. Rencananya, praktek keisengan positif itu kulaksanakan secara tekun di Ramadhan nanti. Insya Allah, bulan puasa depan saya akan rajin mengisengi buku-buku di perpustakaan umum, atau buku-buku punya teman (yang di rumah juga pasti dibogkar-bongkar lagi).

Konsisten Baca
Aku pernah (dan sering) terjangit nafsu membaca gila-gilaan. Waktu kuliah, pernah sampai membuat kawan-kawan kebingungan, selama dua hari satu malam nggak tidur, baca terus. Kalau tak salah, waktu itu lagi sakit hati sama kawan aktivis (paling pintar di Fakultas Ekonomi), katanya analisis aku tentan ekonomi kerakyatan ngawur! Sontak aku pinjam buku-buku dia.

Tapi juga terdapat masa, ketika membaca adalah sesuatu yang memuakkan. Berhenti total membaca, kecuali baca koran, dalam kurun dua tahunan. Ini juga disebabkan pihak luar. Aku merasa benci dengan perilaku beberapa orang pintar yang aku idolakan. Tetapi ternyata akhlak mereka berbalik punggung dengan ide-ide dan tulisan mereka di buku-buku yang dicetak. Mereka adalah tokoh-tokoh intelektual level nasional. Aku marah. Semarah-marahnya.

Dari membaca pula, aku pernah melambung dan membuat satu dua prestasi. Di sisi yang sebaliknya, kegiatan memelototi buku itu juga yang sering membuat aku celaka. Menjadi orang yang obsesif, agresif, tak mau kompromi, kurang toleran, anggap remeh hal-hal teknis, dan akhirnya aku terjerembab dalam siklus ketertinggalan (jauh di belakang orang lain).

Memang, kalau diukur-ukur, selama ini hobi membaca itu lebih banyak merugikan aku. Belum menguntungkan, dari sisi materi, karir, prestasi atau apapun.

Namun belakangan menyembul sensasi ringan. Biarlah "adat baca pustaka" itu kupeluk baik-baik. Siapa tahu Allah punya skenario bagus di kemudian hari. Sedikitnya, dari kegiatan membaca, aku mencintai segala yang bernuansa Islam. Mulai dari Quran, Hadis, Tausyiah ulama, dan banyak lagi. Intensitas membaca Al Quran juga lebih tinggi. Dan lahir itikad kuat untuk berjuang memperbaiki ibadah, sebagaimana nasehat para alim ulama yang sering aku baca (di buku, koran, internet). Jadi, mau untung mau rugi, deklarasi hari ini adalah singkat: terus membaca....

Gratis Biaya
Banyak faktor pula yang memudahkan. Betapa gampang mencari bacaan bagus. Entah di perpustakaan, di Google Book, punya teman, atau di mana saja. Selalu saja ketemu buku bermutu. Ini menguntungkan dari sisi ekonomi. Terutama betapa keuangan aku hari ini tumbang dan tebas tak berdaya. Barangkali karena minat aku yang luas, jadi tak terpatok pada tema buku tertentu. Terima kasih, ya Allah, engkau memberikan aku hobi yang murah dan mudah.

Bulan Ramadhan depan, sudah tersusun segepok rencana. Inginnya membuat listing buku-buku gratisan yang akan dibaca sebagai pengisi waktu. Insya Allah, semuanya akan bernuansa Islam ---agar menyegarkan kehausan batin dan nurani.

Dengan sendirinya tak perlu ke toko buku. Ke sana paling cuma meneteskan air liur dan menipiskan tulang dada ---lantaran sering diusap!

Nah, betapapun, persiapan harus aku desak sekarang. Semua buku-buku yang kuminati (kecuali novel, karena cukup satu kali baca, selesai), harus diskiming terlebih dahulu. Biar nanti tinggal melakukan pengulangan terhadap tema-tema yang bagus. Langkah berikut, aku akan menghapal beberapa surat al Quran, hingga mendorong aku membaca tafsirnya. Juga yang tak kalah penting adalah menjaga konsistensi, agar nafsu membaca tak menguap tergiring angin.

Ya Allah, jadikan Ramadhan-ku sebagai jalan menuju ampunanMU. Amien....

Rabu, Juli 22, 2009

Film Yang Mengganggu Tahajud-ku Tadi Malam

Rosihan Anwar tak bisa mengetik dengan menggunakan komputer. Bukan ia bodoh, ini masalah bioritme ---yang melahirkan kebiasaan dalam proses kreatif. Saya dengar pula, Dawam Rahardjo (ekonom) dan Taufieq Abdullah (sejarawan), punya tradisi yang sama. Jadi, mereka itu kalau membuat artikel tulisan, selalu menggunakan mesin ketik. Tak, tok, tak, tok!!!

