Kamis, Februari 11, 2010

Valentine Day Ala The Jakarta Post


"Lho, kok, Valentine Day cuma ngasih kado The Jakarta Pos?"

Sergah seorang Ibu kepadaku, beberapa tahun lalu. Tak ada bayangan apapun, bahwa si Ibu akan menanyakan sesuatu yang selama ini telah jauh dari file memori aku: Hari Kasih Sayang, Valentine Day. Bukan apa-apa, menjelang usia Life Begin At Fourthy ini, pikiran lebih padat dengan urusan pekerjaan dan... utang!

Sialnya, jawaban cerdas untuk menghindar tak jua datang.

Memang sepenuhnya tak siap. Datang ke rumah si Ibu, seraya membawa koran The Jakarta Post justru memenuhi amanat. Seorang gadis muda, cantik, mahasiswi jurusan bahasa Inggris di Untirta Banten, anak dari Sang Ibu itu, menitahkan sebuah amanat. Disampaikan via SMS berbahasa Anak Baru Gede ---dan sempat membuat kening mengernyit, lantaran tak mengerti. Maklumlah... Posisi seorang pria dengan dua anak, sudah jauh dari gaya bahasa ABG. Kalau tak salah, deretan hurup di layar HP aku itu bertuliskan:

bang, mnta tolong dunk, bawain koran english. q da tugas kampyus neeeh. plis, plis, plis :)


Dengan semangat 45, pesanan itu kupenuhi. Mencari koran Inggris terbitan Grup Gramedia Kompas itu semudah meniup kapas di ujung jemari. Nggak pake beli pula, tinggal ambil. Dorongan lain yang menggelegak adalah bersitatap muka dengan perempuan muda...

Tapi mengapa seorang Ibu, tepatnya Ibu Hajjah, iseng menyentak dengan kalimat "kado Valentine cuma bawa koran?" Padahal dia tahu persis tak mungkin anak gadisnya mendapat sesuatu dari seorang pria yang sudah berumah tangga? Kalau urusannya bercanda, jangan-jangan memang benar, perayaan V-Day telah menjadi milik umum. Bukan spesial pasangan lajang. Tetapi juga untuk laki-laki beristeri kepada perempuan belum bersuami. Artinya, boleh saja saya (jika suatu saat kepikiran), tiba-tiba memberi kado V-Day kepada seseorang (yang sosok, penampilan, dan statusnya, saya tentukan sesuai selera). Ah... mudah-mudahan jangan sampai begitu.

Gawat perkara, kalau budaya Hari Kasih Sayang sudah seliberal itu. Cowok lajang memberi kado cokelat kepada isteri orang; gadis cantik muda perawan meminta hadiah kepada seorang yang dipanggil keponakannya paman; atau seorang kakek mengirim bunga dan cokelat kepada cucu perempuan orang lain... Setahu saya, belum ada film, buku, sinetron, dan iklan yang mengajari "kekurangajaran" seperti itu.

Sumber diskusi memang si Ibu.

Di usia yang telah jauh dari The Golden Age untuk seorang perempuan, masih juga kepkiran V-Day. Tahu dari mana? Dengan wawasan lengkap pula, bahwa hari 14 Februari itu mesti memberi kado. Jangan-jangan, Ibu Haji (biasa aku panggil begitu), paham secara seksama bahwa hadiah V-Day yang paling cocok adalah sebungkus cokelat dan sekuntum mawar... Bukan The Jakarta Post itu!

Mudahnya adalah dengan menuding televisi, iklan, tayangan selebritis, dan rupa-rupa barang publikasi lain. Hari-hari terakhir ini, bahkan produsen barang yang tak ada jalin-hubungan dengan urusan kasih sayang sekalipun, mempublikasikan produknya dengan warna-warni dan atribut V-Day. Seperti iklan cat, perusahaan asuransi, dan produk perawatan tubuh.

Pointnya adalah: kedahsyatan media massa.

Bukan kita yang mendefinisikan apa yang kita mau, barang apa yang dibutuhkan, dan agenda seperti apa yang layak dilakoni. Media redefined our life. Teori klasik dari komunikasi massa memang meningatkna tentang hal itu. Disebu dengan teori Jarum Hypodermik. Kita, massa penonton, seperti pasien yang disuntik serum, terpengaruh begitu saja.

Hari ini babak baru daya terpa media semakin menggila. Bukan saja media "mengajari" tetek bengek gaya hidup kita. Menunjukkan mana barang bagus dan mana komoditas kuno. Menawari dengan desain bagus, makanan apa yang perlu dan cemilan apa yang tak bermutu. Mengajak atau membujuk pergi ke tempat anu dan meninggalkan tempat anu. Pendek kata, kalau mau eksis, hiduplah seperti kehidupan dalam publikasi media.

Akhirnya, media massa bukan saja mendefinisikan bagus dan tidak bagusnya sesuatu untuk kita ikuti atau tiru, tetapi juga memanipulasi instink dan naluri kita yang paling purba sekalipun!

Kasih sayang adalah instink, its perfectly human. Hubungan emosional antar sesama adalah hukum naluriah. Tetapi media memanipulasi dengan (sebenarnya) cara-cara kasar. Maksudnya kasar dalam tujuan tetapi lembut membujuk dalam pengemasan.

Misalnya perayaan Valentine Day.

Media massa dan para punggawanya tahu persis, dari ujung Papua sampai pelosok Maroko, orang tahu berkasih sayang. Tetapi, ini dia, caranya berbeda-beda. Mungkin disertai keunikan, gaya khas, kental tradisi, dan disertai filosifi dan makna mendalam. Media tak berurusan dengan keragaman cara berkasih sayang seperti itu. Lantaran tidak komersial dan jauh dari peningkatan taraf gengsi. Maka jalan pintasnya adalah mengajari cara dan kemasan berkasih sayang.

Media mengemas V-Day dengan nuansa, atribut, warna, tema, bahkan hari dan tanggal dan waktu dengan semirip mungkin. Kalau pun ada perbedaan, hanya dalam urusan teknis tambahan. Itulah yang hadir dalam film, lagu, showbiz, pesta, dan segala barang dagangan di televisi dan Mal.

Di sini hukum monopoli berlaku. Seakan momen kasih sayang paling "menyentuh-mengharukan" adalah V-Day. Lalu harus dipestakan beramai-ramai di setiap pojok planet. Padahal, tak jelas benar, di mana sosok heroisme dan keteguhan nilai V-Day? Sejarahnya sekalipun masih kontroversial. Semangat kasih sayang yang universal, sejatinya, tidak berbentuk tunggal. Melainkan beragam tema dan berbagai cara. Bukan melulu sekotak cokelat dan setangkai mawar...

Jika bersumber dari narasi sejarah dunia, tak kurang cerita yang mengharu biru dengan tema kasih sayang ---terkhusus antara pria dan wanita muda. China mengenal Sam Pek Eng Tay, di Jawa ada Roro Mendut, di Bali, di Sunda, di India, atau bahkan spirit Romeo Juliet, jika urusannya adalah mesimbolisasikan kasih sayang. Tetapi hikayat-hikayat ini kalah komersil oleh V-Day.


Tambahan lain, betapa terkuras naluri purba manusia untuk berlomba menghabiskan energi dan potensi diri ke arah pemujaan terhadap barang! Pengidolaan terhadap komoditas jualan dan pesona kecantikan sensualitas adalah tradisi lama dengan kemasan (selalu) baru. Lagi-lagi media mengeksploitasi gairah ini.

