Sabtu, Februari 06, 2010

Saya (masih) Cacing di HMI...


Sejarah tak mencantumkan nama para cacing. Bahkan tidak untuk catatan kaki sekalipun. Seperti keluhan Antonio Gramsci, bahwa sejarah tak pernah mencatat pengorbanan cacing yang menggemburkan ladang…

Kalau bangga dengan artefak Borobudur, maka ketakziman hormat itu barangkali mengarah kepada Wangsa Syailendra, atau kepada pesan-pesan kultural keagamaan yang ditoreh dalam relief. Selalu tidak ada pengingatan tentang berapa ribu nyawa melayang, diperbudak mengangkut bebatuan besar dari dasar ke puncak. Siapa punya catatan tentang penindasan Dynasti Rhamses (Firaun) ketika menitahkan ambisi pembangunan Pyramida Sphinx?

Bertebaran ribuan hikayat fiktif atau faktual yang bisa dicandra siapa saja, hari ini. Tentang bangunan, bendungan, patung, tugu, dan peninggalan-peninggalan bernama keajaiban dunia, yang dikenang banyak orang. Tetapi, sekali lagi, tidak untuk mempertanyakan bagaimana para budak, buruh, romusha, atau koeli rodi meregang nyawa ---demi kehendak ambisius para penguasa.

Tetapi sejarah bukanlah kincir angina yang bisa dihentikan. Meski berputar dan cenderung terjadi pola-pola pengulangan, sejarah harus terus berlalu. Jika dulu peninggalan-peninggalan besar selalu mengharumkan nama-nama besar, hari inipun mirip seperti itu. Kecuali ada sedikit saja perbedaan. Bahwa orang-orang besar hari ini juga lahir atas jasa orang kecil dalam jumlah besar.

Di mana posisi anda hari ini?

Orang besar yang menempel pada orang yang lebih besar? Atau orang besar yang bertengger pada jumlah besar orang-orang biasa? Dengan cara wajar atau culas, sejumlah nama besar di jagad kekuasaan agaknya melulu membesar dari dua pola itu. Tentu tidak gratis. Memakai formula berlapis-lapis. Barangkali dengan kemampuan “menjinakkan” para petinggi negeri. Atau barangkali dengan manipulasi dalam panggung Pemilu untuk “merebut” suara orang-orang biasa (tetapi dalam jumlah besar).

Karuan saja ini bukan kemarahan tanpa makna. Lantaran kita miskin contoh untuk pola-pola menjadi tokoh besar dengan jalur-jalur alternatif. Belum ada pemenang Nobel (versi apapun) yang kemudian benar-benar dicintai seraya menjadi teladan (figur) publik. Belum banyak lahir atlet kaliber dunia yang merebut kecintaan lahir batin dari jutaan penduduk. Masih sedikit para intelektual, akademisi, atau professional yang mengharu biru dunia karena karya hebat ----lantas merebut simpati suara rakyat.

Artinya, panggung politik kekuasaan hari ini berkutat dalam dua alur besar tadi: manipulasi suara dukungan rakyat dan ketergantungan tinggi terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Jika rumusannya masih seperti ini, maka wajar saja bahwa kompetisi politik yang berlangsung selalu memakan “banyak korban”.

Berikut adalah pengakuan: hingga hari ini posisi politik saya berada dalam orbit “banyak korban” itu. Sederajat saja dengan tukang ojek ---yang meraung-raungkan motor berkonvoi bising dalam kampanye Pemilu. Setingkat lebih tipis dari pemilih buta hurup yang datang ke TPS karena dipelototi Kepala Desa. Tidak berbeda jauh dengan ratusan juta pemilih lain, yang statusnya adalah partisipan politik. Suara dan dukungan kami mengalir begitu saja. Tanpa daya kuasa bila ada the factor yang mengarahkan ke muara, danau, atau malah ke saluran got kotor.

Tetapi apakah itu nista?

Harga yang harus dibayar adalah perasaan terhimpit. Meskipun ada nasehat yang terus terngiang, dari Almarhum Nurcholis Madjid. Bahwa dalam melahirkan seorang tokoh, selalu ada tunas yang merepuh, menjadi jasad renik yang menyuburkan tunas yang lain. Dalam satu rumpun pohon bambu, tak semua tunas menjulang, ada yang mati, tak berarti.

Penghargaan tak bisa diharapkan datang dari siapapun. Tak berbilang kisah tentang orang-orang yang besar atas dukungan kelompoknya tiba-tiba terbang menjauh, tanpa datang lagi ke dangau. Menengok pun tidak. Saya kira, bila ukurannya adalah organisasi HMI, maka HMI adalah ladang subur untuk bertumbuhnya ratusan (atau ribuan) tunas. Serta ladang “pembantaian” untuk ribuan lain yang tak jadi apa-apa. Itulah yang disebut “cacing” oleh Antonio Grmasci ---sekedar ikut menyuburkan lahan.

Tetapi juga jangan kaget. Ribuan kader HMI kerap mempermulus langkah orang-orang besar di mana-mana. Tak cuma di panggung politik, tapi juga di jalur birokrasi, pemerintahan, dan mungkin juga bisnis. Nama-nama mereka tidak disebut sebagai orang besar, dan dengan mudahnya diabaikan oleh para pihak yang telah diuntungkan. Namun, seperti cacing, mereka tidak berpotensi menggulingkan apalagi menistakan. Selalu membuat subur ladang….

Kembalinya adalah kepada Tuhan. Tuhan, bila aku pernah sedikit saja berjasa, bagi siapa saja (yang kini telah menjadi orang-orang besar dari HMI) maka Engkaulah yang menentukan.

Hingga hari ini, Saya Masih Menjadi Cacing di HMI.

Selasa, Februari 02, 2010

Komputer DPR RI Terlalu Mahal? Mari Lacak...


Enemy of my enemy is my friend. Rumus ini seolah menjadi formula jitu dalam dunia perpolitikkan. Tetapi, dalam kondisi tertentu, kisah keseharian kita sering terkerangkeng dalam rumusan yang sama. Salah satu cara untuk selamat dari "kredo" itu adalah menjaga kewarasan dan akal sehat.

Masalahnya selalu ada pihak yang keliru mengambil posisi, sudah tentu juga keliru dalam menempatkan sesuatu sebagai "musuh". Sembari meletakkan rasa hormat dengan seperlunya saja, saya menganggap kawan-kawan pers dan aktivis LSM hari ini memperlakukan DPR RI (dan segala isi di dalamnya) adalah sebagai musuh.

Dalam politik, posisi sedemikian secara sempurna memperlihatkan cara pandang "binner oposition". Cara pikir yang meletakkan sesuatu selalu bertentangan secara keras, hitam-putih, tanpa ada celah kompromi. Dalam batok kepala orang-orang seperti itu, tak ada istilah yang akrab disebut sebagai "grey area", wilayah abu-abu, yang memberikan banyak opsi dan alternatif.

Celakanya, mindset seperti ini tidak dikonsumsi sendiri. Artikel ini tak perlu muncul bila urusannya orang per orang belaka. Lain perkara karena mereka (pers dan aktivis LSM itu) gencar melakukan kritik dan evaluasi terhadap DPR RI, seraya melakukan psywar-perang urat syaraf di media. Alias melakukan rangkaian publikasi sistematis. Dengan muara yang kentara sumir: melakukan public distrust, menggerogoti kepercayaan publik terhadap parlemen.