Bioritme mengikat rasa, jiwa, dan raga. Percayalah, dalam melalukan aktivitas yang rutin, selalu hadir hal-hal fisik yang menyertai. Dan itu sulit tergantikan oleh apapun. Pun begitu dengan "upaya" aku untuk menciptakan bioritme dalam tahajud ---maksudnya pembiasaan.

Meski masih centang perenang, jauh dari rutin dan berkualitas, itikad membiasakan sholat malam selalu aku kobarkan. Lebih-lebih disaat kondisi terpuruk seperti sekarang ini.
Mencatat di Buku Kuno
Ternyata seringkali setelah melakukan Qiyamul Lail, aku menggoreskan catatan kecil di sebuah buku diary. Uniknya, buku itu kuperoleh di WALHI (Wahana Lingkungan Hidup), di sekitar Tahun 2000-an lampau. Terbuat dari kertas daur ulang. Berwarna seperti daun kering. Dan tebalnya minta ampun, per lembar bisa 3 kali lebih tebal dari permukaan kertas HVS. Kalau ditulis dengan pena, terdengar bunyi sret, sret....

Nah, inilah yang mengasyikan. Rasanya hati berbuncah gembira. Bukan hanya telah mampu memunajatkan doa di keheningan malam. Tetapi mencatat momen-momen yang terjadi pas di malam itu. Ada catatan ketika malam takbiran. Malam tahun baru. Malam ketika diterima kerja. Dan lain-lain lagi ----dengan banyak kisah dan variasi. Namun yang dominan seperti karma yang terus kutelan: perkara kegagalan dan kegetiran hidup.

Sedikit dari catatan perjalanan diri itu juga disertai dengan kutipan Al Quran atau Hadis, yang tampakya juga sepadan dengan kondisi yang aku alami ketika menggoretkan pena di lembar kertas. Misalnya, ketika sedang sedih, mengutip ayat-ayat yang memotivasi diri. Aku sangat mencintai buku itu. Mudah-mudahan tak akan hilang dan tak pernah rusak. Biarlah menjadi dokumen tertulis atas perjalanan kisah pribadi.

Sholat Berkualitas
Tentu saja rekaman "pembiasaan" sholat tengah malam itu tak semuanya berkualitas. Kadang terasa menyejukkan. Di saat lain terkesan banal (tidak ada rasa sama sekali). Ini, misalnya kualami tadi malam.

Kebetulan tadi malam, karena tuntutan pekerjaan, aku harus menginap di rumah teman. Seusai mengerjakan tugas, aku iseng-iseng membaca buku ke-Islam-an. Karena lelah, malah tertidur. Tak lama bangun. Sialnya, justru saat itu kawan mengajak nonton DVD. Duh, iman ini ternyata lemah. Adegan-adegan di film menggoda nian, dengan menghadirkan tiga orang perempuan cantik dan seksi. Astaga, begitu usai, jam ternyata menunjukkan pukul 03.30. Bergegas mengambil wudhlu. Lantas segera sholat. Hasilnya.... itulah kemaksiatan. Setan selalu membisikan adegan-adegan di film. Sholat tahajudku menjadi jauh dari khusyu. Sedih... Mudah-mudahan Allah memaklumi kelemahan iman ini.

Selasa, Juli 21, 2009

Tafsir Al Misbah, Melegakan... Melegakan...

Tak mungkin kegelapan total terjadi dalam diri kita, sekiranya akal dan kalbu mau meraba-raba wilayah yang menyediakan cahaya. Boleh jadi hari ini saya dan anda berada dalam kejengkelan luar biasa. Marah, geram... atas sesuatu yang menerpa diri sendiri ---atau terhadap pihak lain. Saya yakin, jutaan kepala di tanah air marah luar biasa atas perilaku dzholim, meledakkan bom di Hotel JW Marriot, Jakarta, beberapa hari lalu. Dalam bahasa logoteraphy, kepedihan itu tersimbolisasikan dalam kegelapan. Tetapi bukan berarti harus total, bukan?

Kecuali memang hati sudah mati. Tak ada nur (cahaya) yang bisa menyinari. Gulita atau tersaput pekat oleh hawa nafsu, amarah, gerutu.... Mudah-mudahan, telikungan beban hidup tidak menggiring pada sikap atau penyikapan seperti itu.