Bila begitu, kini saya memaafkan Sang Ibu dan juga anak gadisnya. Mereka juga adalah bagian dari manusia yang penglihatan, pendengaran, dan juga mimpi-mimpinya, telah dibantu dengan intensif untuk mengikuti selera media massa. Happy Valentine Day for All...

Audit Komunikasi Pansus Bank Century


Di DPR ada sesuatu yang membuat banyak kalangan cemburu. Bukan lantaran tungkai kaki lenjang milik Aura Kasih atau sensasi no bra dari Andi Soraya. Melainkan menyasar kepada sekelompok politisi di Pansus Bank Century.

Kecemburuan menguat, manakala kemeriahan Pansus bertabur dengan rupa-rupa peristiwa. Seolah DPR RI hanya terdiri dari Pansus Century, yang lain “pemain figuran” belaka.

Coba hitung, ratusan aksi massa yang pro dan kontra. Ribuan spanduk dan atribut demonstrasi. Berlahirannya istilah-istilah baru yang sebelumnya tak diajarkan di kamus politik (seperti istilah banxxxt, masuk angin, dan yang terbaru industri Pansus). Sampai ke urusan berapa besar biaya yang sudah dihabiskan.

Televisi pun seperti mendapat berkah. Liputan nyaris blocking time, tak kenal pagi, siang, malam, terus-terusan ditayang ekslusif. Berlembar-lembar halaman koran mencetak berita utama, hari demi hari. Jika memakai tradisi Majalah TIME, maka Pansus Bank Century tergolong Mans of The Month. Sengaja memakai istilah “man”, karena “woman” tak kelihatan…

Padahal ada potensi tandingan dari mana-mana. Saya ingat persis, di tengah rapat Pansus yang mirip telenovela itu berlangsung, di Komisi VIII DPR RI gencar mengkritisi penyelenggaraan haji. Juga di Komisi lain yang tengah sibuk membahas APBN Perubahan (dengan nominal jauh di atas kasus Century). Tetapi realitas itu tersaput “komersialitas” pemberitaan Pansus.

Di luar lingkungan parlemen, tak sedikit hiruk-pikuk rakyat berhamburan. Ada demonstran menggembalakan kerbau di lahan beraspal (pasti dia bukan anak petani, atau penggembala dadakan!). Rangkaian peristiwa bunuh diri. Berita penculikan anak-anak di bawah umur. Atau segala sesuatu yang setelah selesai anda simak hanya bisa mengelus dada…

Lalu apa faedah yang terpetik? Selesai sebagai showbiz politik dengan akhir layaknya sinema Hollywood?

Untuk orang-orang yang terlibat langsung, terutama politisi DPR RI, arahnya mudah ditebak. Jika patokannya harga normal, minimal biaya Pansus meneyerap anggaran dua milyar rupiah. Tak tahulah jumlah yang tercantum dalam nota tak tertulis. Boleh jadi, cibiran Wakil Presiden Boediono bahwa Pansus sudah menjadi industri, berlatar dari “pengetahuannya” tentang biaya politik Pansus. Dalam rumusan orang awam pun, istilah industri selalu mengacu pada investasi, keuntungan, dan uang banyak. Pihak lain menyindir Pansus melulu menghamburkan anggaran negara, buying time, dan politik dagang sapi (political trade off).

Masalahnya adalah tak ada makna pendidikan politik apapun jika kritik berkutat ke pusaran “kecurigaan” melulu. Jelas-jelas kinerja Pansus butuh dana. Termasuk bargaining, loby, dan pendekatan. Begitu juga kampanye penggalangan dukungan. Semua itu masih berada dalam wilayah fatsoen politik dan memenuhi kadar kepatutan. Publik juga paham persis, hukum ketatanegaraan kita memungkinkan terjadinya proses-proses politik di Pansus itu.

Kalaupun lahir gugatan, jauh lebih segar andai menyasar pada efektivitas dan pelipatgandaan manfaat dari Pansus Bank Century ---terutama untuk khalayak ramai.

Posisi Netral
Lantaran negeri ini jenuh dengan mimpi dan pengandaian, maka tulisan inipun tak patut diawali dengan kata: “jika atau andai”. Semisal mencantumkan utopia: jika saja seluruh rakyat berhak menentukan, maka mereka akan memilih kompromi terbaik (kembalikan saja uang negara, salurkan untuk kaum tak berpunya!).

Tetapi wacana Pansus mahal, melelahkan dan sekonyong menjadi cibiran sejumlah golongan, tak boleh juga dituruti. Kalau perlu, justru dibendung sedari awal. Sebab jika telah membesar menjadi opini publik, lantas menimbulkan apatisme serta kemarahan khalayak, maka benar-benar panggung Pansus hanya melahirkan kerusakan dan kemudharatan.

Dari ukuran apapun, baik konstitusi, regulasi, fatsoen politik, hingga urusan kebutuhan faktual, Pansus Century memang layak hadir ---kecuali, sekali lagi, “jika” saja tak ada peristiwa dana talangan trilunan rupiah ke Bank Century.

Logika politik pun harus ke arah rasional: bahwa Pansus adalah metode membongkar kejahatan politik yang tidak biasa (extraordinary circumstances). Kebijakan dana talangan Bank Century, jika terbukti bersalah, adalah kejahatan luar biasa. Lebih dahsyat dari sekedar “kejahatan kerah putih”, kejahatan korporasi, atau sekedar korupsi kebijakan. Justru jauh melampaui semua itu. Boleh jadi, sudah termasuk kejahatan konspirasi. Nah, mengusut kejahatan seperti itu benar-benar butuh strategi politik seperti yang terdapat di Pansus Bank Century DPR RI.

Pembelajaran terpenting adalah terang benderang: biarkan Pansus bekerja, jangan ada delegitimasi politik apapun. Bisa jadi suatu hari nanti, bangsa ini butuh alat Pansus untuk mengusut peristiwa politik yang merugikan rakyat.

Audit Komunikasi
Terakhir arah politik Pansus memang mengecewakan. Tensi politik menurun, rapat sudah kehilangan greget, dan seperti terbaca arah ke mana. Padahal, selama proses kemarin, letupan semangat publik seolah terwakili. Terjadi debat panas, dan agak sukar para politisi untuk berpura-pura. Ada harapan agar Pansus bergerak ke ”bola liar” yang tak bisa dijinakkan dengan mudah. Juga melibatkan emosi para petinggi negeri. Tapi, entah karena terlalu lama, Pansus tiba-tiba mencapai anti klimaks.

Barang sudah jadi bubur. Rakyat, untuk kali ini, jangan lagi mengidap amnesia dan terlalu asyik dengan ”ingatan pendek”. Kita semua punya rekam jejak secara lengkap. Catatan tentang baik buruknya perilaku Anggota DPR RI, sikap tidak tegas dari Fraksi, atau polah tingkah para pejabat, adalah data-data primer yang bisa kita audit. Mari periksa secara seksama, lakukan audit komunikasi atas tindak tanduk para pihak yang terlibat di Pansus. Tujuannya satu: menagih integritas dan kebenaran aktivitas mereka dalam Pemilu nanti....

Sabtu, Februari 06, 2010

Saya (masih) Cacing di HMI...