Teknik tergampang dari operasi black campaign seperti ini adalah dengan mem-blow up perkara sepele menjadi besar. Sembari menghilangkan detil informasi, menyingkirkan azas keberimbangan informasi, dan menistakan informasi alternatif.

Artikel ini, maaf saja, bukan pembelaan hitam putih. Melainkan berpihak pada kepatutan. Bahwa yang benar, publik harus memiliki kesadaran bahwa dalam politik tak boleh ada musuh abadi. Bahkan, jika sepakat dengan petuah Almarhum Nurcholis Madjid, bahwa dalam politik, sejatinya tidak memposisikan pihak yang berseberangan sebagai musuh atau enemy, melainkan cukup sebagai lawan atau oponen. You are my oponen, not my enemy...


Distorsi Informasi

Duduk perkara adalah publikasi gencar tentang pengadaan fasilitas komputer baru di ruang anggota DPR RI (artinya juga adalah ruang kerja Staf Ahli Anggota dan Asisten Pribadi Anggota DPR RI). Berita-berita yang dilansir, sebagaimana lazimnya, melakukan teknik penjudulan yang menggunakan kata-kata penuh "daya gugah" dan "daya kejut". Tak ada judul yang normal atau biasa saja (barangkali kalau seperti itu, takut tak dibaca orang).

Simak saja:
1. Wow, Anggota DPR RI Mendapat Komputer Mewah...
2. Komputer DPR RI, Rp. 15 Juta Terlalu Mahal...
3. Pengadaan Komputer DPR RI Potensial Korupsi...
4. Komputer di DPR RI Diganti 2 Tahun Satukali...

Di luar judul, isi pemberitaan kentara tidak bersumber dari pelacakan serius. Sekedar, mengutip Ana Nadhya Abarar, pakar komunikasi politik, meletupkan realitas psikologis semata. Realitas psikologis adalah pernyataan nara sumber terhadap media yang dilakukan at time at locations without investigation. Bicara di tempat itu, di waktu itu, selesai. Tanpa ada pelacakan detil. Nihil konfirmasi dari narasumber lain. Dan, maaf saja, miskin otoritas serta kompetensi.

Pemberitaan model begitu, aduh, jauh dari porsi pencerdasan pubilk. Bayangkan saja: para jurnalis bergerombol, sibuk kanan kiri, di hadapan nara sumber. Pertanyaan tak mungkin mengejar, cukup sepenggal-sepenggal saja. Alhasil, ucapan yang keluar pun hanya sedikit lebih bagus dari asal bunyi. Inilah salah satu penyakit jurnalisme kita --dan juga narasumbernya.

Mau contoh? Dalam konteks ini adalah pernyataan seputar komputer DPR RI. Ada narasumber yang menyebutkan bahwa komputer mahal itu paling banter dipakai main facebook. Berita lain menyatakan bahwa komputer mahal itu hanya cocok untuk layouter, untuk setting image, design, dan desktop publishing belaka. Intinya, mempersoalkan produktivitas dan manfaat dari komputer DPR RI.

Jika dilakukan analisis isi, gamblang terlihat bahwa framming (pembingkaian isu) dalam masalah komputer DPR RI berada dalam garis delegitimasi. Setidaknya ramai-ramai menghasut sentimen pubilk untuk terus memperlakukan DPR RI sebagai musuh. Pencitraan dan opini publik yang dibangun adalah DPR RI sarang kerakusan dan ketamakan.... Kebetulan sejauh yang terlihat, pihak DPR RI lemah dalam melakukan hal ini. Lengkap sudah, mereka senantiasa menjadi bulan-bulanan massa.


Sederatan Fakta

Di tingkat paling dasar, berita-berita tentang komputer DPR RI bahkan gagal memenuhi "prinsip dasar jurnalisme", yaitu kecermatan. Jikapun berita komputer itu tidak berniat melakukan penyesatan informasi publik, maka paling pantas disebut berita keliru. Patut diketahui, pengadaan komputer tersebut bukanlah untuk properti pribadi Anggota DPR RI, melainkan sebagai alat penunjang kerja Staf Ahli Anggota. Nah, dalam pemberitaan, fakta ini sama sekali tak (ter)sebutkan.

Bagaimana dengan tuduhan "paling banter dipakai main facebook-an?

Setahu saya, komputer itu benar-benar optimal menunjujang kinerja. Dengan SDRAM mencapai 3-5 Gigabyte, Memori berkapasitas 350 Gigabyte, Printer Canggih, bisa scan, fax, tentu memudahkan urusan kerja. Cocok untuk mobilitas politik. Ingat, urusan Anggota DPR tak melulu berkutat di ruang rapat dan ruang kerja. Melainkan juga ke konstituen, mitra kerja, media, perguruan tinggi, termasuk juga dengan LSM dan pers. Kecapatan dan tampilan fisik yang baik, tentu menjadi harga mati.

Faktanya, tak mungkin terus menerus dipakai Facebook-an... Mana berani kita iseng berselancar di situs jejaring sosial, manakala pekerjaan bertumpuk, dan agenda bos sedang sibuk.

Berita lain yang segera terbantah adalah tentang penggantian komputer yang dilakukan dua tahun satu kali. Secara pribadi, saya tak mengalami hal itu. Komputer yang kini menjadi cadangan, HP compaq dengan processor Intel Pentium 4, sudah lima tahunan belum diganti. Bagaimana ini?

Pengharapan
Sudah tentu, paparan ini adalah pendapat pribadi. Meski tak tertutup kemungkinan disepakati oleh ratusan kawan-kawan se-profesi. Dalam kemelut perpolitikan yang kian rumit, mengapa harus berlelah-payah melakukan gugatan atas hal-hal yang tidak perlu (atau perlu, tetapi tidak substantif). Lagipula, ingat pesan Samuel Huntington, bahwa langkah awal mengahancurkan proses konsolidasi demokrasi adalah dengan terlebih dahulu melakukan delegitimasi terhadap proses dan lembaga demokrasi yang sah. DPR RI bukan musuh, mungkin lawan... Tapi jangan diabadikan.

Kamis, Januari 28, 2010

Segera Akan Aku Resensi: The Lost Symbol


Insya Allah, ada sisa rezeki buat beli novel bagus ini. Mudah-mudahan sudah ada edisi bahasa Indonesia-nya.

Minggu, Januari 24, 2010

Aku Berlindung Dari Godaan Politik Yang Tidak Lucu


Pansus Bank Century. Antashari diancam vonis mati. Bonek Persebaya mengamuk (lagi). Jakarta selalu macet. Demonstrasi tiada henti. Satu kilogram ganja ditangkap polisi. PSSI keok melulu. ATM milik nasabah dibobol. Para selebritis cerai melulu. Terhiburkah?

Untung ada Budi (ada Wati, ada Ibu Budi, kata buku teks SD). Juga Rianty sang bidadari di Beauty And Azis. Boleh juga ditambah Opera Van Java dan Sinden Gosip. Sekali lagi, cukup terhiburkah?