Saya berbicara terhadap diri sendiri. Di balik gundah didera kecemasan atas ketidakpastian nasib ----setelah berhenti bekerja, menyembul percikan-percikan cahaya. Sungguh membantu untuk menyelamatkan keruwetan pikiran dan qalbu yang galau. Alhamdulillah, ada saja seulur tali penyelamat, agar saya tidak terkubang dalam liang lahat kematian hati dan semangat! Kondisi boleh payah, tapi tak boleh kalah. Lagipula, sejatinya ini adalah ujian semata dari Allah.


Mainan Anak
Dulu, atau tepatnya beberapa waktu lalu, aku acuh tak acuh terhadap mainan anak-anakku. Cukup membawa mereka ke toko mainan, Mal, atau di mana saja, yang mereka mau. Setelah membeli, selesai. Tak pusing. Mau rusak atau apa. Kini berbalik. Rasanya asyik masuk ke gudang. Berbagai peralatan rupanya lengkap ---koleksi mertua, mantan montir. Juga sangat banyak barang-barang bekas, besi tua, baut, kaleng, pipa plastik, lem, kertas. Pokoknya macam-macam. Tak nyana asyik juga. Selama nganggur, hampir tiap hari aku menemani anak-anak bermain. Menciptakan mainan kreatif buat mereka. Kebetulan, sewaktu kecil, aku memang kreatif menciptakan berbagai mainan sederhana, untuk kupakai sendiri.
Membaca Buku
Ini juga hobi lama, tapi terus berlanjut. Hanya sempat terhenti, ketika aku pernah merasakan kebencian luar biasa terhadap buku, yang berlangsung sekitar lima tahunan. Ini juga tak susah-susah amat, lantaran semuanya tersedia. Aku masih menyisakan banyak koleksi buku. Begitupun punya Bang Yayat. Terus, ke perpustakaan daerah juga tak terlalu jauh. Ringan melenggang hobi ini kubangkitkan lagi.

Tafsir Al Misbah
Kemudian, aku bersua dengan yang sangat kuidam-idamkan. Membaca buku-buku Tafsir Al Quran, yang serius, tajam, otoritatif, dari ulama yang mumpuni. Dari sekian banyak bacaan yang aku konsumsi, kebanyakan memang didominasi buku-buku keIslaman. Terutama yang berkaitan dengan Al Quran. Sengaja dilakukan, agar membangkitkan motivasi aku untuk memperkuat ibadah ---serta membersihkan jiwa dari keguncangan yang mendera tak henti-henti.

Tafsir Al Misbah sungguh banyak di petik dari berbagai literatur. Lantaran penulisnya memang tak diragukan dedikasi dan kredibilitasnya dalam mengupas tema-tema Al Quran. Jika jalan-jalan ke toko buku, koleksi tafsir ini juga kerap kulirik. Tapi tak mungkin kumiliki, karena kalau dijual per-set, harganya jutaan.

Tapi ini memang di luar dugaan. Adalah rumah kawan yang sering aku kunjungi ----terutama untuk membaca koleksi bukunya, baca di tempat, tidak dibawa pulang ke rumah. Hampir semua koleksinya sudah aku baca. Rasanya bosan juga. Tapi, entah kenapa, ada koleksi dia yang rupanya di simpan di tempat khusus, tak pernah aku jangkau. Saat iseng mencari buku, ketemulah buku itu. Jadi, senang tak kepalang. Kini, untuk surat-surat tertentu yang aku sukai, sudah kubaca tafsirnya. Terima kasih kawan. Terima kasih, ya Allah.

Rabu, Juli 15, 2009

Chicken Soup For Dreamer

Dear …

I write this because I could not say it directly to you… remember when you asked me to read your blog and fiding my name there ?
I have read it and I cry …it’s so beautiful especially your pray … I want to thank you for all the feelings, the love, the words and everything that you’ve dedicated in writing that article for me …

I am not as good as you depicted, nor that kind, I have flaws… but I am so relieved and thanking God, that in this planet earth, someone is falling for me soo deep …
Did I ever mentioned to you that …some years ago I have written you a letter, about how I adores you, about how is my feelings for you…but I could never gave those letter to you, am so afraid and ashamed, never got the courage to give it to you, to have you read it.
See? I am also a coward. We could never change the history, but I just want to tell you that the feelings will remained here. You will always have a place in my heart that no one could ever replaced.
Thank you so much…
I love you too …

~p~
15jul09

Minggu, Juli 12, 2009

Resensi Buku Ibnul Qayyim Yang Menggugah....