Sejarah tak mencantumkan nama para cacing. Bahkan tidak untuk catatan kaki sekalipun. Seperti keluhan Antonio Gramsci, bahwa sejarah tak pernah mencatat pengorbanan cacing yang menggemburkan ladang…

Kalau bangga dengan artefak Borobudur, maka ketakziman hormat itu barangkali mengarah kepada Wangsa Syailendra, atau kepada pesan-pesan kultural keagamaan yang ditoreh dalam relief. Selalu tidak ada pengingatan tentang berapa ribu nyawa melayang, diperbudak mengangkut bebatuan besar dari dasar ke puncak. Siapa punya catatan tentang penindasan Dynasti Rhamses (Firaun) ketika menitahkan ambisi pembangunan Pyramida Sphinx?

Bertebaran ribuan hikayat fiktif atau faktual yang bisa dicandra siapa saja, hari ini. Tentang bangunan, bendungan, patung, tugu, dan peninggalan-peninggalan bernama keajaiban dunia, yang dikenang banyak orang. Tetapi, sekali lagi, tidak untuk mempertanyakan bagaimana para budak, buruh, romusha, atau koeli rodi meregang nyawa ---demi kehendak ambisius para penguasa.

Tetapi sejarah bukanlah kincir angina yang bisa dihentikan. Meski berputar dan cenderung terjadi pola-pola pengulangan, sejarah harus terus berlalu. Jika dulu peninggalan-peninggalan besar selalu mengharumkan nama-nama besar, hari inipun mirip seperti itu. Kecuali ada sedikit saja perbedaan. Bahwa orang-orang besar hari ini juga lahir atas jasa orang kecil dalam jumlah besar.

Di mana posisi anda hari ini?

Orang besar yang menempel pada orang yang lebih besar? Atau orang besar yang bertengger pada jumlah besar orang-orang biasa? Dengan cara wajar atau culas, sejumlah nama besar di jagad kekuasaan agaknya melulu membesar dari dua pola itu. Tentu tidak gratis. Memakai formula berlapis-lapis. Barangkali dengan kemampuan “menjinakkan” para petinggi negeri. Atau barangkali dengan manipulasi dalam panggung Pemilu untuk “merebut” suara orang-orang biasa (tetapi dalam jumlah besar).

Karuan saja ini bukan kemarahan tanpa makna. Lantaran kita miskin contoh untuk pola-pola menjadi tokoh besar dengan jalur-jalur alternatif. Belum ada pemenang Nobel (versi apapun) yang kemudian benar-benar dicintai seraya menjadi teladan (figur) publik. Belum banyak lahir atlet kaliber dunia yang merebut kecintaan lahir batin dari jutaan penduduk. Masih sedikit para intelektual, akademisi, atau professional yang mengharu biru dunia karena karya hebat ----lantas merebut simpati suara rakyat.

Artinya, panggung politik kekuasaan hari ini berkutat dalam dua alur besar tadi: manipulasi suara dukungan rakyat dan ketergantungan tinggi terhadap kekuatan yang lebih tinggi. Jika rumusannya masih seperti ini, maka wajar saja bahwa kompetisi politik yang berlangsung selalu memakan “banyak korban”.

Berikut adalah pengakuan: hingga hari ini posisi politik saya berada dalam orbit “banyak korban” itu. Sederajat saja dengan tukang ojek ---yang meraung-raungkan motor berkonvoi bising dalam kampanye Pemilu. Setingkat lebih tipis dari pemilih buta hurup yang datang ke TPS karena dipelototi Kepala Desa. Tidak berbeda jauh dengan ratusan juta pemilih lain, yang statusnya adalah partisipan politik. Suara dan dukungan kami mengalir begitu saja. Tanpa daya kuasa bila ada the factor yang mengarahkan ke muara, danau, atau malah ke saluran got kotor.

Tetapi apakah itu nista?

Harga yang harus dibayar adalah perasaan terhimpit. Meskipun ada nasehat yang terus terngiang, dari Almarhum Nurcholis Madjid. Bahwa dalam melahirkan seorang tokoh, selalu ada tunas yang merepuh, menjadi jasad renik yang menyuburkan tunas yang lain. Dalam satu rumpun pohon bambu, tak semua tunas menjulang, ada yang mati, tak berarti.

Penghargaan tak bisa diharapkan datang dari siapapun. Tak berbilang kisah tentang orang-orang yang besar atas dukungan kelompoknya tiba-tiba terbang menjauh, tanpa datang lagi ke dangau. Menengok pun tidak. Saya kira, bila ukurannya adalah organisasi HMI, maka HMI adalah ladang subur untuk bertumbuhnya ratusan (atau ribuan) tunas. Serta ladang “pembantaian” untuk ribuan lain yang tak jadi apa-apa. Itulah yang disebut “cacing” oleh Antonio Grmasci ---sekedar ikut menyuburkan lahan.

Tetapi juga jangan kaget. Ribuan kader HMI kerap mempermulus langkah orang-orang besar di mana-mana. Tak cuma di panggung politik, tapi juga di jalur birokrasi, pemerintahan, dan mungkin juga bisnis. Nama-nama mereka tidak disebut sebagai orang besar, dan dengan mudahnya diabaikan oleh para pihak yang telah diuntungkan. Namun, seperti cacing, mereka tidak berpotensi menggulingkan apalagi menistakan. Selalu membuat subur ladang….

Kembalinya adalah kepada Tuhan. Tuhan, bila aku pernah sedikit saja berjasa, bagi siapa saja (yang kini telah menjadi orang-orang besar dari HMI) maka Engkaulah yang menentukan.

Hingga hari ini, Saya Masih Menjadi Cacing di HMI.

Selasa, Februari 02, 2010

Komputer DPR RI Terlalu Mahal? Mari Lacak...


Enemy of my enemy is my friend. Rumus ini seolah menjadi formula jitu dalam dunia perpolitikkan. Tetapi, dalam kondisi tertentu, kisah keseharian kita sering terkerangkeng dalam rumusan yang sama. Salah satu cara untuk selamat dari "kredo" itu adalah menjaga kewarasan dan akal sehat.

Masalahnya selalu ada pihak yang keliru mengambil posisi, sudah tentu juga keliru dalam menempatkan sesuatu sebagai "musuh". Sembari meletakkan rasa hormat dengan seperlunya saja, saya menganggap kawan-kawan pers dan aktivis LSM hari ini memperlakukan DPR RI (dan segala isi di dalamnya) adalah sebagai musuh.

Dalam politik, posisi sedemikian secara sempurna memperlihatkan cara pandang "binner oposition". Cara pikir yang meletakkan sesuatu selalu bertentangan secara keras, hitam-putih, tanpa ada celah kompromi. Dalam batok kepala orang-orang seperti itu, tak ada istilah yang akrab disebut sebagai "grey area", wilayah abu-abu, yang memberikan banyak opsi dan alternatif.

Celakanya, mindset seperti ini tidak dikonsumsi sendiri. Artikel ini tak perlu muncul bila urusannya orang per orang belaka. Lain perkara karena mereka (pers dan aktivis LSM itu) gencar melakukan kritik dan evaluasi terhadap DPR RI, seraya melakukan psywar-perang urat syaraf di media. Alias melakukan rangkaian publikasi sistematis. Dengan muara yang kentara sumir: melakukan public distrust, menggerogoti kepercayaan publik terhadap parlemen.

Teknik tergampang dari operasi black campaign seperti ini adalah dengan mem-blow up perkara sepele menjadi besar. Sembari menghilangkan detil informasi, menyingkirkan azas keberimbangan informasi, dan menistakan informasi alternatif.