Urat syaraf kita nyaris tegang meski belum putus. Tapi bisa putus juga manakala kepenatan sajian berita plus infotainment (ini juga keliru, sebenarnya gossiptainment) ditambahi dengan beban rumah/kantor yang menggunung. Listrik belum bayar. Air PAM macet. Tetangga buang sampah seenaknya. Eh, di kantor ada kawan yang dengki (bikin isu panas bahwa kita "main mata" sama roman kinclong di ruang sebelah).

Sudahlah. Mungkin televisi dan koran-koran ditakdirkan untuk menggerojok ketenangan batin.

Mengapa harus disebut takdir? Mana bisa kita menghindar. Coba-coba matikan televisi. Berhenti baca koran. Tak dijamin bebas berita. Diam-diam kawan makan siang ngoceh: eh, itu Pansus Century serius nggak ya, Demokrat terlibat tidak, ya? dan serentetan pertanyaan lain. Kalau anda perempuan, lebih celaka. Pagi-pagi kaum sahibul rumpi berkicau: tega-teganya, ya, Ruhut Sitompul bilang banxxat!

Jelas-jelas publikasi TV One, Metro TV, atau Radio El Shinta News and Talk serta Kompas plus detik.com itu tidak disetting untuk membuat tawa terbahak. Mayoritas politik melulu. Awal berita muncul, memang asyik juga. Tapi kalau kelamaan seperti Pansus Bank Century, jadi sepet juga. Persis mengunyah permen karet lebih dari 360 detik (satu jam, Brow! ueneeek).

Pemirsa televisi, pembaca koran, pendengar radio, juga ditakdirkan untuk sering-sering mengusap dada.

Giliran melihat tayangan humor, seperti guyonan Tukul, Budi Anduk, dan Azis, kekonyolan bermain-main tanpa batas. Berhambur kata-kata ejekan. Obralan julukan-julukan hina. Jualan perempuan-perempuan seksi. Dan sedikit saja humor cerdas yang sehat.

Bukannya harus anti. Tetapi justru bertentangan dengan prinsip humor itu sendiri. Humor, sejatinya, variatif, banyak versi, kaya karakter, dan bertabur kreativitas. Pengulangan nan membosankan, repetisi tiada henti, duplikasi, basi, seperti permen karet 360 detik itu pula. Capek, deh.


Humor Politik

Karena langit politik pengap, kita butuh pelepasan. Tokoh jenaka dengan joke cerdas telah tiada (Selamat Jalan Gus Dur, andalah penyelamat nalar sehat kami). Barangkali yang tersisa tinggal teks. Sulit rasanya, jika cuma mengandalkan tampang para elit. Setuju saja sebetulnya, tampang Susno Duadji itu lucu, tapi tidak menghibur. Mencari lelucon segar di balik panggung kuasa hari ini sama sulitnya mencari jarum di setumpuk onggokan jerami.

Saya juga tak berani janji, ke mana harus mencari perlindungan atas kebosanan-kebosanan kita. Baca buku Humor Politik juga nyaris seperti makalah mahasiswa yang dikejar deadline, copy paste sana-sini! Pun situs humor politik, cuma beda alamat isinya nggak jauh-jauh amat. Nah, barangkali bertukar cerita pengalaman pribadi rada sedikit menolong.


Ini Serius

Seorang anggota DPR RI dari daerah, berlatar bisnis atau pengusaha, pokoknya urusan jual beli gitu lah... (mungkin juga jual beli perkara, kali, ya). Dalam sesi wawancara, seorang jurnalis bertanya: Pak, apakah Bapak punya alamat e-mail. Tanpa ba-bi-bu, si Anggota menjawab santai. Dulu sih ada... tapi sudah lama saya jual. He..he..he..

Saking tua, seorang anggota dewan sudah malas naik ke ruang pribadinya di Gedung DPR Nusantara I, lantai tertentu. Lantaran mendesak, ia terpaksa harus ke ruangannya itu. Begitu ke luar dari lift di lantai tujuan, si anggota bertanya ke Satpam: Mas, ruang kerja saya di sebelah mana, ya.... Nah, lho, ruang kerja sendiri saja sudah lupa, apalagi nasib rakyat :)

Dua kisah barusan memang tidak berkaitan langsung dengan saya, alias mengutip cerita kawan.

Tapi tiga di bawah ini, persis saya alami sendiri.

Di musim kampanye April tahun yang baru lewat, kebetulan saya mendampingi bos yang bertarung untuk kursi DPR RI. Si Bos, kebetulan berani pede kalau menghadapi khalayak di perdesaan dan pelosok kampung (asumsinya: mereka tidak kritis).

Saat itu, rakyat mengeluh bahwa mereka hingga hari ini tak menikmati aliran listrik. Giliran si Bos berbicara. Dengan yakin beliau bertanya: Sejak Kapan Bapak-Bapak tidak menikmati listrik? Sontak hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sudah jelas dari zaman batu era nenek moyang, mereka tak pernah mengenal listrik, kok, masih ditanya sejak kapan?

Masih ada, ini di tempat lain. Berceramah dengan anak-anak SLTA ---menghadapi kaum belia seperti inipun, bos masih pede, dengan asumsi yang sama, mereka tidak kritis.

Ada Ketua OSIS yang mengeluhkan praktek korupsi di sekolah, dan bertanya apakah kasus seperti ini bisa dibawa ke KPK? Bos, enteng saja menjawab: pasti bisa! Kalian laporkan saja ke KPK di Kabupaten... Hua...ha.. ha.., nanti kaleee, KPK bisa berada di Kabupaten kalau sudah ada lebaran monyet... wakakakakak.

Di gedung DPR juga bertabur cerita nyata nan jenaka ---mudah-mudahan begitu, kalau tidak, aku malu sendiri.

Dalam forum Rapat Kerja bersama Menteri Kabinet Indonesia Membangun II, pendek istilah Kabinet SBY, seorang anggota DPR bertanya penuh semangat (nggak pake 45).

Pak Menteri, saya bilang ke orang-orang di daerah, bahwa organisasi bantuan bencana di daerah itu akan mendapatkan bantuan dana dari pusat. Saya bilang begitu ke mereka, Pak Menteri, biar mereka semangat. Betul kan, Pak Menteri, memang ada bantuan dana dari Pemerintah Pusat?

Tanpa ragu, Pak Menteri menjawab: tidak ada tuh... kata siapa? Gerrrrrr.... seluruh hadirin di ruang rapat tertawa. Termasuk saya yang berada di balkon atas.

Nah, kawan-kawan, keep your reason. Jangan hilang akal dengan kejenuhan. Kita tuker-tukeran cerita humor politik, yu. Ditunggu...

Sejarah Kami Mencintai Buku... di FKMM Manado


Berani sumpah! Suara paling merdu di FKMM Jalan Kleak Manado adalah milik Maemunah "Nana" Abdullah (semoga Allah selalu memberikan hujan maghfirah dan ampunan). Berani tidak sumpah ---takut dapat murka Wati Razak, eh, atau Rozak--- yang paling tak bisa menyanyi adalah Basri Amien. Ayo bareng-bareng curiga, jangan-jangan anak itu tak ingat sepotong pun bait lagu yang beken di masa itu (era 93-99).