Buku dari Ibnu Qayim Al Jauziyah, tentang fadhillah berdzikir, merampas perhatianku. Di sebuah tempat di Leces, Probolinggo, saat musim kampanye, risalah itu kutemukan di tempat bacaan umum ---milik seorang kawan. Isinya lumayan bagus, dan banyak hal-hal baru kutemukan. Sekitar seratusan dalil tertuang, mengenai seluk-beluk (dan manfaat) berdzikir.

Dari sekian banyak itu, satu yang selalu kuingat-ingat hingga saat ini. Bukan apa-apa, keterangan yang diberikan tergolong luar biasa. Belum pernah aku dengar, baca, atau temukan di tempat lain. Sayangnya, aku lupa, apakah tulisan Ibnu Qayim itu bersumber dari hadis, atsar, atau kisah sufistik.

Pesan yang disampaikan sesungguhnya bertema umum: keteguhan dan kesabaran ---tanpa pamrih. Teladan yang dijadikan anutan adalah Baginda Nabi Muhammad SAW. Orang pasti sepakat: beliau tak ada banding dalam perkara kesabaran. Jutaan ummat patut berpaling, seraya memetik hikmah atas pelajaran yang telah disampaikan nabi. Terutama di saat-saat penuh goncangan dan tantangan seperti sekarang ini.

Saya tak berpanjang debat tentang suri tauladan Nabi, itu adalah urusan yang sudah diterima sepenuhnya (taken for granted). Melainkan membincang berbagai predikat yang tersemat kepada beliau, yang disampaikan oleh para ulama ---dari dulu hingga kini.

Ada satu kekhawatiran menyembul: jangan-jangan ada sejumlah cerita yang dikemas bombas, hiperbolik, dan akhirnya kehilangan nilai kebenaran. Barangkali tak ada niatan apapun dari si pengarang, ketika menulis riwayat yang “berlebihan” tentang Nabi. Maklumlah, kecintaan luar biasa terhadap Sang Nabi adalah sebentuk kemuliaan juga. Jutaan Ummat mungkin berada dalam posisi ini.

Namun, sekali lagi, harus ada unsur kebenaran di dalamnya. Kalaupun terjadi penambahan kisah dan pengangungan yang sifatnya pujian, maka harus memberikan keterangan penjelas, bahwa ini adalah kreativitas dari si penulis, atau si periwayat. Agar kita bisa mahfum, dan mampu membedakan mana yang bernuansa argumentasi, dan mana yang mengarah pada puisi. Pencampuradukan hanya akan membuat pikiran limbung. Sekaligus juga menambah beban ummat. Lantaran tak sedikit upaya rekayasa atas hadis, atsar, fatwa, ijma, dan berbagai dalil dalam ajaran Islam.

Pengemis Yahudi

Pokok soal yang ingin saya angkat: tentang pengemis Yahudi yang buruk rupa sekaligus bejat akhlak. Si pengemis, dalam tausiyah yang dipetik oleh Ibnu Qoyim, setiap hari tanpa lelah memaki-maki nabi. Omongannya teramat kasar, menyakitkan, pedas dan panas. Tak sedikit sahabat marah, ingin menghabisi riwayat si pengemis. Lebih-lebih, obyek hinaan utama si pengemis adalah seorang mulia yang teramat dihormati.

Bagaimana reaksi Nabi?

Di sinilah, rasionalitas dan emosionalitas kita terlihat kerdil. Kebanyakan kita, tatkala menghadapi cercaan dan hinaan ---terlebih oleh orang yang derajatnya di bawah kita---- pasti murka luar biasa. Bukan hanya membalas, tapi pasti membuat reaksi yang sekuat-kuatnya. Bara dendam kesumat, kemarahan, dan kebengisan, adalah sesuatu yang biasa terjadi sebagai respon atas hinaan terhadap diri kita ----yang dilakukan tiap hari.

Nabi, justru sebaliknya. Ia tanpa pamrih dan rutin malah menyambangi si pengemis Yahudi, setiap hari. Sembari mendatangi, beliau tak pernah lupa memberi makanan, langsung diantar sendiri, ---dan ini luar biasanya---- menyuapi si Yahudi sialan itu.

Saya tergetar dengan cerita ini. Lantaran ada keterangan lanjutan. Bahwa, dalam rutinitasnya menyuapi pengemis buruk tabiat itu, nabi tak pernah mengatakan bahwa ia adalah orang yang selalu dimaki-dihujat-dihinakan.