Artikel ini, maaf saja, bukan pembelaan hitam putih. Melainkan berpihak pada kepatutan. Bahwa yang benar, publik harus memiliki kesadaran bahwa dalam politik tak boleh ada musuh abadi. Bahkan, jika sepakat dengan petuah Almarhum Nurcholis Madjid, bahwa dalam politik, sejatinya tidak memposisikan pihak yang berseberangan sebagai musuh atau enemy, melainkan cukup sebagai lawan atau oponen. You are my oponen, not my enemy...


Distorsi Informasi

Duduk perkara adalah publikasi gencar tentang pengadaan fasilitas komputer baru di ruang anggota DPR RI (artinya juga adalah ruang kerja Staf Ahli Anggota dan Asisten Pribadi Anggota DPR RI). Berita-berita yang dilansir, sebagaimana lazimnya, melakukan teknik penjudulan yang menggunakan kata-kata penuh "daya gugah" dan "daya kejut". Tak ada judul yang normal atau biasa saja (barangkali kalau seperti itu, takut tak dibaca orang).

Simak saja:
1. Wow, Anggota DPR RI Mendapat Komputer Mewah...
2. Komputer DPR RI, Rp. 15 Juta Terlalu Mahal...
3. Pengadaan Komputer DPR RI Potensial Korupsi...
4. Komputer di DPR RI Diganti 2 Tahun Satukali...

Di luar judul, isi pemberitaan kentara tidak bersumber dari pelacakan serius. Sekedar, mengutip Ana Nadhya Abarar, pakar komunikasi politik, meletupkan realitas psikologis semata. Realitas psikologis adalah pernyataan nara sumber terhadap media yang dilakukan at time at locations without investigation. Bicara di tempat itu, di waktu itu, selesai. Tanpa ada pelacakan detil. Nihil konfirmasi dari narasumber lain. Dan, maaf saja, miskin otoritas serta kompetensi.

Pemberitaan model begitu, aduh, jauh dari porsi pencerdasan pubilk. Bayangkan saja: para jurnalis bergerombol, sibuk kanan kiri, di hadapan nara sumber. Pertanyaan tak mungkin mengejar, cukup sepenggal-sepenggal saja. Alhasil, ucapan yang keluar pun hanya sedikit lebih bagus dari asal bunyi. Inilah salah satu penyakit jurnalisme kita --dan juga narasumbernya.

Mau contoh? Dalam konteks ini adalah pernyataan seputar komputer DPR RI. Ada narasumber yang menyebutkan bahwa komputer mahal itu paling banter dipakai main facebook. Berita lain menyatakan bahwa komputer mahal itu hanya cocok untuk layouter, untuk setting image, design, dan desktop publishing belaka. Intinya, mempersoalkan produktivitas dan manfaat dari komputer DPR RI.

Jika dilakukan analisis isi, gamblang terlihat bahwa framming (pembingkaian isu) dalam masalah komputer DPR RI berada dalam garis delegitimasi. Setidaknya ramai-ramai menghasut sentimen pubilk untuk terus memperlakukan DPR RI sebagai musuh. Pencitraan dan opini publik yang dibangun adalah DPR RI sarang kerakusan dan ketamakan.... Kebetulan sejauh yang terlihat, pihak DPR RI lemah dalam melakukan hal ini. Lengkap sudah, mereka senantiasa menjadi bulan-bulanan massa.


Sederatan Fakta

Di tingkat paling dasar, berita-berita tentang komputer DPR RI bahkan gagal memenuhi "prinsip dasar jurnalisme", yaitu kecermatan. Jikapun berita komputer itu tidak berniat melakukan penyesatan informasi publik, maka paling pantas disebut berita keliru. Patut diketahui, pengadaan komputer tersebut bukanlah untuk properti pribadi Anggota DPR RI, melainkan sebagai alat penunjang kerja Staf Ahli Anggota. Nah, dalam pemberitaan, fakta ini sama sekali tak (ter)sebutkan.

Bagaimana dengan tuduhan "paling banter dipakai main facebook-an?

Setahu saya, komputer itu benar-benar optimal menunjujang kinerja. Dengan SDRAM mencapai 3-5 Gigabyte, Memori berkapasitas 350 Gigabyte, Printer Canggih, bisa scan, fax, tentu memudahkan urusan kerja. Cocok untuk mobilitas politik. Ingat, urusan Anggota DPR tak melulu berkutat di ruang rapat dan ruang kerja. Melainkan juga ke konstituen, mitra kerja, media, perguruan tinggi, termasuk juga dengan LSM dan pers. Kecapatan dan tampilan fisik yang baik, tentu menjadi harga mati.

Faktanya, tak mungkin terus menerus dipakai Facebook-an... Mana berani kita iseng berselancar di situs jejaring sosial, manakala pekerjaan bertumpuk, dan agenda bos sedang sibuk.

Berita lain yang segera terbantah adalah tentang penggantian komputer yang dilakukan dua tahun satu kali. Secara pribadi, saya tak mengalami hal itu. Komputer yang kini menjadi cadangan, HP compaq dengan processor Intel Pentium 4, sudah lima tahunan belum diganti. Bagaimana ini?

Pengharapan
Sudah tentu, paparan ini adalah pendapat pribadi. Meski tak tertutup kemungkinan disepakati oleh ratusan kawan-kawan se-profesi. Dalam kemelut perpolitikan yang kian rumit, mengapa harus berlelah-payah melakukan gugatan atas hal-hal yang tidak perlu (atau perlu, tetapi tidak substantif). Lagipula, ingat pesan Samuel Huntington, bahwa langkah awal mengahancurkan proses konsolidasi demokrasi adalah dengan terlebih dahulu melakukan delegitimasi terhadap proses dan lembaga demokrasi yang sah. DPR RI bukan musuh, mungkin lawan... Tapi jangan diabadikan.

Kamis, Januari 28, 2010

Segera Akan Aku Resensi: The Lost Symbol


Insya Allah, ada sisa rezeki buat beli novel bagus ini. Mudah-mudahan sudah ada edisi bahasa Indonesia-nya.

Minggu, Januari 24, 2010

Aku Berlindung Dari Godaan Politik Yang Tidak Lucu


Pansus Bank Century. Antashari diancam vonis mati. Bonek Persebaya mengamuk (lagi). Jakarta selalu macet. Demonstrasi tiada henti. Satu kilogram ganja ditangkap polisi. PSSI keok melulu. ATM milik nasabah dibobol. Para selebritis cerai melulu. Terhiburkah?

Untung ada Budi (ada Wati, ada Ibu Budi, kata buku teks SD). Juga Rianty sang bidadari di Beauty And Azis. Boleh juga ditambah Opera Van Java dan Sinden Gosip. Sekali lagi, cukup terhiburkah?

Urat syaraf kita nyaris tegang meski belum putus. Tapi bisa putus juga manakala kepenatan sajian berita plus infotainment (ini juga keliru, sebenarnya gossiptainment) ditambahi dengan beban rumah/kantor yang menggunung. Listrik belum bayar. Air PAM macet. Tetangga buang sampah seenaknya. Eh, di kantor ada kawan yang dengki (bikin isu panas bahwa kita "main mata" sama roman kinclong di ruang sebelah).

Sudahlah. Mungkin televisi dan koran-koran ditakdirkan untuk menggerojok ketenangan batin.

Mengapa harus disebut takdir? Mana bisa kita menghindar. Coba-coba matikan televisi. Berhenti baca koran. Tak dijamin bebas berita. Diam-diam kawan makan siang ngoceh: eh, itu Pansus Century serius nggak ya, Demokrat terlibat tidak, ya? dan serentetan pertanyaan lain. Kalau anda perempuan, lebih celaka. Pagi-pagi kaum sahibul rumpi berkicau: tega-teganya, ya, Ruhut Sitompul bilang banxxat!