Tapi kalau diajak taruhan sama kawan-kawan yang kini sudah kebanjiran rezeki dari KPU dan DPRD, saya masih berani. Bahwa jelek-jelek Basri itu hapal juga lagu tertentu. Mau tahu? Bung Hatta, dari Album Iwan Fals. Tapi dengan intonasi yang mirip aktivis ber-dekalrasi: hujan... air.... mata... dari... pelosok... negeri... Tunggu dulu, istilah jelek-jelek barusan maksudnya: Basri jelek dalam hal lagu dan sastera.

Bayangkan saja, dari ratusan judul buku yang dia koleksi (dan sering aku curi baca), tak satu eksemplar pun yang berjudul ngepop. Dia tak pernah membeli buku sastra. Belum pernah aku lihat membaca novel. Mungkin saja, jika tak diberitahu Bang Naid (mantan Ketua KPU Maluku Utara, kini DPRD) Basri Amien tak pernah tahu Bahwa idola dia Romo Mangunwijaya juga adalah seorang novelis. Ter..la..lu (dengan gaya ucapan Rhoma Irama).

Sssstttt... FKMM bukan cuma Basri Amien yang cerdas. Tapi juga Sofyan Al Hadar yang susah didefinisikan. Kami semua senang menulis, bikin artikel untuk koran-koran, atau menulis puisi seperti cara Mas Puja atawa Nana. Namun Bang Sofyan ---sama Iis Susilawati dipanggil genit: Ooom Sofyan--- rajin menulis bon utang di warung depan. Wallahu 'alam, sekarang sudah diganti atau belum.

Selang dua tiga tahunan, FKMM juga ramai oleh rimba aktivis. Maklum saat itu demonstrasi mulai menggeliat. Rombongan kawan-kawan HMI Cabang Manado, PMII Cabang Manado, aktivis SMID, pegiat PRD, mahasiswa tak jelas, dan wartawan, mondar-mandir di jalan kleak. Sampai-sampai, pernah FKMM dikepung petugas kepolisian. Mohon tak tersinggung, benih-benih intelektual dan perlawanan mahasiswa di Manado (terutama yang beragama Islam) tumbuh dan membiak di situ.


Pembauran
Segala suku di situ, Endi Biaro dari sunda, Yayat Biaro dari Padang (iya, dong, dia kan besar di Padang), Karyanto Martham Jawa Tondano, Said Banteng Kotamobagu, Shanty dari Gorontalo, Dibyo plus Mas Puja dari Jawa, Andi Mappasomba from Makassar, dan Idris Sudin dari Papua (masudnya rambutnya itu yang biasa disebut "kiribo"). Latar akademiknya juga berbeda-beda, ada yang kuliah di IKIP, di Universitas Sam Ratulangi, di STIKOM Manado, tapi perasaan dari IAIN nggak ada tuh! Namun satu hal yang bisa mengikat: kecintaan terhadap membaca, berdiskusi, berdebat, dan sudah tentu berorganisasi.

Sialnya, jika dibuat ukuran menang kalah, semua kami bertekuk lutut dihadapan Bang Katamsi Ginano. Mau apa? Soal nulis dia seng ada lawan. Mau debat, siap-siap kena serangan pedes. Tak berbilang lawan dia kipas dalam ajang seminar dan diskusi. Namun abang kita ini agak kabur soal organisasi. Mungkin yang tegas dia pelaku Organisasi Tanpa Bentuk. Namun jangan tanya sekarang ini, level-nya sudah go internasional, pemegang ID Nomber di Newmont Internasional ----punya biaya khusus untuk entertainment pula, duh...!

Bagaimana dengan orang non FKMM tapi memberi rupa-rupa warna. Bang Reiner Ointoe adalah orang yang pernah membuat saya tersinggung. Tapi juga ada benarnya dan justru membuat kita bersyukur. Sang pemikir yang banyak memberi inspirasi ini pernah menyebut FKMM sebagai organisasi Amal Jariyah. Lha, bukannya bagus, pahalanya terus mengalir (Jariyah adalah artinya terus mengalir). Begitupun dengan sosok Kamajaya Al Katuuk. Dari dia kawan-kawan FKMM tahu pentingnya sastra.


Masih ada figur lain yang layak sodor, seperti Coen Hussain Pontoh, Taufiek Passiak, Junaedi Hussain, Yayat Biaro, dan Ja'far Al Katiri. Mereka bukan hanya hadir di pelatihan. Mereka sebenarnya yang mampu menggugah daya pikir daya nalar anak-anak FKMM. Setujuuuuuu... (seperti murid kelas lima SD, ya, yang ramai bilang, setujuuuu Bu Guruuuu).


Lucu Lucu
Kalau sekarang ada Team Lo, yang bisa memparodikan lagu apa saja, jauh-jauh hari kami di FKMM memiliki seorang laki-laki super lucu dan ciamik main gitar. Daya pesonanya menyedot siapapun, termasuk mereka yang sedang sibuk belajar mengahadapi ujian mid semester. Kalau tak keliru, dialah yang menciptakan Mars FKMM. Beda sedikit dengan Irham Maku, tak lain adalah Syahril Hantono. Nama ini jaminan mutu untuk main gitar dengan lagu-lagu berkelas. Memainkan tembang-tembang KLa Project, memetik Jazz dengan merdu, dan memainkan Iwan Fals dengan menarik. Vokalisnya tentu bukan saya apalagi Basri Amien, melainkan Nana, Shanty, atau Ka Icha Bafagih.

Lucu tapi bisa membuat malaikat marah adalah kejadian Hendra Abdul yang solatnya tak lagi khusyu (ini kata dia). Ceritanya, saya dan Basri Amien lagi membaca di kamar. Terus dia sholat ---salah satu muslim FKMM yang rajin Sholat. Karena merasa takut mengganggu, kami ke luar. Eh, lupa menutup pintu. Jadi dia sholat dengan pintu terbuka, lantas dilihat orang lain yang wara-wiri. Jangan-jangan, Ka Hendra duluan jadi Anggota DPRD karena rajin sholatnya itu, ya...

Lucu tapi menyerempet seram juga pernah terjadi. Seorang senior, namanya Masri Mamonto, susah payah bikin skripsi. Harap ingat, zaman itu tak akrab dengan komputer, tetapi tak-tik-tok mesin ketik butut. Kalau dalam satu halaman kertas ada satu hurup salah ketik saja, urusannya jadi ribet. Nah, di saat sang senior puyeng, pikiran bengal saya keluar. Persis, di halaman tengah skripsi yang ia tulis dengan rapi, saya ubah ketikan Nama Machiavelli menjadi Max Poliii (ini nama salah satu dosen di Fisip Unsrat). Wakakakakak. Dia ngamuk dan meronta. Saking ketakutan, saya tak berani mengaku, hingga tulisan ini dibuat.

Oh ya tentang fisik orang-orang di sana. Rata-rata berbadan kurus, terima kasih Indomie yang membuat kami berdaging tipis. Kalaupun gemuk, cuma satu orang Khadijah Rozak, atau Ka Ijek. Kakak yang satu ini luar biasa rajin, teliti, sekaligus pemberang. Seingat saya, tak ada yang berani melawan. Diantara tubuh kurus ekstrem dan gemuk tak terkira itu ada juga yang moderat, alias sintal. Seperti Ka Nurhasanah Syahdan, Iis Susilawati, dan Roni Domili.