Tak pernah ada upaya baginda untuk membujuk, mencoba meredakan kebiasaan memaki nabi dari mulut kurang ajar sang pengemis. Sebagai manusia agung, mudah saja ia melakukan itu. Tetapi tidak....

Tiap hari, hingga beliau wafat, tak sepotong kalimatpun terlontar dari mulut Nabi Muhammad ----yang menjelaskan siapa dirinya, atau menegur agar si pengemis menghentikan aksinya.

Ini adalah sebentuk kesabaran yang tiada tertandingi. Manusia mulia, penuh kekuatan, dihormati, dicintai, membiarkan manusia buruk derajat memaki-makinya setiap hari. Bukan semata membiarkan, malah memberi makan sambil menyuapi, juga saban waktu! Tak ada upaya memaksa, membalas, membujuk, atas perbuatan tercela dari manusia celaka! Pantas saja, bila ukurannya adalah logika dan emosionalitas kita, semua itu tergolong mustahil!

Cerita Israiliyat

Saking dramatisnya cerita ini, saya seringkali terguncang. Jujur, iman seperti limbung, penasaran oleh kebenaran kisah itu. Entah kenapa, dulu, ketika membaca, saya tak memperhatikan detil dari isi buku itu. Apakah kisah pengemis itu hanya petikan kisah sufistik ----yang memang terkadang imajiner--- cerita dari tanah arab belaka, atsar, atau tausiyah dari siapa. Tak jelas pula, saat itu, apakah bersumber dari Hadis. Jikapun dari hadis, golongannya di mana: sahih, mutawatir, hasan, dhoif, atau maudhlu....

Sekarang malah penasaran. Ditambahi oleh kondisi pribadi saya yang memang kurang normal. Digempur hinaan. Dirundung kesedihan. Terbelit masalah ekonomi. Pekerjaan yang serba tak pasti. Penghasilan (atau rezeki) yang seperti dipermainkan orang. Plus, miskin penghargaan dari orang yang telah dibantu. Pokoknya prihatin.

Tetapi dibanding kisah di atas, seperti sepilin kapas di atas langit berawan. Tak ada apa-apanya.

Saya rindu dan bertekad akan bertanya kanan kiri. Meriset dari buku dan literatur, searching di internet, tentang versi sebenarnya dari kisah Nabi dan Pengemis Yahudi. Saya rindu, mudah-mudahan itu tergolong hadis, kalau perlu hadis sahih. Bukan untuk mengurangi kecintaan dan takzim terhadap Rosul. Tetapi untuk menambah mempertebal keyakinan saya. Seraya menjadi pengingat, bahwa dikala dirundung susah, riwayat itu menjadi cermin penginat. Jangan sampai, kisah itu justru kontroversial dan berbau cerita Israiliyat ----dibuat untuk membingungkan ummat.


Bersabar

Muaranya adalah bersabar. Meneguhkan sikap ikhlas, ridho, menerima ketentuan Allah adalah sumber penopang dan ketegaran kita. Bila tidak, diri ini akan gampang limbung. Kerasnya hidup dan kesulitan yang mendera, butuh cantelan pengaman, agar kita tak jatuh dalam sikap-sikap keliru.

Saya juga berjanji. Sebisa dan sedapat mungkin memperbaiki kualitas kesabaran. Mendorong ke arah yang lebih baik, agar segala sesuatu yang menjadi ketentuan Illahi, bisa diterima secara ikhlas dan ridhlo. Kalau sesekali muncul gerutu, kecewa dan sedih, biarkanlah lahir sebagai respon manusiawi ----sebagai bukti rendahnya derajat diri. Tetapi tak akan menjadi pilihan permanen, diendapkan menjadi bara kemarahan.

Senin, Juli 06, 2009

Ruang Kosong Untuk Bisikan Was-was

Mudah-mudahan pertanda bagus untuk perbaikan iman Kini, jika lalai dalam sholat dan terlepas dari mushaf Al Quran, muncul gejala psikomatik yang mengganggu. Lahiriah, terlilit dalam denyut di kulit kening, agak pusing dan mendesir-desir. Jika berkaca, wajah terlihat kusam kurang darah. Jangan cerita dengan suasana batin: galau dan gersang! Mau tak mau, aku harus tetap selalu bersujud. Bertahan di lindungan Allah....