Jelas-jelas publikasi TV One, Metro TV, atau Radio El Shinta News and Talk serta Kompas plus detik.com itu tidak disetting untuk membuat tawa terbahak. Mayoritas politik melulu. Awal berita muncul, memang asyik juga. Tapi kalau kelamaan seperti Pansus Bank Century, jadi sepet juga. Persis mengunyah permen karet lebih dari 360 detik (satu jam, Brow! ueneeek).

Pemirsa televisi, pembaca koran, pendengar radio, juga ditakdirkan untuk sering-sering mengusap dada.

Giliran melihat tayangan humor, seperti guyonan Tukul, Budi Anduk, dan Azis, kekonyolan bermain-main tanpa batas. Berhambur kata-kata ejekan. Obralan julukan-julukan hina. Jualan perempuan-perempuan seksi. Dan sedikit saja humor cerdas yang sehat.

Bukannya harus anti. Tetapi justru bertentangan dengan prinsip humor itu sendiri. Humor, sejatinya, variatif, banyak versi, kaya karakter, dan bertabur kreativitas. Pengulangan nan membosankan, repetisi tiada henti, duplikasi, basi, seperti permen karet 360 detik itu pula. Capek, deh.


Humor Politik

Karena langit politik pengap, kita butuh pelepasan. Tokoh jenaka dengan joke cerdas telah tiada (Selamat Jalan Gus Dur, andalah penyelamat nalar sehat kami). Barangkali yang tersisa tinggal teks. Sulit rasanya, jika cuma mengandalkan tampang para elit. Setuju saja sebetulnya, tampang Susno Duadji itu lucu, tapi tidak menghibur. Mencari lelucon segar di balik panggung kuasa hari ini sama sulitnya mencari jarum di setumpuk onggokan jerami.

Saya juga tak berani janji, ke mana harus mencari perlindungan atas kebosanan-kebosanan kita. Baca buku Humor Politik juga nyaris seperti makalah mahasiswa yang dikejar deadline, copy paste sana-sini! Pun situs humor politik, cuma beda alamat isinya nggak jauh-jauh amat. Nah, barangkali bertukar cerita pengalaman pribadi rada sedikit menolong.


Ini Serius

Seorang anggota DPR RI dari daerah, berlatar bisnis atau pengusaha, pokoknya urusan jual beli gitu lah... (mungkin juga jual beli perkara, kali, ya). Dalam sesi wawancara, seorang jurnalis bertanya: Pak, apakah Bapak punya alamat e-mail. Tanpa ba-bi-bu, si Anggota menjawab santai. Dulu sih ada... tapi sudah lama saya jual. He..he..he..

Saking tua, seorang anggota dewan sudah malas naik ke ruang pribadinya di Gedung DPR Nusantara I, lantai tertentu. Lantaran mendesak, ia terpaksa harus ke ruangannya itu. Begitu ke luar dari lift di lantai tujuan, si anggota bertanya ke Satpam: Mas, ruang kerja saya di sebelah mana, ya.... Nah, lho, ruang kerja sendiri saja sudah lupa, apalagi nasib rakyat :)

Dua kisah barusan memang tidak berkaitan langsung dengan saya, alias mengutip cerita kawan.

Tapi tiga di bawah ini, persis saya alami sendiri.

Di musim kampanye April tahun yang baru lewat, kebetulan saya mendampingi bos yang bertarung untuk kursi DPR RI. Si Bos, kebetulan berani pede kalau menghadapi khalayak di perdesaan dan pelosok kampung (asumsinya: mereka tidak kritis).

Saat itu, rakyat mengeluh bahwa mereka hingga hari ini tak menikmati aliran listrik. Giliran si Bos berbicara. Dengan yakin beliau bertanya: Sejak Kapan Bapak-Bapak tidak menikmati listrik? Sontak hadirin tertawa terpingkal-pingkal. Sudah jelas dari zaman batu era nenek moyang, mereka tak pernah mengenal listrik, kok, masih ditanya sejak kapan?

Masih ada, ini di tempat lain. Berceramah dengan anak-anak SLTA ---menghadapi kaum belia seperti inipun, bos masih pede, dengan asumsi yang sama, mereka tidak kritis.

Ada Ketua OSIS yang mengeluhkan praktek korupsi di sekolah, dan bertanya apakah kasus seperti ini bisa dibawa ke KPK? Bos, enteng saja menjawab: pasti bisa! Kalian laporkan saja ke KPK di Kabupaten... Hua...ha.. ha.., nanti kaleee, KPK bisa berada di Kabupaten kalau sudah ada lebaran monyet... wakakakakak.

Di gedung DPR juga bertabur cerita nyata nan jenaka ---mudah-mudahan begitu, kalau tidak, aku malu sendiri.

Dalam forum Rapat Kerja bersama Menteri Kabinet Indonesia Membangun II, pendek istilah Kabinet SBY, seorang anggota DPR bertanya penuh semangat (nggak pake 45).

Pak Menteri, saya bilang ke orang-orang di daerah, bahwa organisasi bantuan bencana di daerah itu akan mendapatkan bantuan dana dari pusat. Saya bilang begitu ke mereka, Pak Menteri, biar mereka semangat. Betul kan, Pak Menteri, memang ada bantuan dana dari Pemerintah Pusat?

Tanpa ragu, Pak Menteri menjawab: tidak ada tuh... kata siapa? Gerrrrrr.... seluruh hadirin di ruang rapat tertawa. Termasuk saya yang berada di balkon atas.

Nah, kawan-kawan, keep your reason. Jangan hilang akal dengan kejenuhan. Kita tuker-tukeran cerita humor politik, yu. Ditunggu...

Sejarah Kami Mencintai Buku... di FKMM Manado


Berani sumpah! Suara paling merdu di FKMM Jalan Kleak Manado adalah milik Maemunah "Nana" Abdullah (semoga Allah selalu memberikan hujan maghfirah dan ampunan). Berani tidak sumpah ---takut dapat murka Wati Razak, eh, atau Rozak--- yang paling tak bisa menyanyi adalah Basri Amien. Ayo bareng-bareng curiga, jangan-jangan anak itu tak ingat sepotong pun bait lagu yang beken di masa itu (era 93-99).

Tapi kalau diajak taruhan sama kawan-kawan yang kini sudah kebanjiran rezeki dari KPU dan DPRD, saya masih berani. Bahwa jelek-jelek Basri itu hapal juga lagu tertentu. Mau tahu? Bung Hatta, dari Album Iwan Fals. Tapi dengan intonasi yang mirip aktivis ber-dekalrasi: hujan... air.... mata... dari... pelosok... negeri... Tunggu dulu, istilah jelek-jelek barusan maksudnya: Basri jelek dalam hal lagu dan sastera.

Bayangkan saja, dari ratusan judul buku yang dia koleksi (dan sering aku curi baca), tak satu eksemplar pun yang berjudul ngepop. Dia tak pernah membeli buku sastra. Belum pernah aku lihat membaca novel. Mungkin saja, jika tak diberitahu Bang Naid (mantan Ketua KPU Maluku Utara, kini DPRD) Basri Amien tak pernah tahu Bahwa idola dia Romo Mangunwijaya juga adalah seorang novelis. Ter..la..lu (dengan gaya ucapan Rhoma Irama).