Siapa ya, yang belum kesebut?

Ho.. ho.. ho.. Rusli Djalil. Ya, ampyuuun... Jika saja Zahra isterinya yang sekarang ini tahu persis detil Ka Ucli waktu di FKMM mungkin akan... (lanjut sendiri, deh!). Zahra yang cantik, pasti kamu dibilang kelilipan atau sakit mata, jika berpacarannya dari dulu. He..he..he..

Tapi dia hebat. Di kalangan aktivis yang bisa menjadi koresponden media nasional selain Katamsi Ginanano dan Verianto Madjowa, ya Rusli Djalil itu. Nama medianya waktu itu adalah Tabloid Swadesi, terus ke Majalah D&R, Terus Majalah TEMPO, terus... Sekarang beliau Anggota DPRD di Maluku Utara, dan pernah juga menjadi Anggota KPU.

Tercantik, Tertinggal
Jangan harap cewek-cewek saat itu seperti artis sinetron ABG sekarang ini. Handphone belum dikenal. Mode baju juga nggak penting-penting amat. Belum ramai manicure-pedicure, creambath, facial, atau dandanan dugem nan seksi.

Cuma jujur saja, saya punya kategori cantik yang universal, bisa dipakai untuk mengukur Angelina Jolie, Angelina Sondakh, atau Angel Lelga... Ukurannya jelas. Cantik itu artinya ukuran mata simetris, hidung proporsional-fungsional, rambut sehat, telinga wajaar, dan bibir sensual. Hayoooo, masa mau dibilang cantik kalau matanya juling? Emang bisa cewek disebut cantik kalau budek? Kalau bisa sih hidungnya bangir, sekaligus fungsional. Begitu aja kok Freeport...

Maka duhai kawan-kawan perempuan di FKMM, perkenankan hamba menyebut yang tercantik adalah...

Satu hal sudah jelas, tak bisa diamandemen oleh Sidan Paripurna DPR RI sekalipun, bahwa di FKMM tak ada yang ganteng. Ini lebih adil disebut... soalnya saya sudah pasti tak akan masuk nominasi. Malah, kalau dibuat ranking 10 pria paling ganteng di FKMM, saya tak masuk nominasi. Padahal kontestannya hanya sembilan orang. Wakakakakakak....


Terpasti
Anehnya di FKMM ada mahluk yang sepertinya sudah tahu persis akan menjadi apa dan harus bagaimana. Sekarang saya sering merenung, doktrin bahwa Pemimpin itu dilahirkan, memang benar adanya. Bung Karno muda ketika di penjara Sukamiskin, Jawa Barat, menulis grafiti di tembok dengan judul, "Di Kamar Ini Nasib Bangsa Aku Tentukan." Konon, si pendek gempal Napoleon Bonaparte sejak kelas enam SD menjawab: "Saya akan menaklukan Eropa" (ketika ditanya oleh Ibu Guru di kelas, tentang cita-citanya).

Mudah-mudahan Mas Pudja Sutamat ingat dan tak membantah. Sewaktu liburan semester awal, kami bingung akan berbuat apa. Dia menyodor ide, mendatangi radio-radio beken di Manado. Kami ditolak dan sempat diejek. Alah, kata si penyiar tua yang saat itu beken tapi otaknya melongpong, pendidikan untuk jadi penyiar radio itu tak perlu! Penyiar tua itu menyindir kami yang sekolah di Jurusan Komunikasi, dan ingin magang jadi penyiar, dengan andalan pendidikan tinggi. Sekalian saja disebut, nama stasiun Radio itu adalah MEMORA FM.

Mas Pudja tersinggung banget, tapi mengatakan datar. Endi, mari kita buktikan, omongan orang itu ngaco. Eh, ternyata tak perlu waktu lama. Kami jadi penyiar di Radio yang lebih bergengsi, SMART FM. Terus, setelah beberapa tahun, si penyiar blo'on itu jadi anak buah Mas Pudja. He..he..he..

Memang prosesnya tak gampangan. Di kamarnya, Mas Pudja sering ngoceh sendiri ---tapi bukan sakaw. Ia belajar keras jadi penyiar, baca berita sendiri, dengan intonasi seperti Max Sophacua (penyiar televisi yang suaranya berat empuk).


Dan Reuni Itu...
Dan reuni itu 99,9 persen tak akan bisa saya hadiri. Saya sedih... Bukan apa-apa, kalau ongkos mah mungkin bisa sabet kanan kiri. Tapi terutama tidak pede dan masalah waktu (sok sibuk! ah, beginilah jadi anak buah).

Cuma pesan singkat: tak benar saya pelupa. Yang benar adalah sering tak ingat. Lalu tentang isu besar soal meninggalkan pacar di bioskop, maaf saja, saya butuh klarifikasi. Jawabannya: nggak inget, tuh! Wakakakakakak

Selasa, Januari 19, 2010

Ragam Cerita Gara-Gara Facebook!


Peringatan: Facebook bisa menyebabkan kanker (kantong kering karena dipecat kerja, perintah bos terbengkalai, karuan aja didepak!); serangan jantung (kalau isteri iseng ngintip account suami dan melihat pose begitulah...); Impotensi (maksudnya potensi kreatif anda gugur gara-gara kelelahan meladeni situs jejaring sosial ini); tapi jelas tidak akan mengganggu kehamilan dan janin.

Cuma, menurut Doktor Joel Gold, seorang psikiater dan asisten profesor di bidang psikiatri dari New York University, facebook bisa mengganggu kejiwaan. Nama penyakitnya keren abis: Delusi Internet.


Duhai jangan main copy paste karena alasan praktis. Meski kepepet, sempatkan dulu periksa siapa yang akan anda posting. Jangan salah kirim ucapan Ultah untuk"kawan tapi mesra"yang malah terus nyasar ke isteri. Berabe... Nanti dijadiin proyek Pansus sama tetangga sekitaran. Eh, si Endi tadi malem ribut sama istrinya, lho? Nah, begitu kurang lebih yang akan terjadi di ruang sidang kaum Ibu, sembari belanja sayuran sama sesama Anggota Dewan Perempuan Ribut di kampung...

Bagaimana tidak. Seorang kawan bertutur kejadian seperti itu. Ceritanya posting selamat ultah sama yang lain, eh, untuk isteri juga mengirim dengan ucapan yang mirip, lupa mengganti kalimat.

Kealpaan dalam menulis status, bisa juga berurusan dengan skor atau malah vonis hukuman. Dulu, waktu ramai Gozila versus Cicak, juga ada seorang anggota polisi yang memamki-maki publik. Sontak ia mendapat teguran dari korps kepolisian. Juga yang berujung ke pengadilan, dengan delik fitnah dan penghinaan. Di Liga Inggris, seorang pemain sepakbola yunior dari Porstmouth, menulis Semoga kita kalah hari ini (saat itu menjelang laga antara Porstmouth versus Arsenal). Celakanya, dalam pertarungan, ternyata Porstmouth dicukur The Gunner dengan skor telak: 4:0...