Tadi malam adalah puncak pertarungan, antara itikad untuk berserah total pada pusaran taqdir Illahi, atau marah-melawan dan bersikap kalap. Bersikap kalap maksudnya menghentikan segala kepasrahan diri, seraya berjuang sendirian, mau hitam atau putih, sebodo amat! Tapi nyali tak berkembang, layu oleh ketakutan. Tetapi sialnya, pilihan tak jatuh kepada penyerahan diri. Aku malah melewatkan waktu berharga, disergap kejengkelan dan kepusingan.

Sumber petaka sulit diurai. Diri ini memang berdosa, tapi mengapa harus dihukum dengan tak imbang? Lenyap jadi abu apa yang telah dilakukan bersusah payah.... Mengalamatkan biang kisruh kepada Bos, juga hanya bikin pening kepala. Bukankah memang hak dia untuk menggunting nasib orang sesuka hati? Tanpa berniat menggampangkan urusan, aku kembalikan semua pada Allah. Mudharat atau manfaat ---yang hingga hari ini belum terlihat, kalau mudharat mah tiap saat terasa----, semuanya datang dari Dia juga.

Efek lanjutannya adalah kehilangan sumber nafkah. Pembiayaan untuk anak isteri menjadi tak jelas. Justru yang kelihatan jelas banget adalah beban utang.... Ya Allah beri aku jalan ke luar. Tak tahu harus ke mana kaki melangkah. Aku hanya terhunyung dalam Doa dan kelelahan.

Namun jauh yang lebih kutakutkan adalah amuk diri karena tak tahan derita. Memang tak akan mengumbar kesumat dalam aktivitas fisik, tetapi batin, pikiran menjadi jelek. Penuh syak wasangka kepada Allah, memendam bara amarah, kesumat, dendam, dan dengki. Merasa Allah mempermainkan nasib. Pikiran-pikiran ini yang aku takutkan akan datang menyergap. Ya, Allah, sayangi hambaMU ini. Lindungi aku dari keburukan yang bersumber dari diriku sendiri.

Selasa, Juni 30, 2009

Ujian Bagi Kehormatan Diri

Tradisi sufi mengajarkan agar kita tidak terlalu menggantungkan diri terhadap orang lain. Jangan sampai diri kita "mengemis" memoon bantuan, mengiba dan menghinakan diri terhadap sesama manusia. Di sinilah faktor harga diri kita bermain. Seberapa mahal kita menjaga, agar wibawa tidak jatuh ke liang kenistaan.

Satu-satunya pusat sandaran tempat kita boleh ---dan bahkan wajib--- merendahkan diri, mensujudkan kening penyembahan, adalah kepada Allah SWT.

Potensi lain yang bisa dilejitkan jika kita membatasi tingkat pengharapan kepada sesama makhluk adalah kemampuan untuk menyingkirkan penyakit-penyakit munafik. Semua tahu, jika kita butuh dengan sangat kepada satu pihak, apalagi terhadap kekuatan yang posisinya lebih tinggi, semisal penguasa atau orang kaya, maka teramat mudah menggiring kita untuk berbuat jual pamrih, menjilat, membujuk, merayu, dan jurus-jurus pendekatan lainnya. Padahal semua itu justru untuk Allah semata.

Bahkan ada satu atsar yang sempat aku baca (namun lupa, hadis kategori mana dan diriwayatkan siapa), bunyinya kurang lebih: apabila kita mengharapkan kemuliaan dari seseorang atau suatu kaum, maka mereka akan menghinakan kita.

Mohon dibaca, bahwa menjaga harga diri bisa terpeleset ke dalam penafsiran bahwa seolah-olah kita sombong, cuek dan pasif terhadap orang lain. Tak ingin terlibat. Kurang melakukan interaksi dan sosialisasi. Menjauh seraya tak mau kenal orang lain. Konteksnya adalah sedapat mungkin kita justru melakukan banyak hal yang bermanfaat, tetapi tidak untuk orientasi membanjirkan harapan dan pamrih. Boleh berbuat dan beramal baik sebanyak kita mampu, tetapi ridho Allah adalah tujuan utama. Kalaupun di kemudian waktu, terjadi respon positif dari lingkungan (atas aktivitas kebaikan kita), maka itu adalah sebentuk konsekuensi.

Pengalaman Pahit
Saya mengalami langsung, bagaimana bekerja keras siang malam, lahir batin, untuk mengharapkan sesuatu dari orang lain (dalam bentuk hadiah, gaji, dan kompensasi), ternyata menghasilkan segala keburukan yang meremukkan hati. Selama bekerja, saya menadah makian, hinaan, dan caci maki, dengan harapan bahwa ketika pekerjaan selesai, dengan hasil yang diinginkan (ditargetkan) orang lain tercapai, maka kita akan dapat sesuatu dari orang itu. Kenyataannya, jerih payah itu menghasilkan sebaliknya: penghinaan dan perlakuan kejam. Dia, orang yang saya bantu, melaju dengan keberhasilan ---di mana, atas izin Allah, saya juga turut membantu--- seraya meninggalkan saya dalam kepahitan.