Sssstttt... FKMM bukan cuma Basri Amien yang cerdas. Tapi juga Sofyan Al Hadar yang susah didefinisikan. Kami semua senang menulis, bikin artikel untuk koran-koran, atau menulis puisi seperti cara Mas Puja atawa Nana. Namun Bang Sofyan ---sama Iis Susilawati dipanggil genit: Ooom Sofyan--- rajin menulis bon utang di warung depan. Wallahu 'alam, sekarang sudah diganti atau belum.

Selang dua tiga tahunan, FKMM juga ramai oleh rimba aktivis. Maklum saat itu demonstrasi mulai menggeliat. Rombongan kawan-kawan HMI Cabang Manado, PMII Cabang Manado, aktivis SMID, pegiat PRD, mahasiswa tak jelas, dan wartawan, mondar-mandir di jalan kleak. Sampai-sampai, pernah FKMM dikepung petugas kepolisian. Mohon tak tersinggung, benih-benih intelektual dan perlawanan mahasiswa di Manado (terutama yang beragama Islam) tumbuh dan membiak di situ.


Pembauran
Segala suku di situ, Endi Biaro dari sunda, Yayat Biaro dari Padang (iya, dong, dia kan besar di Padang), Karyanto Martham Jawa Tondano, Said Banteng Kotamobagu, Shanty dari Gorontalo, Dibyo plus Mas Puja dari Jawa, Andi Mappasomba from Makassar, dan Idris Sudin dari Papua (masudnya rambutnya itu yang biasa disebut "kiribo"). Latar akademiknya juga berbeda-beda, ada yang kuliah di IKIP, di Universitas Sam Ratulangi, di STIKOM Manado, tapi perasaan dari IAIN nggak ada tuh! Namun satu hal yang bisa mengikat: kecintaan terhadap membaca, berdiskusi, berdebat, dan sudah tentu berorganisasi.

Sialnya, jika dibuat ukuran menang kalah, semua kami bertekuk lutut dihadapan Bang Katamsi Ginano. Mau apa? Soal nulis dia seng ada lawan. Mau debat, siap-siap kena serangan pedes. Tak berbilang lawan dia kipas dalam ajang seminar dan diskusi. Namun abang kita ini agak kabur soal organisasi. Mungkin yang tegas dia pelaku Organisasi Tanpa Bentuk. Namun jangan tanya sekarang ini, level-nya sudah go internasional, pemegang ID Nomber di Newmont Internasional ----punya biaya khusus untuk entertainment pula, duh...!

Bagaimana dengan orang non FKMM tapi memberi rupa-rupa warna. Bang Reiner Ointoe adalah orang yang pernah membuat saya tersinggung. Tapi juga ada benarnya dan justru membuat kita bersyukur. Sang pemikir yang banyak memberi inspirasi ini pernah menyebut FKMM sebagai organisasi Amal Jariyah. Lha, bukannya bagus, pahalanya terus mengalir (Jariyah adalah artinya terus mengalir). Begitupun dengan sosok Kamajaya Al Katuuk. Dari dia kawan-kawan FKMM tahu pentingnya sastra.


Masih ada figur lain yang layak sodor, seperti Coen Hussain Pontoh, Taufiek Passiak, Junaedi Hussain, Yayat Biaro, dan Ja'far Al Katiri. Mereka bukan hanya hadir di pelatihan. Mereka sebenarnya yang mampu menggugah daya pikir daya nalar anak-anak FKMM. Setujuuuuuu... (seperti murid kelas lima SD, ya, yang ramai bilang, setujuuuu Bu Guruuuu).


Lucu Lucu
Kalau sekarang ada Team Lo, yang bisa memparodikan lagu apa saja, jauh-jauh hari kami di FKMM memiliki seorang laki-laki super lucu dan ciamik main gitar. Daya pesonanya menyedot siapapun, termasuk mereka yang sedang sibuk belajar mengahadapi ujian mid semester. Kalau tak keliru, dialah yang menciptakan Mars FKMM. Beda sedikit dengan Irham Maku, tak lain adalah Syahril Hantono. Nama ini jaminan mutu untuk main gitar dengan lagu-lagu berkelas. Memainkan tembang-tembang KLa Project, memetik Jazz dengan merdu, dan memainkan Iwan Fals dengan menarik. Vokalisnya tentu bukan saya apalagi Basri Amien, melainkan Nana, Shanty, atau Ka Icha Bafagih.

Lucu tapi bisa membuat malaikat marah adalah kejadian Hendra Abdul yang solatnya tak lagi khusyu (ini kata dia). Ceritanya, saya dan Basri Amien lagi membaca di kamar. Terus dia sholat ---salah satu muslim FKMM yang rajin Sholat. Karena merasa takut mengganggu, kami ke luar. Eh, lupa menutup pintu. Jadi dia sholat dengan pintu terbuka, lantas dilihat orang lain yang wara-wiri. Jangan-jangan, Ka Hendra duluan jadi Anggota DPRD karena rajin sholatnya itu, ya...

Lucu tapi menyerempet seram juga pernah terjadi. Seorang senior, namanya Masri Mamonto, susah payah bikin skripsi. Harap ingat, zaman itu tak akrab dengan komputer, tetapi tak-tik-tok mesin ketik butut. Kalau dalam satu halaman kertas ada satu hurup salah ketik saja, urusannya jadi ribet. Nah, di saat sang senior puyeng, pikiran bengal saya keluar. Persis, di halaman tengah skripsi yang ia tulis dengan rapi, saya ubah ketikan Nama Machiavelli menjadi Max Poliii (ini nama salah satu dosen di Fisip Unsrat). Wakakakakak. Dia ngamuk dan meronta. Saking ketakutan, saya tak berani mengaku, hingga tulisan ini dibuat.

Oh ya tentang fisik orang-orang di sana. Rata-rata berbadan kurus, terima kasih Indomie yang membuat kami berdaging tipis. Kalaupun gemuk, cuma satu orang Khadijah Rozak, atau Ka Ijek. Kakak yang satu ini luar biasa rajin, teliti, sekaligus pemberang. Seingat saya, tak ada yang berani melawan. Diantara tubuh kurus ekstrem dan gemuk tak terkira itu ada juga yang moderat, alias sintal. Seperti Ka Nurhasanah Syahdan, Iis Susilawati, dan Roni Domili.

Siapa ya, yang belum kesebut?

Ho.. ho.. ho.. Rusli Djalil. Ya, ampyuuun... Jika saja Zahra isterinya yang sekarang ini tahu persis detil Ka Ucli waktu di FKMM mungkin akan... (lanjut sendiri, deh!). Zahra yang cantik, pasti kamu dibilang kelilipan atau sakit mata, jika berpacarannya dari dulu. He..he..he..

Tapi dia hebat. Di kalangan aktivis yang bisa menjadi koresponden media nasional selain Katamsi Ginanano dan Verianto Madjowa, ya Rusli Djalil itu. Nama medianya waktu itu adalah Tabloid Swadesi, terus ke Majalah D&R, Terus Majalah TEMPO, terus... Sekarang beliau Anggota DPRD di Maluku Utara, dan pernah juga menjadi Anggota KPU.

Tercantik, Tertinggal
Jangan harap cewek-cewek saat itu seperti artis sinetron ABG sekarang ini. Handphone belum dikenal. Mode baju juga nggak penting-penting amat. Belum ramai manicure-pedicure, creambath, facial, atau dandanan dugem nan seksi.