Lain perkara kalau ada unsur kesengajaan. Misalnya biar terkesan status-nya selalu banyak yang menanggapi. Masih cerita dari kawan. Dia sengaja bikin empat sampai lima account dengan nama dan foto berbeda. Fungsinya mengerek gengsi. Jadi, untuk account asli selalu membuat status heboh. Lantas, kalau tak ada respon dari mana-mana, gampang saja. Bikin aja tanggapan dari account lain, yang sejatinya milik dia sendiri.


Beberapa Kejadian

Urusan status dalam facebook ternyata juga jadi lahan buku. Seperti sebuah terbitan Berjudul Gara-Gara Facebook. Sebelum ke situ, simak dulu cerita-cerita ini:

1. Buronan Balik ke Sel
Karena kasus penipuan di Mexico, bernama Maxi Sopo, terpaksa kudu balik ke sel-nya di Mexico. Gara-gara kebelet nulis status ke kawan-kawannya. Meski profil ia rahasiakan, tetapi kawan-kawan yang ia kirim kabar tidak. Dia kemudian terlacak via Facebook dan Myspace.

2. Tawuran karena Facebook.
Tak terima pacarnya dimaki-maki lewat facebook, Steven Liang (23), warga Jalan Ploso Timur, mencoba mengklarifikasi ke Paulus dan Lia. Kedua orang itu selalu meneror Rini, pacar Steven, dengan makian dan ancaman melalui account facebooknya. "Karena tak terima, korban minta bertemu dengan orang yang meneror pacarnya," ujar Kasat Rekrim Polres Surabaya Utara, AKP Dolly A Primanto, kepada wartawan di mapolres, Jalan Bubutan, Sabtu (12/12/2009).

Pertemuan pun disepakati di Jalan Pirngadi. Namun saat datang ke jalan yang berdekatan dengan Polres Surabaya itu, masing-masing pihak rupanya membawa banyak teman. Steven membawa 3 orang teman, sedangkan Paulus membawa lebih dari 10 orang termasuk adiknya, Tonny Wijaya (23) yang tak lain adalah suami Lia dan Wahyudi Mokoagao (23), warga Jalan Setro.

Pertemuan yang rencananya hendak mengajak damai itu malah berubah menjadi pertengkaran akibat kedua kubu tak mau saling mengalah. Karena kalah jumlah, Steven pun dihajar oleh kubu Paulus. Kepala dan wajah Steven dipukul dengan helm dan mobilnya dilempar dengan batu paving sehingga kacanya pecah.

3. Pelamar Kerja ditolak
Detiknet pernah mempublish hasil temuan di luar negeri, bahwa 1 dari 10 pelamar ditolak gara-gara facebook. Kenapa? Perusahaan melacak kebenaran curiculum vitae si pelamar, dan melihat facebook yang dimiliki. Wah, isinya ternyata rajin memaki rasis, dan doyan menayang gambar-gambar seronok.

4. Pekerja Dipecat
Tadi yang cari kerja, kiini kisah pekerja yang pastinya bakal jadi pelamar (gara-gara dipecat di tempat kerja lama). Kerajinan facebook bisa membuat orang lupa sama tugas. Lebih ruwet kalau fasilitas kantor malah jadi fasilitas seperti warnet, online melulu. Jelas dong, perusahaan sewot. Ujung-ujungnya, ya itu tadi, sayoara...

5. Kriminalisasi
Tak perlu detil. Meski tak sedikit delik kriminal gara-gara Facebook ini. Pembunuhan, kekerasan seksual, perampokan dan sejenisnya, seolah jadi efek samping. Sudah tentu, sebisa mungkin kita hindari. Jelas sudah, teknologi memang selalu menjadi pedang bermata dua.

6. Gangguan Jiwa
Sebuah riset mengingatkan penyakit Delusi Internet. Kurang lebihnya, perasaan was-was bahwa ruang privasi kita akan tersebar via perangkat komunikasi di internet, seperti facebook, twiter, youtube dan sejenisnya. Lebih-lebih bagi anda yang masuk jajaran elit sosial dan ekonomi tinggi. Pasti banyak yang iseng ingin mengganggu. Tapi, tentu jangan sampai berlebihan dan mengganggu stabilitas psikologis anda.


Buku Gara-Gara Facebook
Baru-baru ini, ada juga buku yang menuang berbagai kisah seru gara-gara facebook. Buku suntingan dari M. Solahudin, terbitan Leutika Publishing, November 2009 ini lumayan lengkap. Mulai dari cerita gembong narkoba yang ditangkap ---gara-gara keranjingan facebook. Beragam kisah lain juga tertuang.
Dari kehidupan pribadi, sosial, hukum sampai dengan politik. Semua dirangkum secara rapi oleh pihak penerbit. Buku yang bercover biru dan bergambar seorang anak balita mengenakan ikat kepala hitam ini merupakan buku pertama yang dicetak mengenai kisah-kisah para pengguna Facebook. Selamat membaca!

Jumat, Januari 15, 2010

Televisi, Kekerasan dan Perempuan



Every three minutes, a woman is beaten. Every five minutes a woman is raped. Every ten minutes a litlle girl is molested.

Jumat, Januari 08, 2010

Sahabat Mengharu Biru


Tuhan pasti sutradara Maha Agung. Tak secuilpun Martin Scorsese, Steven Spielberg, atau Francis Ford Coppola bisa disandingkan denganNYA. Daftar nama-nama beken di industri sinematografi Holywood itu hanya mampu memuaskan libido imajinasi liar kita. Bahkan tak sedikit, sutradara kelas dunia (bukan dunia akhirat), malahan menjejalkan kekerasan berfikir, menindas akal sehat. Pun, untuk mereka yang mampu mengguncang pasar per-film-an internasional, seperti Roland Emmerich, sang director film 2012!

Siasat Allah ---demikian aku pernah membaca artikel disebuah buku--- pelik nan tak terduga. Namun penuh tetes hikmah yang menyegarkan. Bisa saja, sesuatu yang direncanakan Allah adalah meremukkan daya tahan kesabaran kita, tetapi di lain waktu, justru berbuah dengan rupa-rupa kebaikan. Atau kebalikannya. Sesuatu terasa manis di awal tetapi kecut di penghujung. Hanya satu-satunya kesadaran yang mesti terpatri: apapun rencana dan takdirnya, secara sejati, adalah baik. Lagi-lagi, urusannya adalah soal kemampuan kita menerimanya dengan ridho dan ikhlas. Paling tidak, jika belum mampu menggapai kelas ridho dan ikhlas itu, kita bisa sedikit bersabar (menahan diri untuk tidak meratapi dan mengutuki nasib).

Paparan ini agak klise. Tetapi perlu, guna sedikit menjelaskan perjalanan sejumlah kawan-kawan yang saat ini aku kagumi dengan takzim. Mereka tak melulu sukses dari sisi sempit (berlimpah uang, misalnya). Tetapi justru karena menggapai apa yang menjadi keinginan banyak orang. Kriteria banyak orang itu, adalah salah satunya adalah aku (sebagaimana orang kebanyakan yang hanya bisa berimajinasi dalam tidur atau terjaga).

Cukup petikan dua contoh saja. Satu teman ada di Manado, perempuan, cantik, sukses, pintar, baik hati, dan pernah bersama-sama melakoni proses sebagai aktivis mahasiswa. Sementara satu yang lainnya adalah kawan sekampung ---kini tinggal di Jakarta, ia juga sukses dalam banyak ukuran. Adalah satu pembeda dari dua orang kawan bahagia itu, yang di Manado hingga hari ini masih lajang. Sementara kawan dari kampung sudah menikah.