Berarti ada yang keliru dalam nawaitu, itikad, dan jihad saya waktu itu. Bukan berarti saya sama sekali lupa terhadap Allah. Tidak. Bahkan saya berniat untuk ibadah ----tetapi lembaran pamrih lebih tebal, dan menutupi niatan Illahiah itu. Saat itu, dalam benak adalah bekerja keras, agar memperoleh nafkah dari anak isteri. Selama proses bekerja, Alhamdulillah, anak isteri mendapatkan nafkah. Tetapi selepas itu, kami sekeluarga kebingungan. Ini menambah beban kesedihan.

Janji Ke Depan
Sekelebat perasaan marah, dengki, sesekali muncul, terhadap orang yang memperlakukan saya sewenang-wenang. Tetapi sekuat Iman kugiling penyakit hati itu untuk menjadi serbuk pelecut jiwa. Bahwa boleh hari ini gagal, tetapi harus ingat Allah, tak ada musibah apapaun yang bisa terjadi kecuali atas izinNYA. Semakin muncul rasa jengkel itu, semakin kutekuk leher untuk bersujud, Istighfar, minta ampunan. Kian rajin amarah menggelegak, semakin kencang kusiram air wudhlu, untuk membaca Al Quran atau tahajud.

Aku sekuat jasad dan rohani berjuang agar tak terpuruk oleh kerapuhan hari ini. Meski aku dipecat dari pekerjaan ---setelah mengantar sukses orang lain ke kursi empuk----, harus menjaga kehormatan diri. Tak akan menghiba-hiba. Biarlah Allah yang terus mengatur skenario. Terpenting adalah: aku bertaubat, semakin hati-hati, memperbaiki aqidah dalam mengerjakan sesuatu, dan membuang pamrih serta penghambaan terhadap sesama manusia.

Berjuang
Segunungan tantangan harus segera kujawab. Memberi nafkah bulanan untuk anak isteri. Mencari pekerjaan baru. Merealisasikan 10 amalan sunnah, yang sejak lama ingin diwujudkan. Semoga Allah mempermudah semua urusanku. Amien....

Senin, Juni 15, 2009

Seolah Aku Berbicara Dengan Dia....


Mudah-mudahan tidak sampai menjadi tradisi permanen nan berkepanjangan, menulis melulu kejengkelan hati, lengkap dengan pernak-perniknya (marah, dendam, kecewa, terhina, protes, atau apalah....). Sekali-kali ingin juga menggurat kabar bagus dan ungkapan kemenangan di blog aku ini. Tetapi hingga hari ini belum terlaksana. Karena memang orbit nasib masih berada di galaksi kegelapan.

Sebenarnya memalukan!
Bagaimaa mungkin hampir 10 tahun tak mampu memperbaiki kualitas personal? Berputar dari gagal, kalah, dan gagal lagi. Memang tak seekstrim putaran kipas angin, ajeg dalam poros diam statis, berhenti atau menyala ditentukan aliran setrum. Tetapi jika dibuat pengandaian, barangkali alur hidupku, ya, seperti itu.

Berpuluh-puluh pengakuan telah kubuat. Memunajatkan taubat dan mohon ampunan juga nyaris lelah kulakukan. Jika saja aku seorang Katolik, mungkin Bapak Pastor akan menyerah lelah, menyimak testimoni dosa pribadiku. Anehnya, hati kecilku selalu berteriak, bahwa aku belum benar(-benar) tamat. Masih ada harapan. Jangan-jangan, api pengharapan ini yang menjebak aku dalam siklus kenestapaan....

Demikian pun ikhtiar tak kurang-kurang dilakukan. Bekerja keras, penuh dedikasi, pengorbanan ---lahir batin--- dan meminimalkan pamrih dalam bekerja, telah kulakukan. Tetapi hasilnya malah semakin buruk. Aku tercampak dalam kenistaan. Ya Allah, maafkan jika terpaksa menjadi sedikit sentimentil/cengeng.