Cuma jujur saja, saya punya kategori cantik yang universal, bisa dipakai untuk mengukur Angelina Jolie, Angelina Sondakh, atau Angel Lelga... Ukurannya jelas. Cantik itu artinya ukuran mata simetris, hidung proporsional-fungsional, rambut sehat, telinga wajaar, dan bibir sensual. Hayoooo, masa mau dibilang cantik kalau matanya juling? Emang bisa cewek disebut cantik kalau budek? Kalau bisa sih hidungnya bangir, sekaligus fungsional. Begitu aja kok Freeport...

Maka duhai kawan-kawan perempuan di FKMM, perkenankan hamba menyebut yang tercantik adalah...

Satu hal sudah jelas, tak bisa diamandemen oleh Sidan Paripurna DPR RI sekalipun, bahwa di FKMM tak ada yang ganteng. Ini lebih adil disebut... soalnya saya sudah pasti tak akan masuk nominasi. Malah, kalau dibuat ranking 10 pria paling ganteng di FKMM, saya tak masuk nominasi. Padahal kontestannya hanya sembilan orang. Wakakakakakak....


Terpasti
Anehnya di FKMM ada mahluk yang sepertinya sudah tahu persis akan menjadi apa dan harus bagaimana. Sekarang saya sering merenung, doktrin bahwa Pemimpin itu dilahirkan, memang benar adanya. Bung Karno muda ketika di penjara Sukamiskin, Jawa Barat, menulis grafiti di tembok dengan judul, "Di Kamar Ini Nasib Bangsa Aku Tentukan." Konon, si pendek gempal Napoleon Bonaparte sejak kelas enam SD menjawab: "Saya akan menaklukan Eropa" (ketika ditanya oleh Ibu Guru di kelas, tentang cita-citanya).

Mudah-mudahan Mas Pudja Sutamat ingat dan tak membantah. Sewaktu liburan semester awal, kami bingung akan berbuat apa. Dia menyodor ide, mendatangi radio-radio beken di Manado. Kami ditolak dan sempat diejek. Alah, kata si penyiar tua yang saat itu beken tapi otaknya melongpong, pendidikan untuk jadi penyiar radio itu tak perlu! Penyiar tua itu menyindir kami yang sekolah di Jurusan Komunikasi, dan ingin magang jadi penyiar, dengan andalan pendidikan tinggi. Sekalian saja disebut, nama stasiun Radio itu adalah MEMORA FM.

Mas Pudja tersinggung banget, tapi mengatakan datar. Endi, mari kita buktikan, omongan orang itu ngaco. Eh, ternyata tak perlu waktu lama. Kami jadi penyiar di Radio yang lebih bergengsi, SMART FM. Terus, setelah beberapa tahun, si penyiar blo'on itu jadi anak buah Mas Pudja. He..he..he..

Memang prosesnya tak gampangan. Di kamarnya, Mas Pudja sering ngoceh sendiri ---tapi bukan sakaw. Ia belajar keras jadi penyiar, baca berita sendiri, dengan intonasi seperti Max Sophacua (penyiar televisi yang suaranya berat empuk).


Dan Reuni Itu...
Dan reuni itu 99,9 persen tak akan bisa saya hadiri. Saya sedih... Bukan apa-apa, kalau ongkos mah mungkin bisa sabet kanan kiri. Tapi terutama tidak pede dan masalah waktu (sok sibuk! ah, beginilah jadi anak buah).

Cuma pesan singkat: tak benar saya pelupa. Yang benar adalah sering tak ingat. Lalu tentang isu besar soal meninggalkan pacar di bioskop, maaf saja, saya butuh klarifikasi. Jawabannya: nggak inget, tuh! Wakakakakakak

Selasa, Januari 19, 2010

Ragam Cerita Gara-Gara Facebook!


Peringatan: Facebook bisa menyebabkan kanker (kantong kering karena dipecat kerja, perintah bos terbengkalai, karuan aja didepak!); serangan jantung (kalau isteri iseng ngintip account suami dan melihat pose begitulah...); Impotensi (maksudnya potensi kreatif anda gugur gara-gara kelelahan meladeni situs jejaring sosial ini); tapi jelas tidak akan mengganggu kehamilan dan janin.

Cuma, menurut Doktor Joel Gold, seorang psikiater dan asisten profesor di bidang psikiatri dari New York University, facebook bisa mengganggu kejiwaan. Nama penyakitnya keren abis: Delusi Internet.


Duhai jangan main copy paste karena alasan praktis. Meski kepepet, sempatkan dulu periksa siapa yang akan anda posting. Jangan salah kirim ucapan Ultah untuk"kawan tapi mesra"yang malah terus nyasar ke isteri. Berabe... Nanti dijadiin proyek Pansus sama tetangga sekitaran. Eh, si Endi tadi malem ribut sama istrinya, lho? Nah, begitu kurang lebih yang akan terjadi di ruang sidang kaum Ibu, sembari belanja sayuran sama sesama Anggota Dewan Perempuan Ribut di kampung...

Bagaimana tidak. Seorang kawan bertutur kejadian seperti itu. Ceritanya posting selamat ultah sama yang lain, eh, untuk isteri juga mengirim dengan ucapan yang mirip, lupa mengganti kalimat.

Kealpaan dalam menulis status, bisa juga berurusan dengan skor atau malah vonis hukuman. Dulu, waktu ramai Gozila versus Cicak, juga ada seorang anggota polisi yang memamki-maki publik. Sontak ia mendapat teguran dari korps kepolisian. Juga yang berujung ke pengadilan, dengan delik fitnah dan penghinaan. Di Liga Inggris, seorang pemain sepakbola yunior dari Porstmouth, menulis Semoga kita kalah hari ini (saat itu menjelang laga antara Porstmouth versus Arsenal). Celakanya, dalam pertarungan, ternyata Porstmouth dicukur The Gunner dengan skor telak: 4:0...

Lain perkara kalau ada unsur kesengajaan. Misalnya biar terkesan status-nya selalu banyak yang menanggapi. Masih cerita dari kawan. Dia sengaja bikin empat sampai lima account dengan nama dan foto berbeda. Fungsinya mengerek gengsi. Jadi, untuk account asli selalu membuat status heboh. Lantas, kalau tak ada respon dari mana-mana, gampang saja. Bikin aja tanggapan dari account lain, yang sejatinya milik dia sendiri.


Beberapa Kejadian

Urusan status dalam facebook ternyata juga jadi lahan buku. Seperti sebuah terbitan Berjudul Gara-Gara Facebook. Sebelum ke situ, simak dulu cerita-cerita ini:

1. Buronan Balik ke Sel
Karena kasus penipuan di Mexico, bernama Maxi Sopo, terpaksa kudu balik ke sel-nya di Mexico. Gara-gara kebelet nulis status ke kawan-kawannya. Meski profil ia rahasiakan, tetapi kawan-kawan yang ia kirim kabar tidak. Dia kemudian terlacak via Facebook dan Myspace.

2. Tawuran karena Facebook.
Tak terima pacarnya dimaki-maki lewat facebook, Steven Liang (23), warga Jalan Ploso Timur, mencoba mengklarifikasi ke Paulus dan Lia. Kedua orang itu selalu meneror Rini, pacar Steven, dengan makian dan ancaman melalui account facebooknya. "Karena tak terima, korban minta bertemu dengan orang yang meneror pacarnya," ujar Kasat Rekrim Polres Surabaya Utara, AKP Dolly A Primanto, kepada wartawan di mapolres, Jalan Bubutan, Sabtu (12/12/2009).