Membuat aku bangga dengan sebenar-benarnya, si kawan kampung itu punya isteri yang Subhanallah... cantik, dan kesan aku sepertinya orangnya juga baik. Insya Allah akhlaknya juga begitu. Agak cukup menggambarkan salah satu doa ketika Ummat Muslim akan bercermin: Ya Allah, baguskanlah akhlak aku sebagaimana engkau membaguskan wajahku!

Balik ke latar kedua kawan ini ketika "masih belum" ada apa-apanya. Soal pintar, sudah pasti. Si kawan kampung memang tak pernah satu bangku sekolahan. Tetapi kawan-kawan dia di sekolah, adalah teman akrab aku. Mereka kerap bercerita. Salah satu yang selalu mereka sebut: hanya dua orang di kelas yang selalu bergantian berebut ranking, yang satu adalah perempuan, satunya lagi ya kawan aku itu.

Sementara kawan yang dari Manado, jelas banget. Bahasa Inggrisnya perfect. Di HMI dia adalah KOHATI primadona. Cerdas, berani, kritis, dan mau saja ikut demo. Oh, iya, ada yang lupa. Kedua orang kawan itu (yang di kampung dan yang di Manado, adalah sama-sama orang HMI tulen, bukan sekedar ikut-ikutan).

Kedua orang itu, saat ini bisa berinteraksi hanya melalui dunia maya. Mereka pasti sibuk dengan dunianya sendiri. Biarlah...

Tak tahulah, perincian detil kehidupan orang. Itu tak penting. Sebab pokok utama adalah dalam hidup kita bisa belajar dari petikan riwayat orang lain. Agar kita tak mati dalam pesimisme dan tak tumbang oleh kesombongan. Insya Allah...

Kamis, Desember 31, 2009

Para Penulis Buku Yang Mengubur Riwayatku


DULU sekali, saya pernah punya bayangan naif, bahwa para penulis tenar adalah orang-orang bijak bestari, jujur nan menyejukkan.

Terutama di zaman ketika menulis dengan kritis, dengan berani, dengan gagah, adalah pilihan menakutkan. Lantaran akan segera berhadapan dengan rezim bengis (yang lantak persis di huru-hara Mei 1998).

Lalu nasib menggiring ke Jakarta. Berkenalan, bersentuhan langsung, berdiskusi, dan menyimak tingkah polah para selebritis di bidang kepenulisan. Terbukalah semua.

Ada penulis yang rajin menggembar-gemborkan toleransi dan tenggang rasa antar sesama ummat beragama. Namun justru ketika si penulis menghadiri buka puasa bersama di Bulan Ramadhan, tanpa tedeng aling-aling merokok di antara hadirin yang sedang menunggu beduk buka puasa bersama.

Juga penulis lain yang galak menyuarakan hak-hak azasi manusia, tetapi tangannya kegatelan, sering menjawil tubuh perempuan seksi, pun di depan umum. Hingga ada yang menceritakan bahwa manusia penulis itu pernah digaplok pramugari karena jemarinya yang jahil...

Masih ada contoh lanjutan.

Misalnya penulis muda yang teori-teorinya menggugah perlawanan para demonstran, tetapi terhadap bawahan dan kawan-kawan di sekelilingnya sangat pelit dan tegaan. Saya sering sesak dada membayangkan orang-orang seperti ini justru tambah melenggang mulus di panggung politik.

Belum selesai, terutama tentang yang berikut: para tokoh pergerakan yang urat lehernya kuat berteriak pro rakyat miskin, tapi tongkrongannya sekelas penggede berpenghasilan puluhan juta per bulan. Berbalik punggung antara retorika dengan fakta. Teriak anti Amerika, anti asing, tetapi dari Handphone, Jam Tangan sampai kemeja dan mobil, dari luar semua. Ampun....

Tetapi dari semua itu yang sempat mencuat adalah penulis budaya yang teramat sangat humanis (maksudnya dalam tulisannya doang) tetapi memperlakukan bawahan seperti babu. Menyuruh staf-nya menjadi tukang pijit. Padahal si staf itu adalah pegawai negara dengan pangkat satu strip saja di bawah si penulis jumawa itu.


Beberapa Tahun
Sedikit banyak, hal-hal itulah yang memukul mundur riwayat persentuhan saya dengan dunia buku dan tulis menulis. Agak sukar mencari padanan kata yang sopan namun jelas dalam menggambarkan suasana hati saat itu, mungkin cukup dengan kata muak!

Lebih dari enam tahun hilang selera. Menulis malas, membaca juga tergantung selera. Pendulum berubah arah. Lari ke buku-buku agama, ke-Islam-an, novel, atau semua literatur yang dulu ketika masih kuliah aku sebut bukan buku. Oh, ya, waktu kuliah, buku-buku kelas novel, agama, sastra, biografi, psikologi populer, aku sebut bukan buku....

Lantas pelan-pelan, minat itu bangkit lagi. Terutama karena faktor desakan kebutuhan kerja. Kebetulan, profesi menuntut harus agak banyak membaca dan agak sering menulis. Jarum jam berputar arah kembali, memincut minat lama terhadap buku-buku tipe serius. Seperti tema politik, media, lingkungan, dan sejenisnya. Sesekali juga kembali menulis artikel opini atau resensi ke beberapa media.


Bangkit Lagi
Namun yang benar-benar melentingkan adalah justru dari buku-buku populer yang dulu aku pandang malas-malasan. Tak lain adalah buku-buku motivasi dan psikologi populer. Aneh, kok, bisa ya mereka para penulis itu membangkitkan semangat orang. Tidak menyerang, tidak menghina, tidak menjatuhkan, dan tidak saling melecehkan. Ternyata bukan hanya dari penulis hebat kaliber dunia, yang sukses dalam karir ilmiah maupun karir profesional (serta rezekinya bejibun). Tapi juga ada penulis buku motivasi yang dulunya adalah pecandu narkotika, dan malah mantan seorang pembantu rumah tangga di Hongkong sana. Ck..ck..ck...

Sontak batin tertantang. Okelah, berarti semua orang bisa, dan tak perlu berbohong serta menjatuhkan pihak lain. Menulislah dengan dorongan kata hati... Alhamdulillah, selera baca kembali menguat.

Nah, di dalam perjalanan, ternyata ada lagi contoh memalukan, memilukan, yaitu penulis yang menyerang orang lain dengan fisik. Luar biasa. Apa yang diperlihatkan adalah menambah daftar PARA PENULIS BUKU YANG MENJENGKELKAN...

Selasa, November 17, 2009

(Bila) Yahudi (Memang) Cerdas, Tirulah...


TUHAN punya kecerdasan menciptakan segala sesuatu dengan banyak makna. Sengaja saya tulis begitu. Kalau langsung menyebut kalimat: selalu ada hikmah dalam penciptaan, nyaris seperti menanak nasi kemarin sore, terlampau basi.