Kawan-kawan
Kegundahan dalam batin menggumpal-gumpal manakala menengok "prestasi-status-karir-materi" kawan-kawan lama (misalnya via Facebook, atau kabar sesama teman). Mereka merangsek ke ujung langit. Hebat, berpendar dengan keberhasilan di dunia masing-masing. Jujur saja, malam ini aku meneteskan air mata, ketika menerima foto Facebook dari kawan-kawan. Mereka semuanya berhasil dalam hidup. Tinggal aku, tersaruk-saruk di jalur sesat ----bertemu dengan harimau buas. Hanya raga dan nyawa yang masih tersisa.

Mudah-mudahan kawan-kawan lama tak tahu nasibku. Aku malu. Gagal dan gagal lagi. Tak punya prestasi, berhenti kerja, kabur dalam penghasilan ---padahal aku bertanggungjawab untuk menafkahi anak isteri---- dan serentetan cerita pilu lainnya. Aku tak ingin ditertawakan mereka. Lebih-lebih oleh orang yang hingga kini sangat aku hormati dan aku cintai (Dia yang cantik, pintar, ramah, baik hati, kawan lama....).

Tanpa ingin menjadi munafik, kesadaran yang tersisa adalah satu: Allah tentu tidak sedang mendholimi aku. Allah pasti Maha Rahman ---termasuk terhadap aku, makhluknya yang tak pernah beruntung. Tetapi energi ini nyaris pupus, untuk sekedar bertahan mencari tahu hikmah apa dibalik keburukan-keburukan beruntun ini. Mengapa Allah selalu mempertemukan aku dengan mahkluk dholim dan aniaya? Padalah, aku bahkan tak tega melihat pencuri dipukuli, tak pernah seumur hidup aku menganiaya orang lain.... Tolong aku, Ya Allah.....

Ingin rasanya, mengirim kabar gembira terhadap kawan-kawan lama. Bahwa aku juga bisa seperti mereka. Tidak selalu begini dan begini. Ampuuuun....

Selasa, Juni 02, 2009

Titik Edar Baru

Robert T Kiyosaki pernah membuat konsep bagus, tentang perpindahan quadran dalam hidup kita. Selama ini banyak orang terjebak dalam skema hidup yang ajeg, lurus, linear ---semua cerminan dari keadaan yang ingin aman, tak suka perubahan drastis. Saya ingat, ia menasehatkan agar calon pebisnis wajib melakukan perpindahan posisi: pindah quadran.

Sayang lupa pada detail. Namun satu hal pasti, setiap pergeseran dalam hidup selalu berkaitan dengan resiko serta potensi keuntungan yang bisa diraih. Hari ini, dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahiem, saya melakukan tantangan itu. Mengubah titik edar yang semula didambakan permanen, menjadi sementara saja. Hari ini biarlah apa yang telah saya lakoni dengan penuh keringat-tangis-harapan ternyata berlalu begitu saja. Tak menghasilkan apa-apa. Ternyata asumsi yang dibangun dalam benak total keliru.

Kemarin dan beberapa waktu ke belakang, saya berasumsi bahwa kesetiaan, loyalitas, pengabdian adalah segala-galanya. Tapi nyatanya tidak. Terlalu banyak faktor dalam hidup ini yang bisa mengobrak-abrik apa saja yang sudah kita susun dengan susah payah. Mimpi pun bisa luluh lantak hanya karena persoalan sepele ---di luar bayangan kita sebelumnya. Jauh-jauh hari merintis karir dalam pekerjaan, menapaki perbaikan kualitas pendapatan, dengan harapan sampai ke ujung, tiba-tiba topan beliung menderu, dan...bubrak!!!

Jadi mau apa lagi? Segera pindah quadran. Tidak lagi berpikir lurus linear, berimajinasi tentang proses dialektika hidup yang bertangga, dari satu anak pijak ke titik pijak yang lebih tinggi. Tak akan begitu.

Lebih baik menancapkan mindmap dalam diri, bahwa tujuan utama adalah mendekatkan diri pada Allah. Prosesnya bisa gelap atau terang, bisa mulus atau malah terjang. Bisa berpapasan dengan angin sepoi atau justru gelegar guntur. Itulah yang jadi patokan.

Jadi lebih baik quadran baru aku adalah ritme ketundukan. Boleh kalah, tapi berserah ---hanya kepadaNYA. Biarkan tumpas, tapi di jalan keridhoan Illahi Robbi. Segala-galanya, hari ini telah kuserahkan. Peluru baru dari quadran baru adalah: sepuluh amalan baik dan ketundukan kepada JalanNYA. Bersih dari iri, dengki, hasud, takabur, khianat, was-was. Terima kasih, ya Allah....