Pertemuan pun disepakati di Jalan Pirngadi. Namun saat datang ke jalan yang berdekatan dengan Polres Surabaya itu, masing-masing pihak rupanya membawa banyak teman. Steven membawa 3 orang teman, sedangkan Paulus membawa lebih dari 10 orang termasuk adiknya, Tonny Wijaya (23) yang tak lain adalah suami Lia dan Wahyudi Mokoagao (23), warga Jalan Setro.

Pertemuan yang rencananya hendak mengajak damai itu malah berubah menjadi pertengkaran akibat kedua kubu tak mau saling mengalah. Karena kalah jumlah, Steven pun dihajar oleh kubu Paulus. Kepala dan wajah Steven dipukul dengan helm dan mobilnya dilempar dengan batu paving sehingga kacanya pecah.

3. Pelamar Kerja ditolak
Detiknet pernah mempublish hasil temuan di luar negeri, bahwa 1 dari 10 pelamar ditolak gara-gara facebook. Kenapa? Perusahaan melacak kebenaran curiculum vitae si pelamar, dan melihat facebook yang dimiliki. Wah, isinya ternyata rajin memaki rasis, dan doyan menayang gambar-gambar seronok.

4. Pekerja Dipecat
Tadi yang cari kerja, kiini kisah pekerja yang pastinya bakal jadi pelamar (gara-gara dipecat di tempat kerja lama). Kerajinan facebook bisa membuat orang lupa sama tugas. Lebih ruwet kalau fasilitas kantor malah jadi fasilitas seperti warnet, online melulu. Jelas dong, perusahaan sewot. Ujung-ujungnya, ya itu tadi, sayoara...

5. Kriminalisasi
Tak perlu detil. Meski tak sedikit delik kriminal gara-gara Facebook ini. Pembunuhan, kekerasan seksual, perampokan dan sejenisnya, seolah jadi efek samping. Sudah tentu, sebisa mungkin kita hindari. Jelas sudah, teknologi memang selalu menjadi pedang bermata dua.

6. Gangguan Jiwa
Sebuah riset mengingatkan penyakit Delusi Internet. Kurang lebihnya, perasaan was-was bahwa ruang privasi kita akan tersebar via perangkat komunikasi di internet, seperti facebook, twiter, youtube dan sejenisnya. Lebih-lebih bagi anda yang masuk jajaran elit sosial dan ekonomi tinggi. Pasti banyak yang iseng ingin mengganggu. Tapi, tentu jangan sampai berlebihan dan mengganggu stabilitas psikologis anda.


Buku Gara-Gara Facebook
Baru-baru ini, ada juga buku yang menuang berbagai kisah seru gara-gara facebook. Buku suntingan dari M. Solahudin, terbitan Leutika Publishing, November 2009 ini lumayan lengkap. Mulai dari cerita gembong narkoba yang ditangkap ---gara-gara keranjingan facebook. Beragam kisah lain juga tertuang.
Dari kehidupan pribadi, sosial, hukum sampai dengan politik. Semua dirangkum secara rapi oleh pihak penerbit. Buku yang bercover biru dan bergambar seorang anak balita mengenakan ikat kepala hitam ini merupakan buku pertama yang dicetak mengenai kisah-kisah para pengguna Facebook. Selamat membaca!

Jumat, Januari 15, 2010

Televisi, Kekerasan dan Perempuan



Every three minutes, a woman is beaten. Every five minutes a woman is raped. Every ten minutes a litlle girl is molested.

Jumat, Januari 08, 2010

Sahabat Mengharu Biru


Tuhan pasti sutradara Maha Agung. Tak secuilpun Martin Scorsese, Steven Spielberg, atau Francis Ford Coppola bisa disandingkan denganNYA. Daftar nama-nama beken di industri sinematografi Holywood itu hanya mampu memuaskan libido imajinasi liar kita. Bahkan tak sedikit, sutradara kelas dunia (bukan dunia akhirat), malahan menjejalkan kekerasan berfikir, menindas akal sehat. Pun, untuk mereka yang mampu mengguncang pasar per-film-an internasional, seperti Roland Emmerich, sang director film 2012!

Siasat Allah ---demikian aku pernah membaca artikel disebuah buku--- pelik nan tak terduga. Namun penuh tetes hikmah yang menyegarkan. Bisa saja, sesuatu yang direncanakan Allah adalah meremukkan daya tahan kesabaran kita, tetapi di lain waktu, justru berbuah dengan rupa-rupa kebaikan. Atau kebalikannya. Sesuatu terasa manis di awal tetapi kecut di penghujung. Hanya satu-satunya kesadaran yang mesti terpatri: apapun rencana dan takdirnya, secara sejati, adalah baik. Lagi-lagi, urusannya adalah soal kemampuan kita menerimanya dengan ridho dan ikhlas. Paling tidak, jika belum mampu menggapai kelas ridho dan ikhlas itu, kita bisa sedikit bersabar (menahan diri untuk tidak meratapi dan mengutuki nasib).

Paparan ini agak klise. Tetapi perlu, guna sedikit menjelaskan perjalanan sejumlah kawan-kawan yang saat ini aku kagumi dengan takzim. Mereka tak melulu sukses dari sisi sempit (berlimpah uang, misalnya). Tetapi justru karena menggapai apa yang menjadi keinginan banyak orang. Kriteria banyak orang itu, adalah salah satunya adalah aku (sebagaimana orang kebanyakan yang hanya bisa berimajinasi dalam tidur atau terjaga).

Cukup petikan dua contoh saja. Satu teman ada di Manado, perempuan, cantik, sukses, pintar, baik hati, dan pernah bersama-sama melakoni proses sebagai aktivis mahasiswa. Sementara satu yang lainnya adalah kawan sekampung ---kini tinggal di Jakarta, ia juga sukses dalam banyak ukuran. Adalah satu pembeda dari dua orang kawan bahagia itu, yang di Manado hingga hari ini masih lajang. Sementara kawan dari kampung sudah menikah.

Membuat aku bangga dengan sebenar-benarnya, si kawan kampung itu punya isteri yang Subhanallah... cantik, dan kesan aku sepertinya orangnya juga baik. Insya Allah akhlaknya juga begitu. Agak cukup menggambarkan salah satu doa ketika Ummat Muslim akan bercermin: Ya Allah, baguskanlah akhlak aku sebagaimana engkau membaguskan wajahku!

Balik ke latar kedua kawan ini ketika "masih belum" ada apa-apanya. Soal pintar, sudah pasti. Si kawan kampung memang tak pernah satu bangku sekolahan. Tetapi kawan-kawan dia di sekolah, adalah teman akrab aku. Mereka kerap bercerita. Salah satu yang selalu mereka sebut: hanya dua orang di kelas yang selalu bergantian berebut ranking, yang satu adalah perempuan, satunya lagi ya kawan aku itu.

Sementara kawan yang dari Manado, jelas banget. Bahasa Inggrisnya perfect. Di HMI dia adalah KOHATI primadona. Cerdas, berani, kritis, dan mau saja ikut demo. Oh, iya, ada yang lupa. Kedua orang kawan itu (yang di kampung dan yang di Manado, adalah sama-sama orang HMI tulen, bukan sekedar ikut-ikutan).

Kedua orang itu, saat ini bisa berinteraksi hanya melalui dunia maya. Mereka pasti sibuk dengan dunianya sendiri. Biarlah...

Tak tahulah, perincian detil kehidupan orang. Itu tak penting. Sebab pokok utama adalah dalam hidup kita bisa belajar dari petikan riwayat orang lain. Agar kita tak mati dalam pesimisme dan tak tumbang oleh kesombongan. Insya Allah...