Mari sepakati, kesediaan melihat dengan perspektif dari sisi berbeda, tinggalah soal mau atau tidak mau. Misalnya dengan melihat sisi baik dari etos perjuangan orang-orang Yahudi. Maaf saja, jika membaca sejarah tokoh-tokoh gerakan zionisme, mulai dari sang ideolog Theodore Hezrl, propagandis Golda Meir, politisi praktis sekelas Ben Gurion, selalu saja emosi membuncah. Lebih-lebih dari buku bacaan yang ditulis dengan bahasa anti Yahudi tanpa kompromi. Sulit rasanya menemukan "sisi baik" dari the founding fathers-nya Israel itu.

Sekali lagi, perspektif dari pojok berbeda. Misalnya dengan memunculkan kalimat tanya: mengapa segelintir orang itu bisa berhasil meyakinkan Bangsa Yahudi di segala penjuru dunia untuk memperjuangkan Erezt Ysrael, pun dengan cara aneksasi berdarah-darah? Padahal, tentu saja, tak semua anak turunan Bani Israel itu mendukung gerakan zionisme. Atau lebih tepat, tak semua setuju cita-cita merebut kembali Tanah Kanaan yang dijanjikan itu dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Salah satu tokoh yang masuk kelompok ini adalah Sang Genius Albert Einstein.

Ada komentar pendek dari buku La Tahzan, tulisan Aidh Al Qorni ---dan buku ini, entah mengapa, tadi malam saya baca lagi, untuk kesekian kali. Katanya, Ummat Muslim yang punya itikad baik sering kali kalah karena tak punya tekad yang kuat. Berbeda dengan orang-orang Yahudi, punya daya juang luar biasa. Golda Meir hanya tidur 3 jam saja, ia bekerja keras menghadiri berbagai rapat, konferensi, pertemuan, di berbagai tempat. Begitu juga dengan tokoh-tokoh Yahudi yang lain. Sementara, Ummat Islam, lebih banyak tidur.

Sesungguhnya bukan hanya tidur, tapi juga tidak jujur.

Kita, Ummat Islam, tak pernah beranjak dari rumus mentah: protes kanan kiri, bakar-bakaran, adu urat leher, dan mengulang-ulang jargon lama: Anti Semit, Anti Yahudi, Loby Yahudi, dan semacamnya. Lantas lalai untuk belajar dengan sungguh-sungguh, atas faktor-faktor pendukung yang menyebabkan Yahudi menjadi penguasa dunia. Stereotype kita tak bergeser ke titik produktif, selalu negatif.


Buka Mata
Saat ini ada peluang membuka mata. Berikut kutipan Resensi Buku Baru, dari Wasis Widodo, dari buku yang berjudul Jerome Become A Genius, Ufuk Press, Oktober 2009. Nah, mari kita baca sama-sama. Bila tertarik, apalagi, kalau bukan segera ke toko buku...


Judul : Jerome Become A Genius
Penulis : Eran Katz
Penerbit : Ufuk Publishing House
Tebal : 442 Halaman
Terbit : Oktober 2009


Stereotipe yang mengatakan bahwa orang Yahudi memiliki otak cerdas begitu lekat sampai sekarang. Baik yang berkonotasi negatif dengan mengasosiasikan mereka sebagai orang yang licik, penipu, dan menakutkan. Maupun yang berkonotasi positif, dalam arti mereka memiliki otak yang brilian.

Hal itu diperkuat dengan sejumlah bukti dari beberapa tokoh Yahudi yang dikenal memiliki kecerdasan luar biasa. Sebut saja, Albert Einstein penemu atom, sutradara kondang Steven Spielberg, pakar keuangan macam George Soros, Alan Greenspan, sampai penemu Facebook Mark Zuckerberg.

Itu belum seberapa, malah beberapa tokoh Yahudi namanya malah sudah menjadi merek terkenal di dunia dan digandrungi banyak orang. Mulai dari bisnis parfum sampai otomotif, antara lain Estee-Lauder (parfum), Ralph Lauren (pakaian), Levi Strauss (celana jeans), dan Adam Citroen (merek mobil).

Memang banyak juga tokoh di luar yahudi yang cerdas, baik dari agama Islam, Kristen, Budha, maupun Hindu. Seperti Ibnu Sina, Isaac Newton, Copernicus, Leonardo da Vinci, dan Mahatma Gandhi. Lalu, mengapa stereotip orang yahudi itu memiliki otak cerdas begitu melekat? Itu karena populasi mereka di dunia begitu kecil, namun memiliki pengaruhi besar di dunia.

Pada tahun 2000, populasi Yahudi di dunia hanya berjumlah 13 juta orang atau hanya 0,25% dari enam miliar penduduk dunia. Sebagai ilustrasi saja, dari sekitar 270 tokoh penerima hadiah Nobel yang diberikan sejak 1901, 102 orang adalah tokoh Yahudi.

Apa pun itu, fakta kecil ini cukup mengejutkan. Bukan untuk memuji, apalagi mengagungkan, namun kenyataan ini menarik untuk diungkap. Bagaimana orang Yahudi bisa dikonotasikan sebagai bangsa yang cerdas.

Rahasia kecerdasan otak orang Yahudi dikupas dalam buku Jerome Becomes A Genius, Mengungkap Rahasia Kecerdasan Orang Yahudi karya Eran Katz. Buku setebal 442 halaman yang diterbitkan Ufuk Publishing House membedah secara detail, mulai dari sejarah, kebiasaan-kebiasaan positif, dan mengembangkan menggunakan otak, sehingga membuat orang Yahudi menjadi cerdas.

Misalnya saja, orang Yahudi percaya bahwa Nabi Musa menuliskan Taurat itu dari ‘api berwarna hitam di atas api berwarna putih’. Mereka pun selalu menuliskan apa pun selalu menggunakan sesuatu berwarna hitam di atas sesuatu yang berwarna putih. Selain warna hitam dan putih tidak mudah pudar, juga memberikan efek ketenangan sehingga lebih mudah dibaca dan diingat.

Mereka pun memiliki prinsip dalam kondisi susah dan miskin, anak-anak mereka harus tetap belajar dan sekolah. Bahkan mereka memilih lebih baik tidak makan daripada tidak membaca buku dan sekolah. Jadi tak usah heran bila di pedesaan miskin (Ghetto) di Israel, setiap anak selalu memiliki, minimal sebuah buku bacaan.

Guru-guru yang mengajarkan pelajaran kepada anak-anak akan menerima imbalan yang luar biasa. Bahkan bila guru itu tak mau menerima bayaran, mereka akan mendapat penghormatan melebihi hormatnya seorang anak kepada orangtua.

Bangsa Yahudi menyadari bahasa Ibrani bukan bahasa yang komunikatif dan tak seindah bahasa Arab, makanya mereka mengembangkan teknik khusus menguasai berbagai bahasa asing.

Karena itu, dalam satu bulan seorang Yahudi bisa menguasai sebuah bahasa asing secara sederhana. Hal itu membuat banyak orang Yahudi bisa cepat berbaur di berbagai belahan dunia, mulai dari Eropa, Amerika Serikat, sampai ke Amerika Latin dan sejumlah negara Arab.

Buku ini cukup unik dan menarik. Dituliskan dengan bahasa bertutur yang diangkat dari pengalaman penulis dengan dua rekannya Itmar Forman, seorang profesor dan Jerome, seorang pelajar yang pintar, membuat kita mengerti mengapa sampai ada mitos Yahudi itu cerdas.